NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

***

Waktu di puncak Mega Kuningan tidak pernah berjalan dengan lembut. Bagi Mayang Puspita Sari, lima bulan berikutnya adalah sebuah maraton panjang yang menyiksa, baik secara fisik maupun mental. Kandungannya kini telah menginjak usia tujuh bulan perutnya sudah membuncit besar, kencang, dan memberikan beban yang luar biasa pada tulang punggungnya yang sudah sering berdenyut nyeri.

Di saat yang sama, Aira, bayi perempuannya, sedang berada di puncak fase eksplorasi. Di usianya yang hampir menginjak satu tahun, Aira mulai belajar berjalan. Langkah-langkah kecilnya yang belum stabil menjadi sumber kebahagiaan sekaligus kelelahan yang tak berujung bagi Mayang.

"Hore... ayo, Sayang, sedikit lagi," bisik Mayang parau, berlutut di atas karpet bulu dengan tangan terentang.

Aira tertawa, giginya yang baru tumbuh dua di bawah terlihat lucu. Ia melangkah goyah, tangannya menggapai udara sebelum akhirnya jatuh terduduk di depan Mayang. Mayang segera memeluknya, mencium pipi anaknya yang gembul dengan rasa sayang yang menyesakkan dada. Namun, saat ia mencoba berdiri kembali, rasa nyeri tajam menusuk pinggangnya. Mayang meringis, memegangi perutnya yang mendadak mengeras.

"Nghhh... pelan-pelan, Nak... Mamah agak pusing hari ini," gumamnya pada Aira yang tentu saja tidak mengerti.

Lantai penthouse seluas ratusan meter persegi itu kini terasa seperti padang pasir yang luas bagi Mayang. Tanpa asisten, ia harus memastikan setiap sudut ruangan tetap bersih mengkilap sesuai standar obsesif Baskara sambil terus mengawasi Aira agar tidak terjatuh atau menabrak furnitur mahal yang sudutnya tajam.

**

Sore itu, Baskara pulang dengan membawa beberapa kolega bisnisnya. Mereka datang untuk merayakan penutupan kesepakatan besar yang baru saja dimenangkan Baskara.

Mayang, meski napasnya sudah pendek-pendek karena beban kandungannya, harus tampil sempurna. Ia mengenakan gaun hamil sutra yang elegan, memoles wajahnya yang pucat dengan makeup tebal, dan menyiapkan hidangan mewah di meja makan.

"Lihatlah, Tuan-tuan," ujar Baskara sembari merangkul pinggang Mayang dengan posesif di depan tamu-tamunya. "Istri saya bukan hanya cantik, tapi dia adalah wanita yang tahu cara menjaga rumah tetap hangat. Di balik kesuksesanku, ada dedikasinya yang luar biasa."

Salah satu tamu, seorang investor asing, mengangguk kagum. "Luar biasa, Tuan Baskara. Di zaman sekarang, jarang sekali wanita sehebat Nyonya Mayang mau melepaskan kariernya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya."

Mayang memaksakan senyum yang sudah ia latih di depan cermin. "Keluarga adalah prioritas saya, Tuan. Melayani suami dan membesarkan anak adalah bentuk pengabdian tertinggi."

Kata-kata itu terasa seperti racun di lidahnya sendiri. Di bawah meja, tangan Mayang mencengkeram kain gaunnya. Ia merasa seperti boneka pajangan yang dipamerkan oleh pemiliknya. Sepanjang makan malam, Baskara terus membicarakan tentang anak yang sedang dikandung Mayang, seolah-olah Aira yang sedang tertidur di kamar sebelah tidak pernah dianggap ada.

"Anak ini akan lahir tiga bulan lagi," ucap Baskara dengan nada bangga. "Dia akan menjadi wajah baru dari imperium yang sedang kubangun."

Setelah para tamu pulang, topeng Baskara luruh seketika. Ia melepas dasinya dengan kasar dan menatap Mayang yang sedang membereskan piring-piring kotor dengan sisa tenaga yang ada.

"Kau terlihat lelet saat melayani tamu tadi, Mayang," kritik Baskara dingin. "Jangan biarkan perutmu yang besar itu menjadi alasan untuk tidak tangkas."

Mayang tidak menjawab. Ia hanya terus mencuci gelas kristal satu per satu. Air hangat yang menyentuh tangannya terasa seperti satu-satunya kenyamanan yang ia miliki.

"Masuk ke kamar jika sudah selesai," perintah Baskara lagi. "Aku butuh kau malam ini."

Jantung Mayang mencelos. "Baskara... dokter bilang kandunganku sedang sensitif. Aku sering kontraksi palsu akhir-akhir ini karena kelelahan mengurus Aira dan rumah."

