NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:438
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 5 : Badai telah datang

Langit masih berwarna biru gelap ketika Celestine sudah berdiri di halaman depan kastil. Sesuai janjinya, ia tidak lagi mengenakan gaun yang menyapu lantai. Ia meminjam setelan berburu milik salah satu pengawal muda, celana kulit ketat dan jubah wol tebal yang membuatnya tampak seperti seorang ksatria remaja ketimbang seorang putri bungsu Kerajaan Valley.

Udara pagi itu begitu tajam hingga setiap napas yang ia keluarkan membentuk kabut putih tebal di depan wajahnya.

George datang tak lama kemudian. Ia menuntun seekor kuda jantan besar berwarna hitam legam yang tampak beringas. George sendiri sudah mengenakan zirah ringannya, lengkap dengan pedang hitam yang selalu setia di pinggangnya. Ia berhenti di depan Celestine dan memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Kau benar-benar tidak bercanda soal pakaian itu," kata George sambil menyerahkan kendali kuda kepada seorang prajurit disitu.

"Tentu saja tidak. Kau bilang tidak ada kereta kencana, jadi aku menyesuaikan diri. Apakah aku terlihat sangat aneh?" tanya Celestine sambil merapikan jubah wolnya yang terasa sedikit berat.

George mendengus pelan, ada kilatan geli yang sangat tipis di matanya. "Kau terlihat seperti prajurit yang baru pertama kali akan dikirim ke garis depan dan sedang ketakutan setengah mati. Naiklah. Kita harus berangkat sebelum badai salju kecil di ufuk timur itu sampai ke sini."

George naik ke atas punggung kuda dengan satu gerakan luwes, lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Celestine. Celestine meraih tangan itu dan dengan tarikan kuat, ia ditarik naik untuk duduk di depan George. Punggung Celestine bersentuhan langsung dengan dada George yang keras dan dingin karena zirah peraknya.

"Pegang kendalinya jika kau takut jatuh, atau pegang lenganku," perintah George singkat.

"Aku akan memegang ini saja," sahut Celestine sambil mencengkeram erat pinggiran zirah lengan George.

Kuda itu mulai melangkah keluar dari gerbang kastil, menyusuri jalan setapak yang curam dan berbatu menuju lembah di bawah sana. Selama perjalanan, keheningan sempat menyelimuti mereka, hanya terdengar suara tapak kuda yang menghantam salju yang mengeras.

"George, kenapa kau tidak membiarkan pengawal lain saja yang membawaku?" tanya Celestine memecah kesunyian.

"Karena jika kau mati di bawah pengawasan mereka, kakakmu akan menganggap itu sebagai pernyataan perang. Aku lebih suka menjaga beban diplomatikku sendiri," jawab George dengan nada datarnya yang khas.

"Beban diplomatik? Kau sangat pandai merusak suasana pagi yang indah, Tuan Muda," balas Celestine sambil sedikit menyikut zirah George.

"Indah? Lihatlah ke sekelilingmu, Putri. Tidak ada yang indah dari tanah yang membeku dan pohon-pohon yang mati karena kedinginan."

"Kau salah. Lihat bagaimana salju itu menempel di dahan pohon pinus. Itu terlihat seperti kristal yang sengaja ditata oleh pengrajin perhiasan terbaik. Kau hanya terlalu lama melihat darah hingga lupa cara melihat kecantikan."

George tidak membalas. Ia justru memacu kudanya sedikit lebih cepat saat mereka mulai memasuki area pemukiman desa. Desa itu sangat sederhana, rumah-rumahnya terbuat dari kayu hitam dan batu kali dengan atap yang sangat miring agar salju tidak menumpuk. Kabut tebal menyelimuti jalanan, membuat suasana terasa sangat misterius.

Saat mereka sampai di tengah desa, beberapa penduduk keluar dari rumah mereka. Wajah-wajah mereka tampak pucat dan lelah, namun saat mereka melihat George, mereka segera membungkuk hormat dengan rasa takut yang bercampur dengan pemujaan.

