Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan Belas
Darren melempar map ke atas meja dengan kasar. Di hadapannya berdiri Reymond.
“Masih belum ketemu?” tanyanya dingin.
“Belum, Bos.”
Rahang Darren mengeras.
“Sial. Perempuan seperti dia bisa pergi tanpa jejak? Bahkan dia sampai kepikiran mengembalikan black card pemberianku, hanya supaya aku tidak bisa melacaknya. Awas kamu Daniela!” Bisik hatinya geram bercampur frustrasi.
Padahal sebelumnya dia pikir Daniela tidak akan berani pergi terlalu jauh.
“Cari lagi.” perintah Darren tegas.
“Semua tempat sudah kami periksa.”
“Kalau begitu ulangi!” bentaknya tiba-tiba.
Ruangan langsung terasa mencekam.
Darren mengusap wajah, kasar. Napasnya terasa berat dan sesak.
“Menyebalkan kamu, Daniela! Baru beberapa hari pergi saja sudah membuat semuanya berantakan.” Hatinya terus mengumpat. Dia mencoba mengenyahkan rasa lain yang timbul dari perasaan terdalamnya.
“Ini Bos.”
Reymond meletakkan secarik kertas yang ia minta dari Haruni, di atas meja Darren.
“Apa itu?” Tanya Darren ketus.
“Bos bisa lihat sendiri. Itu tulisan Nona Daniela. Dia sudah dengan sengaja memutuskan pergi dan tanpa ingin melibatkan sahabatnya.”
Darren mengambil kertas yang tergeletak di hadapannya, lalu ia mulai membaca. Setelah selesai, dengan kesal ia meremas kertas itu.
“Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu dan anak buahmu harus segera menemukan Daniela!”
Mendengar itu Reymond hanya bisa menunduk. tapi cepat-cepat menganggukkan kepalanya, karena sangat tahu bagaimana watak dari sang bod.
“Baik bos kami akan berusaha terus untuk mencari Nona Daniela sampai ketemu. Oh iya, baru saja saya juga menerima telepon dari ayah anda. Katanya beliau dan Ibu anda akan tiba hari ini di Jakarta.”
“Apa?! Untuk apa mereka datang ke sini?”
“Kalau alasan kedatangannya, saya minta maaf karena tidak mengetahuinya. Beliau hanya mengatakan itu.”
Darren mendengus tidak suka. Dia bisa menduga kalau kedatangan kedua orang tuanya pasti bukan sekedar untuk menengok dirinya. Pasti ada hal lain, meski ia tidak tahu apa itu.
“Baiklah Bos, saya pamit untuk melanjutkan tugas saya.” Ucap Reymond dengan sopan.
Dan diangguki Darren.
***
Benar saja, malam harinya Antonio Callister dan Citra B'tari, kedua orang tua Darren, tiba di rumah putranya. Kedatangan mereka diterima setengah hati oleh Darren. Feeling lelaki itu mengatakan, akan terjadi sesuatu.
Keesokan pagi sebelum Darren berangkat ke kantor, kedua orang tuanya meminta bicara pada putranya itu.
Dan di ruang kerja Darren lah kini mereka berada.
Tanpa membuang waktu, Antonio melemparkan beberapa lembar foto di atas meja kerja Darren. Darren pun mengambil salah satunya. Seketika wajahnya memucat. Di dalam foto itu terlihat Daniela yang tengah memakai pakaian minim saat ia membawanya ke hotel. Lalu ia mengambil lembaran foto yang lainnya. Ada adegan di dalam klub, saat Daniela tengah memainkan turntable-nya, saat dia menendang seorang laki-laki yang mencoba menyentuh Daniela, saat ia menyeret Daniela dari atas stage, dan masih banyak adegan lainnya.
“Dari mana Papa dapetin semua foto-foto itu?”
Tanya Darren geram. Ia mengira ayahnya sengaja memasang mata-mata untuk mengawasinya.
“Tidak penting aku dapat dari mana. Yang sekarang harus kamu lakukan adalah menjelaskan, siapa wanita j*lang itu?”
Rahang Darren mengeras saat kata merendahkan untuk Daniela keluar dari mulut ayahnya.
“Jangan sebut dia seperti itu! Bahkan dia jauh lebih baik dari yang Papa tuduhkan.”
“Hahaha...”
Gelak tawa Antonio memenuhi ruangan kerja Darren yang luas.
“Kamu pikir Papa tidak tahu, wanita seperti apa dia?”
“Cukup! Kalau aku hanya disuruh untuk mendengarkan hinaan-hinaan papa pada dia, lebih baik sekarang aku pergi ke kantor. Masih banyak urusan yang lebih penting dari ini.”
Darren meraih kunci mobil sport-nya yang tergeletak di atas meja.
“Dan aku tidak akan menjelaskan apa pun pada kalian, tentang hal ini. Ini hidup aku!” ucap Darren tegas sambil melirik jam tangannya, lalu bersiap pergi.
