Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Keluarga Velencia
Malam itu perlahan berjalan semakin tenang.
Suara percakapan kecil mulai memenuhi ruang makan besar keluarga de Arther. Tidak lagi setegang sebelumnya.
Axel sesekali masih bercanda. Sebastian beberapa kali tertawa kecil. Bahkan Arthur yang biasanya dingin kini hanya diam memperhatikan tanpa lagi memberi tekanan seperti tadi.
Sementara itu, Rachael masih duduk cukup tenang sambil menghabiskan cake strawberry miliknya perlahan.
Leon mulai menyadari sesuatu. Rachael memang terlihat lebih rileks sekarang. Tapi terlalu banyak perubahan ekspresi dalam waktu singkat.
Beberapa menit lalu gadis itu tampak waspada dan dingin.
Lalu berubah lembut saat bicara dengan Evelyn.
Kemudian terlihat sangat senang hanya karena dessert.
Lalu mendadak diam lagi. Sekarang jemarinya mulai bergerak kecil di bawah meja. Gerakan cepat yang berulang. Seperti seseorang yang sedang berusaha menenangkan pikirannya sendiri.
Leon memperhatikannya cukup lama.
Sementara Evelyn yang duduk di samping Rachael akhirnya menyadari hal yang sama. “Rachael?”
Rachael langsung menoleh cepat. “Hm?”
“Kamu capek?”
Rachael menggeleng kecil terlalu cepat. “Nggak.”
Namun beberapa detik kemudian, tatapannya justru mulai bergerak ke banyak arah lagi.
Ke lampu.
Ke pelayan.
Ke suara gelas.
Ke pintu.
Lalu kembali ke meja. Cepat, seolah otaknya tidak bisa benar-benar diam.
Rachael lalu mengambil sendoknya lagi, memutarnya pelan beberapa kali tanpa sadar.
Leon mulai mengernyit kecil. Karena ia pernah melihat kebiasaan itu sebelumnya.
Di kelas.
Di tangga darurat.
Saat Rachael mulai stres.
Evelyn memperhatikan gadis itu hati-hati sebelum akhirnya bertanya pelan, “Rachael... kamu memang seperti ini?”
Pertanyaan itu membuat Rachael berhenti bergerak sesaat.
Hening kecil muncul.
Lalu gadis itu tersenyum kecil samar. “Ya.”
“Bagaimana?”
Rachael menunduk melihat pantulan cahaya di sendok kecilnya. “Aku susah berhenti mikir.” Nada suaranya tetap tenang.
Namun kali ini terdengar jauh lebih jujur. “Kalau suasana terlalu ramai kepalaku jadi capek sendiri.”
Axel yang tadi santai perlahan mulai diam mendengarkan.
Rachael melanjutkan pelan, “Aku gampang stres. Terlalu gampang malah.”
Tatapannya perlahan turun ke tangannya sendiri. “Kadang kalau stresnya terlalu penuh...” ia tersenyum kecil aneh, “emosiku suka berantakan.”
Leon langsung teringat semua hal.
Rachael yang tiba-tiba tertawa sendiri. Mendadak marah. Lalu kembali datar beberapa menit kemudian seolah lupa apa yang terjadi.
Evelyn perlahan menggenggam tangan Rachael lembut.
“Kamu pernah periksa ke dokter?”
Rachael mengangguk kecil. “Iya.”
“Lalu?”
Hening beberapa detik.
Dan akhirnya, Rachael mengatakannya pelan tanpa menutupi apa pun lagi. “Aku ADHD.”
Suasana meja makan langsung diam.
Namun Rachael melanjutkan sebelum siapa pun bicara. “Dan dokter bilang aku depresi karena stres terlalu lama.” Nada suaranya terlalu tenang saat mengatakan itu.
"Aku gampang fokus, tapi gampang stres juga. Makanan manis hanya untuk menyenangkan diri sendiri, walaupun berdampak aku jadi agak gila."
Padahal Leon merasa dadanya langsung terasa berat.
Rachael tersenyum kecil lagi. “Makanya aku makan permen terus. Biar otakku nggak terlalu ribut.”
