NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Malaikat

Perjalanan Sang Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Spiritual / Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arkara Novel

Dunia memiliki sistem mutlak yang ditetapkan jutaan tahun lamanya. Sistem rimba, yang terkuat dialah yang berkuasa dan yang lemah akan tersingkir. Sistem itulah awal terlahir kasta antara mahkluk hidup, sebuah hukum yang tidak dapat diubah dan akan terus berjalan. Tahun berganti, hukum mulai goyah. Keadilan tidak diberikan pada yang hak. Namun pada yang berkuasa. Jutaan tahun berlalu. Langit menciptakan hukum baru yang berpusat pada keseimbangan. Malaikat penyelamat bagi mereka yang tersingkir, memiliki tujuan menghancurkan sistem yang telah goyah. Dewa agung menjadi dakwa yang berdosa telah menciptakan iblis berwujud cahaya. Mereka yang berkuasa melawan mereka yang dibuang, terus bertahan hidup untuk melanjutkan perang tiada akhir demi jawaban kebenaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkara Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 —Kepergian Shi Jian

Pagi hari tiba dengan cepat, semilir angin dingin menerpa kulit Zabarin. Dengan cepat membangun kan tidur nya yang nyenyak, sedikit menggigil karena dingin yang menusuk. Ia menguatkan diri untuk bangkit.

Secercah sinar matahari masuk melalui celah daun, walaupun begitu, itu saja tidak cukup untuk menghangatkan tubuh nya. Sampai melupakan jika ia memiliki kekuatan api yang dapat menghangatkan nya di situasi seperti ini.

Ia kemudian melirik kesamping, dimana Enki sedang memasak makanan. Seperti biasa pemuda itu bangun terlebih dahulu, namun keanehan mulai terlihat di mata nya. Saat sadar tidak adanya Shi Jian ditempat itu.

Berjalan mendekat kearah Enki, ia bertanya perihal itu, "Enki... Shi Jian kenapa tidak ada disini?, apa dia masuk ke hutan lebih dalam sendiri?" Tanya nya, masih tidak tau kebenaran yang menyakitkan itu.

Enki tidak menoleh, ia sedikit menghela nafas dan menyiapkan kata yang akan ia keluarkan, ia sadar ini akan terjadi. Jadi ia sudah siap menghadapinya, "Tenang saja... Ia pergi terlebih dahulu kekota itu, untuk memohon agar kita diizinkan mengikuti acara itu. Walaupun sedikit aneh, dia juga memiliki alasan tersindiri ,untuk pergi terlebih dahulu!" Seru nya kemudian, Zabarin yang mendengar itu seakan menyadari sesuatu.

Walaupun kepergian Shi Jian itu secara tiba-tiba, Dan bermain belakang. Dirinya masih belum bisa menerima itu, Shi Jian adalah orang yang paling dekat dengan nya. Walaupun perpisahan ini tampak sementara saja, tapi menurut nya itu bukanlah sikap yang bagus. Untuk apa harus berpisah kalau mereka bisa pergi bersama-sama. Soal diizinkan atau tidak masalah belakang, Yang penting mereka tiba dikota bersama.

"Hehh... Apakah ini maksud dari ucapan mu hari itu... Enki?" Gumam Zabarin terduduk diam, mencoba menerima ini semua. Walaupun sedikit berat, karena ada sesuatu dalam dirinya yang menentang. Dan merasakan, bahwa perpisahan ini akan berlangsung cukup lama.

Enki tidak menjawab, ia juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Pertanyaan nya saat itu adalah rencananya untuk keluar dari tim dan pergi kenegri timur, meninggalkan mereka berdua. Namun siapa sangka burung pembawa pesan itu mengubah semua rencananya. Ini membuktikan bahwa jika Takdir sudah muncul, maka semua rencana akan lenyap.

"Tidak mengapa, lagian kita hanya berpisah beberapa hari saja kan?" Balas Zabarin kemudian, Enki mengangguk sambil terus mengaduk makanan yang ia buat. Soup daging yang menjadi makanan favorit Zabarin.

