NovelToon NovelToon
Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Dikhianati... Kemudian dibunuh...

Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.

Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.

"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.

"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.

Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Pengklaiman Sepihak.

Lea mengerutkan kening. Bukan karena ia tidak mendengar satu kata yang Angkasa ucapkan, tapi lebih ke ia merasa ada yang salah dengan satu kata itu. Yang ia tahu dari pamannya, Angkasa tidak pernah membiarkan wanita asing mendekat, tapi kenapa sekarang dia meminta Lea mendekat?

Lea menurunkan tasnya di lantai. Kakinya melangkah maju, merasakan tatapan Angkasa tidak memberinya pilihan.

Ia berhenti satu langkah di depan sofa. Angkasa tidak berdiri. Dia hanya menengadah, meneliti wajah Lea dengan sorot mata yang membuat memar di pipinya terasa lebih perih dari pukulan Markus.

"Siapa?" tanya Angkasa. Suaranya datar, tapi memberikan tekanan.

"Latihan," jawab Lea singkat. "Dengan seseorang."

"Seseorang." Angkasa mengulang kata yang ia anggap ambigu itu seperti sedang menimbang hukuman.

Hening.

Tiba-tiba tangan Angkasa bergerak cepat. Satu tangannya mencengkram pergelangan tangan Lea sekaligus menariknya sampai Lea jatuh berlutut di antara kedua kakinya. Ia mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka kini sejajar, terlalu dekat.

Jempol Angkasa menyentuh sudut bibir Lea yang memar. Kasar, tetapi anehnya hati-hati. "Kau mengatakan ingin menjadi tangan kananku, Lea. Bukan samsak tinju."

Lea menahan napas. Aroma parfum Angkasa, kopi, yang disisipi amarah pria itu. Semua bercampur. "Kau yang mengatakan tidak membutuhkan orang lemah. Itu sebabnya aku latihan."

Angkasa mendengus. Senyumnya tidak ada, tetapi matanya berkilat. "Dan kau yang mengatakan bisa mengandalkan otak, bukan otot." jempolnya menekan sedikit lebih keras di memar itu, membuat Lea meringis. "Mulai hari ini dan seterusnya, kau tidak perlu berlatih di sana, aku sendiri yang akan melatihmu."

Angkasa mencondongkan tubuhnya, bibirnya berhenti satu senti dari telinga Lea. Bisikannya rendah. "Karena yang berhak membuatmu sakit hanya aku."

Dia melepas Lea tiba-tiba. Bersandar ke sofa seolah tidak terjadi apa-apa. Pandangannya beralih ke Marco yang belum beranjak. "Ambilkan aku kotak obat."

Marco ternganga, berpikir apakah indra pendengarannya baru saja rusak. Perintah dari Angkasa memang tidak bisa ia bantah, dan ia mendengar perintah itu dengan sangat jelas, tetapi kali ini perintah itu dibungkus khawatir. Ia mengangguk, berbalik pergi, kemudian kembali lagi dengan kotak putih berpalang merah.

Sementara Lea masih tetap di posisi yang sama, gagal beranjak saat Angkasa justru menekan bahunya.

"Berikan padanya." Angkasa menunjuk Lea menggunakan dagunya.

Marco melangkah mendekat, mengulurkan kotak obat yang baru saja ia ambil pada Lea, kemudian melangkah mundur, dan berbalik pergi begitu Angkasa memberikan isyarat untuk pergi.

"Obati lukamu, aku awasi."

Lea menggeram tanpa suara, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak melemparkan kotak obat di tangannya ke wajah Angkasa. Tangannya terkepal, hembusan napasnya berubah kasar, tapi ia tidak menolak.

Kotak obat di tangannya ia buka. Isinya standar: kapas, antiseptik, perban. Tangannya yang beberapa jam lalu baru saja meracik sianida, dan berlatih tanding melawan Marco, kini harus mengobati luka memar. Sungguh ironis.

Namun, sebelum jarinya menyentuh botol antiseptik, Angkasa sudah merebutnya.

"Jangan bodoh. Tanganmu digunakan untuk mencabut nyawa, bukan berbuat ceroboh. Apakah kau selalu seperti ini ketika panik?"

Lea menatap Angkasa dengan alis bertaut. Siapa yang melakukan hal ceroboh? Apa yang ia lakukan adalah 'normal'.

Angkasa menuang antiseptik ke kapas. Gerakkannya efisien. Gerakan seorang capo yang terbiasa membereskan berantakan: berantakan di meja rapat, berantakan di wajah seseorang, atau bahkan menghilangkan nyawa tanpa berkedip.

"Diam." perintah Angkasa singkat. Tubuhnya sedikit condong ke depan, menekan sudut bibir Lea yang pecah menggunakan kapas.

Lea mendesis. Refleknya mengambil alih, tangannya mencengkram lutut Angkasa. Saat ia sadar dan ingin menarik tangannya, telapak tangan Angkasa yang bebas langsung menahan punggung tangannya. Menahannya tetap di sana. Di atas paha Angkasa.

"Sakit?" tanya Angkasa. Matanya tidak melihat luka, tetapi menatap lurus manik mata Lea. Menganalisa. Seperti menganalisis kelemahan lawan sebelum eksekusi.

"Tidak-"

"Ingin membohongiku?" Angkasa memotong cepat dengan suara rendah. "Kau bisa berbohong pada semua orang, tapi jangan padaku."

Angkasa meniup pelan di atas luka Lea. Napasnya hangat di antara antiseptik. Untuk sedetik, capo paling ditakuti di beberapa wilayah itu berubah menjadi pria yang tidak suka senjatanya lecet.

"Jangan membuatku mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya. Siapa?" tanya Angkasa lagi sambil menempel plester luka.

"Markus, bawahan pamanku," jawab Lea pada akhirnya.

"Markus." gumam Angkasa, ibu jarinya mengusap tepi plester lebih lama dari yang seharusnya. "Petarung di arena pertarungan bebas bawah tanah?"

Lea mengangguk.

"Jadi, Don adalah pamanmu?"

Lea mengangguk lagi. Tidak terkejut jika Angkasa tahu tentang Donantello -pamannya. Bahkan, bukan tidak mungkin Angkasa juga tahu semua nama petarung yang ada di arena bawah tanah pamannya.

"Sepertinya mereka belum tahu siapa yang pegang kendali atas dirimu sekarang. Dia menyentuh milikku, itu artinya dia mencari masalah denganku," kata Angkasa dingin.

"Sejak kapan aku manjadi milikmu?" protes Lea menyipitkan mata. "Itu sama saja pengklaiman sepihak."

Angkasa diam. Plester sudah terpasang rapi, tetapi tangannya masih di pipi Lea. Jempolnya naik, menghapus sisa antiseptik di ujung bibir Lea dengan gerakan yang terlalu intim untuk seorang bos mafia.

"Sejak kau menawarkan diri masuk ke kandangku, kau sudah menjadi milikku. Dan kau harus ingat, sekali kau masuk, kau tidak akan bisa keluar." ia mendekatkan wajah.

"Kau ..." bisiknya. "Adalah racun paling berbahaya yang baru saja aku dapatkan, Lee. Kalau wadahnya retak, racunnya tumpah. Dan aku benci pemborosan."

Angkasa melepas tangannya. Topeng capo kembali terpasang. Dingin, tak tersentuh. "Marco!"

Angkasa berseru, dalam hitungan detik, orang yang dipanggil muncul.

"Antar dia ke kamarnya." perintah Angkasa, menunjuk Lea menggunakan dagunya.

"Baik." Marco mengangguk.

"Dan untukmu ..." Angkasa beralih pada Lea. "Pergilah ke kamarmu."

