Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Malam telah tiba, dengan angin malam berhembus menciptakan suasana dingin.
Suasana malam yang dingin, namun terasa hangat di ruang makan kediaman keluarga Ganendra.
Sebuah lampu gantung kristal yang megah menggantung tepat di atas meja makan yang terbuat dari marmer putih.
Hal ini memantulkan cahaya kuning keemasan nan berkilau ke seluruh penjuru ruangan.
Di atas meja marmer tersebut, sudah tersaji jamuan makan malam kelas atas yang amat mengunggah selera.
Melina selama hidupnya, kecuali saat menjadi istrinya Ihsan baru bisa merasakan makanan seperti ini.
Hidangan utama adalah wagyu steak yang di panggang, disajikan dengan kentang panggang, tak lupa ada sayuran segar di atasnya.
Steak wagyu di siram dengan saus spesial dari wadah kecil.
Tak lupa gelas berisi air mineral tertata rapi di samping piring-piring porselen yang elegan.
Adisti duduk di tengah meja dengan anggun, mengenakan atasan biru tua lengan pendek dengan di padukan rok warna biru pendek senada dengan bajunya.
Terlihat wajah Adisti tampak bahagia, sesekali tangannya mengiris daging steak sambil mengobrol ringan kepada putra dan menantunya.
Di sisi kanannya, ada menantunya---Melina.
Melina dengan penampilan yang lebih cerah, mengenakan atasan kaos lengan pendek berwarna Navy, dan celana pendek berwarna biru muda.
Melina tampak berusaha makan dengan benar untuk memperlihatkan citra menantu yang elegan.
Meski dirinya di bayangi rasa waspada, setelah kejadian tadi siang bersama Ishan.
Terbayang apa yang di lakukannya bersama Ishan tadi siang, di depan ruang tamu.
Keduanya melakukan ibadah dengan penuh gairah, sampai peluh bercucuran----melakukannya sampai jam 12 siang sebelum Adisti kembali pulang.
Melina dan Ihsan melakukannya dengan saksi meja marmer di ruang tamu.
Ihsan merasakan manisnya renggutan dua gunung kembar milik istrinya, meski Melina masih muda tapi memiliki buah dada yang indah.
Malah lebih indah di bandingkan kekasihnya Livia Kumara.
Setelah melakukan penyatuan itu Melina bukan di bawa ke kamarnya yang terletak di ujung lorong dekat taman belakang.
Malah di bawa ke lantai atas, kamar dimana Ihsan yang sudah mengusirnya.
"Mas...bawa aku ke kamarku saja," pinta Melina dengan nada lirih.
Melina tak bisa bergerak karena tubuhnya sangat sakit, kali ini Ihsan dengan inisiatif membopong tubuh Melina ke kamarnya.
Saat menikah dirinya tak pernah di gendong seperti ini oleh suaminya.
Hanya hari ini dirinya di gendong seperti ini oleh suaminya.
"Tidurlah di kamar saya sampai mama pulang," sahut Ishan menaiki anak tangga.
Melina terbuyar dari lamunannya saat Adisti mengajaknya bicara.
"Mel..," panggil Adisti.
"Eh iya Mah," sahut Melina dengan tersenyum.
"Jangan melamun dong, ayo di habiskan makanannya," ucap Adisti.
Melina hanya mengangguk dan tersenyum, matanya sekilas menatap suaminya yang duduk tepat di hadapannya.
Ishan duduk di sisi kiri meja tepat di samping Adisti-----tepat di hadapan Melina.
Pria itu mengenakan kaos lengan pendek bermotif garis-garis hitam putih, dengan celana pendek jeans berwarna biru muda.
Melina menatap sekilas suaminya yang menatapnya dengan penuh gairah, karena tak nyaman Melina segera mengalihkan pandangan ke ibu mertuanya.
Gadis ini mencoba berbicara lebih menyenangkan bersama ibu mertuanya.
"Mah," ujar Melina.
"Kenapa Mel?" tanya Adisti kepada menantunya, sambil mengunyah wagyu steak di mulutnya.
"Besok aku ke kampus pagi, nanti aku naik grab aja kalo Bapak Farhan masih tid------"
Belum sempat Melina melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Ishan memotong kalimatnya dengan cepat.
"Aku anter besok!" ucapnya tegas.
Seketika Melina dan Adisti langsung menatap Ishan dengan heran.
Sejak kapan Ishan mau mengantar istrinya, bukankah perjanjiannya setelah melahirkan anak Melina akan di ceraikan.
"Kamu serius, Nak?" tanya Adisti dengan senyuman.
"Iya mama," jawabnya.
Melina hanya bisa menahan senyum saat sang suami secara perhatian mau mengantarnya kuliah.
Mata Ishan masih terpaku pada Melina, sama sekali tak tertarik pada hidangan mewah di depannya.
Tatapannya tajam, seolah penuh gairah menatap istrinya seperti tersirat nafsu yang sulit di sembunyikan.
Rasanya ingin menyentuh Melina saat ini juga, seolah-olah gaun satin yang di kenakan Melina tadi pagi adalah niatannya untuk kembali melakukan pergumulan.
Melina setelah makan akan langsung ke kamarnya.
Sementara Ishan menyilangkan tangannya di atas meja, memperhatikan setiap gerak-gerik bibir Melina yang mengunyah steak sambil berbicara hangat dengan ibunya.
"Mah steaknya enak, tadi siang kenapa mama nggak ajak aku saat ke supermarket?" tanya Melina.
Melina mencoba mengalihkan perhatian dari tatapan Ihsan yang membuatnya tak nyaman.
Adisti tersenyum lebar.
"Tentu saja ini karena hubungan kalian membaik, itu artinya kalian akan memberikan mama cucu," sahut Adisti dengan nada bahagia.
Mendengar itu, baik Ishan maupun Melina tersedak dan keduanya refleks mengambil gelas berisi air di samping secara berbarengan.
"Cucu?" ucap Melina dan Ishan berbarengan.
"Iya, sudah saatnya Ishan memberikan mama cucu."
Adisti menatap Melina dan menyentuh tangan menantunya, "dan kamu soal kuliah tak usah khawatir, mama akan sewa baby sitter."
Melina hanya mengangguk kecil tanpa berani menatap suaminya.
Matanya terus mengiris steaknya dengan presisi, berusaha menanggapi Adisti yang tengah bicara.
Sementara itu, Ishan diam dengan tatapan intens---dirinya akan meminta jatah lagi malam ini.
Melina menyadari bahwa meskipun suasana terlihat hangat, ada ancaman nafsu dan gairah yang tengah mengintai dari sebrang meja.
Ihsan masih menatapnya dengan penuh gairah dan nafsu terselubung.
Melina memejamkan matanya entah apa yang terjadi padanya nanti malam, dirinya akan pasrah pada sang maha pencipta.
"Ya allah apa Mas Ishan meminta hubungan lagi...padahal bagian bawahku masih sangat sakit," batin Melina yang wajahnya mendadak pucat di sertai keringat dingin.
Melina memejamkan matanya, dirinya takut jika sudah melahirkan nanti Ishan akan menceraikannya.
Gadis ini tahu jika nanti dirinya di ceraikan Ishan secara sepihak, dirinya harus mencari kosan dan bekerja tambahan.
Setelah makan malam sambil berbicara hangat dengan ibu mertuanya, Melina memutuskan kembali ke kamarnya.
Adisti sudah pergi lebih dulu, sementara Melina sedang merapikan piring tapi di halangi pelayan disana.
Melina berusaha terlihat sibuk agar Ishan lebih dulu ke kamarnya, namun Ishan masih duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.
*
*
*
*
*
*
*