Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM TANPA PULANG
Di depan kamar hotel...
Purbaya berdiri di depan pintu kamar.
Tangannya terangkat... tapi tidak langsung mengetuk.
Jantungnya berdetak tidak beraturan.
Ini masih bisa dihentikan, gumamnya.
Ia masih bisa berbalik.
Pulang.
Namun bayangan pertengkarannya dengan Eva...
Tatapan kecewa istrinya... dan rasa kosong yang sejak tadi menggerogoti dirinya--semuanya bercampur menjadi satu.
Dan entah kenapa, malam ini... ia memilih lari dari itu semua.
Perlahan, tangannya akhirnya mengetuk.
Dua kali, pelan.
Lalu pintu ia buka sendiri.
Alya sudah berbaring di sofa.
Tatapannya langsung bertemu dengan Purbaya.
Seolah ia sudah tahu... laki-laki itu pasti akan datang.
“Kamu datang juga,” katanya pelan.
Tidak ada keterkejutan di wajahnya.
Hanya senyum tipis... penuh kemenangan.
Purbaya tidak langsung menjawab.
Ia hanya berdiri diam beberapa detik di ambang pintu.
Namun Alya bangun dan berdiri, lalu berjalan mendekat.
“Masuk,” ujarnya pelan.
Dan tanpa banyak kata,
Purbaya melangkah masuk.
Pintu tertutup di belakangnya.
Pelan.
Seolah menutup satu dunia... dan membuka dunia yang lain.
Beberapa detik... tidak ada yang berbicara.
Purbaya berdiri di tengah ruangan, sementara Alya menatapnya tanpa melepas senyum tipis itu.
“Masih ragu?” tanya Alya.
Purbaya menghela napas panjang.
“Alya... ini tidak seharusnya...”
“Kalau tidak seharusnya,” potong Alya pelan, “kamu tidak akan ada di sini sekarang.”
Kalimat itu menampar tanpa suara.
Purbaya terdiam.
Alya melangkah mendekat.
Tidak tergesa.
Namun cukup untuk membuat jarak di antara mereka hilang sedikit demi sedikit.
“Kamu selalu kembali,” bisiknya pelan.
Purbaya menatapnya.
Dan untuk sesaat... ia berhenti melawan.
Purbaya menatap Alya.
Terlalu dekat.
Ada sesuatu dalam dirinya yang masih berusaha bertahan--suara kecil yang mengatakan ini salah.
Namun suara itu semakin lama... semakin pelan.
“Kamu selalu kembali.” Kalimat Alya barusan terus terngiang di kepalanya.
Seolah-olah ia memang tidak pernah benar-benar pergi.
Purbaya mengalihkan pandangan, mencoba mencari sesuatu untuk menahan dirinya.
“Ini terakhir,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Setelah ini... kita selesai.”
Alya tersenyum tipis.
Senyum yang tidak sepenuhnya percaya.
“Kamu sudah pernah bilang itu sebelumnya,” jawabnya pelan.
Purbaya terdiam.
Dan itu cukup menjadi jawaban.
Alya melangkah semakin dekat. Seolah ia tahu... ia tidak perlu memaksa. Karena Purbaya sudah setengah kalah.
“Apa yang kamu cari di sini, Mas?” bisiknya.
Pertanyaan itu sederhana. Namun justru membuat Purbaya tidak punya jawaban.
Ia tidak datang karena cinta.
Bukan juga karena benar-benar menginginkan Alya.
Ia datang... karena lelah.
Karena merasa kosong.
Karena ingin lari.
Dan Alya... adalah pelarian yang paling mudah.
Purbaya memejamkan mata sesaat.
Bayangan Eva muncul.
Noya.
Rumah.
Namun hanya sebentar.
Karena saat ia membuka mata kembali--yang ada di depannya hanya Alya.
Dan kali ini... ia tidak mundur. Tangannya terangkat, menarik Alya mendekat.
Keputusan itu terjadi begitu saja tanpa logika dan pertahanan. Seolah ia akhirnya memilih untuk berhenti melawan.
Di dalam kamar itu, Purbaya tidak lagi mencoba menjadi suami yang baik.
Ia hanya menjadi seseorang yang... tenggelam dalam pilihannya sendiri.
*
*
Sementara itu...
Di rumah, malam terasa jauh lebih sunyi.
Tidak ada suara pintu terbuka.
Tidak ada langkah kaki yang kembali.
Eva duduk di tepi ranjang Noya, menatap ponselnya yang sejak tadi tetap gelap.
Tidak ada pesan.
Tidak ada kabar.
Ia menghela napas pelan.
“Tidak usah menunggu aku pulang.” Kalimat itu kembali terngiang.
Pelan... tapi menyakitkan.
Di sampingnya, Noya sudah tertidur, wajahnya tenang--berbanding terbalik dengan isi hati Eva malam itu.
Eva menatap anaknya lama.
Tangannya terangkat, mengusap rambut Noya dengan lembut.
“Maaf...” bisiknya.
Entah ia meminta maaf karena pertengkaran tadi... atau karena ia merasa gagal menjaga keutuhan rumah ini.
Matanya kembali berair.
Namun kali ini, ia tidak langsung menghapus air matanya.
Ia membiarkannya jatuh.
Satu... dua... hingga akhirnya semakin banyak.
Rumah itu tetap sama. Tempatnya tetap sama. Tapi entah kenapa, malam ini terasa berbeda.
*
*
Kamar hotel itu kembali sunyi setelah aktifitas panas yang mereka lakukan
Lampu masih menyala redup.
Purbaya duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, tapi pikirannya justru mulai jernih.
Dan itu menyakitkan.
Ia mengusap wajahnya kasar.
Apa yang baru saja ia lakukan... perlahan mulai terasa nyata.
Bukan lagi dorongan sesaat. Bukan lagi pelarian.Tapi sebuah keputusan.
Kesalahan.
Purbaya menunduk, kedua tangannya bertumpu di lutut.
Bayangan Eva muncul lagi.
Bukan saat mereka bertengkar
tapi saat Eva menyuapi Noya di meja makan.
Ia mengembuskan napas panjang, seolah mencoba mengusir pikiran itu.
Namun tidak bisa.
Karena semakin ia mencoba melupakan... semakin jelas semuanya muncul.
Rumah.
Anaknya.
Istrinya.
Dan dirinya sendiri... yang baru saja menghancurkan semuanya sedikit demi sedikit.
Di belakangnya, Alya masih berbaring santai, seolah tidak ada yang perlu dipikirkan.
“Kenapa diam saja?” tanyanya ringan.
Purbaya tidak langsung menjawab.
Ia menatap kosong ke depan.
“Masih kepikiran rumah?” lanjut Alya.
Kali ini Purbaya menutup matanya sejenak.
Bukan karena ingin menjawab tapi karena... ia tidak punya jawaban yang benar.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia berkata pelan, “Alya... hubungan ini tidak akan bertahan lama.”
Alya tersenyum tipis.
“Seperti yang selalu kamu bilang?”
Purbaya terdiam.
Dan lagi-lagi... ia tidak bisa membantah.
Karena dalam hatinya sendiri... ia tahu, ia sudah terlalu jauh melangkah untuk sekadar berhenti begitu saja.
*
*
Menjelang Subuh,
Langit masih gelap saat Purbaya keluar dari hotel.
Udara dini hari terasa dingin, menusuk kulit.
Ia berjalan menuju mobil dengan langkah pelan, jauh lebih lambat dibanding saat ia datang tadi malam.
Seolah setiap langkahnya terasa berat.
Sesampainya di dalam mobil, ia tidak langsung menyalakan mesin.
Ia tahu... ia harus pulang.
Bukan karena semuanya sudah benar tapi karena masih ada sesuatu yang ingin ia pertahankan.
Atau mungkin... ia hanya ingin menutupi kesalahannya.
Akhirnya mesin mobil menyala.
Mobil itu melaju kembali ke arah rumah.
Di rumah sudah menjelang pagi.
Purbaya membuka pintu rumah perlahan.
Sunyi.
Lampu ruang tamu masih redup.
Ia masuk tanpa suara, seolah tidak ingin membangunkan siapa pun.
Langkahnya berhenti sejenak saat melewati kamar.
Pintu sedikit terbuka. Dari celah itu, ia tidak melihat Eva di ranjang kamar mereka.
Purbaya berbalik dan menuju kamar anaknya, ia bisa melihat Eva tertidur di samping Noya.
Tangan Eva masih berada di dekat tubuh anaknya, seolah bahkan dalam tidur pun ia tidak benar-benar melepas.
Purbaya berdiri di sana.
Diam.
Untuk beberapa detik.
Rasa bersalah itu kembali datang--lebih kuat dari sebelumnya.
Namun seperti sebelumnya... ia tidak melakukan apa-apa.
Ia hanya menarik napas panjang, lalu melangkah pergi menuju kamar mandi.
_____________________________
Halo semuanya 🤍
Maaf ya karena aku sempat menghilang cukup lama dan bikin kalian menunggu kelanjutan cerita ini.
Momen Hari Raya kemarin benar-benar menyita waktu dan perhatian, tapi sekarang aku sudah kembali untuk melanjutkan kisah yang kita jalani bersama ✨
Sekalian juga, aku ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi kalian yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin 🙏 Semoga kebahagiaan dan kehangatan selalu menyertai kita semua.
Terima kasih karena kalian tetap setia menunggu dan mendukung cerita ini.
Dan sekarang...
selamat menikmati kelanjutan ceritanya 😉✨
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