NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

  Arga menyimak penjelasan Damar dengan saksama, matanya menerawang seolah membayangkan kembali sosok wanita yang bertabrakan dengannya tadi. Wanita yang sederhana, sopan, namun memancarkan ketenangan dan kekuatan yang jarang dimiliki orang lain.

"Jadi begitulah..." ucap Arga pelan. "Tidak heran. Saat menabrak ku, dia tidak terlihat takut atau rendah diri. Dia meminta maaf dengan tulus, dia menatap mataku dengan berani namun tetap hormat. Di matanya aku melihat ketenangan yang dalam... ketenangan yang biasanya hanya dimiliki orang yang sudah banyak menderita dan sudah menang atas dirinya sendiri."

Adrian yang sejak tadi hanya mendengarkan, ikut angkat bicara pelan. "Betul sekali, Tuan. Saya juga merasakan hal yang sama. Wanita itu terlihat sederhana, tapi ada harga diri yang tinggi dan ketulusan yang murni terpancar dari dirinya. Sangat jarang kita temui orang seperti itu di dunia bisnis yang keras ini."

Damar tersenyum puas melihat respon kedua sahabatnya itu. Ia tahu betul karakter Arga. Arga adalah orang yang sangat kritis, sulit dipuaskan, dan sangat teliti menilai seseorang. Bagi Arga, penampilan mewah atau jabatan tinggi tidak ada artinya jika hatinya kosong dan karakternya lemah. Fakta bahwa Arga memuji Ani, meski hanya dengan kalimat singkat dan datar, itu adalah pujian tertinggi yang bisa didapatkan siapa pun.

"Nah, itulah sebabnya aku ingin kalian bertemu. Itulah sebabnya aku memintamu datang ke sini, Arga," ucap Damar dengan nada lebih serius, menatap mata sahabat karibnya itu lekat-lekat. "Aku ingin kamu melihat sendiri, menilai sendiri, dan memutuskan sendiri. Mungkin... kehadiranmu di sini sekarang ini bukan sekadar kebetulan bisnis saja. Mungkin Tuhan mengatur pertemuan ini untuk sesuatu yang jauh lebih besar."

Arga terdiam sejenak, menyesap teh hangat di cangkirnya perlahan. Di luar sana, Ani mungkin sedang duduk tenang di kantin, menikmati makan siangnya dengan hati yang damai. Ia tidak tahu bahwa di ruangan tertutup ini, sosok pria misterius yang baru saja ia temui sedang membicarakannya dengan begitu serius dan penuh perhatian. Ia juga tidak tahu bahwa sosok dingin dan kaku yang ia kagumi itu, sebenarnya adalah sahabat akrab dari atasannya sendiri, dan merupakan salah satu orang paling berpengaruh yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.

Arga menatap Damar dengan sorot mata yang penuh tekad dan misteri. Senyum tipis kembali terukir di bibirnya yang tegas.

"Kau benar, Damar. Aku juga merasa begitu. Pertemuan tadi... bukan kebetulan. Dan aku punya firasat, kehadiranku di kota ini mulai hari ini... akan membuka babak baru yang sangat menarik. Baik untuk perusahaan kita, maupun untuk diriku."

Di ruangan itu, keempat sahabat itu kembali tertawa dan melanjutkan obrolan panjang mereka, mengenang masa-masa sulit yang pernah mereka lewati bersama, membicarakan mimpi-mimpi mereka, dan merencanakan masa depan.

Namun di benak Arga, bayangan wajah Ani, sorot matanya yang jernih, dan ketenangannya yang langka itu terus berputar, membuatnya sadar... perjalanan panjangnya yang penuh kesepian itu, mungkin saja mulai menemukan tujuannya di tempat ini, di perusahaan sederhana milik sahabatnya, dan di hadapan wanita yang sederhana namun berharga itu.

Suasana hangat dan akrab masih menyelimuti ruangan kerja Damar. Canda tawa masih terdengar bersahutan, namun perlahan topik pembicaraan beralih ke hal yang lebih pribadi, hal yang selalu menjadi bahan empuk untuk menggoda Arga—urusan asmara dan jodoh.

Damar menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil menatap sahabatnya itu dengan tatapan jahil namun penuh kasih sayang. Ia memutar-mutar cangkir teh di tangannya, lalu membuka pembicaraan dengan nada yang sengaja dibuat serius namun matanya berbinar jenaka.

"Ngomong-ngomong, Arga... Ingat tidak hari ini tanggal berapa?" tanya Damar seolah bertanya hal yang sangat penting.

Arga mengangkat alisnya sedikit, menatap datar ke arah Damar. "Tanggal dua puluh lima Mei. Ada apa?"

Damar mengangguk mantap, lalu menoleh ke arah Bimo dan Adrian seolah menemukan bukti kuat. "Tepat sekali. Dan tahukah kalian berdua? Tanggal ini adalah tanggal yang sangat bersejarah. Tepat hari ini, tiga puluh dua tahun yang lalu, lahirlah sosok pria yang katanya paling sempurna, paling tegas, paling kaya, dan paling berkuasa di antara kita semua."

Bimo langsung tertawa keras menimpali, paham betul arah pembicaraan atasan dan temannya itu. "Tapi sayang sekali... sosok sempurna itu ada cacat fatalnya. Sudah berumur tiga puluh dua tahun, sudah mapan, sudah tampan luar biasa, tapi sampai sekarang masih menempatkan status 'lajang' sebagai gelar kehormatan tertingginya!"

Adrian yang biasanya diam dan sopan, kali ini ikut tersenyum lebar sambil menundukkan kepala menahan tawa. Sudah menjadi pemandangan biasa baginya melihat ketiga sahabat itu saling mengejek, dan Arga yang selalu menjadi sasaran empuk karena sifatnya yang tertutup dan dingin.

Arga menghela napas panjang, menatap ketiga orang di hadapannya itu dengan tatapan malas sekaligus kesal. Wajah tegasnya yang tadi sedikit melembut kini kembali kaku. Ia sudah menduga obrolan ini akan datang. Selalu begitu setiap kali mereka bertemu.

"Kalian bertiga tidak ada pekerjaan lain ya? Datang-datang malah membahas umur dan status. Kalian ini persis seperti bibi-bibi di pasar," ucap Arga dingin, berusaha menghentikan godaan itu dengan ketegasannya. Namun usahanya sia-sia. Justru ketegasan itulah yang membuat mereka semakin gemas dan ingin menggodanya lebih jauh.

"Ah, jangan marah dulu dong, Tuan Muda," sahut Damar sambil tertawa. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Arga lekat-lekat. "Kami kan cuma sayang sama kamu, Arga. Kami khawatir. Lihatlah kami berdua... aku sama Bimo. Kami sama-sama punya kekasih. Memang mereka sekarang sedang berada di luar negeri, sedang mengejar karir dan pendidikan di sana, jadi kami harus menahan rindu dan berhubungan jarak jauh. Tapi setidaknya... hati kami ada isinya. Ada tempat untuk pulang, ada orang yang dituju saat rindu datang."

Damar berhenti sejenak, nadanya berubah menjadi sedikit lebih lembut dan mengerti.

"Sedangkan kamu? Sudah tiga puluh dua tahun... tapi hatimu masih kosong melompong, masih tertutup rapat seolah tak ada satu pun wanita di dunia ini yang pantas masuk. Kamu pikir kami tidak tahu alasannya? Kami tahu betul, Arga."

Bimo mengangguk setuju, wajahnya ikut berubah sedikit serius namun masih ada sisa canda di ujung bibirnya.

"Semua ini gara-gara satu wanita itu kan? Sia... atau apa namanya dulu itu. Wanita yang kamu percaya sepenuhnya, wanita yang kamu cintai mati-matian, tapi di akhir cerita dia malah meninggalkanmu demi orang lain yang menurutnya lebih kaya dan lebih berkuasa saat itu. Itu kejadiannya... sudah sepuluh tahun yang lalu, kan?"

Mendengar nama itu disebutkan, rahang Arga seketika mengeras. Tangannya yang menggenggam cangkir teh mengepal sedikit lebih kuat. Di balik wajah datarnya, badai emosi lama kembali bergejolak. Luka itu memang sudah kering, tapi bekasnya masih ada, membekas dalam dan menjadi alasan utama mengapa dinding di sekeliling hatinya begitu tebal dan kokoh.

"Dia bukan sekadar pergi, Arga. Dia mengkhianatimu saat kamu sedang berjuang mati-matian membangun usahamu dari nol. Dia meragukanmu, dia meninggalkanmu saat kamu belum punya apa-apa, dan dia memilih kemewahan sesaat," sambung Adrian pelan, ikut berbicara karena ia satu-satunya orang yang ada di sisi Arga saat masa-masa kelam itu dulu.

"Dan sejak saat itulah... Tuan Arga kita ini berubah seratus delapan puluh derajat," tambah Adrian lagi dengan nada bercerita. "Dulu dia orang yang hangat, ceria, dan sangat romantis. Dia percaya cinta itu segalanya. Tapi setelah dikhianati... hatinya mati. Dia bersumpah tidak akan pernah percaya lagi pada kata cinta, tidak akan pernah membiarkan wanita mendekat, dan bersikap dingin seolah semua wanita di dunia ini sama saja—hanya menginginkan harta dan statusnya saja."

Damar menepuk bahu sahabatnya itu pelan. "Kamu lupa satu hal, Arga. Dulu itu kamu masih muda, masih polos. Wanita yang menyakitimu itu memang ada, jahat memang. Tapi bukan berarti semua wanita sama seperti dia. Bukan berarti setiap wanita yang tersenyum padamu itu punya niat buruk atau mau mengambil hartamu. Lihatlah aku sama Bimo... kekasih kami di luar sana, mereka wanita hebat. Mereka tulus, mereka sabar menunggu, mereka mencintai kami apa adanya, bukan karena apa yang kami punya."

"Dan lihat dirimu sekarang, Arga," sela Bimo. "Kamu sekarang bukan lagi anak muda yang belum punya apa-apa. Kamu adalah salah satu pengusaha paling sukses, paling kaya, dan paling berpengaruh di negeri ini. Kamu punya segalanya. Tapi karena ketakutanmu pada masa lalu, kamu menutup diri. Kamu bersikap dingin, kaku, sulit berdekatan. Kamu membiarkan usiamu bertambah, tapi hati dan perasaanmu kamu bekukan di waktu sepuluh tahun yang lalu."

bersambung,,,

1
partini
aku kira ketemu sama Arga
partini
susah kalau sifat rakus no satu di hati, berharap sekali sembuh mau berbuat jahat lagi ga ada kapoknya
semoga dapat karma yg lebih pahit biar seblm methong tobat dulu
partini
dihh ngapai peduli sih
partini
kebetulan masa sih
ahhhhh bohong yah
busettt dah tuan detil Banggt penjelasan nya 🤭
partini
siapa yah,,
menjaga ok ok yg melukaimu Ampe kaya gitu apa ga nongol lagi ga takut nya kamu oleng ehh ga sadar kamu menyakiti nya ,,bukan ga percaya tapi kebanyakan oleng kalau terjadi sesuatu baru nyesel kaya mantan suaminya ani
falea sezi
goblok malah plg ke desa harusnya ketempat lain lah 🤣 bloon
partini
mendengar kata" ayahnya Ani si Arga reaksinya macam mana yah secara yg di minta si damar apa spontan dia akan bilang aku siap menjaga atau tidak
Uthie
yg jahat yg selalu hancur 👍👍
Uthie
makin seruuu 👍👍👍
Uthie
Jahatnya emang tuhhh manusia😡
Uthie
👍👍👍👍👍👍
Uthie
Good Choice 👍👍👍👍
Uthie
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
Selalu ada orang baik untuk yg baik 👍👍👍
Uthie
tong kosong nyaring bunyinya.. anggap aja yg ngomongin adalah Yong sampah 😂
Uthie
Keluarga selalu menjadi tempat pulang yg paling nyaman dan aman👍👍👍
Uthie
Harusnya bikin dia dikeluarkan dr perusahaan sahabat nya dulu itu...biar sama cewek selingkuhan nya ..biar tau rasa mereka 😡😡😡
Uthie
Good Choice 👍👍👍😡
Uthie
beruntung nya punya ibu mertua yg bijak dan tau juga memihak hal yg.benar 👍👍😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!