"Zabarin... Apakah kau sanggup menerima semua kebenaran setelah kita tiba di kota?" Suara Enki terdengar sarat kekhawatiran, membuat ia merenung sejenak. Memikirkan itu, ia kemudian menjawab dengan yakin.

"Ya... Bahkan sebelum kita bertemu, aku sudah membulatkan tekad untuk terus maju... Sesakit apapun kebenaran yang aku hadapi didepan sana!" Zabarin kini menjawab dengan tenang, seakan tidak terlalu mengkhawatirkan itu.

Perubahan sikap yang ditunjukkan Zabarin membuat Enki sedikit khawatir, tidak biasanya ia menunjukkan sikap seperti itu. Kewibawaan Dan tenang dalam mengambil keputusan, baginya. Yang duduk didepan nya kini bukan lah Zabarin yang ia kenal.

Namun Zabarin sendiri, ia tidak merasa dirinya telah berubah, dari awal memang beginilah sifat nya. Ia menunjukkan keceriaan dan sikap polos itu, hanya untuk menjalin ikatan yang lebih dekat. Agar tim ini tidak berubah tegang dan canggung.

Namun kini, seseorang yang ia anggap keluarga tidak lagi bersama mereka. Ia bebas menunjukkan sifat ini sepuasnya, walaupun dihadapan Enki sekalipun. Selama sebulan penuh bersama nya, ada begitu banyak kebenaran yang ia dengar, membuat ia sedikit mengawasi pemuda itu. Enki hanya lah teman, tidak lebih.

Ia tidak pernah menganggap pemuda itu sebagai rekan, dari awal kedatangannya. Pemuda itu hanya ingin memperalat dirinya menjadi batu pijakan, untuk menggapai mimpinya sendiri. Namun, dengan kekuatan Enki sebagai dewa. Mustahil ia bisa menentang apa yang ia inginkan, dan selama sebulan ini juga lah. Topeng itu masih terpasang erat diwajah nya.

\*\*\*\*\*\*

PoV : Shi Jian

Selama dua jam penuh, Shi Jian melesat menggunakan pedang oranye di kaki nya. Seperti sapu terbang penyihir, pedang oranye itupun menunjukkan kesan yang sama. Dapat terbang dengan kecepatan tinggi, menghindari setiap dahan pohon yang menghalang. Sembari pikiran terus berkecamuk, bagaimana jadinya tim Zabarin jika ia tidak ada untuk menyeimbangkan ikatan dari mereka.

Namun ia segera menggeleng dan mempercayakan Zabarin sepenuhnya, dan fokus pada perjalanan pulang ini. Hutan kecil itu telah berhasil ia lewati, dan kali ini mengambil arah ke timur dimana kota tempat pesan itu berasal

Kota ia dibesarkan dan dilahirkan, yang terletak ditengah hutan perbatasan dengan hutan Sepuluh ribu bintang dengan hutan negri Tiongkok. Kota... Celestria.

Dengan kecepatan saat ini, sebelum sore ia mungkin telah tiba digerbang kota. Ia hanya berharap tidak ada yang menghalang, sekaligus berharap perjalanan yang Enki ambil kekota lautan itu berjalan lancar.

Sebelumnya ia sudah mendapatkan kabar dari burung pembawa pesan, bahwa ada keanehan yang Muncul di sebuah pulau tak berpenghuni di lautan Nordik Utara. Dan ia harus menangani itu sebagai putra tunggal klan Singa Api yang berkediaman di kota Celestria.

Perjalanan Enki kekota lautan tidak bukan untuk membawa Zabarin kekota sesuai janji nya, walaupun kota itu berbeda. Setidaknya Zabarin tidak mengetahui kebenaran itu —belum, kecuali ia telah tiba dikota lautan.

"Hah... Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, sudah sangat lama ras itu menghilang dari dunia. Bagaimana mungkin mereka bisa muncul kembali!" Gumam nya dalam hati, sembari membayangkan kekhawatiran nya dimasa yang akan datang. Ia khawatir, dengan sistem dunia yang goyah. Ditambah ras kegelapan akan menyerang. Dunia ini benar-benar akan menjadi neraka.