Baskara berjalan mendekat, berdiri di belakang Mayang hingga dadanya menyentuh punggung wanita itu. Ia membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Mayang meremang. "Aku tidak peduli apa kata dokter. Aku suamimu, dan kau adalah milikku. Stamina dan nafsu pria sepertiku jauh lebih besar dari apa yang bisa kau bayangkan saat ini. Jangan coba-coba menolak, atau kau tahu apa konsekuensinya bagi Aira."

**

Malam itu kembali menjadi malam yang penuh tekanan. Di bawah cahaya lampu redup, Mayang harus melayani suaminya dengan tubuh yang sudah sangat lelah. Setiap pergerakan terasa berat, setiap sentuhan Baskara terasa seperti klaim atas properti, bukan ungkapan cinta. Mayang memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan pikirannya melayang ke tempat lain agar ia tidak hancur sepenuhnya.

Setelah Baskara tertidur dengan pulas, Mayang bangkit perlahan. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap perutnya yang bergejolak karena tendangan aktif janin di dalamnya. Ia berjalan menuju kamar Aira dengan langkah terseret.

Mayang duduk di samping boks bayi Aira, menatap wajah polos anaknya yang sedang bermimpi. Di tengah keheningan malam, Mayang mulai merenungkan nasibnya. Dulu, ia adalah Nyonya M yang kejam, yang melihat anak sebagai transaksi. Sekarang, ia adalah budak yang melihat anak sebagai penebusan.

Mungkin ini memang karmaku, batin Mayang sembari mengusap air mata yang jatuh ke punggung tangannya. Aku sudah mulai menerima kenyataan ini. Asalkan Aira tetap sehat, asalkan anak yang ada di perutku ini lahir dengan selamat... aku bersedia dihancurkan setiap malam.

Ia teringat anak-anaknya yang dikirim Baskara ke Eropa Timur. Sebuah rasa rindu yang asing dan perih menyelinap di hatinya. Ia tidak pernah merawat mereka, namun kini ia tahu rasanya menjadi seorang ibu yang takut kehilangan.

"Mamah tidak akan menyesal lagi, Sayang," bisik Mayang pada Aira. "Dulu Mamah salah. Mamah kira uang adalah segalanya. Tapi sekarang Mamah tahu, bisa memelukmu setiap hari adalah kekayaan yang tidak bisa dibeli Aris, Gunawan, atau Baskara sekalipun."

**

Baskara benar-benar telah menjadi investor paling disegani. Di luar, ia dipuja. Di dalam, ia adalah diktator. Ia menggunakan nama Mayang untuk melegitimasi setiap langkah bisnisnya yang agresif.

Suatu pagi, saat sarapan, Baskara meletakkan sebuah dokumen di depan Mayang. "Tanda tangani ini. Aku ingin mengalihkan sisa saham propertimu di Jakarta Utara ke perusahaan baruku."

Mayang melihat dokumen itu. Itu adalah aset terakhir yang masih atas namanya. "Jika aku memberikan ini, aku tidak punya apa-apa lagi, Baskara."

Baskara menatapnya dengan pandangan tajam yang kaku. "Kau punya aku. Kau punya anak-anakmu. Kau tidak butuh saham untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Lagipula, semuanya akan jatuh ke tangan anak laki-laki kita nanti. Tanda tangani, atau kau akan melihat betapa cepatnya aku bisa memindahkan Aira ke tempat yang jauh dari jangkauanmu."

Dengan tangan gemetar, Mayang menandatangani dokumen itu. Ia telah kalah secara finansial. Ia kini benar-benar bergantung sepenuhnya pada kemurahan hati seorang monster.

"Bagus," ucap Baskara sembari mengambil dokumen itu. "Sekarang, bersiaplah. Siang ini ada fotografer majalah keluarga yang akan datang. Aku ingin mereka menangkap momen bahagia kita di taman atas. Pastikan kau terlihat mencintai setiap detiknya."

Mayang hanya mengangguk patuh. Ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan susu Aira. Di balik wajahnya yang tenang, di balik kepatuhan yang ia tunjukkan, ada sebuah kekuatan baru yang sedang tumbuh. Kekuatan dari seorang ibu yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan, kecuali nyawanya sendiri.

Ia mulai menerima takdirnya, bukan karena ia menyerah, tapi karena ia sedang menunggu. Menunggu saat di mana Baskara merasa paling aman di atas takhtanya, sebelum ia menarik karpet di bawah kaki pria itu dengan cara yang paling tidak terduga.

***

Bersambung ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!