“Permisi.”
Lelaki itu berjalan menuju pintu keluar.
“Darren, berani sekali kamu bersikap seperti itu pada papamu!” teriak sang ibu, marah. Dan suara ibunya ini lah yang bisa menghentikan langkah Darren.
“Apa lagi, Ma? Aku memang harus segera ke kantor. Ada hal penting yang harus aku kerjakan.”
“Tapi papa kamu selalu lebih mementingkan keluarga dari apa pun. Kamu mau menjadi manusia angkuh? Bahkan terhadap kami orang tuamu?”
Darren terdiam. Akhirnya dia mencoba mengalah, meski hatinya masih mendongkol saat tadi ayahnya menghina Daniela. Entahlah, kenapa dia harus merasa marah Daniela dikata-katai seperti itu oleh ayahnya.
Darren kembali duduk di hadapan kedua orang tuanya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Crissiana?”
Tanya Citra. Suaranya mulai terdengar tenang kembali.
Namun tidak dengan Darren! Mendengar nama itu disebut, amarahnya langsung kembali memuncak.
“Jangan pernah menyebut nama perempuan itu di hadapanku!” desis Darren. Giginya saling menekan dan menimbulkan bunyi kriet. Menandakan kalau dia tengah murka.
“Ada apa Darren? Bukankah kamu lebih memilih dia daripada Selina?”
Kening Citra mengerut heran. Padahal sebelumnya Darren sangat memuja dan melindungi perempuan itu jika ia mulai membahas Selina.
“Aku tidak mau membahas ini!”
Ada senyum tersembunyi di sudut bibir Citra.
“Baiklah, jika kamu sudah dikecewakan oleh Crissiana, apa tidak sebaiknya kamu memikirkan ulang tentang permintaan mama untuk lebih dekat dengan Se...”
“Tidak! Maaf, Ma! Selina bukan tipe aku. Aku tidak jatuh cinta sama dia.”
“Lalu kamu jatuh cintanya pada perempuan j*lang itu?”
Lagi-lagi Antonio mengulang penghinaannya pada Daniela. Dan kali ini benar-benar membuat Darren murka.
“Sudah kubilang jangan pernah sekali pun menghinanya!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Darren pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya tanpa menoleh lagi.
***
“Kita harus selidiki siapa perempuan berpakaian tak senonoh itu. Apalagi Darren sampai membawanya ke hotel,” kata Antonio pada istrinya.
“Tapi mungkin saja Darren benar kalau perempuan itu adalah perempuan baik-baik. Cuma mungkin pakaiannya saja yang kurang pantas,” kata Citra, menenangkan suaminya.
Ada perasaan lucu di hatinya. Antonio seorang laki-laki bule, tapi pemikirannya malah lebih kolot daripada dirinya.
“Tidak mungkin perempuan baik-baik akan berpakaian seperti itu. Apalagi sampai mau diajak ke hotel!” sentak Antonio, membuat mulut Citra terbungkam, tak mendebatnya lagi.
“Ya sudah, Papa minta saja orang kepercayaan Papa untuk menyelidiki perempuan itu.” Akhirnya Citra memberi saran dengan suara yang lebih lembut.
“Itu akan Papa lakukan.”
Antonio langsung meraih ponselnya dari saku kemeja, lalu menghubungi orang kepercayaannya. Begitu panggilan tersambung, ia langsung berbicara tanpa basa-basi.
“Halo, Hans. Aku baru saja mengirimkan beberapa foto ke ponselmu. Cari tahu siapa wanita yang bersama Darren di foto-foto itu. Selidiki latar belakang dan pekerjaannya, lalu kirim hasilnya ke email-ku malam ini juga,” perintah Antonio tegas,
"Iya, saya sudah menerimamya. Baik, secepatnya akan saya selidiki." Ucap Hans menyanggupi.
Antonio pun segera mematikan sambungan telepon.
Citra yang melihat suaminya begitu impulsif hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Papa jangan terlalu menekan Darren. Anak itu sudah dewasa, dia punya privasi yang tidak bisa kita campuri begitu saja,” ujar Citra mengingatkan sambil berjalan mendekati suaminya dan duduk fi sebelah laki-laki itu.
“Ini bukan sekadar mencampuri privasi, Ma. Ini tentang masa depan Darren dan nama baik keluarga Callister. Aku tidak mau dia terjebak dengan perempuan yang tidak jelas asal-usulnya,” sahut Antonio dengan rahang yang masih mengeras.
Citra terdiam sejenak, tahu kalau berdebat dengan suaminya yang sedang emosi tidak akan ada ujungnya.
“Terserah Papa saja. Tapi kalau sampai Darren tahu dan dia semakin mengamuk, jangan salahkan Mama,” ucap Citra pasrah, memilih untuk tidak memperpanjang masalah.
Antonio menghela napas berat, lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan tatapan yang masih menyimpan kemarahan.
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut