_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otw perpus
Untungnya tak lama kemudian willy datang bersamaan dengan louis dan kania.
" Woy kalian janjian apa gimana? Nunggu bertiga di luar sekolah." Ucap willy pada ayya dan dua cowok di sampingnya.
Ah ayya malas basa-basi dengan sirkel mereka, dan untungnya mobil pesanan ayya datang, tak ingin menunggu lama lagi ayya langsung menyeret tangan kania dan louis.
" Udah yuk, grab nya juga udah dateng tuh.."
" Woy-woy, pada mau kemana kok buru-buru amat?" Tanya roy menahan tangan Kania.
Kania berhenti dan sedikit bingung, dirinya seperti sedang diperebutkan.
Namun Kania langsung menunjuk ayya dan berucap.
" Mau nemenin ayya ke perpustakaan swasta, biasalah si kutu buku penggila novel pen ditemenin kesana, sekalian di traktir jajan sama boss louis.. Ya kan bro louis?!"
Pernyataan kania benar-benar mengundang senyum roy dan willy, galih tak menaruh curiga, namun kembali berucap willy malah punya ide licik.
" Kita-kita ikut boleh ga? Pengen juga temenin ayya, penasaran sih lebih tepatnya." Ucap willy cengengesan.
Roy pun menjitaknya dan meralat. " Ngomong aja kalo mau di traktir louis juga, kan?"
Wah, pernyataan macam apa ini? Willy merasa tersentil, namun tak menyangkal ia hanya tersenyum bak anak anjing yang meminta snack pada tuannya.
" Boleh ikut ga? Boleh ya? Gabut nih, mumpung nanti malming.." Willy merayu.
Bimbang, kania dan louis menoleh pada ayya, meminta pendapatnya.
" Gimana ayy? Boleh mereka ikutan?" Tanya mereka.
Ayya pun mengernyit dan melirik louis. " Terserah lui lah, kan dia yang bayarin.."
Hmm, sudah pasti oke kalo louis mah, so,.. tunggu apalagi, louis langsung menaiki jok motor roy karena tak mau mereka ikut tanpa effort, jadinya ia dapat tumpangan gratis, yeay!!
Namun mereka lupa pada galih, galih sedari tadi hanya diam menyimak, giliran dia yang ditanya roy.
" Lo juga ikut gak? Ikut lah ayo!" Ajaknya memaksa.
Ya, tanpa penolakan galih mengangguk. " Ya, boleh-boleh lah.."
Yeay!!!
But, No.. Ayya memijit keningnya yang pening, tidak bisa membayangkan bakal se mengganggu apa empat cowok itu jika disatukan dalam perpustakaan yang identik dengan kesunyian dan ketenangan.
Kedua gadis remaja itu sudah menaiki grab car pesanan ayya.
Huff.. Ayya langsung menyikut kania.
" Kenapa mereka harus ikut sihhh? Ga tenang nanti." Ucap ayya gusar.
Kania pun mengernyit. " Ey.. Chil bro, cuma empat ga lebih.. Lagian mereka udah pada gede, bisa jaga ettitud masing-masing."
Cih! Ayya mendecih tak percaya, mengingat malam minggu kemarin keempat pemuda pengen itu sangat ramai di rumah eyang anna, bak pasar malam lah kasarannya.
Kini ayya menyandarkan punggungnya, istirahat sejenak sebelum sampai tujuan.
Ponsel ayya pun sudah dipinjam Kania semenit yang lalu, Kania meminjam untuk dibuatnya selfie karena kameranya yang jernih serta penyimpanan ponsel yang mumpuni.
Melirik pada Kania yang melakukan macam-macam pose depan kamera, ayya hanya menggeleng keheranan.
" Ayya, i-ini foto mereka berempat banyak banget jir, dapet darimana lo?"
Tiba-tiba saja Kania melihat pap foto sirkel Louis yang malam minggu kemarin dikirim padanya.
Ayya hanya berdehem, lalu menoleh dan menjawab.
" Louis yang kirim, random banget.. mana kirimnya banyak, ngabisin memori aja." Ucap ayya santai.
Kania pun menggeleng keheranan.
" Terus ga lo hapus..? Apa emang sengaja disimpen?" Tanya Kania membuat ayya mendelik.
" A- em.. Udah banyak yang ku hapus kok, itu sisanya doang." Ucap ayya melirik pada tiap slide yang Kania geser.
" Kaniaaa, ini kan mereka berempat.. ada kak Galih juga, kok bisa mereka selca ke lo doang? pap kan pasti..??" Tanya Kania dengan muka irinya.
Ayya pun memutar matanya malas.
" Kalo lo mau kirim aja ke nomer lo."
" Itu sih udah pasti, tapi yang gue heraninnya masih disimpen nih foto, mana mereka pas lagi tinggi-tingginya.."
" Maksudmu apa tinggi?" Tanya ayya mengernyit.
" Hmm, yeah.. ketara banget kalo gue pemain, maksud gue tuh mereka berempat lagi mabok pas kirim foto ini ke lo.."
Whats? ayya terkerjap, reflek ia menoleh ke belakang memperhatikan satu persatu wajah-wajah pemuda nakal itu.
" Ih, bisa-bisanya masih sekolah pada mabok..???" Ayya menggeleng heran.
" Ya wajarlah ay, jaman sekarang.."