"Tuan Muda George! Terima kasih sudah datang!" seru seorang pria paruh baya yang tampaknya adalah kepala desa. Ia berlari mendekati mereka dengan napas terengah-engah.

George turun dari kuda dan membantu Celestine turun. "Ada laporan tentang serangan semalam, Thomas?"

"Ya, Tuan. Mahluk bayangan itu muncul lagi di dekat kandang ternak. Mereka tidak menyerang manusia kali ini, tapi mereka membekukan tiga ekor sapi kami hingga hancur menjadi serpihan es hitam. Kami sangat ketakutan jika malam berikutnya mereka akan mengincar anak-anak," lapor pria bernama Thomas itu dengan tangan yang gemetar.

George menghela napas. Ia berjalan menuju kandang yang dimaksud, diikuti oleh Celestine yang merasa ngeri mendengar laporan itu. Di sana, mereka melihat sisa-sisa ternak yang sudah hancur. Bukan darah yang terlihat, melainkan debu hitam yang mengeluarkan aroma busuk.

"Ini sihir hitam tingkat rendah," gumam George sambil berlutut dan menyentuh debu itu. "Seseorang sengaja melepaskan mereka di sini untuk memancing kita keluar dari kastil."

Celestine mendekat dan berjongkok di samping George. "Siapa yang akan melakukan hal sekejam ini hanya untuk memancing mu?"

"Musuh yang tahu bahwa aku tidak bisa membiarkan desa ini menderita," jawab George. Ia berdiri dan menatap ke arah hutan gelap yang mengelilingi desa. "Mereka menyerang titik terlemah untuk melihat seberapa cepat reaksiku."

George kemudian berbalik ke arah kepala desa. "Thomas, bawa semua penduduk ke aula utama malam ini. Aku akan memasang segel perlindungan sementara. Jangan ada yang keluar rumah sebelum matahari benar-benar naik."

"Terima kasih, Tuan Muda! Terima kasih!"

Setelah kepala desa itu pergi, George tampak sangat gelisah. Ia terus menatap hutan dengan tangan yang sudah berada di hulu pedangnya.

"Kau akan berburu mereka sekarang?" tanya Celestine dengan nada khawatir.

"Tidak. Badai akan datang dalam satu jam. Jika aku masuk ke hutan sekarang, aku akan terjebak. Kita harus menunggu di sini," kata George. Ia menatap Celestine dengan tatapan serius. "Kuharap kau tidak menyesal ikut denganku hari ini. Ini bukan tamasya yang menyenangkan."

"Aku tidak menyesal. Aku ingin tahu bagaimana kau menangani hal-hal seperti ini," sahut Celestine mantap.

Mereka kemudian dipersilakan masuk ke salah satu rumah paling kecil namun cukup hangat karena perapiannya. Di dalam, ada seorang anak kecil perempuan yang sedang meringkuk di sudut ruangan. Ia menatap Celestine dengan mata yang besar dan penuh rasa ingin tahu.

Celestine mendekati anak itu dan berlutut di depannya. "Hai, siapa namamu?"

Anak itu diam sejenak sebelum berbisik, "Mina. Apakah kau bidadari dari Valley?"

Celestine tertawa kecil, suara tawanya membuat suasana ruangan yang tegang sedikit mencair. "Bukan, aku hanya seorang putri yang sedang belajar menjadi kuat seperti Tuan Muda mu itu."

Mina menatap George yang sedang berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan peta desa. "Tuan Muda George sangat hebat. Dia pernah membunuh monster raksasa yang mencoba memakan ku tahun lalu. Tapi dia sangat dingin. Ibu bilang tangannya terbuat dari es."

Celestine melirik ke arah George yang tampaknya mendengar percakapan itu namun pura-pura tidak peduli. "Tangannya memang dingin, Mina. Tapi dia menggunakannya untuk menjagamu tetap hangat dan aman, bukan?"

Anak itu mengangguk pelan. "Aku ingin punya tangan seperti itu juga agar bisa melindungi ibu."

