NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:532
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CIUMAN PERTAMA

Elena bisa merasakan sesuatu di dalam tubuh Arlon mulai terbangun. Rasanya seperti ada seekor binatang buas yang selama ini dirantai, kini mulai memutuskan belenggunya satu per satu.

Di saat yang sama, Elena merasa kepalanya berdenyut hebat, potongan-potongan memori yang bukan miliknya berkelebat cepat, suara jeritan, kobaran api putih yang dingin, dan bayangan naga hitam raksasa yang menutupi langit.

"Hah... hah... Elena, hentikan!" ucap Arlon tiba-tiba berseru, wajahnya memerah padam, dan urat-urat di tangannya menonjol keluar.

"Sedikit lagi! Tahan!" ucap Elena bersikeras, mendorong seluruh energi yang dia punya, hingga seisi ruangan itu terasa bergetar.

Lilin-lilin yang padam mendadak menyala kembali dengan api yang berwarna sedikit kebiruan.

Tiba-tiba, sebuah gelombang kejut terpental dari tubuh Arlon, membuat Elena terdorong ke belakang hingga menabrak lemari tua di sudut ruangan.

Bum!

Brakkk!

"Elena!"

Teriak Arlon tersentak bangun, merangkak cepat ke arah Elena yang tergeletak lemas.

"Kamu tidak pa-apa? Mana yang sakit? Maaf, aku tidak bisa kontrol tadi!" ucap Arlon, dengan raut wajah bersalah.

Elena memegangi kepalanya yang pening, dia menatap Arlon dan seketika tertegun.

Pangeran di depannya ini tidak lagi terlihat seperti pria sekarat, wajahnya yang pucat kini memiliki rona kehidupan, dan matanya, matanya bersinar dengan aura keemasan yang redup namun sangat tajam.

"Lihat tanganmu," bisik Elena lemah.

Arlon melihat telapak tangannya sendiri. Ada garis-garis tipis berwarna merah seperti luka bakar, namun tidak terasa perih, garis-garis itu membentuk pola yang menyerupai sisik.

"Apa ini artinya segel nya mulai retak," gumam Arlon tak percaya.

"Tadi saat energinya masuk, aku merasa seperti mendengar suara, suara yang memanggilmu El, kamu benar-benar yakin kamu cuma anak yatim piatu biasa?" tanya Arlon menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan.

Elena membuang muka, dia benci perasaan tidak tahu apa-apa ini.

"Aku sudah bilang, aku tidak tahu apa-apa soal legenda kuno keluargamu, Arlon, yang aku tahu, tanganku sekarang gemetar dan aku butuh tidur," jawab Elena, dengan perasaan tidak nyaman.

"Elena lihat aku," ucap Arlon, lembut.

Arlon menangkup wajah Elena dengan kedua tangannya, menatap mata perempuan yang sangat berarti dalam hidup nya itu, bukan karena Elena menyembuhkan dirinya, tapi karena hati nya sudah terikat dengan gadis pemberani yang merupakan istri nya itu.

"Jangan menatapku seperti itu, Arlon, itu membuatku tidak nyaman," gumam Elena pelan.

"Kenapa? Apa kamu takut pada suamimu sendiri?" goda Arlon, wajahnya perlahan mendekat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka.

Napas Elena tertahan, dia bisa merasakan hembusan napas Arlon di permukaan kulitnya.

Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena penyaluran energi, kini berpacu karena alasan yang sepenuhnya berbeda, logikanya berteriak untuk mundur, namun tubuhnya justru terasa terpaku pada tempatnya duduk.

"Arlon..."

"Satu kali saja, Elena. Biarkan aku membuktikan bahwa ikatan ini bukan sekedar misi mu, tapi hubungan kita nyata," bisik Arlon di depan bibir Elena.

Tanpa menunggu jawaban lagi, Arlon menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir Elena.

Cup

Awalnya hanya sentuhan lembut yang ragu-ragu, seolah Arlon takut Elena akan mengeluarkan belati dan menusuknya saat itu juga. Namun, ketika Elena tidak menolak dan justru jemarinya tanpa sadar mencengkeram kemeja Arlon, ciuman itu berubah menjadi lebih dalam dan penuh kerinduan.

Rasanya seperti ada ledakan kembang api di balik kelopak mata Elena yang terpejam.

Cup

Ciuman mereka yang awalnya ragu-ragu dan canggung, kini semakin panas, bahkan tangan Arlon sudah tidak tinggal diam.

Ciuman itu semakin menuntut, seolah Arlon ingin menumpahkan seluruh rasa syukur dan gairah yang selama ini tertahan di balik tubuhnya yang lemah.

Tangan Arlon yang tadinya hanya menangkup wajah Elena, kini turun perlahan, mendekap pinggang istrinya dengan posesif, menarik tubuh Elena agar semakin rapat menempel pada dadanya.

Elena memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi asing yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Setelah cukup lama berciuman, dan merasa Elena sudah mulai kehabisan nafas, Arlon melepaskan tautan bibir mereka sejenak, namun dia tidak menjauh, dahinya ditempelkan ke dahi Elena, napasnya masih memburu pendek-pendek.

"Napasmu berantakan, El," bisik Arlon dengan suara serak, sedikit menggoda meski matanya menatap dengan intensitas yang dalam.

Elena membuka matanya perlahan, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat terbang sejenak.

"I-itu karena kamu tiba-tiba menyerang ku seperti tadi," jawab Elena, dengan pipi memerah.

Arlon terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar jauh lebih sehat dan bertenaga daripada sebelumnya, dia mengusap ibu jarinya di bibir Elena yang sedikit membengkak.

"Sudah lama aku ingin melakukan ini, Sayang," ucap Arlon santai.

Blus

Pipi Elena semakin memerah seperti kepiting rebus, dengan jantung yang berdegup kencang.

"Sial! Pria ini benar-benar merepotkan," batin Elena, menggigit bibir bawahnya.

Arlon menarik Elena ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya yang bidang.

"Terima kasih, bukan cuma karena kekuatanku kembali, tapi karena di sini," bisik Arlon, mencium pucuk kepala Elena.

Elena terdiam, mendengarkan detak jantung Arlon yang kini terasa kuat dan stabil di telinganya, rasa pening di kepalanya tadi perlahan memudar, digantikan oleh rasa hangat yang nyaman.

"Aku melakukan ini supaya kamu tidak mati dan meninggalkanku berurusan dengan musuh-musuh mu sendirian, Arlon. Jangan terlalu percaya diri," gumam Elena, meski tangannya justru membalas pelukan itu dengan erat.

Arlon tersenyum lebar, dia tahu Elena hanya sedang mencoba menutupi rasa malunya.

"Ya, ya, terserah apa katamu, tapi wajahmu yang merah itu tidak bisa berbohong," goda Arlon, tertawa kecil.

Elena langsung mendorong dada Arlon dan mencoba bangkit berdiri, namun Arlon dengan sigap menahan pinggangnya, membuat Elena kembali terduduk di pangkuan pria itu.

Bruk

"Arlon! Lepaskan, aku mau mandi, tubuhku lengket semua karena keringat dingin tadi," protes Elena dengan wajah yang benar-benar memerah sekarang.

"Nanti saja, biarkan seperti ini sebentar lagi," ucap Arlon manja, menyurukkan kepalanya ke leher Elena, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu berhasil menenangkannya.

 "El, soal suara yang memanggilmu tadi, aku serius. Apa kamu benar-benar tidak merasakan apa pun saat energinya meledak?" tanya Arlon, pelan.

Pertanyaan itu membuat Elena terdiam, bayangan naga hitam dan api putih dingin tadi kembali melintas di benaknya, membuat bulu kuduknya merinding.

"Aku cuma melihat potongan memori yang berantakan, tidak tahu itu ingatan milik siapa, Arlon. Aku tidak mau memikirkannya sekarang," jawab Elena jujur, menatap mata Arlon yang tampak begitu kontras di kegelapan kamar mereka yang hanya diterangi cahaya lilin biru.

Arlon mengangguk paham, lalu dia menarik tangan Elena, mencium telapak tangan yang tadi menyalurkan energi kepadanya dengan lembut.

"Maaf sudah menekannya, kita cari tahu pelan-pelan nanti. Untuk sekarang, fokusnya adalah kamu harus istirahat," ucap Arlon, penuh perhatian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!