" Ya.. wajar yah.. Ga peduli juga mereka mau ngapain, bukan cowokku kok.." Ayya kembali bersandar.
Kania pun tersenyum evil melirik ayya.
" kalo cowok lo, ga boleh gitu?" Tanyanya..
Ayya menggeleng. " Tergantung umur, kalo masih muda lebih jangan, fokus dulu ke pendidikan.."
" Yeee, kalo gitu ga usah pacaran, fokus sekolah."
" Lah, elo ga liat gue sekolah dan ga punya pacar? lu nanya giliran dijawab malah mutar omongan jir, tau ah.. ngeselin sama kayak mereka berempat!"
Ayya menekuk wajah kesalnya, namun Kania malah tertawa dan langsung memeluknya.
" So sorry if i haven't different with them, i'm joke ayya.."
Ayya mengangguk ngerti, Kania pun tersenyum.
" Lo punya dendam sama mereka kah? kenapa sampe sekesel itu, eh sama cowok SMA Tunas bangsa itu, gue baru liat deh.."
" Dia temen band Louis, satu tim sama Galih dan willy. Kemarin semingguan penuh latihan di rumah eyang anna, rameee banget! aku jadi ga bisa baca dengan tenang.. kan ngeselin!"
" Udah di protes belum?"
Ayya mengangguk, " tenang aja, makanya pas aku usir si Louis kirim banyak pap mereka berempat pas udah aku usir, agak ngerasa kasihan sih pas ngusir.."
" yee, lu mah.."
Obrolan kedua teman yang semakin rekat itu akhirnya terhenti saat mobil menepi di depan pelataran sebuah gedung perpustakaan swasta.
Keluar dari mobilnya, ayya dan kania menoleh mencari keberadaan Louis dan ketiga temannya di parkiran.
" Udah kita masuk duluan yuk!" Ajak Kania tak sabar.
Ayya pun menggeleng. menanti Louis sampai karena ia harus memperingatkan mereka terlebih dahulu agar tak membuat kegaduhan di dalam perpus nanti.
Keempat pemuda itupun berjalan ke arah ayya dan Kania berdiri.
" Ini dia tempatnya? masih baru launching kah? kok gue ga sadar, padahal hampir tiap hari lewat sini.." Ucap willy.
Ayya menggeleng. " Kalian tunggu di luar, ada caffe corner.. atau ikut masuk?" Tanyanya memastikan.
Louis pun menoleh pada ketika abangnya itu, mereka bertiga serempak mengangguk.
Hmm, ayya memicing tak yakin.
" Tapi jangan rame, kalo udah masuk perpus segala suara harus dikecilkan, paham??"
Mereka berempat serempak mengangguk. " Paham bu!"
" Pftt.. Hahah, maaf ay aku ketawa." Ucap Kania.
Ayya pun mendengkus sebal, kembali melihat keempat pemuda di depannya kini, ayya menarik nafas panjangnya.
" Kalian beneran bisa tahan diri biar ga rame kayak di rumah eyang anna kan?" Peringat ayya lagi.
Roy dan willy pun menahan senyum, benar-benar mencurigakan.
Kania dan ayya menjadi tak yakin sehingga Galih langsung menengahi mereka agar segera memasuki perpus.
" Ayo masuk, panas di luar.." Ucap Galih.
Galih menatap ayya membuat gadis itu langsung membuang muka dan reflek memutar tubuh mendahului mereka, memimpin masuk untuk melakukan registrasi dahulu.
_
Beberapa menit kemudian, semua sudah menyebar dengan tenang menelusuri tiap tempat di perpustakaan.
Louis, mencari buku dengan Kania dan willy, roy pun dengan galih, sedangkan ayya sendiri berkelana mencari buku dengan begitu girang, melihat buku berjejer rapih dari atas sampai bawah di sepanjang lorong, matanya berbinar.. ah.. surga dunia bagi ayya si penikmat tulisan.
" Hem, novel karya romaria dimana ya? Adanya season dua doang, masak harus nyari di rak lain?"
Huff, nyari-nyari buku yang diinginkan benar-benar menguras energi namun disitulah letak senangnya.
Sesekali ayya tak sengaja berpapasan dengan Kania, Louis, ataupun willy yang berpura-pura sibuk membaca, padahal mah lagi scroll sosmed.
" Muehehe.. Yang penting ga rame, kan.." Gumam willy melihat ayya terus jalan.
Di ujung ayya melewati roy, roy pun tersenyum menyapanya, sedang ayya hanya senyum tipis sembari terus jalan.
" Bener kata Louis, dia kutu buku stadium akut.." Gumam roy memperhatikan ayya di kejauhan, lagaknya sudah seperti detektif saja dia.
Beberapa menit kemudian, ayya sudah berada jauh di lantai dua, paling pojok belakang.. Buku yang ia cari selanjutnya berada disana kata staff perpus.
Namun, sialnya ayya dikejutkan dengan beberapa pasangan anak muda yang tengah berpacaran disana, bahkan salah satunya ada yang bercumbu tepat di depan mata ayya.
" Oh crab! malu banget sial!"
Ayya melangkah mundur dengan gugup, saking gugupnya sampai ia menabrak seseorang di belakangnya.
Bruk..
" Ayya, ngapain jalan mundur???"
Galih menangkap kedua pundak ayya agar berhenti. Ayya pun semakin terkejut melihat galih saat itu juga.