George tiba-tiba berjalan mendekat dan meletakkan tangannya yang bersarung tangan di atas kepala Mina. "Kau tidak ingin tangan seperti ini, kecil. Berdoalah agar kau selalu memiliki hati yang hangat seperti putrinya Valley ini."

George kemudian menatap Celestine. "Badai sudah mulai. Kita tidak bisa kembali ke kastil malam ini. Kita akan menginap di sini bersama penduduk desa."

"Apakah itu aman?" tanya Celestine.

"Selama aku ada di sini, tempat ini adalah tempat paling aman di seluruh Heavenorth," kata George dengan kepercayaan diri yang mutlak.

Malam itu, badai salju menghantam desa dengan sangat ganas. Suara angin menderu seperti jeritan mahluk dari kegelapan. Di dalam aula desa yang dipenuhi penduduk, George duduk di dekat pintu masuk dengan pedang yang diletakkan di pangkuannya. Ia tidak tidur sama sekali.

Celestine duduk di sampingnya, membungkus tubuhnya dengan selimut kasar yang diberikan penduduk desa. "George, ceritakan padaku tentang pertama kali kau menggunakan sihirmu."

George menatap api perapian yang menari di tengah aula. "Aku berusia tujuh tahun. Seekor monster liar masuk ke taman belakang saat aku sedang bermain. Aku sangat takut hingga tanpa sadar aku membekukan seluruh kolam dan monster itu sekaligus. Tapi aku juga membekukan pelayan yang mencoba menyelamatkanku."

Celestine terkesiap. "Apakah dia... selamat?"

"Dia kehilangan satu lengannya," suara George terdengar hampa. "Sejak saat itu, aku menyadari bahwa kekuatanku bukan untuk bermain. Itu adalah senjata yang harus dijinakkan dengan disiplin yang kejam. Aku berhenti tertawa, berhenti berlari-lari, dan mulai belajar cara menjadi mesin."

"Itulah sebabnya kau begitu dingin padaku sejak awal?" tanya Celestine lembut.

"Aku dingin pada semua orang, Celestine. Kedekatan hanya akan membuatku lengah, dan di tempat ini, kelengahan berarti kematian bagi banyak orang."

"Tapi kau menangkap ku saat aku jatuh," bisik Celestine.

George menoleh dan menatap mata Celestine dalam kegelapan yang remang-remang. "Itu insting. Tapi sekarang, aku mulai berpikir bahwa menangkap mu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku buat."

"Kenapa?"

"Karena kau membuatku mulai merasakan hangat kembali, dan itu sangat menyakitkan bagi seseorang yang seharusnya membeku," jawab George jujur.

Celestine terdiam, kata-kata itu terasa lebih tajam dari pedang mana pun. Ia mengulurkan tangannya di bawah selimut dan menyentuh tangan George yang bebas. Kali ini, George tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Celestine menggenggam jemarinya, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan di tengah badai yang tak kunjung usai.

Di luar sana, monster-monster mungkin sedang mengintai di balik kabut, namun di dalam aula desa yang sempit itu, sang putri dan tuan mudanya sedang bertarung melawan musuh yang jauh lebih sulit dikalahkan: rasa takut akan perasaan yang mulai tumbuh di tempat yang salah.

"Tidurlah, Celestine. Besok akan menjadi hari yang panjang," kata George pelan.

"Janji kau akan ada di sini saat aku bangun?" tanya Celestine dengan mata yang mulai memberat.

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," jawab George.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Heavenorth, Celestine merasa benar-benar aman, meskipun ia berada di tengah gerbang neraka yang paling dingin sekalipun. Perjalanannya masih sangat jauh, masih ada lebih dari seratus bab yang harus ia lalui, namun di malam yang gelap ini, ia tahu bahwa ia telah menemukan alasan mengapa ia harus bertahan di tanah es ini.

Malam semakin larut, namun suara deru angin di luar aula desa justru terdengar semakin beringas, menghantam dinding kayu rumah penduduk dengan kekuatan yang sanggup merontokkan sendi-sendi bangunan. Di dalam aula yang remang, hanya terdengar suara napas teratur dari puluhan penduduk desa yang kelelahan dan suara kayu bakar yang sesekali meletup di tengah perapian.

Celestine masih belum bisa memejamkan mata sepenuhnya. Meski selimut kasar itu menusuk-nusuk kulitnya yang terbiasa dengan kain sutra, kehadiran George di sampingnya memberikan rasa nyaman yang aneh. Ia melirik George. Pria itu masih dalam posisi yang sama, duduk tegak dengan punggung bersandar pada pilar kayu, matanya terpejam namun tangan kanannya tetap menggenggam hulu pedang dengan sangat erat.

"George," bisik Celestine hampir tak terdengar. "Kau benar-benar tidak akan tidur?"

George membuka matanya sedikit, hanya menyisakan celah kelabu yang dingin. "Tidurlah, Celestine. Jangan membuang energimu untuk mencemaskan ku."

"Bagaimana aku bisa tidur jika pelindungku sendiri tampak seperti patung yang siap pecah?" balas Celestine sambil menegakkan duduknya. "Katakan padaku, apakah sihir yang kau pasang di gerbang desa tadi menguras banyak tenagamu?"

George menghela napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. "Hanya sedikit. Tetapi mengendalikan suhu tubuh agar tidak ikut membeku saat badai sebesar ini datang adalah bagian yang paling melelahkan. Darahku merespons badai di luar sana. Ia ingin ikut menjadi dingin seperti udara di luar."

Celestine memperhatikan tangan George yang kini tidak mengenakan sarung tangan. Jemarinya tampak sangat pucat, hampir membiru di bagian kuku. Tanpa banyak bicara, Celestine menarik tangan George ke dalam balutan selimutnya dan menempelkannya ke perutnya yang hangat.

George tersentak, mencoba menarik tangannya kembali. "Apa yang kau lakukan? Kau gila?"

"Diamlah dan biarkan tanganku menghangatkan mu," perintah Celestine dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Kau bilang kau tidak ingin menjadi mesin, bukan? Mesin tidak butuh kehangatan, tapi manusia butuh."

George terdiam, otot-otot lengannya yang tadinya tegang perlahan mulai mengendur. Ia merasakan panas tubuh Celestine merambat melalui kain pakaiannya, menyentuh kulitnya yang sedingin es. Rasanya menyakitkan, seperti ribuan jarum yang menusuk sarafnya yang sudah mati rasa, namun perlahan rasa sakit itu berubah menjadi kenyamanan yang membuat kepalanya terasa berat.

"Kau terlalu berani untuk seorang putri yang bahkan tidak tahu cara memegang pedang dengan benar," gumam George, suaranya kini terdengar jauh lebih lembut dan tidak terlalu mengancam.

"Aku mungkin tidak tahu cara memegang pedang, tapi aku tahu cara melihat kapan seseorang sedang menderita," sahut Celestine. "Kenapa kau selalu mendorong semua orang menjauh? Apakah kau takut mereka akan melihat bahwa kau sebenarnya bisa hancur?"

George memalingkan wajahnya ke arah kegelapan aula. "Di tempat ini, pemimpin yang tampak bisa hancur adalah undangan bagi maut. Penduduk desa ini butuh sosok yang tak terkalahkan agar mereka bisa tidur dengan tenang. Ayahku butuh pewaris yang lebih kuat dari badai agar nama La’ Mortine tetap dihormati. Jika aku menunjukkan sedikit saja kelemahan, maka harapan mereka akan ikut hancur."

Celestine menatap profil wajah George dari samping. Garis rahangnya yang tegas tampak tajam di bawah cahaya api yang redup. "Tapi aku bukan rakyatmu, George. Aku juga bukan ayahmu. Aku adalah... seseorang yang dikirim untuk memilihmu."

