Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Flashback
"Suster, di mana suami saya?" tanya Rania karena dirasa kepergian sang suami telah cukup lama.
Suster tersebut tidak berbicara, melainkan mendorong brankar Rania keluar dari ruang operasi dan pergi ke bagian belakang rumah sakit. Yaitu gudang terbengkalai.
"Suster! Kau akan membawaku ke mana? Argh!" Suara Rania lemah tak bertenaga, rasa sakit mendera dari bekas sayatan operasi caesar.
Ia meringis, darah merembes dari jalan rahim juga dari perutnya.
"Suster! Tolong hentikan! Aku kesakitan!" katanya lagi memohon.
Rania sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan. Semuanya terkuras saat ia mencoba berjuang untuk melahirkan secara normal. Namun, gagal karena si jabang bayi tak kunjung keluar.
"Suster!" Napas Rania terputus-putus, darah yang merembes semakin banyak.
Wajahnya seputih kapas, tak ada darah yang mengalir. Pandangannya berkunang-kunang, kepalanya berdenyut nyeri.
Sayang, di mana kau? Ada yang salah dengan suster ini. Cepatlah datang!
Batin Rania bergumam, rasa takut merambat memenuhi rongga dadanya. Jalanan yang tidak rata membuat brankar berguncang keras. Setiap kali guncangan datang, rasa sakit itu semakin menyiksa. Kenapa sepi sekali? Mereka tiba di gudang belakang, Rania membuka mata dan menemukan dirinya berada di antara barang-barang bekas peralatan rumah sakit.
"Suster, kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Rania menatap suster yang menutup pintu gudang dan berjalan mendekat.
"Kau memang bodoh, Rania. Dari dulu masih saja mudah tertipu," ucap suster tersebut seraya membuka maskernya. Dia adalah Shakira yang menyamar menjadi petugas medis.
"Shakira? Apa maksudmu?" Rania mencoba beranjak, tapi kondisi tubuhnya semakin lemah. Bergerak sedikit saja membuat semua luka terasa sakit.
"Kau masih belum mengerti?" tanya Shakira semakin mendekati Rania.
"Rania, sudah terlalu lama kau menikmati kehidupanmu. Semua hal baik selalu kau dapatkan. Bahkan, suami pun kau mendapatkan seorang Hadrian. Kau membuat cemburu seluruh wanita di kota Anggrek ini," ucap Shakira semakin membuat Rania tak mengerti.
"Tapi, kau adalah sahabatku. Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai saudara. Kenapa kau melakukan ini?" Rania tak habis pikir.
Satu-satunya orang yang dia anggap sebagai keluarga ternyata mengkhianatinya. Shakira tersenyum sinis, mencengkram dagu Rania dengan keras.
"Aku sudah muak melihatmu tersenyum bahagia. Seharusnya semua ini adalah milikku. Hadrian hanya bisa menjadi milikku seorang. Maafkan aku, Rania. Tapi kau harus pergi selamanya. Hanya dengan begitu, semua yang kau miliki akan menjadi milikku. Bisnismu, hartamu, juga suami dan anakmu. Kau pikir selama ini aku mau menjadi temanmu? Kau bodoh! Aku hanya memanfaatkan kebaikanmu saja," ungkap Shakira seraya menekan perut Rania bekas operasi caesar.
"Argh! Hentikan, Shakira! Kau menyakitiku!" rintih Rania meringis kesakitan. Peluh mengucur membasahi wajah bercampur dengan air mata yang berlinang.
"Aku tidak peduli! Kau harus mati, Rania! Nikmati setiap rasa sakit ini!" desis Shakira semakin kuat menekan perut Rania.
Darah semakin deras mengalir, Rania tak sanggup lagi bertahan. Dunianya berputar, gelap perlahan datang. Lalu, ia lunglai tak sadarkan diri. Shakira memastikan sisa napas Rania, kemudian melepaskan tangannya setelah tidak merasakan hembusan udara di lubang hidung Rania.
"Dengan begini. Tidak akan ada lagi penghalang bagiku untuk bisa bersama Hadrian. Selamat tinggal, Rania. Matilah dengan tenang, aku akan menggantikanmu menjadi ibu dan istri yang baik," bisiknya di telinga Rania yang masih bisa mendengar.
Shakira menegakkan dirinya, melepaskan semua atribut dari tubuhnya. Dia berbalik menatap dua orang yang telah bersiap membawa tubuh Rania.
"Kalian bisa membawanya sekarang! Ingat, jangan sampai ada yang melihat," katanya mengancam.
"Anda tenang saja, Nona. Ini bayaran untuk Anda. Kami pastikan akan membawanya pergi dari sini tanpa diketahui siapapun," ucap salah satu dari mereka sembari menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat yang cukup tebal.
Bajingan kau, Shakira! Aku tidak terima mati seperti ini. Jika Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu lagi, aku pastikan akan membalas semua yang telah kau lakukan!
Hati Rania mengancam. Ia tak sanggup membuka mata atau menggerakkan tubuhnya ketika dua orang itu membawanya pergi.
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