Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Sang Lelaki dan Labirin Paranoia
Waktu terus bergulir tanpa memedulikan hati-hati yang telah patah dan hancur berantakan. Tiga hari telah berlalu semenjak peristiwa menyayat hati di mana Kirana diusir secara kejam dari rumah orang tua kandungnya. Di saat Kirana sedang berjuang mengubur luka batinnya di dalam ruko konveksi, atmosfer di tempat lain dipenuhi oleh aroma kecurigaan dan pelarian yang teramat sangat pekat.
Di dalam sebuah mobil mewah dengan kaca yang gelap gulita, Ibu Ratna sedang duduk bersandar di kursi belakang dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kilatan kecemasan bercampur paranoia tingkat tinggi. Sudah beberapa jam lamanya, mobil Ratna terparkir diam beberapa puluh meter dari ruko milik Kirana. Melalui celah kaca mobil yang sedikit diturunkan, Ratna diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Kirana dari kejauhan.
Pikiran Ratna dipenuhi oleh satu asumsi gila. Semenjak malam di mana Dimas mengemas seluruh pakaiannya dan keluar melangkah pergi dari rumah mewah mereka, Dimas sama sekali tidak pernah memunculkan batang hidungnya di kantor perusahaan. Posisi kubikel dan ruang kerja Dimas kosong melompong tanpa ada kabar berita sedikit pun.
Hal itu membuat Ratna kebingungan setengah mati sekaligus didera rasa takut yang luar biasa. Ratna mengira, hilangnya Dimas selama berhari-hari ini adalah karena suaminya itu kembali berlari mengejar dan memata-matai kehidupan Kirana seperti yang pernah lelaki itu lakukan.
Namun, setelah tiga hari berturut-turut melakukan pengawasan rahasia secara mandiri, Ratna harus menerima kenyataan yang membingungkan. Dimas tidak ada di sekitar Kirana. Dimas sama sekali tidak pernah muncul untuk mendekati ruko tersebut, bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa Dimas sedang mengawasi mantan kekasihnya itu lagi.
Ada sebersit rasa lega yang teramat tipis menyelinap di dalam lubuk hati Ibu Ratna mengetahui bahwa suaminya tidak sedang bermesraan atau mengemis cinta pada Kirana.
Namun, di detik yang sama, rasa lega itu langsung ditelan bulat-bulat oleh gelombang kecemasan yang jauh lebih besar. Ratna tidak tahu di mana keberadaan Dimas sekarang. Suaminya seperti lenyap ditelan bumi jalanan ibu kota.
"Kamu ada di mana, Dimas? Kenapa kamu menyiksa aku seperti ini?!" desis Ratna dengan kuku-kuku jarinya yang meremas kuat tas branded di pangkuannya, menahan sesak dada akibat labirin paranoia yang ia ciptakan sendiri.
Sementara itu, di sudut lain belahan kota yang riuh, sebuah realitas yang teramat sangat kontras dan mengenaskan sedang terjadi.
Bukan di rumah mewah milik Ratna, bukan pula di ruko anggun milik Kirana. Di dalam sebuah ruangan VIP sebuah tempat hiburan karaoke kelas atas yang bernuansa temaram dan pengap, sesosok pria sedang terkapar tidak berdaya di atas sofa kulit yang panjang.
Itu adalah Dimas.
Kondisi Dimas tampak teramat sangat berantakan, jauh dari kesan seorang eksekutif muda yang rapi dan angkuh seperti biasanya. Kemeja kerjanya sudah kusut masai dengan beberapa kancing bagian atas yang terbuka kasar. Di atas meja kaca di depannya, berserakan beberapa botol minuman peredam stres yang sudah kosong melompong, berjejer bersama dengan puntung rokok yang berserakan di dalam asbak.
Semalaman penuh, Dimas memutuskan untuk tidak pulang ke rumah kontrakan kecil yang baru ia sewa semenjak keluar dari rumah Ratna—rumah kontrakan yang kini menjadi tempat tinggal sementaranya yang sepi bagaikan kuburan. Dimas memilih untuk menghabiskan seluruh malamnya di dalam ruang VIP karaoke yang kedap suara itu.
Dimas menyanyi sendiri di bawah pendar lampu neon yang berputar redup. Dengan suara yang parau, serak, dan dipenuhi oleh getaran rasa frustrasi yang mendalam, dia melantunkan lagu-lagu patah hati bernada pilu berkali-kali.
Pria itu sedang berusaha menghibur dirinya sendiri, mencoba membunuh rasa sepi dan penyesalan yang teramat sangat meracuni isi kepalanya selama berhari-hari ini.
Sayangnya, hiburan itu palsu. Cairan pahit dan musik keras tidak mampu menghapus bayangan wajah Kirana yang menangis di masa lalu...
Kini, di bawah pengaruh sisa kelelahan batin yang membakar kesadarannya, Dimas tertidur dalam keadaan setengah sadar yang teramat sangat menyedihkan di atas sofa tersebut.
Mulutnya meracau pelan di tengah tidurnya yang tidak nyenyak, memanggil satu nama yang kini posisinya sudah berada setinggi langit dan tak akan pernah bisa ia gapai lagi dengan tangan-tangan penuh penyesalannya.
"Kirana... Kirana... Maaf..." rintih Dimas lirih dalam tidurnya, sementara mikrofon karaoke masih tergeletak aktif di samping kepalanya yang pening. Dimas telah menjelma menjadi raga tanpa jiwa, hancur lumat di dalam pelarian tak berujung yang ia ciptakan dari kebodohan masa lalunya sendiri!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia