Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Mulai jatuh hati
Gita menggeret kopernya memasuki kamar Rafael. Kamar Rafael dua kali lebih besar dari kamar yang dipesan kantornya. Rafael nampak duduk santai di sofa warna merah maroon.
"Kamu sudah mandi?" tanya Gita pada Rafael.
"Kamu aja mandi duluan aku masih keringetan." Jawab Rafael.
"Aku Uda mandi tadi, kalo gitu aku mau sikat gigi sekalian ganti baju." Rafael hanya membalas dengan anggukan.
Gita menuju kamar utama, membongkar isi kopernya. Sial, ia lupa kalo hanya membawa setelan baju tidur tanpa lengan dan celana pendek. Ia beli sudah lama tapi belum sempat mengenakannya. Gita tidak mungkin memakai baju tidur itu di apartemen Rafael.
Saat rencana ke Surabaya, ia berpikir akan memakainya karena ia pasti tidur dengan Utari.
"Gimana ini." Gita menutup kopernya kembali. Ia melihat baju yang ia kenakan. Blouse lengan panjang dan celana jeans. Ia harus tidur pakai ini. Ia menghembuskan napas pasrah.
Gita mengurungkan niatnya kekamar mandi, suara langkah kaki Rafael menuju kamar utama. Alisnya bertaut saat melihat Gita duduk di pinggiran tempat tidur
"Kamu belom kekamar mandi?" tanya Rafael.
"Gak jadi, entaran aja." sahut Gita melihat Rafael sekilas.
"Oke," Rafael mengambil celana training hitam dari dalam koper lalu menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Tenggorokan Gita terasa kering ia berjalan kearah lemari pendingin yang di letakkan di kamar utama. ia mencari apa yang bisa diminum. Ada jus jeruk kesukaannya. tapi ada size besar bukan kotak kecil sekali minum. Gita mengambil gelas di sebelah lemari pendingin dan menuangkan jus jeruk hampir penuh ke dalam gelas.
Gita kembali duduk di pinggiran tempat tidur, sambil melihat-lihat sosial medianya.
Pintu kamar mandi terbuka. Saat Gita mengambil jusnya dari nakas samping tempat tidur. Berdiri Rafael dengan rambut setengah basah dan bertelanjang dada tepat di depan pintu kamar mandi.
Gita otomatis menoleh saat mendengar pintu terbuka. Matanya melebar melihat pemandangan di depannya. Pemandangan yang membuat matanya tak berkedip. Otot-otot indah Rafael, membuat Gita berdebar ditambah wangi parfum khas Rafael yang memabukkan. Tanpa sadar Gita menumpahkan jus jeruk yang akan diminumnya ke blouse.
"Sial." umpatan Gita sukses membuat Rafael melihat Gita. Jus jeruk itu sukses memberi warna oranye pada blouse yang Gita kenakan.
"Hati-hati." suara serak Rafael menambah kegugupan Gita. "Kenapa gue jadi linglung kayak gini." umpat Gita dalam hati. Sedangkan di koper Gita hanya ada baju tidur dan baju untuk besok. Tapi ia juga tidak mungkin pakai baju kotor ini untuk tidur.
Rafael masih memperhatikan Gita lalu menyampaikan handuk di punggungnya.
"Kamu nggak ganti baju?" tanya Rafael yang melihat Gita nampak sedikit resah.
"Iya." Gita langsung membuka koper dan terpaksa mengeluarkan baju tidur yang tidak jadi ia kenakan tadi.
Gita sudah berganti baju, ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Ia melihat penampilannya di cermin lalu berusaha menutupi belahan dadanya yang cukup terlihat. Gita jadi menyesal memilih baju tidur ini untuk ia bawa.
Akhirnya Gita menggerai rambutnya untuk menutupi belahan dada yang terlihat. Menurunkan sedikit celana yang ia rasa terlalu pendek. Gita menghentakkan kaki pelan sebelum ia keluar dari kamar mandi. Kepalanya menjulur keluar pintu kamar mandi terlebih dulu. Tidak ada Rafael.
Gita berjalan mengendap ke tempat tidur. Rafael berdeham, tangannya menggenggam erat ponsel dengan layar yang masih menyala. Jantung Gita berdetak cepat saat mendengar dehaman itu. Rafael tidak berkedip melihat Gita. Jantung sama kencangnya seperti jantung Gita.
