Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.
...~•Happy Reading•~...
Rafael menangkap tissu yang dilempar Laras sambil tersenyum dalam hati.
"Ayo, pergi. Apa tidak lapar?" Rafael menghabiskan kopi instan lalu menuju halaman. Walau kesal, Laras mengambil kunci mobil lalu berjalan cepat menyusul Rafael.
Tidak lama kemudian mereka berada di jalan untuk mencari sarapan. Kadang Rafael turun dari mobil untuk menanyakan orang di pinggir jalan untuk bertanya tempat orang menjual sarapan.
"Kalau tahu akan begini, aku pesan online saja." Laras menggerutu sambil menyetir.
"Bukannya mau sekalian jalan?" Rafael berusaha mengalihkan rasa kesal Laras.
"Iya, sih. Cuma laparnya, gak tahan." Laras terus menjalankan mobil mengikuti arah petunjuk lalu lintas.
"Tahan sebentar. Itu sudah di depan." Rafael menunjuk arah sesuai petunjuk orang yang ditanya.
Tidak lama kemudian Laras menepi, lalu Rafael turun membeli. "Kita makan di mobil saja. Supaya tidak bolak-balik, kalau mau lihat kantor." Rafael mengusulkan setelah kembali dengan sarapan dalam kantong plastik.
"Hari ini aku gak jadi ke kantor." Ucapan Laras membuat Rafael terdiam dan tidak menanyakan penyebabnya. "Kita lihat sambil jalan, kalau ada supermarket atau swalayan yang sudah dibuka, kita mampir..." Laras melanjutkan.
"Ok. Sekalian jalan saja." Rafael setuju. "Jangan protes rasa sarapan itu." Rafael menunjuk sarapan di tangan Laras.
"Belum juga buka, sudah ngancam."
"Mencegah lebih baik, dari pada mengobati." Rafael berkata sambil membuka sarapannya.
Setelah makan, Laras tidak mengatakan rasa ketupat sayur yang dibeli. Tapi Rafael tahu, Laras tidak cocok. "Makan yang bisa dimakan saja." Ucap Rafael, sebab Laras menyingkirkan beberapa potongan sayur dan makan ketupat sangat perlahan.
"Kalau begitu, kita ke swalayan saja. Mungkin jam segini sudah ada yang buka. Kita bisa beli roti." Laras membungkus kembali sarapannya, setelah melihat Rafael telah selesai sarapan.
Rafael mengangguk mengerti. Dia tidak bisa memaksa Laras memakan sesuatu yang tidak disukai. Apa lagi Laras sudah mengatakan mau beli roti, pilihan sarapan yang diinginkan.
Beberapa saat kemudian, Laras parkir mobil di salah satu swalayan terdekat yang sudah dibuka. "Laras, kau mau beli yang lain selain roti?" Rafael bertanya karena melihat Laras masuk begitu saja.
"Iya. Tapi saat ini pikiranku cuma roti." Jawab Laras sambil mencari tempat jual roti. Rafael mengambil troli, lalu menyusul.
"Kau mau roti?" Tanya Laras yang berdiri sambil menggigit roti coklat dan air mineral di tangan.
Rafael menggeleng melihat yang dilakukan Laras. "Masih kenyang. Berdiri di sini." Rafael meletakan troli di samping Laras, lalu berjalan cepat mencari karyawan swalayan untuk memberitahukan yang dimakan dan minum Laras.
Karyawan mendekati Laras bersama Rafael lalu memberikan wadah untuk meletakan plastik bekas roti. "Sudah bisa belanja?" Tanya Rafael yang melihat Laras selesai minum, tapi tidak beranjak.
Laras menganguk. "Iya. Ke situ dulu." Laras menunjuk tempat keperluan wanita. Rafael mengangguk.
Laras memilih keperluannya, Rafael juga memilih alat cukur dan keperluan pria. Ketika meletakan keperluannya dalam troli, Rafael melihat Laras yang sudah berpindah. "Laras, kau cuma beli ini?" Rafael menunjuk isi troli. "Itu keperluanku. Ada yang kurang?" Tanya Laras sambil melihat isi troli.
"Kau tidak beli detergen dan teman-temannya?" Rafael serius bertanya.
"Oh, iya. Itu perlu juga, ya." Laras langsung mengambil yang dia tahu. "Aku kira mau laundry aja." Laras meneruskan sambil mengisi detergen ke troli. "Nah, sudah. Mari kita pulang." Ajak Laras.
Sontak Rafael berdiri diam. "Kau tidak beli sesuatu untuk dimasak?" Rafael makin heran.
"Tidak beli makanan jadi aja?" Bisik Laras, karena karyawan melewati mereka dan swalayan mulai ramai oleh pengunjung.
"Pegang troli. Ikut aku." Rafael berkata tegas. Dia berjalan menuju tempat menjual berbagai roti, lalu mengambil roti tawar dan masukan ke troli. "Ini bisa bantu untuk sarapan besok."
"Aku kok gak mikir ini, ya." Ucap Laras sambil mengambil botol penaut dan beberapa botol selai yang dia suka.
"Mau ayam atau daging?" Rafael mulai berinisiatif, karena menyadari pemikiran Laras sangat minim soal dapur.
"Dua duanya." Jawab Laras sambil ingat yang dibeli Mamanya.
"Tunggu di sini, atau lihat buah yang disukai." Rafael menunjuk tempat buah, lalu mendorong troli menuju tempat menjual telur, ayam, daging dan sayuran.
Laras mengangguk lalu berjalan ke tempat buah. Dia memasukan beberapa buah mangga ke kantong plastik yang tersedia. "Mba, lebih enak mangga ini. Manis dan tidak banyak serat." Ucap seorang pria sambil menunjuk mangga yang dia maksudkan.
"Oh, baik, Pak. Terima kasih." Laras mengambil mangga yang ditunjuk dan memasukan ke dalam plastik. Tapi dia tetap memilih mangga yang sudah diambil.
"Kau menggoda suami saya?" Seorang wanita mendekati Laras dan langsung menarik rambutnya yang dikuncir. Hingga mangga yang ditangannya berjatuhan.
Laras menjerit sambil memegang kuncirannya dengan kedua tangan, karena kepalanya terasa panas dan sakit. "Rasakan sakitnya, kalau mengganggu suami orang." Wanita dibelakangnya makin kuat menarik kunciran Laras.
"Ma, lepaskan. Aku tidak ada hubungan dengan wanita ini." Pria yang mengajak bicara Laras berusaha melerai dan melepaskan tangan istrinya.
Para pengunjung mulai ramai mengerumuni dan karyawan coba melerai. Rafael yang sudah selesai mengambil yang diperlukan, segera kembali ke tempat Laras.
Dia sangat terkejut mendengar Laras menjerit menahan sakit dan melihat rambut Laras ditarik oleh seorang wanita. Rafael meletakan troli begitu saja, lalu berlari menerobos kerumunan.
"Lepaskan." Teriakan Rafael sambil memukul tangan wanita itu dengan pinggiran tangannya, hingga terlepas.
"Anda siapa berani menyentuh rambut istri saya?" Bentak Rafael sambil memegang dan mengusap kepala Laras yang sudah menangis dengan bibir gemetar.
"Istri anda? Sudah bersuami tapi mau menggoda suami orang?" Wanita itu balik menyerang sambil menggerakan tangannya yang mati rasa.
"Menggoda suami orang? Mana suami orang itu." Bentak Rafael dengan marah. Tapi tetap mengusap kepala Laras.
"Mau membela..."
"Lebih baik anda katakan yang jelas, selagi saya menganggap anda lebih tua dari kami. "
"Tadi dia bicara sambil senyam senyum dan merayu suami saya." Wanita itu menuduh, sebab sudah malu jadi pusat perhatian pengunjung.
"Buka mata baik-baik. Di tempat seperti ini, orang bisa berbicara untuk menanyakan sesuatu. Apa itu menggoda?"
"Mana suami anda itu." Rafael kembali bertanya sambil melihat sekitar untuk mencari. Ketika seorang pria mendekat, para pengunjung saling senyam-senyum dan berkomentar.
'Mba itu mau menggoda suaminya?'
'Astaga, suami mereka bagaikan bumi dan langit.' Terdengar bisik-bisik pengunjung.
Rafael melihat pria yang mendekat dengan mata memicing. Dia merasa pernah mengenal pria itu, hingga terus melihat dan berpikir. "Anda Pak Hotlif?" Rafael bertanya saat melihat gerakan kepalanya.
Semua orang terdiam, juga istrinya. Laras berhenti menangis dan memperhatikan pria yang disebut Hotlif oleh Rafael.
'Ini Pak Hotlif yang dibilang Rafa datang ke rumah?' Laras melupakan rasa sakit di kepala, lalu mengeluarkan ponsel untuk membuka profil Kepala Kantor Cabang. Dia merasa ada yang tidak beres dengan pria yang mengaku bernama Hotlif.
...~•••~...
...~•○♡○•~...