\*\*\*\*\*\*

Berjam-jam telah berlalu, langit mulai berubah menjadi oranye. Perjalan ia tinggal sedikit lagi, dari kota Celestria sudah ada didepan mata. Ia kemudian turun ketanah, dan menyimpan kembali pedang oranye milik nya.

Masuk kewilayah kota, dihadapan nya kini berdiri gerbang agung dengan aura magis kuno yang begitu kental terasa. Disekitar nya terdapat banyak kios berjualan, dari makanan sampai persenjataan. Namun ia tidak tertarik dengan itu semua, tempat ini sudah begitu lama ia tinggalkan. Karena ia ingin hidup sendiri, diantara alam dan sepi nya suasana malam.

Tidak terasa jejak nostalgia mulai muncul di benak nya, mengingat kembali tempat ini. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang menyapa atau melirik nya. Mungkin mereka mengira ia adalah pendatang, namun ia tidak peduli. Semakin sedikit yang mengenal nya, jarak bebas ia untuk berkeliaran lebih terbuka.

Masuk kekota lebih dalam, kini ia berada dipusat kota yang begitu besar. Dengan berbagai ukiran kuno dan patung seorang Dewi dialtar tengah kota. Kota ini begitu besar dan agung, sampai dari jauh ia melihat sebuah bangunan yang tampak mencolok, dengan dinding beton setinggi belasan meter, dan bangunan lain didalam nya. Serta ukiran logo kepala macan digerbang masuk nya.

Yakin lah ia, walaupun tempat ini sudah begitu banyak berubah. Ia masih mengenali rumah nya. Ia kemudian menghampiri gerbang, dengan dua patung singa dikedua sisi gerbang.

Berjalan perlahan untuk masuk, dan menemui penasihat ayah nya. Yang telah mengirimkan pesan itu pada nya. Namun, para penjaga menghentikannya didepan gerbang, tanpa tau siapa identitas dirinya.

"Berhenti!, Saat ini klan Singa api tidak ingin menerima siapapun!. Mohon pengertiannya, dan pergilah dari sini!" Ucap penjaga itu dengan tegas sembari menodongkan tombak nya pada Shi Jian, mencoba mengusir pemuda itu dari rumah nya sendiri.

"Aku memiliki undangan untuk masuk... Kalian tidak bisa mencegah ku seenak nya!" Balas Shi Jian dingin, walaupun mereka adalah prajurit ayah nya. Mereka hanya bawahan, yang bisa disingkirkan dengan mudah.

Ia kemudian menunjukkan pesan undangan dari penasihat ayah nya, dan tanda tangan serta cap jari yang ia berikan. Juga tercantum nama Lan Bing, dari sekte Nalan... Cabang pendukung dari klan Singa Api.

Prajurit itu mengambil surat Yang ditunjukkan, melihat dengan cermat agar menghindari penipuan. Namun, setelah memastikan semua nya asli prajurit itu meminta Shi Jian untuk menunggu, ia harus mengonfirmasikan surat ini terlebih dahulu sebagai langkah akhir menerima tamu undangan yang tidak dikenal ini.

Shi Jian tidak menolak, ia juga tidak ingin membuat Masalah. Apalagi ini klan milik ayah nya, beberapa menit menunggu. Prajurit itu kembali, namun dengan seorang pria paruh baya disamping nya. Mengenakan jubah bangsawan berwarna oranye terang dan lambang singa di dada nya, jenggot tipis dan senyuman berwibawa. Sampai rambut nya yang diikat belakang, memancarkan kewibawaan seorang bangsawan.

Pria paruh baya itu kemudian segera menunduk hormat pada nya, sementara prajurit lain hanya mengikuti. Penasihat klan sudah mengambil tindakan hormat, jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk tetap unjuk kesombongan.

"Tuan muda... Saya tidak menyangka tuan sudah berkembang sejauh ini, saya juga tidak mengira tuan datang dengan cara seperti ini!" Ucap Lan Bing ramah, namun Shi Jian hanya diam. Sebelum akhirnya buka suara.

"Sudahi basa-basi nya, bawa aku pada ayahku... Aku ingin menemuinya, untuk apa dia mengundang ku kembali dengan ancaman itu!" Jelas Shi Jian membuat semua prajurit terpaku sekaligus pria paruh baya itu, melihat sikap aneh mereka semua membuat Shi Jian khawatir.

"Apa maksud dari ekspresi itu... Apa yang sebenarnya terjadi pada ayah Ku?!" Tanya Shi Jian sedikit keras, firasat buruk mulai menghantui nya. Walaupun ia sedikit membenci ayah nya karena memaksa ia menjadi calon pemimpin sekte, padahal ia pemuda yang mencintai kebebasan. Tapi tetap saja, melihat ekspresi semua orang yang ada membuat nya berpikiran buruk. Hingga takut ayah nya tersebut kenapa-kenapa.

"Tuan muda... Tenang lah dulu, patriak klan jatuh sakit saat tuan muda pergi enam tahun lalu. Patriak sakit selama berbulan-bulan dan sampai setahun kepergian tuan muda... Patriak... Tidak lagi bisa bertahan!" Gumam Lan Bing mencoba menjelaskan dengan suara pelan, siap menghadapi kemarahan yang muncul dari tuan muda mereka.

Berita itu begitu menyakitkan, seakan dirinya disambar petir berkali-kali. Matanya sedikit berkaca hendak menangis sekuat mungkin, tidak menyangka ayah nya telah pergi meninggalkannya dari dulu.

Dalam kesedihan itu, ia berlari masuk kedalam halaman klan, menerobos para pasukan dan tidak peduli dengan sekitar nya. Ia hanya ingin mencari kebenaran tentang berita itu, setiap langkah nya membawa kehancuran dan penyesalan. Sampai langkah kakinya berada dihalaman belakang sekte, tempat kuburan pendahulu berada. Ia mulai mencari, menelusuri setiap nisan dan mencari nama ayah nya diantar batu berdiri itu.

Sampai mata nya melihat sebuah nisan yang bertulis, Shi Gui Yan. Pijakan nya seketika ambruk, tidak lagi dapat menopang badan nya, menatap lurus kearah nisan itu. Ia mulai memeluk batu itu dengan tangisan yang menyayat hati.

"Hahhaaaa" Tangisan nya menggema, didepan nya kini adalah rumah terakhir ayah nya. Perasan kehilangan dan penyesalan kembali datang menghantui, ia tidak menyangka semua nya akan jadi seperti ini. Sementara para prajurit dan penasihat Lan Bing hanya terdiam, tidak sanggup berkata-kata melihat tangisan Tuan muda nya. Pastilah anak itu begitu terpukul dengan kematian ayah nya.

Tiba-tiba saja hujan jatuh, seakan ikut sedih dalam tangisan itu. Mengguyur Shi Jian dengan deras nya air, sebanyak ia meneteskan air mata penyesalan. Ia mulai menyalahkan dirinya karena pergi dari klan kala itu. Saat itu jika ia tidak pergi. Mungkin ayah nya masih ada bersama nya. Namun waktu tidak bisa diulang, dan penyesalan selalu datang diakhir

1
Anggi
😍
Beliau
mampir kak
Assai Saga
Ceritanya cukup asiik...
HNP_FansSNSD/Army
Yuk baca, like, komen dan follow nya saling 💪. bab baru sdh up, yang suka cerita alur time traveling. soal kaper nanti di perbaiki, baca aja dulu isinya.

judul : Professor & Student: Love Through Time.

ikuti setiap langkah bab barunya sampai tamat enggak setengah², terima kasih ☺️🙏🏻💪.
HNP_FansSNSD/Army
Yuk follback balik.
elica
aku udah like nih kak, jangan lupa like back cerita aku ya kak🙏🥺
🖤⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘƳ𝐀Ў𝔞
aku mampir, ceritanya keren 🫶
🖤⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘƳ𝐀Ў𝔞: siap 😊
total 2 replies
Drezzlle
di tunggu kelanjutannya
Arkara Novel: siap bg, awal rilis 3 bab... baru konsisten seminggu 3x —selasa,kamis, sabtu/Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!