Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bara berjalan bersama Marcell dan Alesha menuju tempat dudukku. Mata Bara melirik kearah ponselku yang menangkap foto mereka tadi.
"Coba aku mau lihat!" Bara mengambil ponsel itu dari tanganku.
"Jangan lihat! Hasil fotoku jelek, aku tidak mahir menangkap gambar," tawaku.
Bara menatap semua foto di ponselku, berkali-kali aku lihat dia tertawa. Entah, apa yang lucu di ponselku!
Bara menghapus beberapa fotonya yang terlihat tidak bagus, lalu dia memfoto ulang wajahnya setampan mungkin di ponselku. Beberapa kali dia mengambil fotonya sendiri yang nampak begitu mengagumkan. Tapi untuk apa? Itu kan ponselku!
Setelah puas dengan hasil foto wajahnya di ponselku, Bara menyerahkan ponsel itu kembali padaku. Lalu dia mengambil ponselnya disaku celananya. Dia mendekat ke arahku, menarik tubuhku agar mendekat kearahnya.
"Kemari! Aku mau menyimpan foto kita berdua di ponsel pribadiku," tawanya.
"Tidak mau. Aku tidak pandai bergaya seperti mu. Pasti hasilnya akan jelek," ucapku.
"Ayo sayang. Kau akan selalu cantik untukku!" pinta Bara.
Aku duduk mendekat kearahnya, dia mengambil beberapa foto bersamaku. Aku kaget, saat dia mencium bibirku dan memfotonya. Sontak dua bocah didepan kami tertawa keras menyaksikan keusilan Bara padaku.
"Haha.. Kak Bara genit, cium-cium Kak Chika!" tawa Marcell.
"Bukan genit. Tapi mereka itu pacaran!" sambung Alesha, sok tahu.
"Kak Bara dan Kak Chika sudah menikah, jadi mereka tidak pacaran!" Marcell ngotot.
"Menikah? Apa kalau sudah menikah boleh berciuman didepan kita," ucap Alesha diiringi tawa.
Aku dan Bara tertawa, menatap dua anak kecil dihadapan kami. Tuh kan Bara, kamu jadi kasih contoh gak bagus buat mereka!
Bara mengalihkan pandangannya menuju sebuah toko ice cream. Bara menuntun Marcell dan Alesha menuju toko itu.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Marcell.
"Membayar uang tutup mulut, agar kalian tidak menceritakan hal yang tadi Kak Bara lakukan pada Kak Chika," tawa Bara.
"Jadi kau mau menyogok kami?" tanya Marcell.
"Itu namanya suap! Dosa Kak," timbal Alesha.
"Jadi, kalian tidak mau ice cream? Ya sudah, Kak Bara akan belikan Kak Chika saja!" tawa Bara.
"Tidak Kak, kami mau!" tawa Alesha.
"Tapi, tadi kau bilang dosa!" ucap Marcell kesal.
"Untuk ice cream yang enak itu. Memangnya kau tidak mau?" tanya Alesha.
"Iya. Aku juga mau Kak!" teriak Marcell.
"Tapi ingat, jangan cerita pada siapapun kalau kalian lihat Kak Bara mencium Kak Chika ya!" ucap Bara sambil tertawa.
"Oke, siap!" ucap mereka serentak.
Malam itu menjadi malam terindah untuk kami, rasanya semua beban hilang seketika. Setelah waktu menunjukkan pukul 9 malam, Bara mengajak kami pulang. Terlihat Marcell dan Alesha tertidur pulas di kursi belakang, mungkin mereka kelelahan.
Bara menatap kearah ku, lalu kembali menatap kemudinya. Wajahnya berbinar, tersenyum penuh misteri. Ada apa dengannya?
"Coba kau buka video di ponselku," pintanya.
Aku membuka video di ponsel Bara, aku menatap video yang Bara ambil saat aku bermain bersama Marcell dan Alesha. Benar-benar tidak tahu malu, aku tertawa seperti seorang anak kecil. Mencoba macam-macam wahana dengan sangat bahagia bersama dua adikku.
"Hapus! Memalukan," tawaku.
"Tidak. Aku akan mengunggahnya di sosial media milikku," ucapnya sambil tertawa.
Aku melotot menatap Bara, masa video memalukan seperti itu mau disebar di media sosial.
"Tidak, jangan!" teriakku.
"Kenapa?" tawa Bara meledek.
"Aku malu, videonya tidak bagus!"
"Jadi, kau mau bilang, kalau hasil video buatan ku itu jelek?" Bara menatap tajam kearah ku.
"Bukan videonya. Tapi, aku yang terlihat sangat jelek disana. Hapus Mas!" ucapku lembut.
"Bisa ku pikirkan lagi! Tapi ada harga yang harus kau bayar untuk menghapus video ini."
"Harga? Berapa?" ucapku.
"Seluruh cintamu malam ini," bisiknya yang membuat bulu kudukku merinding.
Apa maksudnya? Dia mau minta apa tadi? Seluruh cintaku? Apa malam ini, akan terjadi lagi pertempuran sengit dikamar kami. Ya ampun Bara, rasanya sakit yang tadi pagi saja belum hilang, kau mau melakukannya lagi!
Mobil Bara terparkir sempurna didepan rumah, Bara menggendong Alesha dan Marcell sekaligus menuju kamar mereka. Sementara aku berjalan pelan menuju kamar, rasanya aku benar-benar lelah sekali.
Aku mandi dan mengganti bajuku dengan baju tidur, lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Saat akan memejamkan mata, aku ingat lagi dengan video yang rekam Bara. Video kekonyolan ku saat bermain bersama Marcell dan Alesha. Kenapa Bara bisa merekam video jelek macam itu!
Aku menatap Bara yang baru masuk kedalam kamar, sorot matanya seperti siap melahap habis diriku. Tuhan, sepertinya aku harus pasrah kali ini.
Bara masuk kedalam kamar mandi, lalu keluar menggunakan handuk yang membiarkan dadanya terbuka. Dia mendekat kearah tempat tidur, lalu mencium pipiku. Ah, aku merinding disko ini!
Aku menatap wajah itu, wajah tampan yang sangat memukau. Kelihatan pendiam, ramah dan sangat penyayang, tapi buas kalau sudah berduaan bersamaku.
Deg! Deg!
Mulai lagi deh jantungku dipermainkan oleh laki-laki ini. Seperti sebuah magnet, aku selalu terpancing saat menatap bibir manisnya. Bibir merah merona itu, sengaja digigit Bara. Dia benar-benar tahu kelemahan ku.
"Menjauh dariku. Apa maksudnya? Kau sengaja menggigit bibirmu itu didepan ku?"
Bara malah tertawa, dia pasti bisa menebak kalau aku terpancing dengan pesona bibirnya itu.
"Memang kau tidak merindukan bibirku ini?" Pertanyaan nakal keluar dari bibir Bara, sontak membuat aku kaget.
"Nakal!" ucapku pelan.
"Cium aku, gigit bibirku, kau bebas melakukan apapun padaku," bisiknya menggoda.
"Tidak, aku tahu ini jebakan!"
"Jebakan apa sayang?" tanya Bara menggoda.
"Ayo, cium bibirku! Biarkan aku melakukan keinginanku kepadamu!" bisik Bara lagi.
Bara memeluk tubuhku, lalu mulai menciumi bibirku dengan lembut. Sudahlah, laki-laki dihadapan ku ini memang mahir membuatku tak menolak keinginannya. Aku hanya bisa berusaha melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri.
Tak lama Bara selesai dengan hasrat cintanya padaku, dia mengecup bibirku lalu tertidur lelap disampingku. Aku menatap wajah Bara, lalu menyingkirkan tangannya yang mendekap tubuhku. Aku berjalan kedalam kamar mandi, tiba-tiba saja perutku tidak enak.
Aku merasa perutku seperti diperas sangat kuat, ada apa denganku? Air mataku mengalir deras, rasanya aku tidak tahan menahan rasa sakit yang saat ini aku rasakan. Tak terasa aku pingsan dikamar mandi. Kepalaku terbentur ubin kamar mandi.
Bara terbangun, sontak mengetuk pintu kamar mandi dengan wajah cemas. Karena tak ada sahutan dariku, Bara mendobrak pintu itu dan menemukanku tergeletak dikamar mandi. Dia membawaku ke rumah sakit, membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Sampai di rumah sakit, Dokter langsung memeriksa keadaanku.
Saat aku sudah sadar dari pingsan. Aku melihat ada ceceran darah di daerah sensitif ku. Aku masih memegangi perutku yang begitu terasa sakit. Dokter menatapku dengan penuh kecemasan.
"Maaf, kami tidak bisa mempertahankan janin yang ada diperut Ibu," ucap Dokter wanita itu.
Aku kaget, apa maksud Dokter? Apa sebelumnya aku hamil? Hamil anak Bara? Tapi bagaimana bisa aku tidak tahu? Kehamilan yang selama ini begitu aku nantikan, kehamilan yang sangat aku tunggu. Kenapa aku kehilangan calon bayiku! Hiks.. Hiks..
Aku hanya bisa menangis menyesali kebodohan ku, andai saja aku lebih hati-hati mungkin aku bisa menjadi Ibu untuk anakku. Dan Bara, dia bisa menjadi Ayah dari anakku. Tapi aku kehilangan semuanya, calon bayiku, impianku. Hiks.. Hiks..
Beri dukungan Kak, Like atau Jempol serta Vote yang banyak untuk cerita ini.
Terimakasih.❤️❤️
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