Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Pertengkaran
Setelah panggilan tidak diangkat, Jovian beralih mengirim pesan.
Jena melirik sekilas.
"Kenapa kamu nggak angkat telepon aku?"
"Kamu marah?"
"Aku minta maaf, Jena."
"Jena, please. Balas pesan aku."
"Jena, jangan diamkan aku kayak gini."
"Jena!"
"Sayang!"
Jena mematikan data, lalu memasukan ponselnya ke dalam laci. "Aku capek, Mas. Aku kecewa sama kamu." Ia pun memutuskan untuk memejamkan mata. Berharap bisa segera terbang ke alam mimpi.
Ini adalah pertama kalinya ia bertengkar dengan Jovian dan mengabaikan lelaki itu.
***
"Argh!" Jovian menggenggam erat ponselnya. Puluhan pesan telah ia kirimkan, tetapi tidak satu pun mendapat balasan. Perasaan gelisah dan takut mulai menguasai dirinya.
Untuk pertama kalinya selama mereka bersama, Jena memilih menghindarinya.
Jovian mengusap wajahnya kasar. Bayangan wajah Jena terus berputar di kepalanya. Ia tahu ia telah membuat wanita itu kecewa. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mengambil kunci mobil. "Aku harus menemui Jena," putusnya.
Jovian turun dari kamarnya, berjalan hampir berlari menapaki lantai. Saat tiba di ruang tamu, ia disambut tanya oleh papa dan mamanya yang masih berbincang.
"Kamu mau ke mana, Jo?"
Jovian menghentikan langkah sejenak. "Aku mau ke tempat Jena," jawab Jovian apa adanya.
"Mau ngapain malam-malam begini?"
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan dia."
"Jangan menginap. Kalian belum ada ikatan sah," pesan Bimo tegas.
"Iya, Pa. Lihat nanti deh." Jovian bersiap melanjutkan langkah, tapi suara sang ayah menghentikannya lagi.
"Papa serius, Jo. Tolong jaga nama baik keluarga kita. Jangan sampai kamu dan dia melakukan hubungan yang tidak seharusnya."
Jovian memejamkan mata sejenak. Lalu menyahuti perkataan ayahnya. "Iya, Pa. Aku nggak akan melakukan hal seperti itu. Lagian aku cinta sama Jena. Aku nggak mungkin merusak dia." Setelah mengatakan hal itu, Jovian benar-benar melanjutkan langkahnya, meninggalkan kedua orang tuanya dan keluar dari rumah mewahnya.
Beberapa saat kemudian, mobilnya melaju membelah jalanan malam menuju apartemen tempat Jena tinggal. Yang adalah apartemen miliknya. Sejak awal ia memberikan satu unit itu untuk Jena tinggali.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi rasa bersalah.
"Jena pasti sedang menangis. Dia pasti kecewa karena tadi siang kuabaikan."
Dugaan-dugaan itu membuat dadanya terasa sesak.
Sesampainya di sana, Jovian berjalan cepat memasuki lobi. Masuk ke dalam lift dan tiba di lantai lima belas. Ia mengeluarkan kartu akses, menempelkannya dan pintu pun terbuka perlahan. Jovian melangkah masuk dan mendapati semya ruangan gelap. Hanya cahaya lampu kota dari balik jendela yang menerangi sebagian ruangan.
"Jena?" panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Ia melepas jaketnya dan berjalan menuju kamar.
Saat membuka pintu kamar, ia melihat Jena sedang berbaring menyamping. Jovian menghampirinya dan menangkap bekas air mata di pipi Jena.
Jovian terdiam. Dadanya terasa diremas melihat wanita yang paling ia cintai menangis karena dirinya. Dengan langkah perlahan, ia mendekat dan duduk di sisi tempat tidur. "Jena ..." panggilnya lirih.
Jena membuka mata. Ia sebenarnya belum tidur. Sejak mendengar suara pintu terbuka, ia tahu Jovian datang. Namun ia memilih diam. "Kenapa Mas ke sini?" ucapnya pelan dengan suara serak.
Jovian menunduk. "Aku khawatir sama kamu. Kenapa kamu nggak angkat dan balas pesanku?"