Lea menutup kotak obat. Ia ingin kembali melayangkan protes, tapi tatapan Angkasa tidak memberinya ruang. Memar di wajahnya masih terasa berdenyut, tapi kalimat Angkasa lebih menyengat di hatinya: wadahnya retak, racunnya tumpah.

Bagi Lea, itu adalah pengakuan. Ia bukan pasangan, bukan karyawan, tapi senjata. Sudut bibir Lea sedikit terangkat. Setidaknya ia sudah maju selangkah untuk bisa mendapatkan kepercayaan Angkasa. Diakui sebagai ahli racun adalah awal yang baik. Itu yang ia pikirkan.

"Baiklah." Lea berdiri.

Namun, baru dua Lea langkah menjauh, suara Angkasa kembali menahannya.

"Lea."

Lea menoleh.

"Sekali lagi aku melihatmu babak belur seperti ini," Angkasa menatap lurus, "Aku yang akan membuat lawanmu babak belur meski itu adalah pamanmu atau anjing pamanmu. Dan percayalah, mereka tidak akan bisa diobati menggunakan kotak obat di tanganmu."

.

.

.

Beberapa jam kemudian di kamar Lea.

02:30am.

Lea menutup kotak peralatannya, memasukkan botol obat dan jarum suntik ke saku pakaian, lalu berajalan keluar kamar dengan satu tujuan: kamar Angkasa.

. . . .

. . ..

To be continued...

Note:

-Seorang Capo \= Pemimpin kelompok mafia.

1
Dewi Payang
Akupun akan bereaksi sama jika jadi Thalia😂
Dewi Payang
Mantap Lea👍🏻
🌸Sakura🌸
wow
Zenun
Vito sangat mudah dijebak karena dia pemain wanita
j4v4n3s w0m3n
rayuan mematikan bener bener lea ngeri ngeri sedep🤣🤭👍
aku
si Lea ngeri2 sedep 🙄🙄
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Yakin akan melepasnya pergi nih 🤧🤧🤧 nanti anu loh 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Rugi kalau nggak bawa ke ranjang duluan, nanti nyesel loh 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
〈⎳ FT. Zira: jangan ada anu dulu diantara kita🤧🤧
total 1 replies
Zhu Yun💫
Yang ada burung mu siap-siap dipotong iya 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan😭
total 1 replies
Zhu Yun💫
Angkasa mengalami reinkarnasi juga kah... /Slight//Slight//Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira: entahlah🤣🤣
total 1 replies
Zhu Yun💫
Kalau ingin naik ke atas ranjangmu dikasih ijin nggak 🤭🤭🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Maklum, Lea pengen ngintip kamu mandi 🤣🤣🤣✌️
Zhu Yun💫
Ya itu kan modusnya Angkasa juga 🤣🤣🤣
Zenun
hayolooo, nanti Lea dilirik sama bos lain
〈⎳ FT. Zira: hayolooo🤣
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sepertinya mulai anuuuhhh
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😂😂😂😂😂
total 4 replies
vania larasati
lanjut
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
setiap ada model baju, rambut, penampilan atau apapun itu, selalu q gugel, krn pengetahuanku yg minim ttg fashion
〈⎳ FT. Zira: 🤣🤣 giliran nongol lagi, nyari lagi.. baru ngeh,, oh iya inii🤣
total 5 replies
j4v4n3s w0m3n
keren lea sedep.betul di pandang bang angkasa kesemsen tu...lanjut dech
〈⎳ FT. Zira: siap lakukan apa aja demi cinta ya kak🤣
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻTͩeͤaͮrͥsᷝ✍️⃞⃟𝑹𝑨👑
smpe naik lagi ke bab selanjutnya 😮‍💨 aku kira aku yang lier kok naskahnya diulang /Facepalm/
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻTͩeͤaͮrͥsᷝ✍️⃞⃟𝑹𝑨👑: kebanyakan anuu😭😭🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!