NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 Musuh Bubuyutan

Celia berada di dalam toilet wanita yang terlihat merapikan pakaiannya.

"Huhhhh, hari pertama sekolah di sekolah ini membuat gigiku kering tanpa ada mengobrol sama sekali, biasanya ada Chika dan Chaca dengan topik pembicaraan yang tidak ada habisnya, sekarang aku benar-benar sendiri, belum lagi murid-murid di dalam kelas itu pada sombong-sombong, dan apalagi geng orang songong kayak mereka," ucap Celia ternyata tidak nyaman di hari pertama sekolah di tempat barunya.

Celia menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, kemudian langsung keluar dari kamar mandi.

"Aaaaa!" jantung Celia hampir saja copot dengan teriakannya, ketika tiba-tiba saja Alfian sudah berdiri di depannya.

"Lo ngapain di sini? Lo ngintipin gue ya, astagfirullah ternyata anak-anak SMA Bintang selain sombong juga mesum," tuduh Celia.

"Jangan kegeeran, nggak usah sok kecantikan," sahut Alfian.

"Lu yang sok kegantengan tiba-tiba berdiri di sini," sambar Celia tidak mau kalah semakin kesal.

"Heh cewek cegil, pecicilan dan norak gue....."

"Apa lu bilang...." belum sempat Alfian menyambungkan kalimatnya dan sudah dipotong oleh Celia karena tidak suka dengan namanya yang diubah-ubah.

"Heh cowok songong gue punya nama. Celia!" tegas Celia penuh dengan penekanan.

"Masa bodo, siapapun nama lo, gue juga tidak peduli apa tujuan lo yang tiba-tiba sudah berada di sekolah ini, yang perlu lo ingat jangan pernah macam-macam dan membuat masalah!" tegas Alfian penuh penekanan dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Celia.

"Apasih maksudnya? Tiba-tiba sudah muncul di depanku dan mengganti namaku, terus enaknya memberi peringatan, memang dia pikir aku pindah ke sekolah ini ingin mencari masalah, apa dia yang setiap hari sibuk dengan permasalahan," ucap Celia semakin kesal.

"Celia kamu harus bersabar, orang-orang kaya mereka sungguh tidak berguna dan hanya membuat mood berantakan. Kamu harus mengingat Celia jika kamu memiliki tujuan mengapa bisa berada di sekolah ini dan kamu harus bisa melewati semua tantangan itu," ucap Celia menenangkan diri.

*****

Kantin sekolah seperti biasa dipenuhi dengan keramaian, murid-murid SMA Bintang mengikuti antrian mengambil makan siang. Sementara Diego, Yogi, Alfian, Valery dan Kania sudah mengambil tempat duduk mereka dengan menikmati makan siang.

"Apa tujuan gadis kampungan itu berada di sekolah kita? kenapa bisa coba dia sekolah di tempat kita? Apa dia anak orang kaya?" tanya Kania terlihat kesal melihat Celia yang makan sendirian.

Wajar saja ini hari pertama Celia sekolah dan sudah pasti tidak mendapatkan teman.

"Pengen pansos kali, kalian tahu sendiri orang-orang yang sekolah di SMA Bintang sangat terkenal di sosial media," tebak Yogi.

"Alah paling juga dia tidak akan betah sekolah di sini, kita lihat aja nanti dia bisa bertahan sampai kapan dan lagi pula dia sendirian tidak membawa dayang-dayangnya itu, jadi kita punya kesempatan untuk mengerjainya dan membuatnya kapok," sahut Diego memiliki beribu rencana dengan senyumnya penuh arti.

Sementara Celia memilih untuk menikmati makanannya sendiri, malah merasa tidak nyaman tetapi apa boleh buat.

"Saya boleh duduk di sini!" tiba-tiba Celia ditegur membuatnya mengangkat kepala.

"Kak Rafa bukan?" tanya Celia sudah pasti mengenal pria yang sering datang ke sekolahnya sebagai perwakilan bimbingan.

"Ya," sahut Rafa.

"Duduk kak," sahut Celia dengan senang hati.

Rafa tersenyum duduk di sebelah Celia.

"Tidak menyangka akhirnya kamu sekolah di sini," ucap Rafa.

"Agar mendapat peluang besar untuk memasuki universitas kedokteran luar negeri," jawab Celia.

"Kamu ternyata memiliki cita-cita menjadi dokter," sahut Rafa.

"Ya," jawab Celia.

"Saya juga memiliki keluarga dokter, adik Mama saya juga dokter," sahut Rafa.

"Benarkah, wau boleh dong sekali-sekali dikenalkan," sahut Celia tampak begitu excited sekali.

"Maaf kak, Celia terlalu lancang baru kenalan eh sudah minta dikenalkan dengan keluarga Kakak," ucapnya merasa malu dengan tingkahnya.

"Tidak apa-apa Celia, seorang wanita memiliki ekspresif seperti kamu justru sangat menyenangkan, nanti jika ada waktu saya akan kenalkan dengan tante saya, ibu dari Alfian teman satu kelas kamu," ucap Rafa.

"Hah!" Celia tampak kaget mendengarnya.

"Ya saya dan Alfian saudara sepupu," jawab Rafa.

"Astagfirullah ternyata mereka berdua sepupu dan kalau yang dia maksud adalah tante Mawar, ya sudah kenal, tetapi bagaimana mungkin mereka berdua bisa sepupu, keduanya memiliki kepribadian yang berbeda bagaikan langit dan bumi," batin Celia.

"Celia kamu tidak perlu memanggil saya Kakak. Kita sama-sama kelas 2 dan hanya beda kelas," ucap Rafa.

"Oh iya kak.... Maksud saya Ra...fa..." Celia merasa tidak cocok menyebut panggilan itu yang membuat Rafa tersenyum.

"Rafa kok mau sih menghampiri gadis kampungan seperti dia," ucap Valery terlihat begitu kesal.

Mata Alfian juga melihat ke arah Celia dan Rafa ternyata keduanya tampak mengobrol akrab dengan tertawa kecil.

"Ya tapi tidak masalah sih, mereka berdua itu cocok, Rafa tidak asyik, Celia sok asyik," sahut Kania sinis.

Tatapan mata Alfian tampak dingin melihat kedekatan Celia dan juga Rafa.

*****

"Assalamualaikum!" ucap Celia memasuki rumah terlihat lesu saat pulang sekolah dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.

"Walaikum salam," sahut Ratih baru saja dari dapur.

"Heh, kenapa wajah kamu tampak ditekuk seperti itu, bukankah Ini pertama kali kamu memasuki sekolah favorit kamu?" tanya Ratih.

"Sejak kapan Celia mengatakan bahwa SMA Bintang adalah SMA favorit Celia?" jawabnya.

"Bukankah dulu waktu kamu masih SD pernah bercita-cita ingin bersekolah di tempat itu dan hanya saja Bunda tidak memiliki biaya yang membuat kamu tidak bisa masuk ke SMA favorit," sahut Ratih.

"Namanya juga anak kecil pasti banyak keinginan dan bukan berarti itu adalah SMA tujuan Celia. Celia hanya memiliki tujuan ingin memasuki universitas luar negeri," jawab Celia dengan tegas.

"Ya sudah kalau begitu, kamu belum menjawab pertanyaan Bunda, apa yang membuat wajah kamu ditekuk seperti itu hah!" tanya Bunda.

"Ternyata pindah sekolah tidak asik, murid-murid di SMA Bintang sombong, tidak mau berbaur dan menatap Celia dengan sinis," jawabnya.

"Benarkah?" tanya Bunda.

"Ya," jawabnya tampak tidak bersemangat.

"Celia, kamu adalah murid baru di sekolah kamu sekarang ini dan seharusnya kamu yang mulai berbaur dan melakukan penyesuaian, lagi pula kamu baru satu hari sekolah di sana dan wajar saja jika pertama kali masuk sekolah tidak mendapat kenyamanan," sahut Ratih.

Celia tidak memberi respon apapun, tetap saja dia tanpa kesal dengan hari pertama masuk sekolah.

"Bagaimana dengan Alfian? bukankah seharusnya keberadaan Alfian di sekolah itu dapat membantu kamu untuk berbaur dengan teman-teman yang lain?" tanya Bunda.

"Apa Bunda pikir kami berdua seakrab itu, lebih parah Alfian, dia bahkan memusuhi Celia, menganggap Celia ancaman untuknya," jawab Celia bertambah sewot ketika mendengar nama Alfian.

"Masa iya Alfian orangnya seperti itu, bukankah anaknya sangat baik, sopan dan juga tampak begitu ramah?" tanya Bunda.

"Itu hanya di depan Bunda dan juga Om Darius, anaknya memang penuh kepalsuan, penuh pencitraan dan hanya cari-cari perhatian agar orang-orang menganggapnya adalah pria yang baik dan padahal aslinya sangat menyebalkan, membuat Celia darah tinggi," ucap Celia dengan mulutnya seperti rel kereta api.

"Shuttt, kamu jangan terlalu membenci seseorang, tidak baik, nanti kebencian itu berbalik kepada kamu baru tahu rasa," ucap Ratih mengingatkan Celia mengangkat ujung bibirnya.

Bersambung.....

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!