NovelToon NovelToon
MASUK KE DUNIA NOVEL

MASUK KE DUNIA NOVEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Wanita / Masuk ke dalam novel
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.

Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.

Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.

"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.

Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )

Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.

"Sial!"

Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Ternyata Bisa Dimakan

Setelah beristirahat, Nan Wei baru memberitahu mereka jika dia mendapat pesanan Keripik ubi sebanyak 50 kg.

"Kenapa tidak bilang dari tadi,?" tegur Kakak ipar pertama dengan antusias.

"Hmm agar kalian bisa beristirahat sejenak!" balas Nan Wei.

"Tidak masalah. Sekarang kita bisa mulai mengupas ubinya, lagipula kerjaan di ladang juga sudah selesai, jadi ibu bisa ikut membantu!" sela Ibu Xia. Dia tak kalah antusias mendengar Nan Wei mendapat pesanan lagi.

Mereka segera menuju halaman samping, dimana mereka menyimpan Ubinya. Lalu bersiap mengupasnya.

Nan Wei segera mengeluarkan bungkusan kain yang berisi pisau pengupas dan pisau pemotong yang sudah dia siapkan.

Untung saja saat masih di toko Bai Ming, dia sempat pergi keliling pasar seorang diri. Dan itu bisa dia gunakan sebagai alasan.

"Pakai pisau ini!" pinta Nan Wei.

"Wah pisau apa ini? Bentuknya sangat aneh!" ucap Ibu Xia.

"Ini pisau khusus untuk mengupas! Lihat bagaimana cara menggunakannya!" Nan Wei segera mengupas kentang dengan cepat.

"Bibi aku juga mau!" seru Xia Lingzi. Dia sangat takjub melihat tangan Nan Wei bergerak dengan cepat.

"Ya. Ini ada banyak! Pisau ini untuk memotongnya!" Nan Wei kembali mengajari mereka.

Dan hasilnya sangat cantik, karena potongan ubinya bergerigi. Nan Wei memutuskan pisau pemotong hanya digunakan untuk ubi saja, agar para pembeli bisa lebih mudah membedakannya.

"Astaga, kalau begini pekerjaan kita bisa cepat selesai!" ucap Kakak ipar kedua sambil mengupas, hanya perlu sekali percobaan saja dia sudah lancar.

Akhirnya pekerjaan mereka lebih mudah sehingga proses pengupasan tidak perlu memakan banyak waktu.

Nan Wei segera meminta Kakak ipar pertama untuk mulai menggoreng, dan dirinya membantu sampai selesai.

***

Melihat tinggal sedikit lagi, Nan Wei meminta Kakak ipar kedua untuk mencuci kerang yang sudah terandam selama sehari.

"Ini sudah bersih kan?" tanya Rungyu yang ke sekian kalinya. Dia mengira hanya perlu dicuci sekali saja, tapi siapa sangka harus dicuci berkali-kali.

"Ya. Kerang seperti ini harus dicuci berulang, sampai pasir atau kotoran benar-benar menghilang!"

Kakak ipar kedua hanya mengangguk, lalu dia memasknya sampai semua kerang terbuka. Dan itu tidak membutuhkan waktu lama.

Nan Wei melepas daging kerangnya dibantu oleh Zhao Yu dan Xia Meng. Karena kedua gadis kecil itu sudah bosan bermain.

Sedangkan Kakak ipar kedua menyiapkan bumbu. Bumbu yang sama saat dia memasak terong.

"Kakak ipar jangan ragu, bumbunya tidak akan terbuang sia-sia!" ucap Nan Wei melihat wajah Rungyu yang terlihat belum yakin dengan kerang yang dia masak.

"Hmm baiklah!" Akhirnya dia menuang semua bumbu dan memasak kerangnya.

Dan selang beberapa menit, dia akhirnya menelan ludah mencium aromanya yang begitu lezat. Rungyu tidak tahan, akhirnya dia mengambil untuk mencicipi rasanya, dan rasanya benar-benar enak.

"Kakak ipar bagaimana?" tanya Nan Wei sambil tertawa kecil.

"Adik, ini sangat enak!" balasnya dengan mata berbinar.

Jika mereka tahu dari dulu kerang batu bisa dimakan, mungkin mereka tidak perlu terlalu berhemat.

Sebelum gelap, semua pekerjaan sudah selesai. Makan malam juga sudah siap, dan akhirnya mereka makan bersama dengan perasaan bahagia.

Ayah Nan Wei juga menyayangkan hal itu, karena sepanjang hidupnya kerang batu hanya diberi untuk makan ternak.

"Ibu enak sekali. Besok aku dan Kakak akan pergi ke sungai untuk memungutnya lagi!" ucap Zhao Yu

"Yuyu makan yang banyak..! Tidak perlu, masih ada yang terandam. Nanti, kita memungutnya, jika mau makan lagi!"

"Baik Buu..!"

...----------------...

Di malam hari, mereka sedang duduk di halaman menikmati keripik ubi dan juga secangkir teh yang Nan Wei beli di pasar.

"Sudah lama rasanya tidak sesantai ini!" ucap Ayah Xia dengan senyum diwajahnya.

"Ayah. Suatu hari nanti, aku akan membuatmu untuk menikmati hari tau bersama dengan Ibu!" kata Nan Wei dengan serius.

