Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Suasana di dalam ruko A.R Design mendadak sunyi, hanya menyisakan deru kipas angin tua yang berputar di langit-langit.
Sakti masih berdiri di sana, menatap kartu nama sekretaris Reza di tangannya dengan seringai kemenangan. Ia merasa telah memegang kartu as yang akan menghancurkan Arumi sekaligus memperkaya dirinya.
"Seratus juta, Arumi. Itu harga kepalamu yang ditawarkan Reza," Sakti melangkah maju, memutar-mutar kunci motornya di jari telunjuk. "Kasih aku dua ratus juta sekarang, dan aku akan bungkam. Kalau tidak, kartu nama ini akan menjadi tiketmu kembali ke selokan."
Arumi tidak bergeming. Ia berdiri di balik meja potongnya yang luas, memegang sebilah penggaris pola berbahan baja yang dingin. Di balik manekin, Kirana mengintip dengan napas tertahan.
Arumi bisa merasakan ketakutan anaknya, tapi ia juga merasakan sesuatu yang lain bangkit dari dalam dirinya. Keberanian seorang ibu yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dikorbankan.
Arumi menarik napas panjang, lalu ia meletakkan penggaris bajunya dengan denting yang keras. "Kamu pikir Reza akan memberikan uang itu padamu, Sakti?"
Sakti tertawa. "Kenapa tidak? Dia sangat ingin tahu siapa orang yang sudah mempermalukan istrinya."
"Reza adalah pengusaha tekstil terbesar di kota ini karena dia licin seperti belut," Arumi melangkah keluar dari balik meja, mendekati Sakti tanpa rasa takut sedikit pun. "Dia tidak suka meninggalkan saksi. Begitu kamu memberitahunya bahwa A.R Design adalah aku, dia akan menyadari bahwa kamu adalah orang yang tahu terlalu banyak tentang masa lalu kami. Baginya, kamu bukan informan, kamu adalah potensi pemerasan di masa depan. Kamu pikir setelah mendapatkan informasi itu, dia akan membiarkanmu tetap hidup bebas dengan seratus juta di sakumu?"
Langkah Sakti terhenti. Seringainya perlahan memudar.
"Dia akan melenyapkanmu, Sakti. Bukan dengan tangannya sendiri, tapi dengan sekali jentikan jari ke arah teman-temannya di kepolisian atau preman bayaran yang jauh lebih profesional darimu," lanjut Arumi. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan setan yang masuk ke telinga Sakti. "Kamu hanya seekor anjing yang mencoba menggigit singa, tapi lupa ada pemburu di belakangmu."
Arumi mengeluarkan sebuah map transparan dari laci bawah. Di dalamnya bukan foto, melainkan lembaran dokumen hukum yang memiliki stempel resmi.
"Aku sudah mendaftarkan hak paten atas seluruh desain A.R Design minggu lalu. Dan sebagai pemilik sah perusahaan ini, aku memiliki kontrak perlindungan privasi dengan firma hukum milik Madam Ling," Arumi menyodorkan satu lembar surat pernyataan.
"Isinya sederhana. Jika terjadi kebocoran identitas yang mengakibatkan kerugian finansial pada A.R Design, dan kebocoran itu terbukti berasal dari tindakan pemerasan atau spionase industri, pelakunya akan dituntut ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah dan hukuman penjara minimal dua belas tahun."
Arumi menatap mata Sakti yang mulai membelalak. "CCTV di depan warung Ibu Ratna merekammu masuk ke sini dengan ancaman. Rekaman suaramu yang meminta uang sudah tersimpan di cloud server. Begitu identitasku bocor ke Reza, surat tuntutan ini akan melayang ke rumahmu dalam waktu kurang dari satu jam."
"Kamu... kamu menggertak!" Sakti berteriak, namun suaranya bergetar.
"Coba saja," tantang Arumi. Ia mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor, dan menyalakan loudspeaker.
"Halo, kantor hukum Baskara di sini. Ada yang bisa kami bantu, Ibu Arumi?" suara tegas seorang pria dari seberang telepon terdengar sangat formal dan mengancam.
Arumi mematikan telepon itu sebelum Sakti bisa bicara. "Itu adalah pengacara yang sudah aku bayar dengan uang muka dari Dinda. Uang yang kamu incar itu, Sakti, adalah uang yang sekarang melindungiku."
