Genre: Comedy Absurd, Romance Comedy, School
Damatakura Ken hanyalah siswa SMA biasa kalau "biasa" itu berarti lebih memilih grinding di game RPG daripada ngobrol sama manusia nyata. Hidupnya damai... sampai ayahnya panik karena Ken belum pernah pacaran seumur hidup!
Demi menyelamatkan masa depan anaknya (dan mungkin garis keturunan keluarga), sang ayah memberikan sebuah misi:
“Nak, selama tiga tahun masa SMA-mu, kau harus punya pacar! Tapi… kayaknya mustahil ya? Soalnya kamu cuma jago main game gampang.”
Ken pun terpaksa spawn ke dunia percintaan yang ternyata jauh lebih sulit dari semua game yang pernah ia tamatkan.
Dengan pengalaman sosial nol, dan logika dating sim yang telah ia pelajari bertahun-tahun, mampukah Ken menyelesaikan quest ini?
Atau... apakah ini justru akan menjadi kekalahan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Ke-19: Menjalankan misi Iblis Tidak (Terdaftar di Papan)
Kabut malam semakin tebal.
Udara dingin menusuk.
Sampai ke tulang.
Napas mereka berubah menjadi asap putih.
Kelima orang itu berjalan berdekatan.
Tidak ada yang ingin terpisah.
Langkah kaki mereka pelan.
Tanah lembap.
Sunyi.
Lalu—
tap… tap… tap…
Suara lain muncul.
Dari dalam kabut.
Mei langsung bersiap.
Kakinya sedikit merendah.
“Siap-siap…”
Kaijou mengeluarkan kertas sihir.
Dari sakunya.
Ia menyerahkannya.
“Mei, ambil ini.”
Mei menerimanya.
Alisnya sedikit terangkat.
“Gimana cara pakainya?”
“Pegang aja, mahluk apapun yang kamu sentuh akan langsung lenyap.”
Jawab Kaijou.
Tatapannya lurus ke depan.
Kabut mulai bergerak.
Sosok muncul perlahan.
Ken ikut menatap.
Tenang.
Di matanya—
informasi muncul.
[Nama: Pria Misterius]
[Tampilan: Pria tua dengan mata hitam]
[Tingkat Bahaya: Rendah]
[Tipe: NPC pemberi jebakan]
Seorang pria tua keluar dari kabut.
Langkahnya pelan.
Matanya hitam pekat.
Ia tersenyum aneh.
“Halo…”
Tatapannya menyapu mereka satu per satu.
“Kalian pasti sedang mencari jalan ke kuil…”
Ia mengangkat tangan.
“Aku bisa mem—”
PLAK!
Kaijou langsung menempelkan kertas sihir.
Ke dahinya.
“Disucikan.”
“AAAHKK!!”
Pria tua itu menjerit.
Tubuhnya bergetar.
“Tolong hapus history browser ku!!”
Dalam sekejap—
lenyap.
Menjadi abu.
Kabut kembali sunyi.
Mei menatap tempat itu.
Wajahnya sedikit kasihan.
Sanya langsung mendekat ke Kaijou.
“Kenapa kamu malah menyucikannya?!”
“Kenapa tidak?”
Jawaban datar.
Nada Sanya meninggi.
“Dia juga pasti ingin hidup!”
Mei menepuk pundak Sanya.
Pelan.
“Eh… Sanya…”
Ia menunjuk pelan.
“…dia sudah mati.”
Sanya membeku.
“Eh…”
Ia mengedip.
“…benar juga.”
Ia mengangkat jari.
“Maksudku… dia ingin menjelajahi dunia sebagai hantu!”
Kaijou mendengus pelan.
“Dari yang kamu katakan…”
Ia melirik sekilas.
“…kamu sangat naif.”
Sanya langsung membalas.
“Bisa saja dia jujur ingin menunjukkan jalan.”
Kaijou menatap Sanya.
“Tapi bisa saja dia bohong!”
“Berhenti!”
Mei memisahkan mereka cepat.
“Oke! Kita lanjut!”
“Dasar merepotkan…” gumam Kaijou.
“Menyebalkan!” balas Sanya.
Wajahnya merah.
Kaijou bergumam lagi.
“Perempuan selalu egois…”
“…dan mengutamakan perasaan.”
Sanya makin kesal.
Mei buru-buru mengangkat tangan.
“Ayo! Fokus!”
Beberapa menit berlalu.
Mereka tiba di persimpangan.
Dua jalan.
