NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Izin menginap

Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Tidak terasa pernikahan yang Laura dan Gaharu jalani telah masuk pada bulan pertama.

Hubungannya dengan Gaharu selama sebulan ini cukup baik. Pria itu sedikit ada kemajuan menurutnya. Tidak menberikan tatapan datar berlebihan. Gaharu sudah dapat sedikit kehadiran Laura di rumah ini. Interaksi kecil menjadi bumbu-bumbu keseharian mereka.

Ya.. walaupun bicaranya masih terkesan dingin dan kaku, itu lebih baik dari pada tidak berbicara sama sekali. Kesehariannya tetap sama, bangun pagi—membuat sarapan dan bekal siang—kuliah—lalu pulang. Tidak ada yang special.

Gaharu merasakan berbedaan pada dirinya akhir-akhir ini, dan itu karena Laura. Gadis yang awalnya ia anggap orang asing berstatus istri, kini nama Laura sedikit ada ruang di dalam hatinya. Ingat, hanya sedikit. Itupun karena rasa kasihan. Dasar, Gaharu denial Gardapati.

Hari-hari yang awalnya Laura rasakan seperti penjara kini terasa biasa. Ia sudah terbiasa dengan banyaknya aturan yang di buat di hunian megah itu. Mulai dapat berinteraksi dengan baik, walaupun terkadang ia masih merasa kesal dengan perilaku sekertaris prosedur, musuhnya.

Ya, Laura men-cap Juan sebagai musuhnya di rumah ini. Selalu ada sedikit pertengkaran kecil antara mereka berdua. Entah lirikan sinis yang di balas tatapan datar oleh Juan, atau berdebatan kecil karena hal sepele. Tentunya, Laura yang selalu memulai.

Seperti saat ini.

“Tidak bisa, Nyonya. Jika Anda menginginkan izin tersebut, Anda harus izin terlebih dahulu kepada Tuan muda.”

Sekertaris Juan berjalan dengan cepat menelusuri setiap lorong yang ia lewati menuju ruang kerja Gaharu. Di belakangnya Laura mengikuti seperti anak itik.

“Ck! Kamu 'kan asistennya, kamu selalu mengizinkan apapun yang aku lakukan belakang ini. Kenapa sekarang tidak?”

Juan menghela nafas pelan, ia menghentikan langkahnya. “Saya tidak bisa asal memberikan izin, Nyonya. Untuk kali ini saya tidak bisa.”

“Kenapa?” Laura menghalangi jalan Juan yang akan kembali melangkah pergi. Merentangkan tangan kecilnya di hadapan Juan.

“Karena ini menyangkut keamanan Anda, Nyonya,” jawab Juan tenang.

“Keamanan? Aku hanya ingin menginap di rumah sahabatku. Bukan izin kabur untuk kawin lari!” seru Laura keras sampai-sampai telinga Juan terasa berdenging.

Juan memejamkan mata sejenak, mencoba menetralkan denging di telinganya akibat lengkingan suara Laura yang cukup dramatis. Ia kembali menatap Laura dengan tatapan datar yang sangat menyebalkan bagi Laura.

“Sahabat Anda, maksudnya Nona Rahel. Dia tinggal di kos-an sempit yang sangat padat. Saya tidak bisa menjamin keselamatan Anda di sana jika di biarkan sendiri.”

“Ck! Aku tidak sendiri, aku bersama Rahel! Dengar? RAHEL! Aku berdua tidak sendiri!” Lagi, Laura mengeluarkan teriakan mautnya. Juan kembali meringis saat mendengarkan lengkingan suara itu. Sudah mirip seperti Lumba-lumba.

Juan memijat pangkal hidungnya pelan, sebuah gestur langka yang menunjukkan bahwa tingkat kesabarannya mulai terkikis oleh frekuensi suara Laura yang menembus gendang telinganya.

“Nona Rahel memang bersama Anda, tapi Nona Rahel bukan personel keamanan profesional yang bisa menangani penyusup atau gangguan eksternal,” jawab Juan dengan suara rendah dan tenang, kontras dengan ledakan Laura.

