Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Sesuatu yang manis.
Noa datang lebih pagi hari itu karena di antar oleh Landerik. Dapur Le Serein sudah ramai, suara panci, potongan sayur, dan aroma kaldu yang mulai mendidih memenuhi udara. Chef Marcel melihat Noa masuk dan mengangguk singkat sebelum kembali fokus pada persiapan untuk hari itu.
“Noa!” suara Louis terdengar dari meja pastry.
Noa menoleh, Louis sudah dengan apron putih, rambut coklatnya yang rapi dengan cara yang justru membuatnya terlihat sangat menawan. Ia memberi isyarat agar Noa mendekat.
“kau datang lebih awal hari ini.” katanya sambil menutup nampan berisi choux au craquelin.
“Aku ingin berlatih lebih banyak,” jawab Noa. Louis tersenyum tipis, matanya hijau itu memantulkan cahaya lampu dapur yang terang. “Ambisi yang bagus. Jadi, hari ini kau ingin mulai dari mana?” Noa menarik napas, mengumpulkan keberanian.
“Aku ingin belajar membuat crème brûlée yang benar-benar enak. Aku ingin membuatkan dessert itu untuk seseorang.”
Louis menaikkan alisnya, ia merasa tertarik. “Crème brûlée, ya? Dessert klasik yang terlihat sederhana, tapi mudah gagal.” Ia menepuk meja stainless. “Ambil apron, ayo kita mulai.”
...♡...
DI STASIUN PASTRY – PROSES BELAJAR DIMULAI
Louis mengeluarkan bahan-bahan, whipping cream, susu, vanilla bean, gula, dan kuning telur. “Ada tiga hal penting dalam crème brûlée,” katanya sambil menyalakan kompor kecil. “Rasio, suhu, dan kesabaran.”
Noa mengangguk serius. Louis memotong vanilla bean, dan aroma lembut itu langsung mengisi area sekitar mereka. “Pertama, jangan terlalu banyak mengocok kuning telur,” jelasnya. “Kita ingin teksturnya halus, bukan berbusa.”
Ketika Noa mulai mencampur, Louis berdiri di belakangnya dekat tapi tidak menyentuh hanya mengamati gerakannya dengan fokus sepenuhnya pada teknik. “Pelan, Noa. Ya, seperti itu.” Nada suaranya membuat Noa semakin percaya diri.
Noa mencampur custard dan menuangkannya ke ramekin putih. Ketika ia memasukkan ke dalam oven dengan teknik bain-marie, ia terlihat sedikit gugup. “Kau melakukannya dengan benar,” ujar Louis. Kali ini senyumnya lebih hangat daripada kemarin. Beberapa lama kemudian, Mereka menunggu sambil membersihkan meja.
Louis bersandar pada counter, menyilangkan tangan. “Kemarin kau terlihat gugup, tapi Hari ini kau terlihat lebih rileks.” Noa tersenyum kecil. “Aku mulai terbiasa, sedikit.”
Louis menatapnya sejenak. “Kau cepat belajar. Itu jarang dan aku suka.” Noa menunduk, pipinya sedikit memerah.
“Terima kasih.”
Ketika crème brûlée sudah dingin, Louis menyerahkan torch kepada Noa. “Sekarang bagian paling menyenangkan,” katanya.
“Beri lapisan gula tipis, lalu karamelkan.”
Noa mulai memegang torch, sedikit gemetar. Louis memegang tangannya dari sisi, membantu menstabilkan tapi tidak mengambil alih. “Gerakan memutar, jangan terlalu lama di satu titik.” Api biru menari di permukaan dessert. Gula perlahan berubah menjadi karamel keemasan, renyah, mengilap. Setelah selesai, Noa menatap hasilnya dengan mata berbinar.
“Cantik,” gumamnya. Louis mengambil sendok. “Kita tes.”
Ia mengetuk permukaan crème brûlée.
Bunyi crack kecil terdengar pertanda sempurna.
Louis memasukkan sedikit ke dalam mulutnya. Rahangnya menggerak perlahan. “Manisnya pas. Teksturnya lembut.”
Ia menatap Noa dengan ekspresi kagum yang tulus.
“Noa, ini sangat bagus untuk pemula.” Noa hampir tidak percaya. “B-beneran?”
“Kalau aku tidak serius, Chef Marcel sudah akan memanggilmu ke kantornya,” jawab Louis sambil tertawa kecil. Noa ikut tersenyum, perasaan hangat menjalar dalam dadanya bukan hanya karena pujian, tapi karena ia merasakan tempat yang mungkin akhirnya bisa menjadi miliknya. Louis menambahkan pelan, “Kau punya potensi. Aku ingin melihat sampai sejauh mana kau bisa berkembang.”
Noa menatap crème brûlée buatannya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak ia berada di Paris, Ia merasakan semangat yang nyata untuk masa depannya.
...♡...
Sore itu langit mulai memudar menjadi jingga. Noa berdiri di depan pintu samping restoran Le Serein, tempat para staf biasa keluar masuk. Rambutnya sedikit tertiup angin, dan ia memeluk tasnya sambil melirik jam di ponselnya.
“Sudah lewat satu jam, katanya dia akan menjemputku,” gumam Noa pelan. Ia mencoba menghubungi Landerik lagi, namun hasilnya sama, Tidak diangkat. Noa mendesah kecil, antara cemas dan bingung. Saat itulah suara langkah mendekat dari belakang.
“Noa?”
Noa menoleh. Louis berdiri dengan mantel hitamnya, rambut sedikit berantakan sehabis bekerja, namun tetap dengan senyum sopan khasnya. “Masih di sini? Kau belum pulang?”
Noa mengangguk canggung. “Mm, aku sedang menunggu jemputan. Tapi sepertinya dia terlambat.” Louis mengerutkan alis, tidak menghakimi, hanya terlihat khawatir.
“Apa ada yang salah? Kau kelihatan menunggu cukup lama.”
Noa tersenyum tipis, mencoba tak membuatnya khawatir.
“Mungkin dia masih ada urusan.” Louis menatap mobilnya yang terparkir tak jauh, lalu kembali ke Noa. “Jika kau tidak keberatan, aku bisa mengantarmu. Kebetulan aku juga akan pulang sekarang.” Noa buru-buru menggeleng. “Ah tidak perlu, aku tidak mau merepotkan—”
Louis menahan dengan anggukan lembut.
“Noa, sudah sore. Jalanan mulai sepi. Aku tidak yakin kau aman menunggu sendirian di sekitar sini, dan ini tidak merepotkan sama sekali.”
Ia tersenyum kecil. “Lagi pula, chef tidak boleh membiarkan muridnya pulang sendiri sambil menggendong tas seberat itu.” canda Louis, Noa akhirnya tertawa lirih, menyerah pada kebaikan Louis.
"Baiklah. Terima kasih, Louis.” Mereka berjalan menuju mobil dan Louis membuka pintu mobil sisi penumpang.
“Silakan."
Mobil melaju pelan di bawah cahaya sore. Musik klasik lembut mengalun dari speaker, membuat suasana terasa tenang. Noa memandang jendela sesaat sebelum Louis memecah kesunyian.
“Kau terlihat senang tadi ketika belajar Crème Brûlée,” kata Louis sambil tersenyum tipis. Noa menoleh cepat, wajahnya sedikit memerah.
“Ah, iya. Aku memang suka membuat sesuatu yang manis. Rasanya seperti, seni kecil yang bisa dimakan.”
Louis terkekeh.
“Penjelasan yang indah. Banyak orang suka karena rasa manisnya, tapi kau suka karena prosesnya.” Noa menggigit bibir, malu.
“Kau memperhatikan sampai sejauh itu?”
“Tentu,” jawab Louis lembut. “Tugas guru adalah memperhatikan muridnya.”
Noa tertawa kecil. “Berarti aku murid yang menyusahkan?”
Louis menggeleng pelan.
“Tidak. Kau cepat belajar. Dan, kau berusaha keras. Itu kualitas yang jarang.” Noa terdiam sesaat. Ada sesuatu dalam cara Louis bicara, hangat, tulus, namun tetap menjaga batas.
“Aku senang bisa belajar darimu,” kata Noa lebih pelan, hampir seperti gumaman. Louis melirik sekilas sebelum kembali fokus ke jalan.
“Aku juga senang mengajarimu.”
Suasana di dalam mobil terasa nyaman. Tidak berlebihan, tidak canggung, hanya dua orang yang mulai terbiasa satu sama lain.
...♡...
Mobil berhenti. Noa melepas seatbelt. “Terima kasih sudah mengantar dan terima kasih untuk hari ini,” ucap Noa. Louis tersenyum lembut. “Sama-sama. Jika besok kau ingin latihan dessert lagi, beritahu aku.”
Noa tertawa kecil.
“Mm, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk belajar langsung dari head pastry chef.”
Louis tidak menggoda, hanya menunduk sopan. “Selamat beristirahat, Noa.”
Saat Noa turun, ia sempat menatap kembali ke arah Louis yang masih duduk di balik kemudi, sama sopannya seperti biasa, namun sorotan matanya lembut, seolah berkata bahwa ia benar-benar memperhatikan.
Mobil itu melaju pergi. Dan Noa berdiri di depan pintu, jantungnya sedikit berdebar, tanpa tau apa penyebabnya.
To Be Countinue...