"Dia adalah anakku, bukan anak haram"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Mereka tak pernah benar-benar ada karena cinta. Mereka disampingku hanya untuk harta dan kedudukan, bahkan mereka akan mundur perlahan karena malaikat kecil yang selalu ada di sisiku. Tapi kau, bagaimana dengan kau?"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Aku tak pernah benar-benar mencintai wanita sebesar ini"
~Bimantara Eka Julian~
"Melihatlah ke arahku! Dan jangan katakan itu lagi, karena itu sangat menyakitkan buatku"
~Bimantara Eka Julian~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon r_eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengajak Bunda
Selepas mandi, Sita kembali naik ke atas tempat tidur. Dipeluknya kedua kakinya kuat-kuat dan nampak air mata kembali membasahi pipinya. Hal itu juga yang dilakukannya semalaman, hingga matanya kini nampak sembab.
Pertemuannya dengan Mila kemarin sepulang kerja, meninggalkan luka tak kasat pada pada diri seorang Sita. Ibu kandung anak yang selama ini ia rawat, meminta kembali haknya. Hak itu dapat merawat anak yang pernah dilahirkannya.
Memang secara hukum, Gala adalah putranya. Itu bisa dilihat secara jelas di akta kelahiran milik Gala. Tapi tak bisa dipungkiri faktanya bahwa anak itu adalah darah daging adiknya, dan secara agama ia tetap anak Mila.
Sita tau, secara hukum, Mila tidak bisa berbuat apa-apa. Namun ia mengenal betul bagaimana karakteristik Mila, ia tak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan apa yang ia mau. Apalagi Mila tak sendirian, di belakangnya ada orang-orang yang akan membantunya mewujudkan kemauannya. Orang-orang itu adalah orang-orang yang juga membenci Sita.
Ancaman Mila bahwa ia akan memberitahu Gala siapa dia sebenarnya, membuat Sita Gentar. Ia takut anak itu akan meninggalkannya. Memang Sita sudah berencana suatu saat nanti akan menyampaikan hal yang sebenarnya pada Gala, tapi tidak untuk saat ini, melainkan ketika kelak Gala sudah dewasa.
Sita tak bisa membayangkan bagaimana jika Gala benar-benar meninggalkannya. Mungkin saja hidupnya akan hancur, tak ada lagi harapan hidup baginya. Karena Galalah yang selama ini menjadi penyemangatnya untuk menghadapi segala permasalahan hidup yang ia hadapi.
Tok...tok... tok... "Bunda!" Suara ketukan pintu dan suara Gala, mau tidak mau membuat Sita turun dari tempat tidur dan berjalan untuk membukakan pintu putranya itu. Namun sebelum ia membuka pintu, Sita terlebih dahulu menghapus sisa-sisa air mata yang masih nampak.
Dengan senyum yang di buat secerah mungkin, Sita membukakan pintu untuk putranya. "Sayangnya Bunda sudah siap ya? Cakep banget!" Ujar Sita sambil mencium pipi Gala. "Wahh, harum lagi anaknya Bunda. Tapi kok rambutnya masih acak-acakan", kata Sita.
Gala menyodorkan sisir yang ia bawa kepada Sita. "Aku mau disisirin Bunda", ucap bocah itu. Sita menerima sisir itu dengan senyuman.
Mbak Saroh datang dengan terburu-buru ke arah Sita. "Maaf Bu Sita, tadi mas Gala sudah mau saya sisirin, tapi dia nolak, katanya minta di sisirin Bunda saja", kata Mbak Saroh.
"Iya Mbak Saroh, nggak apa-apa. Oh ya Mbak Saroh, seharian ini Gala akan pergi sama Dimas, jadi Mbak Saroh bisa istirahat. Terserah Mbak Saroh mbak Saroh mau kemana. Bisa jalan-jalan atau ngapain aja", kata Sita yang kemudian menyusul Gala masuk ke kamarnya.
"Nanti Gala yang sholih ya. Harus nurut sama Omm Dimas. Nggak boleh nyusahin", nasihat Sita pada Gala yang saat itu rambutnya sedang ia sisir. Gala mengangkat kedua jempolnya tanda ia menyetujui apa yang diucapkan bundanya itu.
Hari ini Dimas akan membawa Gala pergi ke tempat wahana bermain, tentu saja setelah mendapat izin dari Sita. Sebenarnya ini bukan pertama kali Dimas pergi bersama Gala sendiri, namun untuk pergi dengan durasi waktu yang cukup panjang, ini baru akan pertama kalinya.
"Bun, Omm Dimas itu baik ya bun. Sering jemput Gala sekolah, beliin mainan, beliin ice cream. Gala mau, kalau papa Gala kayak gitu, Bun", kata bocah yang dua bulan lagi akan genap berusia 4 tahun itu.
Mendengar perkataan putranya, Sita yang sedang duduk di depan meja riasnya untuk menyamarkan matanya yang sembab, memutar tubuhnya menghadap Gala. "Gala berdo'a aja ya, semoga papa Gala baiknya kayak Omm Dimas", kata Sita yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Gala.
Saat Sita dan Gala sedang menikmati sarapan paginya, seorang satpam menghadap Sita dan menyampaikan bahwa Dimas sudah datang.
"Minta dia kesini saja, Di. Biar ikut sarapan sekalian", kata Sita pada Satpamnya itu.
"Baik, bu", kata sang Satpam yang kemudian berjalan keluar.
Beberapa menit kemudian, Dimas yang berpenampilan casual, mendatangi Gala dan Sita yang masih menikmati sarapannya. "Selamat Pagi!" Sapa Dimas.
"Pagi Omm Dimas", Gala membalas sapaan Dimas, namun tidak dengan Sita. Wanita itu menanggapi sapaan Dimas hanya dengan seutas senyuman.
"Ikut makan sekalian, Dim", tawar Sita.
Dimas menarik kursi yang ada di sebelah Gala. Kemudian mendudukkan tubuhnya di sana. "Aku tadi sudah sarapan. Kalau ada aku ingin minum kopi saja karena aku harus menyetir cukup jauh", kata Dimas.
"Tentu saja ada", kata Sita dengan raut tak terima dengan sindiran Dimas.
"Aku lupa, kalau aku sedang bertamu di kediaman salah satu orang kaya di kota ini. Mana mungkin dia tidak punya kopi", kata Dimas mengejek.
"Aamiin, jadi orang kaya", kata Sita menanggapi celotehan Dimas sambil mengusapkan kedua telapak tangannya ke muka, diikuti tawa dari keduanya.
Hubungan antara Sita dan Dimas memang sudah mulai mencair, tak sedingin dulu, karena seringnya pertemuan mereka dalam urusan Gala. Selain itu Dimas selalu berusaha mencairkan suasana jika mereka bertemu.
Selepas Sita dan Gala sarapan, Dimas pun telah menghabiskan kopinya, mereka berjalan keluar. Sita akan mengantar kepergian Gala bersama Dimas sampai ke halaman. Namun ketika mereka sampai di teras, Gala menghentikan langkahnya.
"Aku nggak mau pergi, kalau Bunda nggak ikut", ucap Gala sambil mencengkram kuat ujung pakaian Bundanya. Tentu saja hal itu membuat Sita kaget, karena sebelumnya Gala terlihat senang akan pergi bersama Dimas, tanpa dirinya.
Sita berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Gala. "Bunda masih banyak pekerjaan, sayang. Hari ini perginya sama Omm Dimas aja ya, lain kali kamu Bunda nggak sibuk, Bunda pasti ikut", kata Sita berusaha membujuk Gala.
"Nggak mau, Gala maunya sama Bunda", ujar Gala yang kini justru memeluk Sita erat. "Ayo Bunda ikut!" Rengeknya
Sita mengusap punggung putranya yang menangis itu dengan sayang, sambil melihat ke arah Dimas seolah minta masukan. Dimaspun mengalah, mendekat ke arah wanita itu dan putranya.
Dimas ikut mengelus punggung Gala yang masih dalam pelukan Sita. "Gala perginya sama Omm aja ya? Bunda masih banyak pekerjaan yang nggak bisa di tinggal. Nanti Bunda kita bawakan oleh-oleh aja, gimana?" Dimas berusaha merayu Gala. Namun Gala tetap menolak.
"Ya sudah kita perginya lain kali saja ya. Sekarang Oom pulang dulu", ujar Dimas, sambil bersiap pergi.
Namun baru selangkah Dimas pergi, Gala meraih tangan pria itu. "Jangan Pergi!" Seru Gala.
Dimas tersenyum, kemudian berjongkok. "Gala jadi pergi sama Omm?" Tanya Dimas sambil merangkum wajah putranya itu.
Gala mengangguk, "Tapi sama Bunda", ujar bocah itu.
Gantian Dimas yang kini menatap Sita untuk minta pendapat, karena dia bingung harus berbuat apa menanggapi permintaan anaknya.
"Baiklah, aku ganti pakaian dulu", kata Sita yang kemudian masuk ke dalam rumah. Tentu saja hal itu membuat Dimas dan Gala gembira.
Suasana di dalam mobil yang tadinya ramai dengan celoteh Gala, kini nampak sepi setelah Gala tidur dalam pangkuan Sita.
"Kita mampir ke minimarket dulu ya, aku ingin membeli minum dan camilan", kata Dimas.
"Bagaimana kalau kita ke SPBU saja, di sana ada mini marketnya. Aku butuh ke toilet", kata Sita. Dimas pun menyetujui permintaan wanita yang duduk di sampingnya itu.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Dimas masuk ke area SPBU. Dimas mematikan mesin mobilnya setelah mendapatkan tempat parkir di dekat minimarket.
"Biar Gala aku Gendong", kata Dimas menawarkan dirinya. Dia mengambil alih tubuh Gala dari tangan Sita kemudian pegi masuk ke minimarket.
Tidak mendapati Sita di mobil, setelah meletakkan barang yang dibeli, Dimas bergegas menyusul Sita ke toilet karena merasa ada yang tidak beres. "Kenapa lama sekali di toilet", gumam Dimas dalam hati.
Keputusannya untuk menyusul Sita ternyata tidak salah. "Mau apa kalian?" Teriak Dimas tatkala mendapati Sita yang tengah terpojok oleh dua preman yang sedang berusaha memerasnya.
Melihat kehadiran Dimas, kedua preman itu lari tunggang langgang.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Dimas pada Sita. Sita hanya menggelengkan kepalanya, namun dari wajah wanita itu, nampak ia masih ketakutan.
"Ayo!" Dimas yang masih menggendong Gala, menggandeng Sita untuk kembali ke tempat mobilnya terparkir.
#########
Ada yang nanya tokoh laki-laki utamanya di novel ini siapa sih? Dimas atau Tara?
Author: Ikuti aja kisahnya sampai selesai, nanti juga tau😁
Happy Reading 😘😘😘
smga sehat" trs dan bs lnjut lg thor
nah semangat thor, semoga sukses.
memang ada sih yang bilang biar penasaran.
mending mantan penjahat ya kan
buat perjanjian pranikah antara mila dan rafi misalnya " apabila rafi ketahuan selingkuh maka gugur kepemilikkan saham"