Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Mengungkapkan Kepada Tiara
Bab 13 - Mengungkapkan Kepada Tiara
Malam semakin larut, namun pesta ulang tahun Raisa juga terlihat semakin seru, mereka memainkan beberapa game dan memulai candaan lucu, di dalam ruangan besar itu mungkin terdapat seratus orang, mereka semua adalah teman-teman Tiara serta kolega-koleganya dan sesama rekan kerja.
Senopati memilih duduk di ujung, tak ingin bergabung karena menurutnya itu tidak menarik, ia berada disana karena mengantar calon istrinya saja. Meski duduk bersantai namun matanya tak perna lepas mengawasi Raisa, ia tak ingin jika terjadi sesuatu oleh Raisa.
Tiara mendekati Raisa yang asik bercanda dan ketawa bersama teman-teman lainnya. "Raisa, bisa ikut ke kamarku sebentar, aku ingin bicara denganmu?" Ucapnya sambil menarik pergelangan tangan Raisa. Semua itu tidak lepas dari pandangan Senopati, ia membiarkan saja Tiara membawa Raisa karena tau mereka sahabat dekat.
"Memangnya ada apa?" Mereka sudah berada di dalam kamar besar Tiara, ia mengunci pintu agar tidak ada yang masuk saat mereka berbicara berdua. Raisa deg-degan karena tau arah pembicaraan Tiara akan ke arah mana.
"Ayo sini duduk?" Tiara menarik Raisa duduk di sofa dekat jendela. "Ceritakan kenapa semua ini bisa terjadi, aku tau ini mungkin bukan keinginan kamu karena kami semua tahu bagaiamana hubungan kamu dan Kelvin selama ini."
"Aku terpaksa Ara, papa punya banyak utang ke Senopati, dan papa tidak bisa menggantinya, jadi mau tidak mau aku harus menjadi tukaran utang itu." Raisa mulai menangis sambil menceritakan semuanya.
"Lalu bagaimana dengan Kelvin?"
"Dia mengirimkan surat, dan mengatakan kalau tadi pagi dia berangkat ke Jerman menerima pekerjaan yang sempat ia bahas waktu itu denganku."
"Ini pasti berat untuk kamu ya? Raisa aku sebagai sahabat kamu mendukung semua apa yang kamu lakukan asalkan keputusan itu kamu yang ambil sendiri." Tiara bukan hanya sahabat, tapi dia juga bisa selalu menjadi tempat Raisa berbagi dan mencari solusi, Tiara juga selalu memberikan dukungan sekecil apapun untuk Raisa.
Raisa mengangguk pelan, air matanya terus mengalir tanpa henti meski ia sudah berusaha menyekanya dengan punggung tangan. Rasa sesak di dadanya seolah baru saja menemukan jalan keluar, setelah sekian lama ia memendam semuanya sendirian tanpa berani menceritakan pada siapa pun. Rasanya beban yang selama ini menekan pundaknya terasa sedikit berkurang hanya dengan mengucapkannya di hadapan orang yang benar-benar mengerti.
“Aku sempat berpikir untuk melarikan diri, Ara,” ucapnya dengan suara yang terputus-putus karena isak tangis. “Tapi saat melihat wajah papa yang tampak lelah dan penuh rasa bersalah, aku tak sanggup. Bagaimana pun dia adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Jika aku pergi, bukan hanya nama baik keluarga yang akan hancur, tapi juga papa bisa terjerat masalah hukum yang jauh lebih buruk lagi. Utang itu jumlahnya sangat besar… melebihi apa pun yang bisa kami kumpulkan dalam sepuluh tahun ke depan.”
Tiara merangkul bahu Raisa erat, membiarkan sahabatnya itu meluapkan semua perasaannya tanpa terburu-buru. Ia mengusap lembut punggung Raisa, berusaha memberikan ketenangan yang bisa ia berikan.
“Dan soal Kelvin…” Raisa melanjutkan, suaranya semakin lirih seolah terbawa kenangan yang menyakitkan.
Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. “Di hatiku, aku tahu dia tidak pergi tanpa alasan. Mungkin dia juga merasa tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa dia tidak mampu menolongku saat aku paling membutuhkan. Mungkin dia memilih pergi supaya tidak melihatku menjadi milik orang lain. Entahlah… pikiranku kacau, Ara. Di satu sisi aku marah karena dia pergi begitu saja tanpa berbicara langsung, tapi di sisi lain aku juga mengerti posisinya.”
Di luar kamar, suasana pesta masih terus berjalan riuh dengan suara tawa dan alunan musik yang lembut. Namun di dalam ruangan yang terkunci itu, suasana terasa hening, hanya diselingi oleh suara napas dan isak tangis yang perlahan mereda.
Tiara melepaskan pelukannya sebentar, lalu menatap wajah Raisa dengan tatapan lembut namun tegas. “Dengarkan aku, Raisa. Apa pun alasannya, apa pun yang terjadi, ini bukan kesalahanmu. Kamu tidak salah karena ingin menyelamatkan ayahmu, dan kamu juga tidak salah jika akhirnya harus melepaskan Kelvin. Hidup ini tidak selalu berjalan sesuai apa yang kita rencanakan atau kita impikan, kan?”
Ia mengambil selembar tisu dari meja di sampingnya, lalu mengusap sisa air mata di pipi Raisa. “Tapi satu hal yang harus kau ingat: meski awalnya ini adalah perjanjian untuk menutupi utang, bukan berarti nasibmu sudah tertutup selamanya. Masih ada kesempatan untukmu menentukan jalanmu sendiri nanti, asalkan kau tetap kuat dan tidak kehilangan dirimu sendiri.”
Raisa menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih terasa berat. Ia menoleh ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang rumah, di mana cahaya lampu taman menerangi suasana malam yang tenang. Di kejauhan, ia bisa melihat sosok Senopati yang masih duduk di tempatnya semula, sesekali memandang ke arah pintu kamar itu seolah memastikan semuanya baik-baik saja.
“Dia… Senopati,” gumam Raisa perlahan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Selama ini aku hanya mendengar tentangnya sebagai orang yang keras, tegas, dan tidak pernah berkompromi dalam urusan bisnis. Aku takut sekali membayangkan hidup bersamanya. Tapi sejak sore tadi… dia tidak bersikap seburuk yang aku bayangkan. Dia menyiapkan segalanya, mengantarku ke sini, bahkan tadi dia mengumumkan status kami dengan cara yang membuat orang lain tidak bisa sembarangan menilai diriku.”
Tiara mengikuti arah pandangan Raisa, lalu tersenyum tipis. “Mungkin dia bukan orang yang sempurna, mungkin dia juga memiliki sisi yang belum banyak orang ketahui. Tidak ada salahnya jika kau mulai mengamatinya lebih dekat, bukan? Tidak perlu terburu-buru menyukainya atau menerima semuanya seketika, tapi setidaknya berikan dirimu kesempatan untuk melihat apa yang sebenarnya ada di depan matamu.”
Sementara itu, di luar kamar, Senopati masih duduk tenang sambil memegang gelas berisi minuman yang belum ia sentuh. Matanya sesekali melirik jam tangannya, namun tidak terlihat gelisah. Ia mengerti bahwa wanita itu butuh waktu untuk bercerita dan meluapkan hatinya, terutama setelah melewati hari yang begitu berat. Namun nalurinya tetap terjaga, siap bertindak jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
Beberapa tamu sesekali mendekat untuk menyapa atau sekadar mengajak mengobrol, namun Senopati hanya menjawab seperlunya, tetap menjaga jarak dan tidak terlalu banyak berbicara. Baginya, kehadirannya di tempat itu hanya ada satu tujuan: memastikan Raisa merasa aman dan tidak diperlakukan buruk oleh pandangan atau omongan orang lain.
Di dalam kamar, percakapan mereka pun masih berlanjut, perlahan membahas hal-hal yang lebih ringan namun tetap menyentuh hati, seolah berusaha membangun kembali kekuatan yang mulai pudar dalam diri Raisa.