Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Hari itu dimulai seperti biasa, tanpa tanda apa pun yang bisa menarik perhatian orang luar. Seraphina menjalani rutinitasnya dengan rapi, duduk di meja makan bersama mereka, menanggapi percakapan dengan nada lembut, serta menjaga setiap ekspresi agar tetap berada di jalur yang aman. Dari luar, semuanya tampak tenang dan teratur, seperti keluarga yang tidak memiliki masalah berarti. Tidak ada yang terlihat retak, tidak ada yang tampak berubah.
Namun di dalam dirinya, semuanya bergerak dengan cara yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Pikirannya tidak lagi menerima sesuatu begitu saja, melainkan mengurai setiap detail yang muncul, sekecil apa pun itu. Ia tidak hanya melihat, tetapi membaca, tidak hanya mendengar, tetapi memahami lapisan di balik setiap kata. Hari ini, ia tidak ingin sekadar mengamati permukaan.
Ia ingin melihat lebih dalam, lebih jujur, dan tanpa pembenaran apa pun.
Siang menjelang ketika Lysandra mulai bersiap untuk keluar, seperti yang sering ia lakukan. Gaun yang dikenakannya tampak ringan dan anggun, jatuh rapi mengikuti gerakan tubuhnya, sementara rambutnya tertata sempurna tanpa cela. Wajahnya memancarkan keceriaan yang familiar, senyum yang selalu terlihat tulus di mata orang lain.
“Ibu, aku keluar dulu.”
Seraphina duduk di sofa dengan secangkir teh di tangannya, uap hangatnya naik perlahan tanpa ia perhatikan. Pandangannya sempat terangkat, menangkap bayangan putrinya di cermin besar di depan ruangan, memperhatikan gerakan kecil saat Lysandra membenarkan antingnya dengan teliti.
“Iya.”
Nada itu tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, lembut dan tanpa tekanan. Tidak ada penahanan, tidak ada pertanyaan tambahan yang bisa membuat situasi berubah arah. Lysandra tersenyum, tampak puas dengan respons itu, lalu berbalik dan melangkah keluar tanpa ragu.
Suara langkahnya perlahan menghilang di sepanjang koridor, menyisakan keheningan yang terasa lebih panjang dari biasanya. Seraphina tidak langsung bergerak, ia membiarkan beberapa detik berlalu sambil menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup.
Kemudian ia meletakkan cangkirnya dengan hati-hati.
Gerakan itu nyaris tanpa suara, namun cukup tegas untuk menandai perubahan niatnya. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu samping yang mengarah ke balkon kecil, tempat di mana suara dari luar biasanya terdengar lebih jelas jika seseorang berhenti sejenak sebelum benar-benar pergi.
Langkahnya ringan, namun penuh perhitungan.
Dan seperti yang ia duga, suara itu memang ada.
Lysandra tidak langsung pergi.
Ia sedang berbicara di telepon.
Nada suaranya terdengar berbeda, jauh dari cara ia berbicara di dalam rumah. Tidak ada lagi kelembutan yang dibuat-buat, tidak ada nada manja yang biasa ia gunakan saat berbicara dengan ibunya. Suaranya lebih bebas, lebih santai, dan tanpa beban.
“Iya, aku akan sampai sebentar lagi.”
Ada jeda singkat, lalu tawa kecil terdengar, ringan namun terasa asing di telinga Seraphina. Tawa itu tidak pernah ia dengar dalam percakapan mereka berdua, seolah ada sisi lain yang tidak pernah diperlihatkan selama ini.
“Dia? Jangan tanyakan.”
Nada itu berubah sedikit, tidak keras, namun cukup untuk menunjukkan rasa jengkel yang ditahan. Seraphina merasakan sesuatu dalam dadanya mengencang, meski wajahnya tetap tenang dan tidak bergerak.
“Ibu selalu seperti itu,” lanjut Lysandra, kali ini tanpa menahan apa pun. “Selalu ingin tahu segalanya. Seolah aku tidak bisa membuat keputusan sendiri.”
Setiap kata jatuh dengan jelas, tanpa ragu, tanpa usaha untuk menyaring. Kalimat itu keluar begitu saja, seperti keluhan yang sudah lama terbiasa diucapkan. Seraphina tetap diam di balik pintu, tubuhnya tegak, napasnya ditahan tanpa sadar.
“Kadang aku benar-benar merasa terjebak,” lanjutnya lagi. “Selama dia ada, aku tidak bisa benar-benar melakukan apa yang aku mau.”
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan kemarahan, melainkan dengan nada santai yang justru membuatnya terasa lebih dingin. Seolah perasaan itu bukan sesuatu yang baru, melainkan sesuatu yang sudah lama ada dan dianggap biasa.
Seraphina memejamkan mata sejenak, jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak bergerak, tidak bersuara, hanya berdiri di sana dan membiarkan setiap kata itu masuk tanpa perlawanan.
“Sudahlah, aku tidak mau membahas itu sekarang,” kata Lysandra akhirnya. “Aku ingin menikmati hari ini.”
Langkah kaki kembali terdengar, kali ini menjauh tanpa ragu. Suara itu perlahan memudar hingga benar-benar hilang, meninggalkan keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
Seraphina tetap berdiri di tempatnya untuk beberapa saat, tanpa menghitung waktu yang berlalu. Ia tidak mencoba mengusir apa yang baru saja ia dengar, juga tidak mencoba menyangkalnya. Ia hanya membiarkan semuanya menetap.
Bukan karena ia terkejut, melainkan karena kenyataan itu kini terdengar langsung di telinganya.
Ia sudah tahu, tetapi mendengar dengan jelas memberikan bobot yang berbeda.
Lebih nyata.
Lebih tajam.
Seraphina membuka matanya perlahan, tatapannya sempat kosong sebelum kembali terisi dengan sesuatu yang lebih stabil. Ia berbalik dan melangkah kembali ke dalam rumah, langkahnya tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada yang berubah di luar.
Namun di dalam dirinya, sesuatu telah bergeser sedikit lebih jauh.
---
Sore hari datang tanpa banyak suara, membawa suasana rumah kembali ke ketenangan yang teratur. Seraphina berjalan menyusuri koridor menuju ruang kerja di lantai bawah, tempat yang biasanya digunakan Kael. Niatnya sederhana, hanya ingin memastikan keberadaan anak itu tanpa menarik perhatian.
Namun sebelum ia mencapai pintu, suara dari dalam sudah lebih dulu terdengar.
Kael sedang berbicara.
Seraphina berhenti, langkahnya tertahan tanpa suara. Pintu tidak tertutup rapat, cukup terbuka untuk membiarkan sebagian percakapan keluar ke lorong.
“Jumlah itu belum cukup.”
Nada suaranya datar, stabil, dan tanpa emosi. Tidak ada nada ragu, tidak ada jeda yang menunjukkan kebimbangan.
Seraphina sedikit mendekat, cukup untuk menangkap kata-kata berikutnya tanpa terlihat.
“Kalau ingin hasil maksimal, kita harus mempercepat prosesnya.”
Ada jeda singkat, seolah Kael sedang mendengarkan. Lalu suaranya kembali terdengar, tetap dengan ketenangan yang sama.
“Tidak perlu khawatir tentang reaksi. Semua bisa diatur.”
Kata-kata itu diucapkan dengan kepastian yang tidak tergoyahkan, seperti seseorang yang sudah memahami setiap langkah yang akan diambil. Seraphina merasakan detak jantungnya meningkat, namun wajahnya tetap tenang tanpa perubahan.
“Selama aliran dana tetap lancar, tidak akan ada masalah,” lanjut Kael. “Yang penting kita tetap konsisten.”
Seraphina menutup matanya sejenak, membiarkan setiap kalimat itu menetap dalam pikirannya. Ia tidak lagi mencoba menafsirkan, karena semua sudah cukup jelas tanpa perlu tambahan apa pun.
Ini bukan asumsi.
Ini bukan dugaan.
Ini kenyataan.
Kael tidak berbicara sebagai anak yang tidak tahu apa-apa. Ia berbicara sebagai bagian dari sesuatu yang sudah berjalan, sesuatu yang ia pahami dengan sangat baik.
Langkah kaki terdengar dari dalam, membuat Seraphina segera menjauh dengan tenang. Ia berjalan ke arah lain tanpa tergesa, seolah hanya melewati lorong tanpa tujuan tertentu.
Pintu terbuka di belakangnya.
Kael keluar dengan langkah ringan, ponsel masih berada di tangannya. Ia tidak melihat ke arah Seraphina, atau mungkin tidak menyadari keberadaannya sama sekali. Ia berjalan lurus melewati koridor tanpa berhenti.
Seraphina berdiri di ujung lorong, membelakangi arah itu. Ia tidak berbalik, tidak memanggil, hanya menunggu hingga suara langkah itu benar-benar hilang dari pendengarannya.
Keheningan kembali datang, namun kali ini terasa berbeda.
Lebih padat.
Lebih pasti.
---
Malam datang perlahan, menyelimuti rumah dengan ketenangan yang terasa lebih berat dari biasanya. Seraphina kembali ke kamarnya, menutup pintu di belakangnya dan membiarkan ruangan itu menjadi satu-satunya tempat tanpa tatapan orang lain.
Ia berdiri di tengah kamar, tidak bergerak.
Pikirannya dipenuhi oleh suara-suara yang ia dengar sepanjang hari, berputar tanpa henti, mengulang setiap kata dengan jelas. Nada Lysandra yang santai, kalimat Kael yang terukur, semuanya saling menyatu membentuk gambaran yang tidak bisa lagi diabaikan.
Tangannya perlahan terangkat, menutup wajahnya.
Napasnya mulai terasa tidak stabil, bukan karena tubuhnya lemah, tetapi karena sesuatu yang ia tahan terlalu lama mulai mendorong keluar. Bahunya bergetar halus, seolah berada di batas antara menahan dan melepaskan.
Ia hampir kehilangan kendali.
Hampir.
Namun di saat itu, ingatan yang lain muncul.
Lantai dingin yang keras.
Tubuhnya yang melemah.
Tatapan mereka yang tidak berubah.
Cara mereka berdiri tanpa bergerak, tanpa mencoba membantu, tanpa menunjukkan keraguan.
Ingatan itu datang dengan jelas, menghentikan segalanya.
Seraphina membeku.
Napasnya tertahan sejenak sebelum kembali teratur.
Getaran di tubuhnya perlahan mereda, digantikan oleh ketenangan yang lebih dalam dan lebih dingin. Ia menurunkan tangannya, membiarkan wajahnya terbuka tanpa jejak emosi yang tadi hampir muncul.
Air mata yang sempat terkumpul tidak jatuh.
Ia menahannya dengan sadar.
Seraphina mengangkat kepalanya perlahan, menatap ke depan dengan pandangan yang sudah berbeda. Tidak ada lagi kegoyahan, tidak ada lagi dorongan untuk mempertanyakan.
Ia berjalan menuju cermin, langkahnya stabil tanpa ragu.
Bayangan dirinya berdiri di sana, terlihat sama seperti sebelumnya, namun tidak lagi membawa makna yang sama. Ia menatap wanita itu dengan tenang, menyadari sepenuhnya apa yang telah ia lihat dan dengar.
Tidak ada lagi ilusi.
Tidak ada lagi pembenaran.
Tidak ada lagi harapan yang salah.
Lysandra dan Kael bukan berubah.
Mereka memang seperti itu.
Ia yang tidak melihatnya.
Atau memilih untuk tidak melihat.
Ujung jarinya menyentuh permukaan cermin, dingin dan keras, memberikan sensasi yang nyata. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, membiarkan semua yang tersisa di dalam dirinya menjadi lebih stabil.
Senyum tipis muncul di bibirnya, bukan karena perasaan hangat, melainkan karena sesuatu yang sudah mencapai titik pasti.
“Baik…”
Suaranya pelan, namun jelas.
“Kalau begitu…”
Tatapannya tetap lurus ke depan, tidak goyah, tidak ragu.
“Kita bermain sampai akhir.”