Hening panjang memenuhi ruang makan.
Tidak ada yang langsung bicara. Karena sekarang, semuanya mulai benar-benar memahami Rachael Valencia.
Ruangan itu mendadak jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya.
Rachael sendiri tampaknya tidak menyadari betapa berat kalimat yang baru saja ia ucapkan. Ia hanya duduk tenang sambil memainkan ujung sendok kecil di tangannya.
Axel menjadi orang pertama yang akhirnya bereaksi.
“...Pantesan.” Suaranya pelan kali ini. Tidak bercanda seperti biasanya.
Rachael menoleh kecil. “Hm?”
Axel mengusap belakang lehernya canggung. “Kadang lu memang kayak lagi mikir banyak hal sekaligus.”
Rachael mengangguk kecil. “Iya.”
“Capek nggak?”
Pertanyaan itu membuat Rachael diam sebentar, lalu ia menjawab jujur, “Pake nanya. Ya, capek lah.”
Namun entah kenapa membuat Evelyn langsung menggenggam tangan gadis itu sedikit lebih erat.
Rachael melirik pelan ke arah tangan mereka. Ekspresinya berubah sedikit bingung.
Seolah masih belum terbiasa ada seseorang yang memegang tangannya dengan lembut seperti itu.
Evelyn tersenyum kecil. “Kamu selama ini menanggung semuanya sendirian ya.”
Rachael tidak langsung menjawab. Lalu beberapa detik kemudian ia tersenyum kecil samar. “Kalau cerita juga nanti dibilang lebay.”
Kalimat itu membuat Leon langsung menegang.
Karena ia langsung teringat sesuatu. Cara Rachael selalu meminta maaf bahkan saat dirinya sendiri terluka.
Cara gadis itu selalu bilang “aku baik-baik saja” terlalu cepat. Dan sekarang semuanya mulai masuk akal. Rachael tidak terbiasa dianggap serius saat sedang kesulitan. Maka akhirnya ia belajar menyembunyikan semuanya sendiri.
Sebastian perlahan menghela napas kecil. “Orang tuamu tahu kondisi kamu?”
Rachael mengangguk. “Tahu.”
“Mereka membawamu terapi?”
“Iya.”
“Lalu?”
Rachael terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab. “Mereka bilang aku harus belajar mengontrol diri sendiri.” Nada suaranya masih tetap tenang.
Namun kali ini Leon bisa mendengar sesuatu di balik suara itu lelah.
Rachael lalu tersenyum kecil lagi. “Sebenernya aku juga nggak masalah.”
“Kok nggak masalah?” Axel langsung refleks.
Rachael mengangkat bahu kecil. “Karena aku memang merepotkan.”
Kalimat itu langsung membuat suasana membeku lagi. Leon spontan mengangkat pandangannya cepat ke arah Rachael.
Sementara Evelyn langsung mengernyit sedih. “Jangan bilang begitu.”
Rachael terlihat bingung kecil. “Memang benar.”
“Kamu bukan beban.”
Rachael diam. Benar-benar diam kali ini. Seolah kalimat itu terdengar asing baginya.
Leon memperhatikan wajahnya lama.
Dan untuk pertama kalinya— ia melihat jelas sesuatu di mata Rachael yang selama ini selalu disembunyikan.
Bukan marah.
Bukan takut.
Melainkan seseorang yang sudah terlalu lama merasa dirinya harus ditoleransi, bukan diterima.
Beberapa detik kemudian—Rachael malah tertawa kecil pelan. “Aneh.”
“Apa yang aneh?” tanya Evelyn lembut.
Rachael menunduk sedikit sambil memegang sendoknya.
“Biasanya orang jadi nggak nyaman kalau tahu.”
Hening.
Lalu Leon akhirnya bicara, nada suaranya rendah. Namun terdengar sangat jelas. “Aku nggak peduli.”
Rachael perlahan mengangkat kepala.
Leon menatapnya lurus. “Kamu tetap Rachael.”
Kalimat sederhana itu membuat Rachael membeku kecil.
Sementara Axel langsung menatap Leon dengan ekspresi, “Wah gila.”
Sebastian bahkan tersenyum samar melihat cucunya. Sedangkan Evelyn terlihat jauh lebih lega sekarang.
Dan di tengah suasana hangat itu, Rachael perlahan menunduk lagi, ia diam-diam tersenyum.
...----------------...
Suasana ruang makan terasa jauh lebih hangat sekarang.
Tidak setegang saat awal Rachael datang tadi.
Lampu kristal di atas meja memantulkan cahaya lembut ke wajah-wajah mereka. Aroma strawberry dan teh hangat masih samar terasa di udara.
Sementara itu, Rachael terlihat jauh lebih santai dibanding sebelumnya atau setidaknya... lebih mudah terdistraksi.
Setelah terlalu banyak makan manis, pikirannya terasa lebih ringan. Kepalanya yang biasanya penuh suara dan overthinking sekarang sedikit lebih tenang.
Itu sebabnya ekspresinya jadi lebih mudah berubah.
Rachael duduk sambil memegang sendok kecilnya pelan, lalu tiba-tiba menoleh ke arah Evelyn.
Tatapannya terlihat penasaran sekarang.
“Kalau boleh tahu...” suaranya pelan, “Apa anda kenal dengan ibu ku?”
Pertanyaan itu langsung membuat suasana meja sedikit berubah.
Leon perlahan mengangkat pandangan.
Arthur diam.
Sementara Sebastian tersenyum kecil samar seolah sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
Evelyn sendiri terlihat terdiam beberapa detik.
Rachael memperhatikan reaksinya sambil menopang dagu kecil di tangannya.
“Karena tadi...” lanjutnya pelan, “kelihatan kenal banget sama ibu ku.” Nada suaranya sekarang terdengar jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
Mungkin karena suasana hangat. Mungkin juga karena gula dalam tubuhnya mulai membuat pikirannya lebih mudah mengalir ke mana-mana.
Dan jujur saja, Rachael memang tipe orang yang mudah teralihkan. Satu topik bisa langsung berpindah ke topik lain hanya karena sesuatu muncul di kepalanya.
Evelyn akhirnya tersenyum kecil. “Aku memang mengenal Eve Valencia.”
Mata Rachael langsung sedikit membesar kecil. “Benarkah?”
“Iya.”
“Waktu masih muda?”
Sebastian terkekeh kecil. “Cukup lama.”
Rachael langsung terlihat semakin penasaran sekarang. Bahkan tubuhnya sedikit condong ke depan tanpa sadar. “Seperti apa dia dulu?”
Leon yang melihat perubahan ekspresi itu langsung diam memperhatikan. Karena ini pertama kalinya ia melihat Rachael terlihat begitu tertarik pada sesuatu.
Biasanya gadis itu hanya menjawab seperlunya.
Sekarang sorot matanya benar-benar hidup.
Evelyn memperhatikan itu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Ibumu sangat cantik.”
Rachael langsung menjawab cepat, “Sekarang juga cantik.”
Jawaban refleks itu membuat Sebastian tertawa kecil. Bahkan Arthur sedikit mengangkat alis samar.
Karena nada suara Rachael tadi terdengar sangat cepat dan spontan. Rachael sendiri baru sadar beberapa detik kemudian. Ia langsung batuk kecil malu. “...Maksudku memang fakta.”
Axel langsung menahan tawa. “Wah refleks banget.”
“Diam.” Namun telinga Rachael sudah kembali sedikit merah.
Evelyn tersenyum semakin lembut sekarang. “Ibumu juga sangat pintar. Dan sangat berani.”
Kalimat itu membuat Rachael perlahan diam lagi.
Tatapannya turun sesaat ke meja makan. Lalu pelan bertanya, “Berani bagaimana?”
Evelyn menatap gadis itu cukup lama sebelum menjawab. “Dia tipe orang yang tetap tenang bahkan saat keadaan kacau.”
Leon langsung melirik kecil ke arah Rachael. Karena deskripsi itu...terdengar sangat mirip dengan gadis di depannya sekarang.
Dan Evelyn tampaknya menyadari hal yang sama.