Kenapa Gita jadi lebih cantik dan menggemaskan dalam pikirannya akhir-akhir ini. Saat Gita salah paham kepadanya dan Rachel waktu malam itu saja mampu membuat Rafael kepikiran dan tak bisa tidur.
Rafael, menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Aku tidur di sofa saja." kata Rafael cepat dan hampir berteriak. kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut ya. Sebelumnya ia tidak akan mengalah untuk Gita. Tapi sekarang berbeda. Gita yang sedikit terkejut mengangguk setuju. Ia berlari dengan langkah kecil di samping tempat tidur.
Rafael melangkah berhenti tepat didepan Gita. Mata mereka bertemu Rafael meneguk salivanya. Tidak sengaja melihat sesuatu yang harusnya tidak ia lihat. Tubuhnya memanas, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya yang tidak ia rasakan bahkan dulu saat bersama Rachel.
Gita berdiri seperti patung, lalu menggeser tubuhnya saat ia sadar Rafael Akan mengambil bantal dan guling. Namun dengan tidak sengaja dan dalam waktu yang sangat singkat. Kulit lengan Rafael bergesekan dengan kulit lengan Gita. Membuat sengatan listrik diantar keduanya.
Rafael cepat-cepat meraih bantal dan guling, lalu berjalan menjauh ke sofa ruang tamu. Ia harus sejauh mungkin dari Gita. Napas Rafael tersenggal. jantungnya berdetak sangat cepat dan berat membuatnya sesak napas.
Sudah hampir dua jam, Rafael berbaring tanpa bisa menutup mata. Karena saat menutup mata malah terbayang Gita dengan baju tidur sangat pendek berwarna pink dengan print ceri. Matanya melebar ketika melihat bayangan Gita.
Rafael gelisah ia ingin kekamar mandi, tapi harus melewati Gita. Rafael sedikit ragu, namun sudah tak tahan. Rafael setengah berlari tanpa melihat Gita.
Setelah menyelesaikan hajatnya, Rafael tak bisa menahan untuk tak melihat Gita. Gita tertidur pulas, dengan selimut yang menyingkap dan memperlihatkan kaki Gita yang memperlihatkan hingga sampai pangkal paha. rambutnya terurai di pinggiran bantal. Membuat terlihat jelas leher putih milik Gita.
Rafael memejamkan mata. Ia benci pikiran liar diotak ya. Saat ia fokus pada bibir merah muda Gita yang sedikit terbuka. Beberapa kali Rafael memukul pelan kepalanya. Bahkan kakinya seperti tak mau pergi dari situ. Ia malah melangkah mendekati Gita. Aroma Citrus khas Gita menyapa indra penciuman Rafael.
Tubuhnya mendekat pada Gita yang kebetulan tidur di pinggir tempat tidur. Tubuhnya ia condongkan. Hingga benar-benar dekat. Rafael membenarkan rambut yang terurai menutupi wajah Gita. Entah sejak kapan, hati Rafael menjadi lebih damai ketika melihat Gita.
Suatu perasaan yang ingin Gita aman bahkan ia tidak pernah memasang foto Gita di sosial medianya, ia takut Gita menjadi bahan bully oleh fans fanatiknya. Ia takut Gita terganggu akan itu. Ia takut Gita berpikiran buruk tentangnya. Rafael membelai rambut Gita sekali lagi. Rafael rasa ia mulai mencintai Gita.
Gita walaupun hanya istri kontrak, ia merawat Rafael dengan baik. Melakukan semua hal layaknya seorang istri. Mulai dari makanan hingga kadang merapikan baju Rafael. Gita mampu mengelola uang bulanan dengan baik. Ya, Gita istri idaman.
Namun, apakah Gita memiliki rasa yang sama seperti yang Rafael rasakan. Entahlah.
Rafael merapikan selimut Gita, lalu beranjak pergi. Ia tak ingin terlalu lama melihat Gita membuatnya lepas kendali.
Rafael membenarkan letak bantalnya. Bahkan demi Gita sekarang ia rela tidur disofa. Rafael menghembuskan napas. Setelahnya ia benar-benar tertidur hingga subuh menjelang.