"Ya ya ya.. Ayah akan menikmati kerja keras kalian semua!"..

Semua tertawa bersama, karena mereka menganggap itu hanya candaan saja. Tapi tidak dengan Zhao Xu, di dalam hatinya, dia juga akan melakukan hal yang sama, dia akan bekerja keras agar Ibunya bisa menikmati hidupnya.

***

Selang beberapa menit terdengar ketukan pintu gerbang. Hanya mendengar suaranya mereka langsung menebak siapa yang datang bertamu.

"Oh Paman Tao. Mari masuk, Ayahku ada di halaman samping!" ucap Xia Dalang.

"Baiklah, tapi aku datang untuk mencari Nan Wei!" kata Paman Tao sambil berjalan masuk.

Dia makin tidak sabar dengan bisnis yang mereka jalankan, baru saja saat makan malam, dia mencium aroma masakan yang begitu nikmat.

"Paman kenapa kamu mencari Adikku?" Xia Dalang segera bertanya dengan nada khawatir.

"Oh bukan apa-apa!" balas Paman Tao dengan tersenyum karena sudah melihat keberadaan Nan Wei.

"Kamu datang! Sini duduk!" Ajak Ayah Xia dengan nada santai. Karena mereka sering duduk berbincang bersama di malam hari.

"Ya. Seminggu ini sedikit lelah, kita harus segera menyelesaikan panen!" ucapnya yang menjelaskan alasannya baru muncul.

"Benar! Kita harus cepat, agar bisa ditanam lagi! Apa kerjaanmu sudah selesai?" tanya Ayah Xia.

"Mana mungkin, kami cuman ada tiga orang dewasa. Itupun aku harus ke kota di pagi hari!" jelasnya "Kayaknya butuh beberapa hari lagi!"

Ayah Xia hanya mengangguk, dan dia tidak berniat untuk membantunya karena mereka tidak menanam terlalu banyak.

"Jadi Paman, berapa banyak kentang dan ubi yang kalian punya?" tiba-tiba Nan Wei bertanya, karena dia sudah tau tujuan Paman Tao datang.

"Tidak banyak, kalau semua selesai panen. Mungkin hanya sekitar 1000 kg saja." balas Paman Tao yang belum memahami maksud pertanyaan Nan Wei.

"Paman, kamu menjualnya di kota dengan harga berapa?" Nan Wei kembali bertanya.

"Kami menjualnya dipengepul dengan harga 30 koin tembaga per 5 kg nya! Hmm, kenapa kamu tanya, apa kamu sudah ingin menjualnya besok pagi? Tenang saja, Paman tidak akan mengambil penumpang lain!"

Nan Wei terdiam, 30 tembaga? Bukannkah itu sangat murah. Sedangkan kentang gorengnya terjual 1 tael perak. Tapi itu wajar, Karena dia menggunakan garam dan minyak yang harganya sangat mahal di era itu.

"Aku tidak ingin menjual kentang! Tapi aku ingin membelinya, apa Paman ingin menjualnya kepadaku?"

Paman Tao tersentak, dia akhirnya sadar ternyata bisnis yang di maksud Nan Wei adalah jual beli kentang.

"Nak kamu ingin membeli kentang untuk apa? Bukankah kita masih punya banyak?" Tanya Ayah Xia dengan bingung begitupun dengan yang lainnya.

Nan Wei menggeleng lalu berkata, itu masih sangat sedikit. Jika bisa, aku ingin membeli semua kentang milik warga Desa.

"APA? Kenapa banyak sekali?"

"Ayah. Bisnis kita ini akan meluas sampai ke Ibu Kota." Balas Nan Wei dengan percaya diri.

Apalagi Restoran MaYu pusatnya berada di Ibu Kota. Nan Wei juga sempat terkejut saat mengetahuinya, ternyata Restoran yang ada di Kota Qingle hanya cabang yang ke sekian.

Mereka semua begitu terkejut, benarkah bisnis mereka bisa sampai ke Ibu Kota? Meski rasanya mustahil, tapi harapan tentu ada di dalam hati.

"Nan Wei, Paman tidak ingin tahu kamu sedang berbisnis apa. Tapi kamu beneran mau beli kentang? Kalau benar, warga Desa pasti sangat senang, karena tidak perlu ke kota lagi!"

"Ya. Tapi Paman tidak dapat pemasukan jika mereka tidak menjualnya ke kota!"

"Tidak masalah, rejeki bisa datang lewat mana saja. Jadi berapa yang kamu berikan untuk per Kg nya?"

Nan Wei mengangguk puas dengan jawaban Paman Tao yang tidak merasa pamasukannya menghilang karena dirinya.

"Aku beli dengan harga 40 koin tembaga!"

"Nak jangan bercanda!" seru Paman Tao dengan kaget, dia bahkan langsung berdiri dari duduknya.

.

.

.

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
Mamta Okta Okta
lanjut thor semangat berkarya ya 💪💪💪
Mamta Okta Okta
lanjut thor semangat 💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor yg bnyak😍😍😍💪💪💪💪
Fii
Kalau ada typo komen yaa..🙏
Chen Nadari
Buat )
Chen Nadari
semangat up thora
Chen Nadari
mampir thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!