"Aku kesel sama, Mas. Akhir-akhir ini, Mas terlalu sibuk sama Michelle. Bahkan tadi pun, saat aku datang ke rumah Mas ... aku merasa seperti orang asing. Mas dan keluarga Mas seolah tak melihat keberadaanku. Aku ..." Perkataan itu terjeda oleh lelehan air mata.
Jovian menggeleng, lalu mengusap air mata di pipi Jena. "Aku minta maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud mengabaikanmu. Kamu tahu sendiri kalau kerjaanku akhir-akhir ini lagi banyak banget. Dan Michelle ... please, kamu jangan salah paham dulu. Aku berani sumpah ... aku nggak ada hubungan apa pun sama dia. Hanya partner kerja. Itu udah aku tegaskan beberapa kali. Please, Jena ... tolong percaya sama aku." Jovian naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Jena yang bergetar karena makin terisak. "I'm sorry, Honey. I'm sorry." Ia menciumi puncak kepala Jena. "Please jangan marah lagi, bentar lagi kita kan mau menikah." Ucapan itu seketika membuat isakan Jena memelan.
Jena terdiam di dalam pelukan Jovian. Tangisnya perlahan mereda, tetapi rasa sakit yang sejak tadi ia pendam belum sepenuhnya hilang. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap pria di sampingnya. "Mas ..." suaranya masih bergetar. "Aku bukan marah cuma karena Michelle." Jovian menatapnya dengan penuh perhatian. "Aku marah karena aku merasa kehilangan Mas. Dulu, sesibuk apa pun Mas, Mas selalu punya waktu untuk aku. Mas selalu membuat aku merasa menjadi prioritas. Tapi belakangan ini ..." air mata Jena kembali menggenang, "Aku merasa harus bersaing untuk mendapatkan perhatian Mas."
Wajah Jovian langsung berubah penuh penyesalan. Ia menggenggam kedua tangan Jena dan menciumnya pelan. "Maafin aku, Sayang. Aku benar-benar nggak sadar kalau aku sudah membuat kamu merasa seperti itu."
Jena menunduk. "Aku takut, Mas."
"Takut apa?"
"Takut suatu hari nanti Mas menemukan seseorang yang lebih bisa menemani Mas daripada aku."
Jovian langsung menggeleng keras. "Jangan pernah berpikir seperti itu." Ia mengangkat dagu Jena agar wanita itu kembali menatapnya. "Dari dulu sampai sekarang, nggak ada wanita lain yang aku inginkan selain kamu. Kamu itu rumah aku, Jena."
Ucapan itu membuat hati Jena yang sejak tadi membeku perlahan mencair. "Aku cuma minta satu hal, Mas."
"Apa, Sayang? Katakan!"
"Jangan biarkan aku merasa sendirian lagi."
Jovian mengangguk cepat. "Aku janji. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan lebih membagi waktuku. Dan tentang Michelle, aku akan membuat batas yang lebih jelas agar kamu nggak merasa tidak nyaman lagi."
Jena menatap mata Jovian beberapa saat, mencoba mencari kebohongan. Namun yang ia lihat hanya ketulusan dan rasa bersalah. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi pria itu. "Aku percaya sama Mas."
Jovian tersenyum lega. "Jadi kamu udah nggak marah?"
Jena menghela napas kecil. "Masih sedikit."
Jovian terkekeh pelan. "Wah, gimana cara menebus kesalahanku?"
Jena akhirnya tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu. "Jangan ulangi lagi."
Jovian langsung memeluknya erat. "Aku janji nggak akan mengulanginya lagi." Ia mengecup kening Jena berkali-kali seolah takut wanita itu akan pergi menjauh darinya.
Malam itu, pertengkaran pertama mereka berakhir dengan pelukan dan air mata. Keduanya menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang belajar memahami dan memperbaiki kesalahan.
Jovian tidak pulang malam itu. Ia tetap tinggal menemani Jena, memeluk wanita itu hingga akhirnya mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain, dengan hati yang kembali tenang dan sebuah janji untuk menjaga hubungan mereka menuju jenjang yang lebih serius.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