"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Kesan Pertama
Alena sedikit tertegun melihat penampilan Kenan. Lalu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Sikap itu membuat Kenan mengernyit heran. "Apa yang kamu lihat? Jangan bilang kamu belum pernah datang ke restoran semahal ini?" tanyanya.
Alena kembali menatapnya. "Maaf, Tuan..."
"Kenan," potong pria itu cepat.
"Oh... Tuan Kenan." Alena tersenyum tipis. "Bukannya aku meremehkan Anda, tapi kalau hanya ingin mentraktirku makan, kita bisa mencari tempat lain yang lebih sesuai dengan kondisi Anda."
Dahi Kenan langsung berkerut. "Maksudmu apa? Kamu pikir aku miskin?" tanyanya tak percaya. "Apa kamu tidak tahu siapa aku?"
Alena mengangkat sebelah alis. "Memangnya itu penting?" Ia menghela napas pelan. "Sepertinya, pria ini terlalu menjaga gengsinya," batinnya.
"Baiklah, Tuan Kenan. Sebelum kita memesan makanan, apa Anda sudah membayar biaya ruang VIP ini?"
Kenan tersenyum miring. "Kamu benar-benar meremehkan ku, ya?"
Belum sempat Alena menjawab, seorang pelayan masuk sambil membawa buku menu.
"Silakan, Anda ingin memesan apa?" tanyanya ramah.
"Ti-tidak dulu." Alena buru-buru menggeleng. "Kalau boleh tahu, berapa biaya ruangan ini?"
"Untuk ruang VIP, kami menerapkan minimum pembayaran lima juta rupiah, sudah termasuk makanan dan minuman yang dipesan."
Alena langsung menoleh ke arah Kenan. "Lebih baik Anda membayarnya terlebih dahulu, Tuan."
Untuk kedua kalinya, Kenan merasa harga dirinya diremehkan.
"Baik. Aku akan membayarnya." Ia merogoh saku celananya. Tapi, gerakannya terhenti. Ia kembali merogoh saku yang lain.
Wajahnya perlahan berubah. "Di mana dompetku?"
Alena mengangkat kedua alisnya. "Bagaimana?"
Kenan menelan ludah. "Ini tidak mungkin," gumamnya. "Jangan-jangan... " Kenan berdecak pelan saat mengingatnya. "Sial, pasti tertinggal di jas yang kotor tadi."
Alena menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ada apa, Tuan?"
"Itu... Dompetku tertinggal."
Alena mengembuskan napas panjang, lalu bangkit, menatap pelayan. "Maaf, kami tidak jadi makan di sini. Permisi." Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar dari ruang VIP.
"Hei, tunggu!" Kenan ikut bangkit dan buru-buru menyusul. "Aku bilang tunggu!"
Alena menghentikan langkahnya, lalu menoleh. "Ada apa lagi, Tuan?"
"Dompetku benar-benar tertinggal. Aku tidak bohong."
Alena menatapnya beberapa saat. "Tuan Kenan, aku tahu niat Anda baik karena ingin mentraktirku makan. Tapi, itu benar-benar tidak perlu."
"Apa maksudmu?"
"Kalau memang kondisi ekonomi Anda sedang sulit, sebaiknya uang itu digunakan untuk pengobatan Kakek Rendra. Bukan dipakai untuk mempertahankan gengsi di restoran mewah seperti ini."
Mulut Kenan sedikit terbuka. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Dia menganggap ku miskin?" batinnya tidak percaya. "Apa dia benar-benar istri Arsen Bhaskara? Tapi, bagaimana mungkin dia tidak mengenalku?"
Alena menghela napas panjang. "Sudahlah, lupakan saja. Aku lapar. Kalau Anda mau, ikut saja makan denganku. Tenang, kali ini aku yang traktir." Alena berbalik dan berjalan lebih dulu.
Sementara Kenan masih diam membeku. "Ini salah," gumamnya. "Dia benar-benar tidak tahu siapa aku?"
"Tidak, aku harus menjelaskannya." Kenan akhirnya menyusul Alena yang sudah lebih dulu keluar dari restoran.
Tidak lama kemudian, mereka sudah duduk di sebuah kafe sederhana di pinggir jalan dengan beberapa hidangan tersaji di atas meja.
Alena makan dengan lahap, sementara Kenan hanya menundukkan kepala dan menutupi sebagian wajahnya dengan tangan.
"Apa-apaan ini? Kenapa dia membawaku ke tempat seperti ini? Bagaimana kalau ada orang yang mengenaliku?" batinnya resah.
"Baiklah, langsung saja." Alena meletakkan sendok nya. "Sebenarnya kenapa Anda ingin bertemu denganku?"
Kenan tersentak. "O-oh... Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan kakekku."
"Oh, soal itu?" Alena tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya kebetulan lewat."
"Meski begitu, aku tetap berutang budi."
Alena mengangguk. "Hanya itu?"
Kenan terdiam. Sebenarnya, ia berniat memberikan sejumlah uang sebagai imbalan. Namun, siapa sangka ia justru mempermalukan dirinya sendiri karena dompetnya tertinggal.
Ia juga datang dengan niat memberi peringatan kepada wanita ini.
Tetapi di luar dugaan wanita itu ternyata sama sekali tidak mengenalnya. Hal itu justru membuatnya penasaran.
"Apa dia benar-benar tidak tahu siapa aku? Atau... Dia hanya berpura-pura?" batinnya. "Aku datang untuk memperingatkannya agar tidak menggunakan cara licik untuk mendekati Kakek. Tapi, kenapa semuanya malah jadi seperti ini?"
"Aku sudah selesai makan." Alena berdiri sambil mengambil tasnya. "Silakan lanjutkan makan anda. Aku pergi dulu."
"Hei, tunggu!" Kenan ikut berdiri dan mengejarnya. "Ada satu hal yang harus aku luruskan. Aku bukan pria miskin seperti yang kamu pikirkan. Aku—"
Ucapan Kenan terputus saat Alena tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Pria itu tersenyum kecil dan berdiri tepat di belakangnya.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu. Aku paling tidak suka orang menggunakan cara licik untuk mencapai keinginannya. Aku tahu, kamu dan suamimu pasti sedang mencari kelemahan ku untuk menjatuhkan ku, bukan?"
Tidak ada jawaban. Alena tetap diam.
"Hei, kamu dengar tidak?"
Perlahan, Alena berbalik. Wajahnya tampak tegang. Tapi, Kenan bisa melihat ada kesedihan yang begitu jelas di kedua matanya.
Kenan mengerutkan dahi. Lalu, ia memiringkan kepalanya, mengikuti arah pandangan wanita itu.
Dan seketika, tubuhnya membeku.
Di sana, di depan sebuah butik, Kenan melihat Arsen begitu mesra dengan seorang wanita. Bahkan, pria itu tanpa ragu mengecup bibir wanita tersebut di tempat umum.
Kenan kembali menatap Alena yang tersenyum pahit.
"Maaf," ucap Alena lirih. "Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan tadi. Bisa kamu ulangi?"
Kenan tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya menatap Alena dengan rasa terkejut yang masih membekas di wajahnya.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...