“Dan perlu saya ingatkan, kawasan tempat tinggal sahabat Anda itu memiliki catatan tingkat kriminalitas yang lumayan tinggi. Jika mereka tahu istri seorang konglomerat berada di kos-an tersebut, mereka bisa saja datang dan menculik Anda.”

“Cih! Omong kosong. Tidak akan ada yang bisa menculikku di kos-an gang sempit itu. Sebelum mereka dapat menculikku, mereka pasti akan tersesat terlebih dahulu.”

Juan sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap Laura tepat di manik mata. “Justru karena gangnya sempit, tim pengawal kami tidak bisa memantau dari jarak aman tanpa menarik perhatian massa. Jika terjadi sesuatu, evakuasi akan memakan waktu lebih dari lima belas menit. Bagi saya, satu detik keterlambatan adalah kegagalan prosedur.”

“Prosedur, prosedur, prosedur! Apa otakmu isinya cuma buku prosedur?” Laura menghentakkan kakinya kesal. “Pokonya aku mau pergi sore ini! Titik!”

“Kalau begitu, silakan ketuk pintu di depan Anda,” Juan melirik pintu ruang kerja Gaharu yang hanya berjarak beberapa langkah lagi. “Tuan muda sedang meninjau kuartal perusahaan. Beliau paling tidak suka ada yang mengganggunya saat ini. Terlebih lagi.. suasana hati Tuan muda sedang tidak dalam kondisi untuk bernegosiasi. Saya sarankan untuk memberikan alasan logis dari pada sekadar 'menginap di rumah sahabat'.”

Laura tertegun. Ia melirik pintu besar itu, lalu kembali menatap wajah datar Juan. “Kamu sedang menantangku?”

“Saya sedang memberi Anda saran, Nyonya,” Juan menarik napas panjang, lalu kembali tegak. “Pilihannya ada di tangan Anda, masuk ke dalam ruang kerja dan meminta izin langsung kepada Tuan muda, atau kembali masuk ke kamar Anda dan menunggu cemilan manis untuk kompensasi karena gagal menginap bersama sahabat Anda.”

Laura terdiam sejenak, nyalinya mendadak menciut membayangkan tatapan tajam Gaharu jika diganggu. Ia mendengus keras, akhirnya menurunkan tangannya yang mulai pegal. Ya.. walaupun ia terkadang dengan berani menantang suaminya. Namun saat Gaharu dalam wujud singa mode on, nyalinya sedikit menciut.

“Aku benci fakta bahwa kamu selalu punya cara untuk menang,” gumam Laura ketus.

“Saya tidak mencari cara untuk menang, Nyonya. Saya hanya menjalankan tugas,” balas Juan. Kembali melangkah melewati Laura begitu saja.

'Oke! Kamu menantangku sekertaris prosedur?'

Laura berbalik berjalan dengan cepat. Sebelum Juan mengetuk pintu besar di depannya, Laura terlebih dahulu mengetuk pintu itu dengan brutal. Jelas saja Juan terkejut. Ia sampai memundurkan tubuhnya karena dorongan yang terasa lebih bertenaga dari Nyonya mudanya.

“Suami! Suami! Suami ke luar! Lihat! Juan menganiaya istrimu. Suami! Suami!”

Brak! Brak! Brak!

“Nyonya, apa yang Anda lakukan?” Juan menahan kedua tangan Laura yang terus memukul-mukul pintu besar di depannya.

“Kamu buta ya? Aku sedang mengetuk pintu!” balas Laura ketus. Gadis itu kembali berbalik dan mengetuk dengan lebih keras.

Hey, mengetuk pintu pun ada caranya. Yang Laura lakukan ini bukan mengetuk pintu, tapi mencari perkara namanya. Sudah tahu singa di dalam sana sedang dalam suasana hati yang buruk.

“Nyonya—”

“Apa!” Laura berbalik dan berkacak pinggang. “Mau mengancamku lagi, hah?”

Klek!

Belum sempat Juan menjawab, suara knop pintu yang terbuka membuat mereka berdua menegang. Laura yang langsung tersadar kembali melanjutkan aksi dramanya. Ia berjongkok lalu memeluk sebelah kaki Juan, mirip seperti koala. Pelukannya terasa erat, Juan saja kesulitan untuk melepaskannya.

“Nyonya, apa yang Anda lakukan? Lepaskan.” Juan berusaha menggoyang-goyangkan kakinya, namun Laura malah mengeratkan pelukan di kakinya.

“Apa yang kalian lakukan?”

Pintu besar di depan sana terbuka. Gaharu dengan setelan santai yang terduduk di kursi roda menatap mereka bergantian. Matanya menatap tajam pada Laura yang memeluk kaki Juan dengan erat, lalu beralih kepada Juan yang meneguk air liurnya dengan susah payah.

'Matilah aku.'

“Aku bertanya, apa yang sedang kalian lakukan!” tekan Gaharu. “Kalian berselingkuh? Di rumahku, di depan ruang kerjaku?”

“Apa? TIDAK!”

Laura langsung berdiri dan melepaskan pelukan pada kaki Juan. Ia berteriak tidak terima akan prasangka yang baru saja Gaharu utarakan. Yang benar saja.

“Aku? Berselingkuh dengan makhluk astral bewajah tembok ini?” tunjuk Laura pada Juan. “Cih! Bukan seleraku. Wajah temboknya tidak dapat di nikmati," cibir Laura.

“Lalu? Bisa jelaskan perilakumu tadi?”

“Itu... anu... Suami...” Laura melirik Juan melalui sudut matanya, lalu kembali menatap Gaharu dengan senyum yang dipaksakan. “Sekretaris kesayanganmu ini jahat! Dia melarangku bermain ke rumah Rahel. Padahal aku hanya ingin menginap semalam!”

Gaharu beralih menatap Juan di belakang tubuh Laura. Sekertaris itu membungkuk hormat, sama sekali tidak terlihat gentar atas tuduhan yang baru saja di lontarkan Nyonya mudanya.

“Saya hanya menjalankan prosedur keamanan, Tuan. Mengingat lokasi yang dituju Nyonya Laura memiliki resiko keamanan yang tidak terukur,” jelas Juan dengan singkat dan padat.

Gaharu kembali menatap istrinya yang kini mengerucutkan bibir, mencoba memasang wajah paling melas yang ia miliki. Hening sejenak. Gaharu menatap Laura yang masih mempertahankan wajah melasnya.

“Juan benar,” ucap Gaharu singkat.

Tahu apa yang terjadi dengan Laura saat ucapan itu keluar dari belah bibir Gaharu? Ya! Gadis itu ternganga dengan mata melotot lucu, berkedip-kedip pelan memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.

“Tapi—”

“Tidak ada bantahan! Juan, pastikan dia tidak keluar dari gerbang rumah sore ini. Jika dia lolos, kamu tahu konsekuensinya.”

“Baik, Tuan.”

“Dan untukmu... Kembali ke kamar. Jangan membuat keributan di depan ruang kerjaku.”

Dada Laura naik turun, hidungnya kembang kempis, tangannya terkepal kesal. Rasanya ia ingin memukul kedua wajah di depannya. Dengan rasa kesal yang masih meledak-ledak, Laura berbalik dan meninggalkan mereka berdua. Kedua kaki kecilnya terhentak-hentak keras. Suaranya sampai bergema di setiap lorong yang di lewati.

“Ini tidak boleh, itu tidak boleh, bla bla bla bla! Menyebalkan!”

Juan dan Gaharu menetap kepergian Laura dengan tatapan andalan mereka berdua. “Awasi dia,” ucap Gaharu yang langsung di angguki oleh Juan.

****

Minggu, 26 April 2026

Published : Minggu, 26 April 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!