NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5.Rahasia pemilik villa.

Malam semakin larut. Suasana di dalam rumah kayu itu terasa hening, hanya terdengar suara jangkrik di luar dan desiran angin yang menerpa dedaunan.

Rian duduk tegak di kursi kayu jati yang agak keras. Wajahnya tampak serius, matanya tak lepas dari layar ponsel pintar di tangannya. Sesekali ia menghela napas panjang, menunggu notifikasi atau panggilan masuk dari rekan tim intel-nya di kantor.

Sebagai seorang perwira polisi, mendapatkan data kepemilikan aset tanah dan bangunan sebenarnya bukan hal yang sulit. Namun karena villa itu sudah lama tidak dihuni dan catatan administrasinya mungkin tertumpuk debu, butuh waktu sedikit lebih lama untuk menggali informasinya.

"Dasar birokrasi... cepat sedikit dong," gerutu Rian pelan, mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan tidak sabar.

Di ruang tengah yang sederhana itu, Rian merasa sedikit canggung. Ia melirik sekeliling. Rumah ini bersih dan wangi, tapi ada suasana yang... berbeda. Dingin. Dan gadis yang akan menjadi istrinya ini benar-benar penuh misteri.

Sementara itu, di dapur yang bersebelahan...

Salsa sedang sibuk mengaduk wajan. Asap putih mengepul membawa aroma masakan yang sangat menggugah selera. Ia memasak dengan terampil, meski pikirannya sedikit kacau.

Di sampingnya, melayang-layang sosok Noni dengan gaun putihnya yang basah kuyup. Arwah itu terus mengikuti gerakan tangan Salsa, matanya berbinar penuh harap.

"Salsa... datanya sudah dapat belum?" tanya Noni dengan suara melengking khasnya.

"Belum Non, sabar ya. Paman itu polisi pasti dapat kok," jawab Salsa pelan sambil tetap fokus memotong sayuran.

"Baguslah... aku sudah tidak sabar mau ketemu Kakakku," ucap Noni sambil tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih. Namun senyum itu terlihat sedikit menyeramkan bagi orang biasa, tapi tidak bagi Salsa.

Tiba-tiba Salsa menoleh tajam ke arah Noni, lalu menunjuk wajahnya dengan ujung pisau dapur.

"Heh! Noni! Aku peringatkan sekali lagi ya!" desis Salsa pelan tapi tegas. "Jangan kamu macam-macam sama tamu itu! Jangan muncul tiba-tiba kayak tadi, jangan bikin suara aneh, apalagi sampai menempel atau menyentuh dia! Mengerti?!"

Noni mengerjap bingung. "Kenapa? Kan aku cuma mau lihat-lihat?"

"Lihat apaannya lihat! Kamu lupa dia pingsan lihat kamu tadi?!" Salsa memutar bola matanya malas. "Pria itu penakut setengah mati! Kalau sampai kamu bikin dia jantungan atau pingsan lagi di sini, repot aku yang harus gotong lagi! Badannya berat banget tau!"

Noni tertawa kecil. "Hihihi... iya deh iya. Aku janji aku bakal diam di pojokan aja kok. Aku nggak bakal ganggu si 'Paman Penakut' itu."

"Sudah bagus begitu. Kalau kamu nurut, janji aku bakal bantu kamu tuntaskan masalahmu sama kakakmu," ucap Salsa lembut, lalu kembali sibuk dengan masakannya.

Tak berapa lama kemudian...

Tring!

Notifikasi pesan masuk berbunyi nyaring.

"Salsa! Dapat! Datanya sudah masuk!" teriak Rian dari ruang tamu dengan nada lega.

Salsa segera mematikan kompor dan berjalan cepat keluar. "Benar? Coba lihat!"

Rian menunjuk layar ponselnya. "Namanya Budi Hartono. Usia 55 tahun. Alamat rumahnya ada di kota, tapi memang benar dia pemilik sah villa tua itu. Ini nomor HP-nya juga."

Salsa membaca data itu dengan seksama. Matanya berbinar. Akhirnya... Noni bisa tenang.

"Makasih, Rian," ucap Salsa tulus.

"Iya, sama-sama. Sekarang kesepakatannya..." Rian hendak mengingatkan soal janji pergi.

"Iya aku ingat! Tapi tolong... biarkan aku hubungi dia dulu sekarang juga. Aku harus bicara penting," potong Salsa cepat. Ia tidak mau menunda lagi.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena antisipasi, Salsa menekan nomor yang tertera di layar ponsel Rian.

Tuuut... Tuuut...

Suara sambungan telepon terdengar. Jantung Salsa berdegup kencang. Noni yang tadi diam di sudut ruangan kini langsung melayang mendekat, wajahnya tegang menunggu.

"Halo?"

Suara berat seorang pria paruh baya terdengar dari seberang sana.

"Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak. Saya Salsa, saya..."

