NovelToon NovelToon
The Death Mirror

The Death Mirror

Status: tamat
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Model / Obsesi / Tamat
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Richest

Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.

Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.

Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.

Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.

Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?

Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sudah cukup lama dr. Chris tidak bertemu dengan Sisca. Gadis itu juga sudah lama tak menghubunginya lagi. Dia merasa khawatir dengan keadaan gadis tersebut.

Maka dari itu ia memutuskan untuk menemui Sisca di rumah yang ia beri tumpangan kepadanya. Dia sudah membawakan beberapa snack kesukaan gadis itu dan juga buah-buahan.

Saat ia tiba di sana, seorang pembantu keluar dari dalam rumah untuk membukakan pintu. Rumah ini terlihat sepi dan tak berpenghuni.

"Sisca nya mana bi?"

"Maaf, Nona Sisca sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah, tuan." jawabnya.

"Beberapa hari? Yang benar saja. Kenapa firasatku jadi tidak enak?"

"Ini bi ambil cemilannya. Saya akan pergi sebentar untuk mencari Sisca. Sekali lagi apa bibi tau dia pergi kemana?"

"Enggak, tuan. Nona Sisca perginya juga enggak pamit dulu sama bibi."

"Baiklah, terimakasih bi."

Chris memiliki firasat buruk terhadap Sisca. Ia takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan terhadap temannya itu.

Chris menemui Edward di kantornya. "Apa saya bisa ketemu dengan Pak Edward saat ini?" tanyanya pada seorang resepsionis yang bertugas di sana.

"Apa bapak sudah membuat janji sebelumnya?"

"Belum,"

"Saya akan menelepon Pak Edward untuk menanyakannya. Sebentar ya pak."

Resepsionis itu menelepon Edward. "Baiklah, bapak bisa bertemu dengan Pak Edward di ruangannya. Rekan saya akan mengantarkan bapak ke sana."

Pelayan di sana mengantarkan Chris hingga sampai ke ruang kerja Edward. "Terimakasih ya,"

"Sama-sama pak, kalau begitu saya pergi dulu."ucapnya setelah selesai mengantar Chris.

Chris mengetuk pintu ruangan tersebut. Dia barulah masuk ke dalam saat sudah diizinkan oleh Edward.

"Silakan duduk,"

"Aku datang kesini untuk menanyakan soal keberadaan Sisca ke kamu. Apa kamu pernah berkomunikasi atau bertemu langsung dengan Sisca dalam waktu beberapa hari terakhir?"

"Tidak, dia juga sudah lama tidak menghubungiku. Memangnya ada apa dengan dia?"

"Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang ke rumah. Aku pikir kamu tau dimana keberadaannya sekarang."

"Tidak sama sekali. Mungkin dia punya pekerjaan di luar kota atau luar negeri?"

'Tidak mungkin dia pergi ke luar kota atau luar negeri. Dia sendiri yang bilang kalau dia akan fokus untuk mengungkapkan kasusnya Michelle. Akh, kenapa jadi semakin rumit begini permasalahannya?' batin Chris.

"Kau yakin tidak pernah membuat suatu rencana dengannya?" tanya Chris dengan tatapan penuh selidik.

"Tidak pernah, Chris. Aku sudah lama tak bertemu ataupun berkomunikasi dengannya." jelas Edward.

Chris merasa sedikit curiga dengan pengungkapan dari Edward. Dia bingung antara ingin mempercayainya atau tidak.

Namun, apakah Sisca yang meminta kepada Edward agar jangan memberitahu rencana mereka kepada siapapun.

Mungkin oleh karena itulah Edward tidak mengatakannya. Chris tetap berhati-hati saat berbicara dengan Edward.

Ia takut lelaki di hadapannya itu justru bersekongkol dengan Michelle. Mengingat laporan dari anak buahnya pernah menyaksikan Edward dekat dengan Michelle.

"Ed, jika ada sesuatu antara kau dan Sisca katakan saja. Kau bisa mempercayaiku."

"Tidak, Chris. Tidak ada apa-apa. Kami sudah lama tidak bertemu. Jadi kami tidak pernah berencana mengenai sesuatu." jelasnya.

"Baiklah, maaf telah mengganggu waktumu. Aku pulang dulu." pamit Chris.

"Tidak masalah, Chris. Datanglah kapanpun kamu mau, teman."

Selepas kepergian Chris, "Sepertinya rencana yang Sisca beritahukan kepadaku waktu itu ada hubungannya dengan Chris. Aku rasa Sisca sudah bekerjasama dengannya."

"Aku harus memberitahu Michelle. Chris pasti akan segera bertindak. Jadi Michelle harus segera tahu."

...****************...

Andre, Angga, dan Reno sudah sampai di kamar apartemen mereka. Mereka sedang duduk dan berbaring di sofa sambil menikmati cemilan dan minuman yang sebelumnya sudah mereka beli waktu di perjalanan.

"Aduh, badan aku pegal-pegal semua. Kalian juga enggak?" tanya Reno sambil memijati tengkuk kepalanya.

"Iyalah, Ren. Apalagi kita udah ngangkat badan kamu kemarin. Capek banget tau." sahut Andre.

"Eh, cepat kamu ceritakan semuanya. Kenapa sih harus pulang terburu-buru banget dari rumahnya Michelle?" ucap Angga penasaran.

"Nah ini dia," Andre menepuk tangannya.

"Jadi waktu aku selesai minum di dapur, aku kayak mendengar bunyi sesuatu dari arah garasi mobil. Karena rasa penasaran aku tinggi, jadi ya aku langsung masuk ke garasi aja."

"Waktu aku masuk ke sana, mobil yang dipake Michelle waktu membawa kita itu bergoyang-goyang, bro. Nasib baik kunci mobilnya masih ada di sana."

"Jadi aku buka bagasi mobilnya dan ternyata di dalamnya ada mayat perempuan. Darahnya banyak banget. Bau banget juga. Itu horror banget, bro." ucapnya dengan sedikit merinding.

"Ha?! Yang benar saja?! Tidak mungkin Michelle seorang pembunuh." cegat Reno.

"Tapi itulah apa adanya. Aku lihat dengan mata kepala aku sendiri. Tidak mungkin aku membohongi kalian berdua." ucap Andre.

"Tapi aku memang merasakan aura yang berbeda saat pertama kali masuk ke dalam mobil dan rumahnya si Michelle. Kalau misalkan itu perempuan bukan dia yang bunuh ngapain dia bawa ke rumahnya coba? Pasti dia bakal bawa ke rumah sakit atau kantor polisi dong." ucap Angga.

"Nah itu dia. Aku setuju sama kamu."

"Please, lebih baik kita enggak usah berhubungan lagi sama si Michelle. Takut jadi korbannya yang kesekian." ucap Reno.

"Tapi kalian enggak ada niatan mau melaporkannya ke pihak yang berwajib? Ini kasus pembunuhan loh." tambah Reno.

"Ah entahlah. Aku juga bingung. Tapi kalau tidak dilaporkan pasti dia akan merasa menang dan menjadi-jadi. Apa kita tanya sama Sisca dulu saja ya? Mungkin sepupu ku itu tau sesuatu tentangnya."

"Ya, coba kamu hubungi dia." ucap Angga membenarkan.

Andre menghubungi nomor Sisca. Namun sayangnya, sudah tiga panggilan tak terjawab darinya.

"Nomornya Sisca enggak aktif. Jarang banget dia enggak aktif kayak gini."

"Mungkin dia lagi sibuk kali, Re. Eh, tapi dia kan dekat sama Michelle. Masa dia enggak tau sesuatu sih. Kan dia bilang cuma dia satu-satunya sahabat Michelle tempat Michelle sering bercerita."

"Iya, kamu benar Ren." ucap Andre sambil mematikan handphonenya.

1
Crazy Girl
Apa yang terjadi dengan Michelle selanjutnya? Semuanya ayo semangat lagi bacanya ☺️✌️
Isabel Hernandez
Sudut pandang baru
Crazy Girl: lanjut baca terus yaa 👍🙏
total 1 replies
Abdul Rahman
Nah, ini baru kualitas cerita yang oke!
Crazy Girl: Terimakasih, baca terus ya:)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!