Wanita itu tersenyum kecil. “Kamu mirip ibumu lebih dari yang kamu kira.”
Rachael mengernyitkan dahinya, jelas ia tidak suka di samakan.
Evelyn terdiam beberapa saat setelah mengatakan itu. Tatapannya perlahan berubah jauh lebih jauh. Seolah pikirannya sedang kembali ke masa lalu yang sudah lama sekali berlalu.
Suasana ruang makan ikut melambat.
Bahkan Axel yang biasanya paling berisik sekarang ikut diam penasaran.
Sementara Rachael memperhatikan Evelyn cukup fokus. Entah kenapa untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar ingin tahu tentang ibunya.
Evelyn akhirnya menghela napas kecil pelan. “Dulu...” suaranya lembut, “kami pernah diserang.”
Arthur langsung diam.
Sebastian menurunkan cangkir tehnya perlahan.
Leon juga mulai memperhatikan lebih serius sekarang.
Evelyn melanjutkan pelan, “Itu terjadi di mansion utama keluarga de Arther. Bertahun-tahun lalu.”
Tatapan wanita itu perlahan kosong sesaat mengingat kejadian lama itu. “Malam itu ada pesta besar.”
“Banyak tamu.”
“Dan tidak ada yang sadar kalau sudah ada bom di dalam mansion.”
Rachael perlahan berhenti memainkan sendok kecil di tangannya. Ia mendengarkan tanpa bicara.
“Awalnya semuanya normal.” lanjut Evelyn. “Sampai tiba-tiba listrik padam.”
“Dan beberapa detik kemudian... ledakan terjadi.”
Suasana ruang makan menjadi semakin sunyi.
Evelyn tersenyum kecil samar. Namun kali ini senyumnya terasa pahit. “Semua orang panik.”
“Orang-orang berteriak.”
“Asap di mana-mana.”
“Aku bahkan sempat terpisah dari Sebastian.”
Sebastian perlahan menggenggam tangan istrinya pelan.
Evelyn melanjutkan, “Dan saat itu... aku terjebak di salah satu lorong belakang mansion.”
Tatapan Rachael perlahan berubah lebih fokus sekarang.
“Aku ingat jelas.” suara Evelyn mengecil sedikit, “ada api di mana-mana.”
“Dan langit-langit mulai runtuh.”
Axel bahkan mulai menahan napas mendengarnya.
Evelyn lalu tersenyum kecil. “Lalu ibumu muncul.”
Rachael langsung sedikit membeku.
Evelyn menatapnya lembut. “Eve Velencia masuk sendirian ke area yang bahkan orang de Arther sendiri mulai hindari.”
Arthur menunduk diam. Karena dirinya tahu cerita itu.
“Ibumu waktu itu masih sangat muda.” lanjut Evelyn. “Tapi dia tetap tenang.”
“Dia menemukan aku di tengah asap.”
“Dan hal pertama yang dia katakan waktu itu adalah...” Evelyn tertawa kecil samar, "'Kalau ingin panik nanti saja setelah keluar.’"
Sebastian tersenyum kecil mengingatnya.
Sementara Rachael perlahan diam.
Evelyn melanjutkan lebih pelan sekarang. “Ibumu membawa aku keluar dari mansion.”
“Padahal situasinya masih sangat berbahaya.”
“Dan beberapa menit setelah kami keluar...” tatapannya sedikit turun, “bagian lorong itu runtuh total.”
Tidak ada yang langsung bicara.
Rachael masih menatap meja makan sekarang.
Pikirannya terasa aneh. Karena jujur saja, ia tidak pernah mendengar cerita seperti ini tentang ibunya.
Evelyn tersenyum lembut lagi. “Sejak saat itu aku selalu ingin membalas budi.”
“Tapi Eve Velencia menghilang lagi seperti biasa.”
“Muncul dan pergi sesuka hatinya.”
Kalimat terakhir itu terdengar hampir seperti deskripsi tentang Rachael sendiri.
Leon menyadarinya. Dan mungkin Rachael juga menyadarinya. Karena gadis itu perlahan tersenyum kecil samar.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe