NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:134.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

“Maya, katanya Yani mau bikin hajatan, lho. Kamu tahu belum?” suara Bu Siti, penjual sayur di warung pagi itu, terdengar setengah berbisik namun cukup menarik perhatian beberapa pembeli lain.

Maya yang tengah memilih tomat langsung menoleh. “Hajatan apa, Bu?”

Bu Siti mengangkat alis. “Nikahan anaknya, si Cantika. Katanya minggu depan.”

Maya membeku. “Nikah? Cantika?” Ia mencoba tersenyum, walau ada nada tak percaya di suaranya. “Saya malah belum dengar, Bu. Padahal rumahnya nempel sama saya.”

Beberapa ibu lain saling pandang.

"Masa sih enggak tau? Kan kalian saudara. Maksudnya, saudara ipar."

"Mas Haris memang enggak tau?"

“Iya lho, kok malah enggak tahu, Bu Maya? Katanya acaranya besar, lho. Di hotel mewah segala.”

Maya hanya mengangguk kikuk. Dalam hatinya muncul tanya beruntun—kenapa tak ada kabar sedikit pun? Ia membayar belanjaannya cepat, lalu pamit dengan senyum kaku. “Saya pulang dulu, Bu, nanti sayurnya keburu layu.”

"eh, malah kabar dia, jangan-jangan beneran enggak tau dia tuh."

"Mungkin juga sih."

"Tapi emang Yani sama Maya kan enggak akur."

Suara bisikan dari para ibu-ibu mash sempat Maya dengar, tapi dia tak begitu memperdulikan. Begitu sampai di depan rumah, langkahnya langsung terhenti. Di teras, Yani—adik iparnya—tengah berbicara dengan suaminya, Pak Haris. Wajah keduanya tampak serius.

“Oh, Maya,” sapa Yani, suaranya terdengar riang tapi terkesan dibuat-buat. “Kebetulan banget, aku mau ngabarin. Minggu depan aku sama mas Ibrahim mau ngadain hajatan nikahan buat Cantika.”

Pak Haris menatap adiknya heran. “Nikahan? Kok mendadak banget, Yan? Cantika kan nggak pernah cerita punya pacar. Tahu-tahu mau nikah aja?”

Yani terkekeh kecil, memainkan ujung rambutnya. “Namanya juga jodoh, Mas. Pacarnya anak orang kaya, serius banget. Kami sekalian mau bikin acara di gedung. Enggak kayak waktu Citra nikah itu, di rumah, rame tapi… ya gitu deh, malah dinikahin Om-om.”

Maya spontan menatap Yani tajam. “Om-om?” nadanya meninggi sedikit. “Suami Citra memang lebih tua, tapi dia orang baik. Dan jelas bukan ‘om-om’ kayak yang kamu maksud. Dia kasih Citra rumah, mobil, bahkan bantu biaya sekolah Hengki juga.”

Yani memutar bola matanya malas. “Ya terserah, sih May. Yang jelaskan, dia katanya seumuran kita kan? Jadi udah tualah ya."

"Tumben kamu ngaku udah tua," sindir Maya.

"Aku cuma bilang, Cantika mau nikahnya di hotel bintang lima. Orangnya juga bukan sembarangan. Anak pengusaha.”

Pak Haris menghela napas, mencoba menengahi. “Ya sudah, kalau memang niatnya baik, kami doakan lancar. Tapi kok nggak dikabarin dari awal? Kan keluarga dekat.”

Yani tersenyum, lalu menepuk lengan kakaknya. “Makanya ini aku datang, Mas. Sekalian mau minta tolong sedikit. Nanti, kalau bisa, bantu biaya juga ya. Namanya acara besar, pasti butuh tambahan.”

Pak Haris terdiam, wajahnya kaku. Maya menatap Yani tajam, tapi Yani sudah melenggang pergi sambil memanggil Ibrahim.

“Bii, ayo pulang! Aku lapar nih!” teriaknya dari pagar.

Ibrahim yang sedang berbicara dengan tetangga menoleh. Tatapannya bertemu dengan Maya sejenak. “Assalamu’alaikum, Maya, Mas Haris,” ucapnya sopan.

Maya membalas dengan anggukan kecil. “Wa’alaikum salam.”

"Him, jangan sampai lepas tuh, bahaya." Pak Haris menunjuk Yani.

"Hehe, iya, Mas. Adek mas Haris juga. Saya jagain."

"Hih! Percakapan apa sih kalian ini!?" Wajah Yani sudah masam.

Tanpa banyak bicara, Yani menarik tangan suaminya. “Ayo, Bi, nanti keburu siang.” Ia sempat bergumam kesal, “Orang mau bahagia malah dikasih ceramah…”

Maya hanya menatap punggung mereka yang menjauh sambil mendengus pelan. “Dasar perempuan itu, ngomongnya selalu nyindir.”

Pak Haris menatap istrinya dengan senyum tipis. “Sudahlah, May. Enggak usah dimasukkan hati.”

Hengki yang baru selesai mandi dan rapi ikut nimbrung sambil memakai sepatu. “Ada apa, Bun?"

"Cantika mau nikah."

"Hah, nikah? Sama siapa?”

“Itu juga Bunda nggak tahu,” jawab Maya, duduk di kursi teras. “Katanya anak orang kaya. Tapi aneh, enggak pernah kelihatan pacarnya yang mana.”

"Jangan-jangan cuma halu lagi."

"Hus! Jangan gitu."

Maya terkekeh pelan, "Iya. Mana mungkin halu sampai bikin acara di hotel."

"kalau Bulik Yani ya mungkin aja."

Pak Haris menyandarkan diri di dinding. “Sudah, jangan terlalu dipikirin. Minggu depan kita datang aja. Lagian dia juga keluarga.” Ia menatap istrinya lembut. “Nanti kamu kabari Citra, ya. Biar dia tahu sepupunya mau nikah.”

Maya mengangguk pelan. “Iya, nanti sore Bunda telepon dia.”

***

Sementara itu, di sisi lain kota, Rama tengah sibuk di ruang kerjanya. Telepon di mejanya bergetar, layar menampilkan nama yang membuatnya sempat ragu menjawab: Rava.

“Rava?” gumamnya, lalu menekan tombol hijau. “Halo, Va.”

“Pah… bisa ketemu sebentar? Aku mau omong penting.” Suara di seberang terdengar berat, seperti menahan sesuatu.

Rama menatap jam di dinding. “Oke, kita ketemu pas makan siang. Di kafe biasa, ya.”

“Baik, Pah.”

***

Beberapa jam kemudian, mereka duduk berhadapan di sudut kafe. Rava tampak lebih kurus, dengan mata yang menyimpan lelah. Rama memandangnya lama, lalu memecah keheningan. “Jadi, kamu mau ngomong apa?”

Rava menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya. “Aku mau ngasih undangan, Pah. Minggu depan aku mau nikah.”

Rama sempat tertegun. “Nikah? Jadi acaranya minggu depan?”

Rava mengangguk kecil. “Iya, Pah. Aku tahu ini mendadak. Tapi… kami udah sepakat bikin resepsinya minggu depan.” Ia tersenyum samar. “Acaranya di hotel Grand Satria. Aku harap Papa bisa datang.”

Rama menerima undangan itu dengan hati-hati. “Baiklah, kamu butuh apa? Kali ini papa enggak mau kamu kayak sebelumnya. Bikin kecewa dan kabur. Enggak bertanggung jawab."

"Enggak, Pah."

"Papa... Nanti mungkin enggak datang sendiri."

"Sama Oma dan Opa? Mereka mau datang?"

Rama menatap Rava lama. "Enggak. Maksud Papa, nanti sama istri Papa.”

Rava mendongak cepat. “Istri?” matanya melebar. “Papa udah nikah?”

Rama tersenyum kecil. “Iya.”

“Kapan? Kenapa Rava enggak tau, Pah,” ucap Rava pelan, menatap ke bawah.

Rama hanya mengangkat bahu. “Hidup kadang berjalan tanpa rencana. Begitu juga pernikahan.”

Rava menatapnya dengan campuran heran dan kagum. “Sama siapa, Pah?”

1
Susi Akbarini
untung fahri masih cinta..
kalo dah ditinggal pegi..

gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
EkaYulianti
sebelum resepsi
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!