Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Biah memang ingin mengambil semua milik ibunya yang ayahnya rampas selama ini dan dia nikmati bersama keluarga istri barunya, dia sangat tahu rumah sakit keluarga istri ya itu sempat hampir bangkrut jika tidak ada sumbangan dana dari perusahaan sang ibu.
"Kalian semua berbahagia diatas penderitaan ibu dan kedua adikku, jangan salahkan Aku karena jika aku mengambil paksa segalanya, bukan untukku melainkan untuk ketiga keponakanku yang harus memilikinya".
Biah mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih.
Sedangkan Sang ayah yang berada didalam rumah kini mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia harus melakukan sesuatu untuk membuat anak perempuannya itu tunduk walau sangat sulit dia rasakan.
"Bagaimana ini ayah, kalau sampai Biah nekat membongkar semuanya bisa hancur reputasi kita semua termasuk rumah sakit kita".
Anita menggelengkan kepalanya karena dia tidak siap dengan segala kemungkinan terburuk apalagi Biah tahu jika dirinya lah yang membunuh ibunya saat itu karena memanfaatkan rumah sakit miliknya saat dia dirawat.
Dia yakin jika semua ini tersebar, bukan hanya rumah sakitnya dan kariernya hancur tapi dia akan masuk penjara karena sengaja membunuh pasiennya sendiri saat itu.
"Tidak akan ku biarkan, aku akan melakukan sesuatu, Biah tidak boleh mendapatkan semuanya kembali, aku tidak akan memberikannya".
Rencana licik akhirnya terangkai pada kepalanya membuat senyum sinis terbit dari bibirnya.
"Aku akan menculik anaknya, dia sangat menyayangi mereka dan aku yakin dia tidak akan berkutik jika kelemahannya kita sentuh seperti pertama kali aku mengancamnya tentang adiknya itu".
Kedua perempuan itu langsung menoleh kearahnya begitu mendengar rencana sangat licik itu.
"Tapi ayah, mereka itu cucu lelakimu, jangan lakukan itu, masalahnya akan semakin runyam". Maya menggelengkan kepalanya karena tidak setuju akan usul sang ayah
Kakak sulungnya itu bukan orang yang sama saat dia masih kecil apalagi dia memiliki suami seorang tentara, dia yakin jika kakaknya itu akan membuat ayahnya kelabakan.
" Kamu tenang saja, itu hanya gertakan agar Biah berhenti dan menyerah untuk mengambil lagi semuanya, aku akan pastikan itu". Ucapnya dengan percaya diri.
Dia pikir jika Biah sama saja seperti anak kecil yang dulu pernah dia ancam dan langsung menurut ketika keluarga disayangi terluka.
"Terserah ayah sajalah, aku tidak mau ikutan". Maya pergi dari sana.
Dia tidak mau ikut campur nantinya jika sampai ayahnya terkena masalah.
"Mas yakin ini akan berhasil?, Maya benar Biah itu sudah dewasa, bahkan menjadi seorang ibu tangguh, mas lihat sendiri Biah bahkan memiliki semua bukti tentang kejahatan kita, aku khawatir dia malah menyerang kita secara brutal tanpa kita bisa keluar dan mencari solusi". Anita mengusap wajahnya pelan.
Dia memang sangat khawatir jika Biah bertindak, Biah memiliki semua senjata mereka dan bisa menembak mereka tanpa bisa menghindar dan membuat mereka mati konyol.
"tidak akan, anak-anaknya adalah kelemahannya, dia tidak akan bisa berkutik apalagi dia hanya seorang diri, adik-adik dan suaminya sudah tidak ada, memang dia bisa apa?". Ucapnya sambil tertawa meremehkan
"Baiklah terserah mas saja".
Biah pulang kerumahnya dengan langkah tegap tapi ketika bertemu dengan anaknya ketegasan itu berubah menjadi tatapan yang sangat lembut.
"Bunda". Teriak mereka bersamaan sambil memeluknya.
"Sayangnya bunda kok belum tidur?". Tanyanya sambil mengelus kepala mereka satu persatu.
"Kami menunggu bunda, kami khawatir karena bunda kerumah kakek". Ucap Umar dengan cemberut.
