"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan di Tengah Ketegangan
Dua puluh empat jam sebelum pasukan *Silver Moon* bergerak menuju Lembah Kabut, atmosfer kastil terasa begitu padat. Di halaman bawah, suara gesekan pedang yang diasah dan persiapan baju zirah bergema tanpa henti. Namun, di dalam kamar menara selatan yang luas, keheningan justru terasa begitu intim.
Yudha berdiri di dekat perapian, perlahan mengancingkan kemeja hitamnya setelah membersihkan diri dari latihan panjang. Wajah tampannya yang biasanya tanpa ekspresi kini tampak sedikit lelah. Beban sebagai seorang pemimpin yang harus membawa kawanannya ke medan perang sekaligus melindungi belahan jiwanya berada sepenuhnya di atas pundak tegap itu.
Luna melangkah mendekat dari arah belakang. Langkah kakinya yang ringan nyaris tak terdengar, namun aroma lavender manis yang menguar dari tubuhnya langsung membuat insting Yudha mengenali kehadirannya. Luna mengulurkan tangan kecilnya, dengan ragu membantu merapikan kerah kemeja hitam Yudha yang masih sedikit terlipat.
Yudha tertegun sejenak, lalu perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Luna. Ditatapnya lekat-lekat mata bulat gadis itu, yang kini tidak lagi memancarkan ketakutan hebat, melainkan gurat kecemasan yang dalam untuk keselamatan dirinya.
"Kamu harus kembali dengan selamat, Yudha," bisik Luna lirih, tangannya beralih mencengkeram kain kemeja di dada bidang Yudha.
"Dunia ini masih sangat asing bagiku. Aku tidak tahu bagaimana cara bertahan hidup di sini jika... jika sesuatu terjadi padamu."
Mendengar penuturan itu, sebuah senyuman tipis dan sangat tulus terukir di wajah tegas Yudha. Dia mengangkat kedua tangannya, menangkup pipi Luna yang lembut dengan jemarinya yang hangat dan besar.
"Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padaku, Luna. Serigalaku tidak akan sudi mati sebelum dia memastikan belahan jiwanya hidup dalam kedamaian mutlak," ucap Yudha, suaranya rendah dan dalam, bergetar oleh janji yang teramat kuat.
"Saat aku pergi besok, dua puluh prajurit elit akan berjaga ketat di depan ruangan ini. Maya akan tetap bersamamu. Jangan keluar dari menara ini sampai aku sendiri yang datang mengetuk pintumu."
Luna mengangguk pelan, menyandarkan keningnya di dada kokoh Yudha, mendengarkan detak jantung pria itu yang berirama tenang namun kuat. Detak jantung yang selalu berhasil menjadi penawar bagi rasa cemas di hatinya.
Yudha merengkuh tubuh mungil Luna ke dalam pelukan posesifnya, menenggelamkan wajahnya di pucuk kepala gadis itu. Dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Luna, mengunci wewangian itu di dalam memorinya sebagai bahan bakar dan kekuatan terbesar yang akan dia bawa ke medan pertempuran besok malam.
"Malam ini, tidurlah yang nyenyak," bisik Yudha sembari mengecup dahi Luna dengan sangat lembut dan lama.
"Besok akan menjadi malam yang panjang, dan aku berjanji, fajar berikutnya akan membawa kedamaian sepenuhnya untuk kita berdua."
---
*Amukan di Lembah Kabut*
Malam yang dinanti akhirnya tiba. Bulan setengah bersinar temaram di atas Lembah Kabut, memantulkan cahaya keperakan pada kabut tebal yang menggantung rendah di atas tanah. Tempat ini adalah wilayah tak bertuan, dipenuhi pohon-pohon mati yang mencuat seperti jemari monster dari dalam kegelapan.
Di sinilah perkemahan utama kaum *Rogue* berada. Puluhan serigala liar berbulu kusut tampak berjaga-jaga dengan gelisah, insting binatang mereka mulai menangkap perubahan aneh pada arah angin malam.
Aroma kematian tiba-tiba menyeruak.
*Auuuww—!*
Sebuah lolongan dahsyat yang sarat akan otoritas mutlak memecah kesunyian lembah. Sebelum kaum *Rogue* sempat menyadari apa yang terjadi, tiga batalion pasukan pemukul utama *Silver Moon* melesat keluar dari balik kerapatan kabut seperti air bah yang mengamuk.
Pertempuran besar meletus seketika.
Yudha memimpin di garis paling depan dalam wujud serigala perak raksasanya. Ukuran tubuhnya yang masif dan bulunya yang berkilau keperakan di bawah cahaya bulan membuatnya terlihat seperti dewa perang yang turun dari langit. Setiap terjangannya tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Cakar perak Yudha menyabet kiri dan kanan, merobek dada dua *Rogue* sekaligus hingga darah segar menyembur membasahi tanah lembah yang dingin.
*Grrr...*
Yudha menggigit tenggorokan serigala liar ketiga, melemparkannya dengan kasar ke arah batu cadas hingga hancur. Gerakannya begitu efisien, kejam, dan tanpa ampun. Amarah yang dia simpan sejak malam penyusupan di kamar Luna kini diledakkan sepenuhnya di medan tempur ini.
"Yudha!"
Sebuah suara serak dan berat menggelegar dari ujung perkemahan. Sesosok serigala berukuran besar dengan bulu hitam legam dan wajah yang dipenuhi bekas luka robekan maju menerobos kekacauan. Itu Hendra, sang pemimpin *Rogue*. Sepasang matanya yang merah menyala memancarkan kebencian mendalam pada garis keturunan Alpha sejati.
"Kamu datang menyerahkan nyawamu sendiri, Alpha muda!" geram Hendra, memamerkan taring-taringnya yang kuning dan besar.
"Tanpa benteng kastilmu, kamu tidak lebih dari serigala sombong yang akan mati di tanganku!"
Yudha tidak membalas dengan kata-kata. Serigala perak itu hanya merendahkan tubuhnya, memberikan geraman rendah yang menggetarkan tanah di bawah cakar mereka. Mata emas Yudha mengunci total pergerakan musuh bebuyutannya.
Hendra menerjang terlebih dahulu dengan kecepatan luar biasa, mengincar leher Yudha. Namun, Yudha jauh lebih tangkas. Dia melompat menghindar ke samping, lalu membalas dengan hantaman cakar depannya yang kuat tepat di wajah Hendra, memperdalam bekas luka lama di kulit serigala hitam itu.
*Augh!* Hendra melengking kesakitan, darah segar mengalir menutupi satu mata merahnya.
Menyadari dirinya kalah dalam hal kekuatan murni dan kecepatan, Hendra menjadi kalap. Dia kembali melompat dengan sisa kekuatannya, mencoba menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci Yudha ke tanah. Kedua serigala raksasa itu berguling di atas tanah basah, saling mencakar dan menggigit dengan brutal, memicu suara hantaman daging dan tulang yang mengerikan di tengah riuh pertempuran besar Lembah Kabut.
---