Salam dari author untuk pembaca 😊✨🙏
Putri Adelia yang biasa di panggil adel, usianya kini menginjak 24 tahun. Dia menjalani kisah cinta yang romantis dan begitu membuat iri orang-orang.
Kisah cintanya dengan devan alvano begitu indah dan tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.
Devan adalah sosok pria yang hampir tidak memiliki celah—tampan, mapan, dan selalu bersikap lembut pada Adel. Di hadapannya, Devan seperti pria yang hanya hidup untuk mencintai satu wanita.
Tapi tiba-tiba semuanya runtuh ayah adel memutuskan untuk menjodohkan nya dengan kakak Devan, yaitu Lucas yang usianya sudah 36 tahun terpaut jauh dari usia adel.
HEHEH SEMOGA SUKA YA SAMA NOVEL AKU 🙏😁✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tayanlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14.
Adel menyipitkan matanya.
" Itu tidak mungkin, aku bahkan tidak memiliki riwayat itu " Adel mengelak, bahwa dirinya yakin dengan itu.
" Itu bisa saja terjadi, kamu kan tidak sadar " jawab Lucas singkat.
" lebih baik kamu siap-siap, jadwal penerbangan kita jm 8 nanti " ucap Lucas, mengalihkan pembicaraan.
Menurut nya, pembicaraan tadi sangatlah sia-sia dan tidak perlu di perpanjangan.
" Iya " ucap Adel pelan, Ia pun menurut dan pergi ke kamar mandi.
Klik suara pintu kamar mandi tertutup.
Lucas berdiri, Ia membawa ponsel nya ke balkon dan duduk di sana.
Ada beberapa email yang masuk dan masih belum di baca olehnya, sambil menunggu Adel Lucas membaca email tersebut yang di kirim oleh sang asisten.
Setelah beberapa menit terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Adel keluar dari kamar mandi dengan ujung rambut yang masih basah.
Adel mengenakan gaun hitam dengan desain sederhana namun berkelas, gaun itu memiliki kerah tinggi yang menutupi lehernya, memberikan kesan anggun.
Di bagian dada terdapat potongan kecil berbentuk oval vertikal, cukup untuk sentuhan feminim tanpa menghilangkan kesan formal, lengan gaun itu pendek dengan sedikit volume di bagian haju, memberikan siluet yang tegas dan anggun.
Sebagai pelengkapnya Adel mengenakan anting panjang deng hiasan mutiara yang menggantung anggun di telinganya, aksesoris itu beratun pelan setiap kali Ia bergerak, menambah kesan merah dan tenang dalam penampilannya.
Langkah Adel terhenti sejenak saat pandangan mereka bertemu, Lucas yang berdiri menatapnya dan Adel yang terpaku dengan tatapan Lucas.
Adel segera membuang muka ke arah lain, Ia tidak mau berlama-lama bertatapan dengan Lucas.
" Sudah selesai " tanya Lucas datar, Ia melangkah menuju lemari, terlihat Lucas mengambil pakaian kerjanya.
" Ya " jawab Adel cepat.
Melihat Lucas yang sibuk mencari pakaian kerja, Adel memberanikan diri untuk bicara, Ia berjalan menuju ranjang dan berdiri tepat di sampingnya, matanya masih mengikuti arah gerakan Lucas.
" Jika ada yang ingin kau bicarakan, cepatlah "
" aku harus segera mandi" ucap Lucas.
Adel terdiam sejenak, ucapan Lucas terdengar dingin dan tegas, Adel menelan ludah jemarinya saling menggenggam di depan tubuhnya.
" Bisakah kita tidak sarapan " pinta Adel, suaro terdengar rendah dan canggung, Ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
tangan Lucas terhenti di udara sejenak sebelum Ia melanjutkan lagi memilih pakaiannya.
" kenapa?... apa kau ingin menghindari Devan? " tanya Lucas datar dan dingin.
Adel tersentak halus, nama itu..Devan.. seolah menekan sesuatu di dadanya, Adel mengeleng cepat meski Lucas tidak melihat nya.
" bukan begitu " jawab Adel pelan dan ia merasa semakin gugup dengan tekanan yang Lucas berikan.
" lalu? " tanya Lucas, Ia menutup pintu lemari dan berjalan mendekati adek dengan kemeja putih di tangannya.
Jantung Adel semakin berdegup kencang, takut, gugup dan canggung menjadi satu.
" kenapa diam? " tanya Lucas, Ia menatap Adel yang ada tepat di hadapannya.
" Aku tidak ingin... suasana jadi canggung " Adel menjawabnya, suaranya lebih kecil dari biasanya.
Lucas terdiam sesaat, Ia memalingkan wajahnya ke meja kerja.
" jika itu yang kamu rasakan, terserah, aku juga buru-buru masih ada banyak hal yang harus di kerjakan " ucap Lucas, Ia pun pergi ke kamar mandi meninggalkan Adel yang masih mematung di sana.
ku kira dia akan bicara dengan dingin dan memaksa aku untuk sarapan bersama orang tuanya.
dia tidak terduga
" Aneh " Gumam Adel pelan.
Ia berjalan menuju meja kerja Lucas, Ia duduk di sana, perlahan membuka tas kecil yang berisi make-up.
Adel mulai merias wajah nya dengan hati-hati agar tidak tampak pucat, polesan bedak tipis menyapu lembut permukaan kulitnya, gerakan tangan pelan, terlatih, namun kali ini terasa lebih hati-hati, terakhir Ia memoles lipstick untuk menyempurnakan make-up nya.
Tangan nya menutup pelan tas kecil itu, setelah selesai make-up Adel menatap rambutnya yang sudah kering.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Lucas keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Ia berjalan dengan santai ke arah ranjang.
dengan rambut yang masih basah, menetes pelan ke lantai, punggungnya yang lebar dan berotot terlihat lembang sehabis mandi.
Lucas tidak menghiraukan Adel yang ada di sana, Ia menganggap Adel seperti pajangan yang hanya diam di sana tanpa bergerak.
Adel yang duduk di meja kerja Lucas yang tak sengaja melihat pemandangan itu, segera memalingkan wajahnya yang terlihat merona.
" Hey... bisa kan, kalo abis dari kamar mandi tuh langsung sekalian pake baju " celetuk Adel, Ia masih memalingkan wajahnya ke arah lain.
" ini kamar ku," ucap Lucas tenang seolah itu jawaban yang sudah cukup untuk segalanya, nada suaranya datar tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Adel langsung menoleh cepat ke arah Lucas dengan tatapan kesal.
" Iya tapi.... " Adel berhenti, pipinya masih terlihat merona.
" Setidaknya kamu punya kesadaran diri, bawah ada orang lain juga yang tinggal di kamar ini " lanjut Adel.
Lucas meraih kemeja yang Ia letakan tadi di ranjang, lalu memakainya, satu per satu Ia mulai mengancingkan kancing nya tanpa tergesa, mengabaikan gerutuan Adel.
" sebaiknya kamu biasakan, karena kita akan tinggal di kamar dan rumah bersama mulai sekarang " jawab Lucas datar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Adel.
" tidak ada lagi protes, dan aku tidak perduli kamu nyaman atau tidak itu bukan urusan ku " lanjut Lucas, Ia berjalan menuju kaca besar yang ada di lemari.
Adel menyipitkan matanya, Ia mengepalkan tangan di atas meja, Ia merasa kesal dengan apa yang di katakan Lucas padanya.
" setidaknya hormati aku juga, itu tidak membuat nyaman " ucap Adel.
Lucas yang membuka laci khusus jm tangannya, tangannya terhenti Ia menoleh pelan ke arah Adel berada.
" lalu kenapa kamu masih melihat " tanyanya tiba-tiba.
kalimat itu langsung menusuk tepat sasaran, Adel mulai menegang, Ia menyenangkan kedua tangannya di bawah dadanya dengan wajah yang sedikit angkuh.
" A..aku tidak... "
" kamu lihat " potong Lucas, tetap dengan nada tenang justru yang membuatnya semakin menyebalkan.
Adel terdiam, kata-katanya menghilang begitu saja, wajah yang tadi sudah tenang kini kembali memanas Ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Itu... refleks " Gumamnya pelan.
" refleks juga termasuk kebiasaan " sindir Lucas, Ia kembali mencari jam tangan yang cocok untuknya kenakan.
" percaya diri sekali kamu " balas Adel.
Setelah itu Lucas merapikan rambutnya, menatanya dengan rapi, di sisir kebelakang, sebagai pelengkapnya Lucas memakai parfum nya.
" kita berangkat " ucap Lucas, seakan tidak terjadi apa-apa di antara mereka, Lucas pun meminta seseorang untuk membawakan kopernya untuk di masukan ke dalam mobil.
" baik " jawab Adel, Ia meraih tasnya, sebelum keluar dari kamar Ia sempat merapikan rambutnya, lalu mengikuti Lucas dari belakang.
Lu doyan ma perempuan kaga sih 🙄🙄🙄🙄
a elaaaaaaah lu lambat banget jadi cwo.
Readers kecewa nih 😒😒😒
Reader : elu nyesel khan Cas, yg begitu lu anggurin.
Udeh buruan lu tubruk deh...udah halal juga khan
Lu gimana sih Lucaaaaaasss, masa iya lu diem aja dibilang laki ga normal.
Harusnya tuh lu tunjukin ke Adel...kasih paham ke Adel, kl lu laki tulen
Hanya Othorlah pemegang kendali atas segalanya
Tunjukkan kl kamu ga terpengaruh ocehan Karina, biar Karina tidak memandangmu remeh.