Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 05
Langit mulai menggelap ketika mobil melaju meninggalkan rumah Audrey dan Zoya. Di dalam mobil, suasana terasa begitu berat. Jolina duduk di kursi belakang, memalingkan wajahnya ke arah jendela. Sorot lampu kendaraan lain berkelebat, bercampur dengan bayangan wajahnya yang murung di kaca.
“Mama minta maaf ya, Jolin…” suara ibunya terdengar pelan, nyaris seperti memohon.
“Ini semua demi kebaikan kamu.”
Jolina tidak menjawab. Tenggorokannya terasa sesak. Air mata jatuh begitu saja, satu demi satu, tanpa ia sempat menyekanya. Ia hanya diam, menatap jalanan yang terasa asing meski setiap hari ia lewati.
Mobil berhenti.
Begitu turun, langkah Jolina terhenti. Di ruang tamu rumah itu—rumah yang selama ini ia anggap tempat paling aman—berdiri seorang perempuan paruh baya. Tantenya. Tapi sikapnya sama sekali bukan seperti tamu. Ia duduk santai, tangan bersedekap, wajahnya datar seolah memang berhak berada di sana.
“Lama banget sih ngambil barangnya?” ujar sang tante ketus.
“Iya, maaf ya, Mir,” jawab ibunya Jolina cepat. “Tadi aku jemput Jolin ke sekolah dulu.”
Jolina menatap mereka bergantian, dadanya berdebar tidak karuan.
“Kenapa Tante di sini?” tanyanya, suaranya bergetar.
Tantenya mendengus. “Pertanyaan macam apa itu, Jolin? Ini tuh rumah Tante. Papa kamu kan udah meninggal, jadi rumah ini dialihkan ke adik-adiknya.”
“Apa…?” Jolina merasa kepalanya berdenyut.
“Kamu nggak kasih tau anakmu ini ya, Maya?” lanjut sang tante, sinis.
Lalu ia berdiri dan menunjuk ke arah kamar. “Ayo kita pergi, Jolin. Ambil koper kamu sama barang-barang kamu yang lain.”
“Ini tuh rumah kami!” suara Jolina meninggi. “Kenapa Tante seenaknya klaim hak milik? Waktu papa sakit aja kalian semua nggak ada yang ngurus! Nggak ada yang keluarin biaya sepeser pun!”
“Ya beda lah,” balas tantenya enteng. “Kan ada istri sama anaknya. Ngapain kita repot-repot ngurusin dia?”
“Udah, Jolin,” potong ibunya, suaranya tegas namun lelah. “Ambil barang-barang kamu. Masukin ke mobil.”
“Tapi, Ma… Tante ini—”
“Ambil. Sekarang.”
Dorongan halus di bahunya membuat Jolina terdiam. Dadanya sakit, bukan karena dorongan itu, tapi karena rasa kalah yang terpaksa ia telan. Dengan langkah berat, ia menarik kopernya dari sudut ruang tamu.
Di sofa, sepupunya duduk santai, kaki dinaikkan ke atas meja. Senyumnya mengejek.
“Abis ini lo bakal tinggal di mana, Jolin?” katanya sambil terkekeh. “Kasihan banget ya, sekarang jadi orang miskin.”
Jolina berhenti. Menoleh tajam.
“Baru rumah kayak gini aja udah sombong,” balasnya dingin. “Gue bakal pindah ke rumah yang lebih besar dari ini.”
Sepupunya tertawa kecil. “Emang mama lo punya uang?”
Jolina hendak membalas. Kata-kata sudah di ujung lidahnya. Namun ibunya keburu menghampiri, mengambil sebagian barang dari tangannya.
“Ayo cepat,” ucap sang ibu lirih. “Taruh di bagasi.”
Jolina mengangguk pelan. Saat melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi. Tatapan sinisnya tertuju pada sepupunya—tatapan penuh luka, marah, dan janji yang tak terucap.
Ia mungkin terusir hari ini, tapi bukan berarti ia akan selamanya kalah.
Beberapa koper besar dan tas-tas Jolina sudah tersusun rapi di bagasi mobil. Pintu bagasi ditutup pelan, tapi suara dug-nya terdengar seperti penanda berakhirnya satu babak hidup Jolina.
“Nyewa mobil kayak gini pasti mahal banget, kan?” suara Tante Mira terdengar menyengat dari belakang. “Kenapa harus maksa diri sih?”
“Nyewa?” sepupunya terkekeh. “Ini tuh mobil—”
“Iya, Mir,” potong Mama Jolina cepat, suaranya tenang tapi jelas ingin mengakhiri percakapan. “Yaudah, kalau gitu kita pergi ya.”
“Halah, yaudah. Segera cari rumah kontrakan yang murah aja,” Tante Mira melambaikan tangan seolah sedang berbaik hati. “Kalau kurang biaya, aku bisa bantu. Tapi ya… nggak bisa banyak.”
Maya hanya tersenyum tipis. Senyum yang terlalu letih untuk disebut ramah. Ia menoleh ke Jolina.
“Masuk mobil, Jolin.”
Begitu pintu mobil tertutup dan mesin menyala, Jolina tak sanggup lagi menahan amarahnya.
“Mama kenapa sih nggak balas omongan Tante Mira?” suara Jolina bergetar, campuran kesal dan sakit hati. “Sombong banget dia!”
Maya tetap fokus menyetir, pandangannya lurus ke depan.
“Buang-buang energi, Jo. Mama malas ngeladenin orang kayak gitu. Diam itu lebih capek buat dia.”
“Tapi perkataan dia keterlaluan, Ma!” Jolina mengepal tangannya. “Dulu waktu dia susah, yang bantu dia siapa? Waktu papa sakit, mereka ke mana?”
“Udah lah,” Maya menghela napas panjang. “Ikhlasin aja. Hidup nggak selalu adil.”
Jolina terdiam sejenak, lalu menoleh tajam ke arah ibunya.
“Apa karena mereka… mama akhirnya menikah sama Om Mulya?”
“Nggak juga,” jawab Maya pelan. “Mama menikah karena mama mau.”
“Karna mama cinta sama Om Mulya?”
“Iya.”
Jawaban itu jatuh begitu saja, sederhana, tapi menghantam perasaan Jolina.
“Sejak kapan?” tanyanya lirih.
Maya terdiam sebentar, lalu berkata, “Sejak Om Mulya selalu ada di saat kita kesulitan. Saat mama capek, saat mama hampir nyerah.”
Jolina menunduk. Dadanya terasa penuh.
“Hal-hal kayak gini kenapa mama nggak pernah cerita sih ke aku?” suaranya melemah. “Aku nggak becus banget ya jadi anak mama?”
Maya langsung meliriknya. “Bukan, sayang. Bukan gitu.”
Ia menggeleng pelan. “Mama cuma ngerasa… ini semua bisa mama atasi sendiri. Walaupun, iya, kesannya egois.”
“Harusnya aku nggak bilang aku benci mama…” Jolina menggigit bibirnya.
Mama tersenyum kecil. “Mama tau kamu ngomong gitu karena lagi marah.”
“Tapi aku tetap nggak bisa nerima Om Mulya,” ucap Jolina jujur.
“Nggak apa-apa,” jawab Maya lembut. “Nggak perlu terburu-buru. Semua butuh waktu. Yang penting kamu nurut, jangan bandel.”
Jolina kembali diam, menatap jalanan yang mulai sepi.
Mobil melaju beberapa menit dalam keheningan sebelum suara ibunya terdengar lagi.
“Oh iya, Jolin…”
Maya ragu sejenak. “Mama harap kamu bisa akrab sama adik tiri kamu nanti.”
Jolina menoleh cepat.
“Apa?? Adik tiri?”
Mama terkekeh kecil. “Mama lupa bilang ya… Om Mulya punya anak cowok.”
Jolina membelalakkan mata. “Hah? Om Mulya duda?”
“Iya,” jawab Maya santai. “Cocok kan? Mama janda, Om Mulya duda. Sama-sama punya anak.”
“Oh no…” Jolina menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Mamaaaa!”
Mama tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana.
“Yang akur ya, sayang.”
“No, Ma. No. Please no…” Jolina bersandar ke kursi, menatap langit-langit mobil dengan ekspresi pasrah.
Di kepalanya, satu hal berputar-putar tanpa henti:
Hidupnya benar-benar berubah. Dan ia belum siap sedikit pun.
Di kepala Jolina, bayangan tentang adik tiri berubah jadi parade mimpi buruk yang tak berujung.
Bagaimana kalau adik tirinya itu anak yang super nakal?
Yang suka berantakin barang, menjahilinya tiap hari, dan—yang paling mengerikan—manja setengah mati.
Bagaimana kalau nanti dia disuruh jagain adik kecil?
Ganti popok? Nyuapin? Nenenin—eh, bukan, sepertinya adik tirinya bukan seorang bayi.
Tetap aja. Ia bahkan tidak tahu cara merawat anak kecil dengan benar.
Baru membayangkannya saja, kepala Jolina sudah terasa mau pecah.
“Kamu harus jadi kakak yang baik ya, Jo,” ucap Mama dengan nada ringan, seolah itu perkara mudah.
Jolina langsung menoleh. “Aku aja anak tunggal seumur hidup. Gimana ceritanya tiba-tiba jadi kakak?”
“Ya harus belajar,” jawab Mama santai. “Nanti kalau misalnya mama hamil, punya bayi, kamu kan otomatis jadi kakak.”
“Apa?!” Jolina nyaris melompat dari kursinya. “Mama ada rencana mau hamil?! Jangan ngawur deh, Ma. Aku nggak mau ya mama hamil lagi.”
Mama melirik sekilas, heran. “Loh, emang kenapa?”
“Aku nggak mau punya adik!” protes Jolina keras kepala.
Mama hanya menggeleng-geleng, antara gemas dan geli.
“Kamu ini…”
Jolina menyipitkan mata, wajahnya mendadak serius.
“Jangan bilang mama sekarang lagi hamil?”
“Apasih kamu,” Mama tertawa kecil. “Malam pertama aja belum.”
“Pokoknya,” Jolina menyilangkan tangan di dada, bersikap defensif, “aku nggak mau denger kabar mama hamil. Titik.”
Mama tak menjawab lagi. Ia hanya tersenyum samar sambil kembali fokus menyetir.
Sementara itu, Jolina bersandar ke kursi, menatap kosong ke depan.
Satu hal makin jelas baginya hari ini:
Masalahnya bukan cuma soal mama menikah lagi. Tapi tentang hidup baru yang dipaksakan masuk ke dunianya, dengan rumah baru, ayah tiri baru, dan sekarang… seorang saudara tiri yang bahkan belum ia kenal, tapi sudah ia takuti.