George menoleh kembali, menatap dalam ke mata Celestine. "Dan setelah semua yang kau lihat malam ini, apakah kau masih ingin memilihku? Seorang pria yang mungkin akan berubah menjadi patung es dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan? Seseorang yang tidak bisa menjanjikan mu musim panas di Valley?"

Celestine tersenyum tipis, tangannya mengusap punggung tangan George yang kasar di bawah selimut. "Aku tidak pernah menyukai musim panas yang terlalu terik. Itu membuatku merasa pusing. Aku lebih suka berada di sini, di tempat di mana setiap napas terasa nyata karena kita harus berjuang untuk mendapatkannya. Jika kau menjadi patung es suatu saat nanti, maka aku akan menjadi mawar yang membeku bersamamu di dalam es itu."

George tertegun. Kata-kata itu terdengar sangat puitis namun juga sangat berbahaya. Ia merasakan sesuatu di dalam dadanya bergejolak, sesuatu yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Celestine, hingga napas mereka bercampur di udara yang dingin.

"Kau akan menyesali kata-kata itu, Celestine," bisik George.

"Aku tidak pernah menyesali pilihanku," balas Celestine.

Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari arah gerbang desa. Suaranya bukan seperti hantaman kayu, melainkan seperti suara es yang pecah dengan ledakan sihir yang dahsyat. George langsung berdiri, menarik tangannya dari genggaman Celestine dan menghunus pedang hitamnya dalam satu gerakan refleks yang sangat cepat.

Penduduk desa yang tadi tertidur kini terbangun dengan kepanikan. Anak-anak mulai menangis, dan para pria segera meraih kapak atau alat tani apa pun yang bisa mereka jadikan senjata.

"Tetap di sini! Jangan ada yang keluar dari aula!" perintah George dengan suara yang menggelegar, mengembalikan ketenangan melalui otoritasnya.

George menatap Celestine. "Segel perlindunganku baru saja dihancurkan secara paksa. Seseorang dengan kekuatan sihir yang setara denganku baru saja tiba di luar sana. Tetaplah di belakang Thomas, jangan pernah mencoba keluar apa pun yang kau dengar."

"George, tunggu!" Celestine meraih ujung jubah George. "Siapa yang bisa menghancurkan segel mu?"

"Hanya ada satu kemungkinan," mata George berkilat dengan kemarahan yang dingin. "Ksatria dari Kerajaan Valley yang membawa sihir hitam. Sepertinya pengkhianatan yang dibicarakan ayahku sudah sampai ke depan pintu kita."

George melangkah keluar dari aula, menembus badai salju yang mengamuk di luar. Pintu aula tertutup rapat, meninggalkan Celestine dalam kegelisahan yang memuncak. Ia tidak bisa hanya duduk diam sementara George menghadapi musuh yang mungkin berasal dari tanah kelahirannya sendiri.

Celestine menoleh ke arah Thomas, sang kepala desa. "Thomas, apakah ada pintu keluar lain di bangunan ini?"

"Tuan Putri, Tuan Muda George memerintahkan Anda untuk tetap di sini!" cegah Thomas dengan wajah pucat.

"Aku tidak bertanya tentang perintahnya. Aku bertanya tentang jalan keluar!" tegas Celestine, matanya memancarkan wibawa putri raja yang tidak bisa dibantah.

Thomas menunjuk ke arah jendela kecil di bagian belakang yang tertutup papan kayu. Tanpa membuang waktu, Celestine mengambil belati kecilnya, mencungkil papan itu, dan melompat keluar menuju badai yang membeku. Ia harus tahu siapa yang berani menyerang dengan bendera kakaknya, dan ia harus memastikan George tidak membiarkan kedinginan itu menelan jiwanya saat ia bertempur.

Badai di luar sana benar-benar buta, namun di kejauhan, Celestine melihat cahaya ungu kehitaman yang meledak-ledak di langit, bertabrakan dengan cahaya biru terang milik George. Pertempuran antara dua kekuatan besar baru saja dimulai di tengah desa yang sunyi itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!