"Salsa? Siapa? Saya tidak kenal. Mau nawarin apa? Saya tidak butuh," potong suara itu ketus dan hendak memutus sambungan.

"Bukan Pak! Tunggu dulu!" Salsa buru-buru mencegah. "Saya menelepon soal villa tua di desa ini, Pak. Dan soal seseorang yang bernama Noni..."

"Noni?!" Suara di telepon itu berubah kaget. "Saya tidak kenal orang bernama nama itu. Salah sambung kamu!"

"PAK! DENGARKAN INI DULU SEKALI SAJA!" Salsa mengeraskan suaranya. Ia menutup mata, mengingat kata-kata yang baru saja diucapkan Noni padanya detik yang lalu.

"TERNYATA BAPAK TIDAK PERNAH MENGINGAT! BAPAK TIDAK PERNAH MENYESAL YA?!"

Salsa menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang membuat bulu kuduk merinding dengan tegas.

"KENAPA KAKAK MENDORONGKU JATUH KE SUNGAI?!!"

DEG!

Seketika dunia menjadi hening total.

Suara di seberang telepon lenyap. Tidak ada jawaban. Tidak ada napas. Hanya kebisuan yang mencekam selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam.

Salsa sendiri terbelalak. 'Ya ampun... jadi itu rahasianya? Kakaknya yang mendorong Noni?' Ia menatap Noni yang kini menangis diam, air mata beningnya jatuh tapi tidak menyentuh lantai.

Di sebelahnya, Rian melongo besar. Wajahnya pucat pasi.

'Mendorong jatuh ke sungai? Apa maksudnya? Kenapa dia bicara seperti itu? Apa dia kenal pria di telepon itu? '

Rian mulai merasa tidak nyaman. Gadis di depannya ini... terlalu tenang saat mengucapkan kalimat mengerikan itu.

Akhirnya, suara di telepon kembali terdengar, tapi kali ini suaranya bergetar hebat, penuh keterkejutan dan ketakutan.

"K-kamu... siapa sebenarnya?! Bagaimana kamu bisa tahu kalimat itu?! Itu... itu rahasia antara aku dan adikku yang sudah mati puluhan tahun lalu!" suara Pak Budi terdengar putus asa.

"Saya orang yang bisa menyampaikan pesan darinya, Pak. Dia menunggu Bapak di villa itu selama ini. Dia ingin tahu alasannya," jawab Salsa pelan namun tegas.

"Aku... aku akan kesana, aku.. Akan menemui di villa"

"Baik, Pak. Aku akan menunggu Bapak di sana sekarang juga," jawab Salsa singkat.

Tut... Tut...

Telepon ditutup.

Salsa menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel itu di meja. Perlahan, ia mendongak dan menatap ke arah sudut ruangan yang kosong... tepat di mana Noni berdiri menangis tersedu-sedu.

"Sudah selesai Non. Kakakmu akan datang. Kamu bisa dapatkan jawabanmu malam ini," ucap Salsa lembut.

Noni mengangguk berkali-kali, lalu perlahan menghilang menembus dinding menuju arah villa.

Kini tinggal Salsa dan Rian di ruangan itu.

Suasana menjadi sangat canggung dan mencekam.

Rian menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia melihat Salsa berbicara sendiri, menatap ke ruang kosong seolah ada orang di sana, mengucapkan kalimat-kalimat aneh dan menyeramkan di telepon.

'Gadis ini... siapa sebenarnya dia? Kenapa aku merasa merinding sekali di sini?' batin Rian. Insting polisinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi membuat logikanya bingung.

Ia ingin sekali lari keluar dari rumah angker ini sekarang juga. Ia takut. Sangat takut.

Tapi...

Ingatan pada pesan ayahnya melintas di kepala.

'Rian, bawa Salsa pulang bersamamu hari ini juga. Jangan tinggalkan dia di sana sendirian. Itu wasiat Kakek Tio.'

Rian mengeratkan genggaman tangannya di pangkuan. Ia tidak bisa pergi. Ia tidak bisa meninggalkan gadis misterius dan menakutkan ini sendirian. Ia harus tetap di sini, mengawasi, dan membawanya pulang sesuai perintah.

Meski jantungnya rasanya mau copot karena takut.

"Kita... kita harus pergi ke villa itu sekarang?" tanya Rian terbata-bata, berusaha terdengar gagah tapi suaranya terdengar sedikit bergetar.

Salsa menoleh, menatap wajah pucat Rian, dan tanpa sadar tersenyum miring.

"Iya, Pak Polisi. Ayo... temani aku menemui,paman tidak mau kan membiarkan gadis imut sendirian."

"Paman"

Rian syok dia disebut paman oleh calon istrinya, yang memang betul jarak umur mereka cukup jauh.

Dan wajar gadis itu memanggilnya paman, Rian pun ikut dari belakang Salsa. Dirinya juga penasaran apa yang akan dia lakukan, walaupun dia tidak suka dengan urusan berbau gaib.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!