Kiri.
Kanan.
Kabut menelan keduanya.
Sama misterius.
“Gimana nih?”
Mei melihat ke dua arah.
Tidak ada jawaban.
Sunyi.
Canggung.
Tiba-tiba—
“Suit aja!”
Sebuah kepala muncul dari tanah.
“AAAHH!”
Mei meloncat.
Nomari keluar perlahan.
Seperti muncul dari dunia lain.
“Kau takut dengan hantu?”
Ia menatap Mei.
“Itu menarik.”
Ken jongkok di depannya.
Tenang.
“Hantu ini matanya kuning.”
Ia mengamati.
“Dia bisa dipercaya.”
“Itu Nomari, Ken!”
Sanya menghela napas kecil.
“Oh…”
Ken mengangguk pelan.
“Jadi ini wujud aslimu?”
Nomari terdiam.
Matanya sedikit melebar.
‘Aku kira… Ken berbohong…’
“Baik!”
Mei menepuk tangan kecil.
“Kita suit!”
Ia mengangkat tangan.
“Yang kalah sama yang kalah!”
“Yang menang sama yang menang!”
Semua bersiap.
“Batu!”
“Gunting!”
“Kertas!”
Hasilnya—
Ken: Batu
Sanya: Kertas
Mei: Batu
Nomari: Batu
Kaijou: Kertas
Mei melihat tangan mereka.
Menarik napas.
“Oke…”
Ia menunjuk jalan.
“Kami kalah.”
“Kami ke kanan.”
“Kalian ke kiri.”
Namun—
Ia berjalan.
Ke kiri.
Tanpa sadar.
Ken mengikuti.
Nomari melayang di belakang.
Kabut menelan mereka perlahan.
Sementara itu—
Sanya dan Kaijou berdiri.
Di jalur lain.
Sunyi.
Beberapa detik.
Sanya mulai berjalan lebih dulu.
Langkahnya cepat.
Kaijou mengikuti dari belakang.
Jarak di antara mereka terasa.
Dingin.
Di dalam hati Sanya—
‘Kenapa aku harus sama dia…’
Ia melirik ke belakang.
‘Dia tadi keterlaluan…’
‘Aku gak mau sama dia…’
‘Apalagi berduaan…’
Kaijou berjalan.
Tatapannya menyapu sekitar.
Kertas sihir digenggam erat.
Namun di dalam pikirannya—
‘Apa aku harus minta maaf…’
Ia menghela napas pelan.
‘Tapi itu tidak akan mengubah apa pun…’
Tiba-tiba—
Suara muncul.
Dari kabut.
“Hei…”
Sosok pria muncul.
Tubuhnya hitam.
Matanya pekat.
“Kalian harus melawanku sebelum lewat.”
Kaijou langsung berjalan maju.
Sanya refleks meraih tangannya.
“Jangan.”
Pria itu tertawa kecil.
“Ayo! Lawan aku!”
Ia mendekat.
“Kalian takut?”
Kaijou menahan tangan Sanya sebentar.
Lalu berkata pelan.
“Lepaskan.”
Nada suaranya datar.
“Aku tidak bodoh.”
“Hihihi!”
Tawa itu menggema.
“Aku harap pertarungan ini menyenangkan!”
Kaijou terus berjalan.
Tanpa ragu.
Langkahnya santai.
Ia berdiri tepat di depan pria itu.
“Kena!”
Pria itu berseru.
Namun—
Kaijou tidak berhenti.
Tubuhnya menembus sosok itu.
Seperti menembus asap.
Ia lewat begitu saja.
“Eh?”
Pria itu bingung.
“Kenapa kau terus berjalan?”
“Kenapa tidak melawanku?”
Kaijou tidak menoleh.
“Sanya.”
Suaranya tenang.
“Ayo kita pergi.”
Sanya tersenyum kecil.
Ia berlari menyusul.
“Eh tunggu!”
Suara itu memudar.
Ditelan kabut.
Beberapa langkah kemudian—
Sanya menoleh.
“Kenapa kamu tidak melawannya?”
Kaijou menjawab tanpa berhenti.
“Ingat kata iblis.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Jangan percaya orang desa yang matanya hitam.”
Ia melanjutkan.
“Dia bilang kita harus melawan.”
“Jadi kita tidak perlu melawan.”
Sanya berkedip.
“Kalau kita melawan…”
Kaijou menghela napas ringan.
“…kita hanya membuang waktu.”
“Matahari bisa terbit sebelum kita sampai.”
Sanya tersenyum kecil.
“Hmm…”
Ia menatap punggung Kaijou.
“…sepertinya aku salah menilaimu.”
Kaijou tidak menjawab.
Namun langkahnya—
Sedikit lebih santai.
Sementara itu—
Di jalur Ken.
Kabut masih menyelimuti jalan.
Tipis… tapi cukup untuk membuat jarak terasa jauh.
Mei menatap Nomari.
Kepalanya sedikit miring.
“Ohh…”
Matanya berbinar penasaran.
“Jadi kamu hantu yang sering diajak ngobrol Sanya.”
Nomari mengangguk pelan.
“Iya…”
Suaranya lembut.
Mei mendekat sedikit.
Mengamati.
“Sekarang kok aku bisa melihatmu?”
Ia mengangkat alis.
“Kan sebelumnya tidak bisa?”
Ken mempercepat langkah.
Menyusul mereka.
Tangannya masih di saku.
“Menurut analisisku…”
Nada suaranya santai.
Ia menunjuk langit berkabut.
“…ini efek malam hari.”
Ia melanjutkan tanpa ekspresi.
“Fenomena horor lebih aktif di malam hari.”
“Makhluk seperti dia…”
Ia melirik Nomari sekilas.
“…lebih mudah terlihat.”
Mei mengangguk.
“Benar juga.”
Langkah mereka kembali berlanjut.
Pelan.
Hati-hati.
Tiba-tiba—
Seorang anak kecil muncul.
Dari dalam kabut.
Diam.
Matanya hitam pekat.
“Jangan percaya kata iblis.”
Suaranya datar.
Kosong.
“Percayalah pada petunjuk arah.”
Ia menatap Mei.
“Elus kepalaku…”
Ia sedikit menunduk.
“…kalau kamu percaya aku.”
“Dan tidak percaya iblis.”
Mei tersenyum.
Refleks.
“Hmm… baiklah.”
Tangannya terangkat.
Pelan.
“Tunggu!”
Ken langsung bersuara.
Nada sedikit naik.
“Jangan diinteraksi!”
Namun—
Sudah terlambat.
Tangan Mei menyentuh kepala anak itu.
Kabut bergetar.
Dunia seperti berputar.
Tubuh mereka mulai memudar.
Seperti ditarik keluar dari dunia itu.
Suara berat menggema.
“Kalian gagal.”
Dalam sekejap—
Semuanya gelap.
Lalu—
Mereka kembali.
Di dalam bus.
Sunyi.
Nomari juga ada di sana.
Melihat sekeliling.
Ken langsung berdiri.
Tangannya mengepal.
Lalu—
BRAKK!
Ia memukul lantai bus.
“Tidak!”
Nada suaranya jarang terdengar seperti itu.
“Misi ku!”
Ia berdiri cepat.
“Aku ingin keluar!”
Mikami menatapnya.
Wajah kosong.
“Percuma…”
Suaranya lemah.
“Kami sudah coba keluar tadi…”
Ia menunduk.
“…tapi iblis menutup pintunya.”
Ken perlahan duduk kembali.
Lemah.
Matanya ke jendela.
Gelap.
“Sanya…”
Ia bergumam pelan.
“Kaijou…”
Jeda.
“Aku harap kalian berhasil.”
Di sisi lain.
Kabut masih menari di udara.
Sanya dan Kaijou berhenti.
Di depan papan penunjuk jalan.
Dua arah.
Kanan.
Kiri.
Di kanan—
Angka 666.
Di kiri—
Simbol :)
Sanya menatap keduanya.
“Kita harus pilih mana?”
Kaijou diam.
Berpikir.
Beberapa detik.
Sanya tiba-tiba mengangkat tangan.
“Ah!”
Matanya berbinar.
“Aku tahu!”
Ia menunjuk kanan.
“Kita ke kanan!”
Kaijou menoleh.
“Kenapa?”
Sanya menunjuk simbol kiri.
“Titik dua itu mata.”
Ia menunjuk kurung.
“Ini senyum.”
Ia menyilangkan tangan.
“Seperti mata hitam dan senyum aneh.”
Kaijou berpikir sejenak.
Lalu mengangguk.
“Benar juga.”
Mereka berjalan ke kanan.
Kabut menipis.
Perlahan.
Dan—
Tangga besar muncul.
Menjulang ke atas.
Menuju kuil.
Sanya menatapnya.
Keringat mulai muncul.
“Anak tangganya…”
Ia menarik napas.
“…lebih banyak dari tadi siang.”
Kaijou melihat ke atas.
“Mungkin efek iblis.”
Sanya mengangguk.
“Baiklah…”
Ia melangkah.
Naik.
Turun.
Naik lagi.
Turun lagi.
Ia berhenti.
Wajah kesal.
“Kenapa ini?!”
Kaijou melihat pola tangga.
“Tangganya bergerak.”
Nada suaranya datar.
“Seperti elevator.”
Sanya menggertakkan gigi.
“Akhh!”
Ia mulai berlari.
Naik terus.
Kaijou mengikuti.
“Aku tidak akan menyerah!”
Teriak Sanya.
Waktu berlalu.
Satu jam.
Napas mereka berat.
Langkah melambat.
Tangga tidak berakhir.
“Aku capek…”
Sanya terengah.
“Sekarang jam berapa?”
Kaijou bertanya.
Sanya melihat jamnya.
“Jam lima, lima puluh…”
Ia menatap langit.
“Matahari hampir terbit.”
Kaijou menghela napas.
“Maaf, Seiro sensei…”
Nada suaranya pelan.
“Kita tidak bisa menyelamatkanmu.”
Tiba-tiba—
WOOOOSHH!
Angin kencang datang.
Kabut terbelah.
Sosok Gashi muncul.
Membawa Seiro.
Tanpa peringatan—
Ia melemparnya.
“Nih.”
Seiro jatuh di depan mereka.
“Bawa dia.”
Gashi terlihat kesal.
“Jangan biarkan dia bertemu denganku lagi.”
Sanya bingung.
“Kenapa?”
Gashi bergidik.
“Saat aku membawanya…”
Ia menirukan suara dramatis.
“Pedang suci! Dewi! Sihir!”
Ia menggeleng.
“Pria dua puluh tujuh tahun…”
Ia menutup wajahnya sebentar.
“…membuatku merinding.”
Tanpa basa-basi—
Ia menghilang.
Seiro berdiri.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Hehe~”
Ia tersenyum santai.
“Aku ke bus duluan ya.”
Ia berjalan pergi.
Begitu saja.
Matahari mulai terbit.
Cahaya perlahan menyentuh tangga.
Kabut memudar.
Sanya dan Kaijou duduk.
Berdampingan.
Lelah.
Sanya mengangkat tangan.
Untuk tos.
Kaijou menatapnya sebentar.
Lalu membalas.
Pelan.
“Kerja bagus.”
Sanya tersenyum.
Hangat.
Dari kejauhan.
Ken melihat mereka.
Diam.
Senyum tipis muncul.
“Aku lupa…”
Tangannya masuk ke saku.
“Ini game multiplayer.”
Matanya sedikit menyipit.
“Heroine…”
Jeda.
“…bisa didapatkan player lain.”
Ia berbalik.
Berjalan santai.
Di dekat bus—
Kaguya sedang mencuci muka.
Dengan air dari botol.
Pelan.
Semua murid mulai berkumpul.
Di depan bus.
“Selamat pagi!”
Seiro-sensei berseru ceria.
“Pagi…”
Jawaban lemas.
“Semangat dong!”
Ia mengangkat tangan.
“Kami capek dihantui…”
Jawaban serempak.
Tiba-tiba—
Semak-semak bergerak.
Semua tegang.
“Halo!”
Supir bus muncul.
Bersama Claude.
“Pak supir!”
Semua berseru lega.
“Akhirnya!”
Seiro mendekat.
Wajahnya bingung.
“Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?”
“Jaraknya sangat jauh.”
Supir mengangkat alis.
“Jauh gimana?”
Ia menunjuk arah belakang.
“Cuma 5 Km dari toilet umum.”
Ia melihat sekeliling.
“Ngomong-ngomong…”
“…kalian kenapa ada di hutan ini?”
“Hutan?”
Semua menoleh.
Sekeliling mereka—
Tidak ada desa.
Tidak ada kuil.
Hanya hutan.
Kosong.
“Cepat jalan!!”
Semua panik.
Langsung naik bus.
Ken duduk di kursinya.
Menatap kosong.
“Ini horor.”
Di dalam pikirannya—
Sebuah tulisan muncul.
“Misi ke-19: Menjalankan Misi Iblis (Tidak Terdaftar di Papan) ✓”
Jeda.
“Diselesaikan oleh player lain.”
( oh iya, novel sebelumnya kenapa hilang? yg judul pangeran 13 )