"Bunda tidak apa-apa sayang, tapi karena kalian belum tidur bunda ingin bicara dengan kalian, boleh?".
Mereka semua mengangguk kemudian tersenyum dan menuntun sang bunda dengan sayang
Biah hanya tersenyum lembut melihat anak-anaknya begitu menyayangi dirinya.
"Apa yang ingin bunda katakan pada kami?". Tanya Ukasyah Dnegan penasaran mewakili adik-adiknya.
"Ambillah ini dan pakailah, pastikan kalian tidak melepaskannya".
Biah menyerahkan beberapa jam tangan yang telah dirancang khusus untuk mengetahui keberadaan mereka dan juga tanda mereka dalam bahaya atau tidak.
"Keren banget". Girang mereka semua melihat jam tangan yang diberikan sang bunda.
"Sekilas orang akan mengatakan jika ini adalah jam tangan biasa tapi jam tangan ini berfungsi ketika kalian dalam bahaya, bunda memiliki pusatnya agar mengetahui keadaan kalian".
Mereka semua memiringkan kepalanya, mereka tidak mengerti mengapa bunda mereka memberikan jam seperti itu
"Dengar nak, bunda yakin setelah ini kakek kalian akan mencari cara untuk mendapatkan kalian, dia mengetahui jika kalian adalah kelemahan bunda, itu sebabnya bunda yakin dia akan menggunakan kalian untuk menekan bunda, itu sebabnya bunda memberikannya, jadi ketika kalian dalam bahaya jam tangan bunda akan bereaksi, pastikan kalian tidak membuatnya mencolok".
Dia sengaja mempersiapkan semua ini untuk antipasi segala kemungkinan yang ada, dia mengenal baik watak ayahnya yang tidak akan tinggal diam setelah ini, dia yakin ayahnya pasti menggunakan anaknya untuk membuatnya bertekuk lutut dihadapannya tapi ayahnya salah, dia bukan lagi anak kecil yang tidak tahu harus berbuat apa.
"kami paham bunda".
Biah mengangguk kemudian tersenyum senang, anak-anaknya memang anak yang cerdas.
"Dan ini kalung berisi kamera kecil untuk merekam semua yang terjadi pada kalian, pastikan tidak terlepas karena itu akan terhubung dengan handphone bunda".
"Baik bunda kami akan menjaganya".
"Kalau begitu kalian istirahat yah, bunda akan bersih-bersih sebelum tidur, kalian jangan lupa cuci kaki dan tangan serta sikat gigi".
Mereka mengangguk kemudian melangkah menuju kamar mereka masing-masing sedangkan Aminah kini berada dalam gendongannya.
"Aku pastikan kalian akan menerima akibatnya jika berani menyentuh anak-anakku, sekalipun kamu ayahku akan ku hancurkan tanpa sisa seperti kau membuang kami".
Keesokan harinya, Biah mempersiapkan anak-anaknya dengan adik, memasangkan semua atribut yang kini tersebar dalam tas ,baju bahkan pakaian mereka, jam tangan itu bertengkar tepat ditangan mereka masing-masing.
"Terima kasih bunda, kami akan berhati-hati kedepannya".
"Pastikan handphone kalian aktif dan bisa bunda lacak, bunda sudah memasang dan mempersiapkan semuanya jadi jika ada yang memanggil kalian untuk ikut jangan mau, tunggu sampai bunda jemput apalagi tidak kalian kenal siapapun itu, kalian paham?".
Mereka semua mengangguk bersamaan karena mengerti apa yang dikatakan sang bunda.
Dia mengantar anak-anak nya semua ke sekolah dan dia sendiri langsung berangkat ketempat dia berjualan untuk memastikan kinerja karyawan begitu juga usahanya yang lain.
Hermawan yang kini tengah memberikan instruksi anak buahnya akhirnya melancarkan aksinya, dia segera menyuruh mereka untuk menculik dua orang anaknya yang masih kecil Ubay dan juga Uwais anak dari Nuhayati dan juga Rosyid .
Dia tersenyum puas karena berhasil mendapatkan mereka dan langsung menghubungi anaknya agar berhenti.
"Anakmu bersamaku, jika kamu ingin mereka kembali datang dan tandatangani perjanjian pengalihan seluruh harta itu sekarang".