Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Rafael Bellucci masih tergeletak di atas lantai marmer yang dingin, tubuhnya gemetar hebat menahan kesakitan.
Darah segar mengotori jas mahal yang kini robek tak berbentuk, berbaur dengan suara napasnya yang kian lama kian berbunyi putus-putus.
Di hadapannya, Aragon berdiri tegak bagai malaikat maut. Tatapan mata pria itu begitu datar, kosong dari segala jenis rasa iba.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam sebelum Aragon akhirnya membuka suara, begitu pelan namun sarat akan ancaman.
“Orang sepertimu tidak pantas jika tetap hidup.”
Mata Rafael membelalak panik. Ketakutan instan melingkupi kesadarannya yang mulai menipis.
“Tu-tuan… To-tolong ampuni saya! Saya bersumpah tidak akan mengulanginya lagi! Saya akan mencari orang itu! Saya akan—”
“Sayangnya aku tidak ditakdirkan memiliki sifat pemaaf,” potong Aragon, dingin bagai silet yang mengiris kulit.
Aragon memberikan isyarat kecil dengan dagunya ke arah para pengawal yang berdiri di sudut ruangan.
“Buang dia ke lautan lepas.” Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibirnya, seolah ia hanya sedang memerintahkan seseorang untuk membuang sekantong sampah.
Wajah Rafael langsung pucat pasi. “TI-TIDAK! TUAN ARAGON!! TOLONG!!”
Dengan sisa tenaga yang ada, Rafael merangkak panik mencoba menggapai ujung sepatu Aragon. Hampir seluruh tulangnya patah dan retak.
Namun, sebelum sampai dan menyentuh kaki Aragon, dua pengawal berbadan tegap lebih dulu mencengkeram bahunya dengan kasar.
“Ampuni saya! Saya punya keluarga! Anak saya masih kecil! Tolong— AARGHH!”
Satu hantaman keras mendarat di perut Rafael, membuat pria paruh baya itu tertekuk dan kembali memuntahkan darah ke lantai. Aragon bahkan tidak melirik sedikit pun. Perhatiannya kini beralih sepenuhnya pada Hank yang sejak tadi berdiri diam di samping sofa.
“Hank.”
“Ya, Tuan.”
Aragon memutar perlahan cincin hitam di jari kelingkingnya, sebuah kebiasaan saat ia sedang menimbang sebuah keputusan, sebelum akhirnya peia itu berkata tanpa emosi, “Melenyapkan satu pengkhianat tidak cukup.”
Hank langsung memahami maksud tersirat dari tuannya. Tatapan pria tangan kanan itu menajam saat mengonfirmasi, “Habisi seluruh keluarga Bellucci.”
Seketika itu juga, atmosfer di dalam ruangan mendadak turun drastis. Beberapa pengawal yang sudah terbiasa melihat kekejaman Aragon bahkan refleks menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka tahu persis aturan mainnya, saat Aragon memutuskan sebuah keluarga harus lenyap, maka tidak akan ada satu pun nama yang tersisa di atas silsilah.
“Baik, Tuan Aragon,” jawab Hank tegas.
Mendengar vonis tersebut, Rafael menjerit histeris seperti orang gila.
“JANGAN!! TOLONG JANGAN SENTUH KELUARGA SAYA!! TUAN!! TUAN ARAGON!! PAMAN SAYA DEMIAN TIDAK TAHU APA-APA!!! SEMUA KELUARGA BELLUCI TIDAK TAHU APA-APA!!! BUNUH SAYA TUAN!!! BUNUH SAJA SAYA TAPI JANGAN LENYAPKAN KELUARGA BELLUCI!!!”
Namun, raungan pilu itu sama sekali tidak mengetuk hati siapa pun di sana. Para pengawal menyeret tubuh Rafael yang bersimbah darah keluar dari aula utama. Suara tangisan dan permohonan ampunnya menggema memecah keheningan mansion, sebelum akhirnya memudar dan lenyap di balik lorong panjang.
Suasana kembali sunyi senyap.
Aragon melangkah mendekati jendela kaca besar yang langsung menghadap ke halaman luar, menatap rintik hujan yang mulai mereda. Ekspresi wajahnya tetap tenang dan dingin. Seolah-olah, mencabut nyawa satu garis keturunan manusia hanyalah angin lalu yang tidak berarti apa-apa baginya.
———
Keesokan paginya, langit Kota S masih dipenuhi awan kelabu sisa hujan semalam. Matahari masih enggan muncul. Udara terasa dingin dan lembap, namun Aurora sudah terbangun sejak subuh.
Sebenarnya, ia hampir tidak tidur semalaman. Pikirannya terus dihantui oleh ancaman Bulldog dan batas waktu yang di berikan si pria preman itu kian mencekik leher.
Dua puluh empat jam. Itulah waktu yang diberikan pria itu agar Aurora menerima lamaran pernikahannya jika ingin panti asuhan tetap berdiri. Dan sekarang, separuh dari waktu berharga itu sudah menguap sia-sia.
Aurora berdiri diam di depan cermin kecil kamarnya, menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya. Ia mengenakan pakaian kasual yanh sederhana, kemeja peach longgar yang dipadukan dengan jaket cokelat tipis dan celana jeans panjang.
Rambut hitamnya yang panjang hanya diikat rapi seadanya. Penampilannya sangat biasa, bahkan terlalu biasa untuk seseorang yang berniat menemui pria paling berkuasa sekaligus paling ditakuti di Kota S.
Tangannya gemetar hebat saat memasukkan ponsel dan dompet kecil ke dalam tas sandangnya. Aurora tahu betul apa yang akan ia lakukan ini sangat nekat, cenderung menyerahkan diri ke kandang singa tanpa memiliki persiapan apapun. Tanpa memiliki imbalan apapun yang bisa di berikan.
Namun, ia tidak punya pilihan lain. Jika ia gagal hari ini, panti asuhan yang menjadi rumahnya selama ini benar-benar akan diratakan dengan tanah.
Sebelum melangkah pergi, Aurora melirik pintu kamar para suster di ujung lorong yang masih sunyi.
Ketiga suster itu tampaknya baru bisa terlelap setelah semalaman menangis dan memikirkan nasib panti. Aurora menggigit bibir bawahnya pelan. Ia sengaja tidak memberitahu mereka tentang rencananya menemui Aragon De Hartmann.
Aurora tahu mereka pasti akan melarangnya, tidak ada orang waras yang dengan sukarela mendatangi iblis seperti Aragon, apalagi seorang wanita biasa tanpa koneksi seperti dirinya.
Semua orang di kota S tahu siapa Aragon De Hartmann.
Namanya begitu besar hingga terdengar menakutkan bahkan hanya untuk disebut pelan-pelan. Orang-orang mengenalnya sebagai pria paling berkuasa di kota itu. Raja dunia gelap yang mampu membuat pejabat, polisi, hingga para mafia lain memilih tunduk tanpa berani melawan.
Rumor tentang kekejamannya tersebar di mana-mana.
Banyak yang berkata Aragon tidak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Sekali seseorang berani menyentuh miliknya, maka orang itu akan menghilang tanpa jejak.
Namun di balik semua ketakutan itu. Aragon juga dikenal sebagai sosok dermawan.
Perusahaannya rutin memberikan sumbangan dalam jumlah besar untuk rumah sakit, yayasan anak-anak, dan badan amal. Beberapa panti asuhan di kota S bahkan masih bisa bertahan karena bantuan dana dari yayasan milik keluarga De Hartmann.
Itulah alasan Aurora masih menggantungkan sedikit harapan pada Aragon De Hartmann.
Setidaknya, pria itu masih dikenal memiliki sisi dermawan meski namanya ditakuti di seluruh kota S.
Daripada harus langsung menemui Alexander, pria yang jelas-jelas telah mengirim Bulldog untuk mengancam dan menekannya tanpa belas kasihan.
Mungkin Aragon memang kejam. Mungkin rumor tentang dirinya benar adanya.
Tetapi jika masih ada sisi kemanusiaan dalam diri pria itu, Aurora ingin mempercayainya sekali saja.
Karena sekarang, Aragon De Hartmann adalah satu-satunya harapan terakhir untuk menyelamatkan panti asuhan mereka.
Dengan langkah sepelan mungkin, Aurora keluar dari kamar lalu menyusuri lorong panti yang masih temaram. Ia sempat melewati kamar anak-anak dan mengintip sekilas tubuh-tubuh kecil yang masih tertidur pulas di balik selimut.
Pemandangan itu seketika membuat dadanya terasa sesak seolah dihantam godam.
“Aku harus menyelamatkan tempat ini, apa pun risikonya,”
Melihat anak-anak dengan wajah polos, batinnya menguatkan tekad.
Aurora membuka pintu utama panti dengan sangat hati-hati agar engselnya tidak menimbulkan suara.
Udara pagi yang menusuk tulang langsung menyergap kulitnya. Setelah menutup pintu kembali, Aurora menatap jalanan kota yang masih sepi.
Jantungnya berdentum kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuh. Hari ini, ia akan mempertaruhkan segalanya demi menemui Aragon De Hartmann.
Bersambung