NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Kejanggalan

"Kemala bisa cuti tidak? Sehari saja."

Bastian mengangkat kepala dari layar tabletnya ketika mendengar perkataan Reynard. Di seberang meja, Reynard duduk santai sambil menyilangkan kaki. Berbeda jauh dengan suasana ruang rapat yang masih dipenuhi maket revitalisasi Terminal Lebak Bulus dan tumpukan dokumen proyek.

"Aku serius," lanjut Reynard sedikit mengayunkan kakinya.

Bastian kembali menurunkan pandangannya kembali ke layar tabletnya.

"Kemala bekerja untuk Nathan," ucap Reynard mulai menaruh kedua tangannya yang bertaut di atas pahanya.

"Ya, aku tahu," jawab Bastian begitu singkat begitu seksama membaca laporan perkembangan proyek.

"Jadi?" Reynard menghela napas panjang. "Astaga. Aku sedang bicara dengan manusia atau mesin?"

Bastian mengabaikan sahabatnya itu. Reynard menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kabar dari pesta ulang tahun Madam sudah mulai beredar di kalangan atas."

Tatapan Bastian terangkat. "Dan?"

"Dan aku baru sadar kalau tinggal di Kediaman Rothmere ternyata lebih berbahaya daripada berada di tengah proyek konstruksi."

Bastian tak menanggapi. Namun Reynard tetap melanjutkan.

"Serius." Reynald menatap sahabatnya tajam. "Aku tidak bisa membayangkan hidup di tengah sekumpulan serigala lapar yang siap menerkam kapan saja."

Reynard bergidik berlebihan.

"Apalagi Kemala." Reynald sedikit menghela napas sambil melihat keluar jendela lalu melanjutkan. "Dia baik, polos, dan terlalu jujur."

Bastian meletakkan tabletnya. "Kemala lebih kuat daripada yang kamu kira."

Reynard langsung menyeringai. "Nah. Akhirnya keluar juga."

"Apa?" Bastian mengangkat alisnya.

"Pujian," jawab Reynald begitu santai.

Bastian mengernyit. "Aku hanya menyampaikan fakta."

"Tentu saja." Reynard mengangguk seolah memahami. "Lalu setelah itu kamu akan bilang matahari terbit dari barat."

Bastian mulai kehilangan kesabaran. "Kalau tidak ada yang penting lagi–"

"Ada." Reynard langsung memotong. "Kasih dia cuti."

Bastian menatap sahabatnya itu datar.

"Hanya sehari," sambung Reynald yang kini mencondongkan badannya ke arah Bastian.

"Untuk apa?" tanya Bastian yang mulai lelah dengan tingkah sahabatnya.

"Aku mau ajak Kemala jalan." Reynald menjawab dengan wajah yang serius.

Bastian terdiam.

"Nathan juga boleh ikut," lanjut pria berpakaian kasual itu.

"Hm." Bastian tetap datar walau sedikit memperhatikan dengan seksama.

"Aku cuma ingin menunjukkan Jakarta yang normal." Reynard menunjuk dirinya sendiri.

"Bukan Jakarta versi Rothmere," lanjut Reynald sambil menunjuk sahabatnya dengan kedua tangannya yang terbuka.

"Yang isinya rapat, saham, dan keluarga yang saling menusuk." Reynald masih melanjutkan sambil mengetuk tumpukan dokumen di atas meja.

Bastian langsung menjawab. "Tidak."

Reynard mendecak. "Kamu ini."

"Apa lagi?" tanya Bastian yang hendak kembali membuka tabletnya.

"Kalau aku tidak tahu dirimu sejak kecil, aku akan mengira kamu cemburu," ujar Reynald menahan tawa di depan sahabatnya yang begitu kaku itu.

Bastian menatapnya dingin. Sahabatnya ini begitu senang bertingkah jahil terhadapnya. Reynard justru tertawa keras.

***

Sekian lama Bastian telah disibukkan oleh urusan bisnis dan proyek. Akhir pekan kali ini terasa berbeda. Kalender yang biasanya dipenuhi oleh jadwal yang padat, kini relatif kosong. Tak ada rapat besar, pertemuan investor, ataupun makan malam bisnis.

Di ruang kerja pria kaku itu, berbagai data perusahaan memenuhi layar. Terlihat jelas grafik saham, laporan investasi, dan perkembangan proyek nasional. Semua hal yang biasanya mampu membuat Bastian duduk berjam-jam.

Namun pagi itu, fokus Bastian terus buyar. Pria yang selalu berpakaian rapi itu terbayang pertemuan dengan Reynard sebelumnya. Ucapan sahabat satu-satunya itu terngiang kembali.