Sakti merasa terpojok. Rasa frustrasi membuatnya kalap. Ia mengangkat tangannya, hendak menampar Arumi seperti yang sering ia lakukan di masa lalu. "Diam kau, janda murahan!"
TAK!
Arumi tidak menghindar. Ia justru menangkap pergelangan tangan Sakti dengan tangan kirinya yang kini kuat karena terbiasa mencuci ribuan piring dan memutar mesin jahit. Dengan tangan kanannya, ia menusukkan ujung gunting jahitnya yang runcing tepat ke arah jaket kulit Sakti, hanya beberapa milimeter dari ulu hatinya.
"Sentuh aku satu kali lagi," desis Arumi, "dan aku pastikan kamu akan menyesal pernah dilahirkan."
Mata Arumi berkilat dingin, tanpa ada setitik pun keraguan di sana. Sakti terpaku. Ia tidak mengenali wanita di depannya. Arumi yang dulu akan menangis, Arumi yang dulu akan gemetar. Tapi wanita ini... wanita ini siap untuk membunuh jika perlu.
"Aku bukan lagi Arumi yang bisa kamu pukul, Sakti. Aku adalah wanita yang sudah mati di jalanan saat hujan badai, dan yang berdiri di depanmu sekarang hanyalah mayat hidup yang tidak punya rasa takut," Arumi melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Sakti terhuyung mundur.
"Pergi. Dan jangan pernah kembali. Jika aku melihatmu lagi di radius satu kilometer dari ruko ini, aku tidak akan menelepon polisi. Aku akan mengirimkan bukti-bukti kejahatanmu langsung ke musuh-musuhmu di pasar. Kamu tahu apa yang mereka lakukan pada pengkhianat, kan?"
Sakti mundur perlahan, ketakutan murni terpancar dari wajahnya. Ia menyadari bahwa Arumi bukan lagi mangsa, dia adalah predator baru di kota ini. Tanpa sepatah kata pun, Sakti lari keluar ruko, menyalakan motornya, dan menghilang di tengah keramaian pasar.
Arumi meletakkan guntingnya ke atas meja. Napasnya tersengal, namun punggungnya tetap tegak.
Kirana keluar dari tempat persembunyiannya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia mendekati ibunya dan memegang tangan Arumi yang masih menggenggam penggaris baja.
"Ibu hebat," bisik Kirana. "Ibu tidak takut sama orang jahat itu."
Arumi berlutut, menatap Kirana. Ia menghapus sisa keringat di dahi anaknya. "Ibu takut, Kirana. Tapi Ibu lebih takut jika Ibu tidak bisa menjagamu. Ingat, jangan pernah biarkan orang lain merasa mereka punya kuasa atas dirimu hanya karena mereka lebih kuat secara fisik. Gunakan otakmu, gunakan hukum, dan jangan pernah tunjukkan kelemahanmu."
Tiba-tiba, pintu ruko terbuka kembali. Arumi refleks mengambil guntingnya, namun ternyata itu adalah Madam Ling. Wanita tua itu tersenyum lebar, menepuk tangannya pelan.
"Luar biasa, Arumi. Kamu baru saja memenangkan perang mental pertamamu," Madam Ling mendekat, menatap bekas cengkeraman Arumi di tangan Sakti tadi. "Tapi ingat, Sakti hanyalah pion. Sekarang, pion itu sudah lari. Reza akan segera tahu bahwa ada sesuatu yang besar di balik A.R Design. Dia tidak akan lagi mengirim sekretaris, dia akan datang sendiri."
Arumi berdiri, merapikan daster batiknya yang bersahaja. "Biarkan dia datang, Nyonya. Saya sudah menyiapkan karpet merah untuknya. Karpet merah yang terbuat dari jaring laba-laba."
Arumi kembali duduk di depan mesin jahitnya. Ia mengayuh pedalnya dengan irama yang tenang namun pasti. Suara mesin jahit itu kini terdengar seperti detak jantung sebuah rencana besar yang siap meledak.
"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Reza," batin Arumi. "Kali ini, aku yang akan memegang kendali atas setiap helai benang di hidupmu."
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi