INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Siang itu di Pesantren Darul Mahendra, cahaya matahari menerobos jendela kayu kelas, membentuk garis terang di keramik.
Di depan para santri, Gus Ali duduk bersila sambil mengajarkan Kaligrafi kepada para santrinya.
Tangannya dengan lihai menggoreskan tinta hitam di atas kertas putih, membentuk huruf-huruf Arab yang indah dan tegas.
Seni Kaligrafi para Santri ini seolah di asah, dengan tangan-tangan mereka yang sangat terampil.
"Perhatikan lekukan huruf min, jangan terlalu ditekan. Biarkan mengalir seperti air," ujar Gus Ali dengan nada yang lembut.
Para santri mengangguk, tangannya menirukan dengan apa yang Gus Ali ajarkan.
Tangannya membentuk huruf Arab dengan penuh ke hati-hatian, sesuai yang di ajarkan oleh Gus Ali.
Tak lama seorang Satri dari depan pintu berjalan mendekat ke arah kelas tempat mengajar Gus Ali.
"Assalamualaikum Gus," sapa seorang Santri dengan nada sopan.
"Walaikumsalam, Hendra ada apa?" tanya Gus Ali.
“Gus, Kiai Ridwan memanggil panjenengan ke ndalem setelah selesai kelas.”
Tangan Gus Ali terhenti sesaat memejamkan matanya, memikirkan pasti sang ayah mau menjodohkannya dengan putri seorang Kiyai dari pesantren lain.
"Pasti Abi mau membahas perjodohan dengan anak Kiyai pesantren lain," batin Gus Ali bicara dengan kesunyian.
Sudah beberapa hari ini hatinya merasa jika sang ayah memiliki gelagat soal pernikahannya.
Padahal usianya baru 25 tahun, dan masih terbilang muda---Dirinya juga berencana mengambil S2 di Mekkah.
Kemarin juga tamu penting datang mengunjungi Pesantren Darul Mahendra, pembicaraan terhenti saat Gus Ali masuk ruangan untuk menyerahkan pemasukan dan pengeluaran kepada sang ayah.
Bahkan, tadi pagi, matanya melihat sang ayah berbincang serius dengan seorang tamu dari luar kota.
Entah apa yang di bicarakan, seperti ada yang serius tapi berusaha menutupinya dari Gus Ali.
Gus Ali menarik napas dengan pelan.
“Baik, sampaikan saya akan segera ke sana setelah kelas selesai,” jawabnya tenang.
"Baik Gus, saya permisi. Assalamualaikum," ujarnya.
"Wallaikumsalam," sahut Gus Ali.
Setelah kepergian santri itu, hati Gus Ali semakin bergejolak khawatir entah apa yang di pikirkannya.
Tapi hatinya menjadi bergejolak, kembali memikirkan gadis Mafia yang di tolongnya saat malam itu.
Tapi tanggung jawabnya juga besar.
Ali Mahendra sebagai putra seorang Kiyai besar dan tokoh masyarakat terkemuka, tanggung jawab bukan sekedar tentang ilmu.
Tetapi juga menjaga nilai-nilai dan ajaran soal pesantren yang sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda.
Dengan pernikahan kehormatan pesantren mungkin sudah ditentukan.
Beberapa menit berlalu, kelas Kaligrafi berakhir.
Para santri yang sudah menyelesaikan karya kaligrafinya kembali ke kamar untuk mandi dan nanti malam ada kelas tasawuf.
Gus Ali yang sudah selesai berdiri, tangannya merapikan sarung warna biru kotak-kota garis-garis dan baju koko putihnya dengan sorban di lehernya berwarna kotak-kotak merah putih.
Gus Ali berjalan menuju ruangan Kiyai Rahman setelah mengajar kelas Kaligrafi.
Pintu ndalem diketuk pelan.
“Assalamu’alaikum…” ucap Gus Ali mengetuk pintu.
Sang Kiyai mengenakan gamis warna putih polos dan peci hitam.
Di dalam Kiyai Rahman sedang membaca kisah Layla dan Majnun menggunakan tulisan Arab, baginya bahasa Arab sudah menjadi bahasa kedua baginya.
Tok...Tok...Tok.
Mendengar ketukan pintu Kiyai Rahman menjadi menghentikan membaca tulisannya, saat mendengar pintu di ketuk.
“Wa’alaikumussalam, masuk, Le,” suara berat dan tenang itu terdengar dari dalam.
Gus Ali membuka pintu melepas alas kaki dan melangkah masuk, ruangan itu teduh.
Harum kayu gaharu bercampur wangi kopi hitam masih tercium.
Secangkir kopi hitam yang masih mengepul di atas meja kecil.
Segelas kopi hitam yang masih mengepul di atas meja kecil, rak kitab berjajar rapi di dinding.
Sementara Kiyai Ridwan duduk bersila sudah menaruh kitab di di rak.
Tangan Kiyai Ridwan menggenggam tasbih di jemarinya duduk di atas permadani Persia.
Di hadapan, Kiyai Ridwan sudah ada putranya---Gus Ali.
Kiyai Ridwan wajahnya teduh namun sorot matanya penuh keseriusan, menatap putranya yang akan mejadi penerusnya.
Gus Ali menunduk hormat, pada sang ayah---mencium punggung tangan ayahnya.
"Abi memanggil saya?" tanya Ali.
Kiyai Ridwan mengangguk pelan lalu menyuruh putranya duduk, mereka berdua duduk dengan berhadapan.
Hanya di batasi meja kecil di depannya.
"Gus Ali duduk bersila di hadapan ayahnya, jantung Gus Ali sudah berdetak lebih cepat dari biasanya.
Tapi wajah pria itu tetap tenang, meski hatinya terus berdetak dengan cepat.
Hening menyelimuti beberapa detik.
Hanya suara detak jam dinding dan tasbih yang berputar di tangan Kiyai Rahman menemani keheningan itu.
“Ada tamu dari Pesantren Darul Falah Sutmaja tadi pagi,” ujar Kiyai Ridwan akhirnya memecah keheningan.
Gus Ali menunduk sedikit, dugaannya sudah di tebak dan kemana arahnya---perjodohan.
“Abi sudah ada niat baik. Ingin menyambung silaturahmi… sekaligus menyampaikan maksud untuk menjodohkan putrinya denganmu.”
Ruangan menjadi terasa sunyi, Gus Ali hanya bisa menelan salivanya.
Menarik napas dalam, dan inilah yang dirinya duga.
“Abi tidak akan memaksamu,” lanjut Kiyai Ridwan, suaranya lembut namun tegas.
“Tapi sebagai putra Kiyai, kamu paham bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua insan. Ada amanah, ada dakwah, ada masa depan pesantren.”
Gus Ali mengangkat wajahnya perlahan, ada rasa belum damai karena pergulatan batin soal hatinya.
Hati yang terus memikirkan gadis mafia itu.
"Ali, Abi sedang bicara padamu!" ujar Kiyai Ridwan dengan tegas.
"I-iya Abi," ucap Gus Ali.
"Bagaimana apa kamu terima jika kamu Abi nikahkan dengan putri dari Pesantren Darul Falah Sutmaja?" tanya Kiyai Ridwan meminum kopinya.
Gus Ali hanya memejamkan matanya, menarik napas dalam.
"Abi kasih Ali waktu," ujar Gus Ali.
"Abi akan kasih kamu waktu seminggu Ali, dan menunggu jawaban kamu," ujar Kiyai Ridwan.
Sementara Gus Ali menghela napas, dan Ning Syifa Maulida berencana akan ke pesantren empat hari atau lima hari lagi.
Karena Gus Ali harus bertemu bertatap muka melihat calon istrinya.
Hati Gus Ali mulai campur aduk saat ini, dirinya terus memikirkan cinta pada pandangan pertama kepada gadis mafia yang belum di ketahui namanya itu.
*
*
*