‘Kasih dia cuti.’

Bastian mengembuskan napas perlahan. Tangan pria itu yang biasa cepat membuka dokumen, kini justru menutupnya. Tablet yang berisi semua grafik tentang perusahan Bastian tutup lalu dimatikan. Laptop di depannya langsung pria itu lipat. Bastian bergegas berdiri dan berjalan keluar ruang kerjanya.

***

Nathan sedang tertawa saat Kemala menggoyangkan mainan kain berbentuk kelinci. Suara tawa kecil bayi itu memenuhi ruangan. Kemala ikut tersenyum menyambut tawa bayi kecil yang hangat itu. Namun senyum itu langsung memudar ketika melihat Bastian masuk.

"Pak." Kemala bergegas berdiri memberi penghormatan sambil masih menggendong Nathan.

Bastian berhenti di depan mereka. "Bersiaplah."

Kemala berkedip. "Pak?"

"Kita keluar," ujar Bastian singkat menatap Kemala lekat.

"K-Keluar?" Kemala masih bingung atas perintah Bastian tersebut.

"Nathan juga ikut," sambung Bastian langsung melihat anak semata wayangnya yang berada dalam dekapan Kemala.

Kemala semakin bingung. "Ke rumah sakit?"

"Tidak," jawab Bastian singkat.

"Lalu ke mana?" tanya Kemala yang masih kebingungan.

"Kamu akan tahu nanti," jawab Bastian masih menatap Kemala.

Jawaban itu sama sekali tak membantu. Namun Kemala tahu percuma bertanya lebih jauh. Wanita yang selalu menggunakan gaun sederhana itu hanya mengangguk pelan.

"Baik, Pak."

Satu jam berlalu untuk mempersiapkan keperluan yang mungkin dibutuhkan oleh Nathan. Mereka bertiga akhirnya memasuki mobil hitam Rothmere yang kemudian melaju meninggalkan gerbang utama.

Nathan tertidur nyenyak di boks khusus bayi. Kemala duduk di samping bayi yang tertidur pulas itu. Sesekali wanita itu menatap keluar jendela yang memperlihatkan keayuannya saat tersinari matahari pagi.

Jakarta yang dulu terasa begitu menakutkan kini terlihat berbeda. Mungkin karena kali ini Kemala tak berjalan sendirian. Mungkin karena kali ini tak ada rasa putus asa yang menyesakkan dada.

Mobil berhenti di sebuah taman kota yang luas. Kemala memandang sekeliling.

"Di sini?" ujar Kemala melihat taman kota yang begitu cantik.

Bastian mengangguk pelan. Nathan terbangun tak lama kemudian setelah berpindah ke stroller bayi. Udara pagi yang sejuk membuat bayi itu terlihat bersemangat.

Kemala mendorong stroller perlahan. Mata wanita desa itu berbinar. Sudah lama sekali wanita itu tak berjalan santai seperti ini. Berjalan tenang tanpa jadwal, tanpa tekanan maupun ketakutan. Bastian berjalan di samping Kemala yang mendorong stroller dengan hati-hati. Pria yang selalu berpakaian rapi bahkan saat jalan-jalan itu diam seperti biasa. Namun suasana tak terasa canggung baik untuk Bastian maupun Kemala.

Mereka berpindah ke museum modern setelah itu. Kemala berkali-kali berhenti memperhatikan berbagai koleksi. Sesekali wanita dengan gaun sederhana itu membaca keterangan dengan penuh perhatian. Bastian memperhatikan Kemala yang masih memegang stroller Nathan dengan erat itu dari kejauhan.

Wanita itu benar-benar menikmati hal-hal sederhana. Hal yang selama ini bahkan tak pernah terpikirkan oleh pria konglomerat itu. Bagi Bastian, museum hanyalah bangunan. Sedangkan bagi Kemala, setiap ruangan terasa seperti dunia baru.

Menjelang siang mereka berada di pusat perbelanjaan mewah. Kemala terlihat jauh lebih kikuk. Mata wanita desa itu terus bergerak ke sana kemari. Nathan tertidur lagi di dalam strollernya yang nyaman. Cara Kemala membawa stroller begitu lembut sehingga tak membangunkan bayi kecil itu.

Bastian sempat menahan senyum ketika melihat Kemala hampir salah masuk ke butik eksklusif yang dijaga ketat. Kemala langsung mundur.

"Wah." Kemala terlihat begitu terkejut melihat label harga yang tertera di salah satu display outlet itu.

"Kenapa?" tanya Bastian yang menganggap tak ada satupun keanehan.

"Harga tas di situ bisa untuk makan satu kampung saya," jawab Kemala yang masih terpaku dengan angka di label harga tersebut.

Bastian menatap wanita sederhana itu. Hati Bastian tergelitik melihat pemandangan yang hampir tak pernah pria itu saksikan, sudut bibir Bastian sedikit terangkat.

Kemala membeku.

"Pak ... tadi tersenyum?" tanya Kemala yang sudah terlanjur menangkap senyum di wajah yang biasanya sangat kaku itu.

Bastian langsung berjalan lebih dulu. Kemala justru tertawa kecil.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Selama berjalan bersama Kemala, Bastian mulai menyadari sesuatu. Setiap kali mereka melewati bayi lain. Setiap kali ada ibu yang menggendong anak. Setiap kali ada stroller lewat. Pandangan Kemala selalu mengikuti.

Sangat jelas pandangan Kemala melihat terlalu lama dan dalam. Tatapan yang penuh rasa berharap menemukan sesuatu atau seseorang. Bahkan ketika Bastian mengetahui persis bayi-bayi itu jelas bukan anak yang dicari oleh Kemala. Wanita ayu itu tetap memperhatikannya. Hingga sosok-sosok yang membawa para bayi itu menghilang dari pandangan. Barulah Kemala kembali berjalan.

Awalnya Bastian mengira itu kebetulan. Namun setelah berulang kali terjadi, Bastian memahami bahwa Kemala masih mencari. Setiap saat dan setiap waktu tanpa pernah benar-benar berhenti. Dan kesadaran itu membuat dada Bastian terasa berat.

Sore menjelang ketika mereka kembali ke mobil. Nathan sudah tertidur lelap setelah jadwal menyusui ketiganya. Nathan juga kelelahan setelah seharian berada di luar. Kemala duduk diam. Wajah wanita sederhana itu terlihat jauh lebih cerah dibanding biasanya.

Namun ketika sebuah keluarga kecil melintas di luar jendela mobil, pandangan wanita itu kembali berubah. Terlihat jelas wajah Kemala yang sedih, sepi, dan penuh kerinduan. Bastian melihat semuanya tanpa berkata apa-apa.

Malam hari. Nathan sudah tidur setelah pemeriksaan oleh dokter karena baru pertama kali di bawa jalan-jalan keluar. Semua data kesehatan menunjukkan parameter yang normal memastikan bahwa Nathan sudah sangat sehat.

Kemala juga sudah kembali ke kamarnya. Namun berbeda dengan Bastian justru tak merasa kelelahan. Bastian segera berada di ruang kerja. Layar laptop menyala terang. Puluhan laporan terbuka. Bastian fokus kepada satu dokumen yang menjadi konsennya saat ini. Laporan tentang pencarian Arkana.

Awalnya Bastian hanya ingin memastikan perkembangan terbaru. Namun semakin lama membaca, semakin dalam alis pria itu berkerut. Bastian membuka laporan bulan lalu. Kemudian beralih ke laporan minggu lalu. Bastian juga membuka dokumen laporan terbaru.

Bastian membandingkan semuanya. Tanggal, lokasi, petunjuk, hingga nama saksi. Pria itu memastikan semua data yang tertera di semua dokumen itu. Namun ketika dokumen-dokumen semakin diperiksa seksama. Pria itu merasa semakin janggal.

Tim keamanan Rothmere bukan tim biasa. Mereka memiliki jaringan luas dan sumber daya besar. Dimana akses tim keamanan Rothmere tak dimiliki kebanyakan orang. Seharusnya pencarian ini sudah berkembang jauh lebih cepat.

Namun kenyataannya tak demikian. Perkembangan atas kasus itu terlalu lambat. Bastian kembali memastikan semua data dokumen itu perlahan. Bastian mencocokkan dengan waktu yang tertera dan standar kecepatan yang dimiliki oleh tim keamanan.

Bastian berkata pelan. "Ada yang aneh."

Rahang pria itu mengeras. "Pencarian ini tidak mungkin berjalan selambat ini."

Setelah membaca laporan itu berulang kali, Bastian menyadari satu pola. Pola yang begitu rapi, pola yang begitu terkendali. Seolah seseorang sengaja memastikan pencarian itu tak pernah benar-benar maju.

Tatapan Bastian mengeras. Bastian segera mengambil telepon internal di meja.

"Panggil kepala keamanan keluarga."

"Sekarang."

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!