Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Kebahagiaan Orang Tua, Sedihku Sendiri"
Dewi masih duduk di tepi kasur, tangan memeluk lututnya erat. Sedang ia masih terbenam dalam kesedihan, bunyi ponselnya berdering. Ia mengambilnya dengan lemah, melihat nama yang muncul di layar: Ibu. Hatinya sedikit berdebar—selama ini, ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu memahaminya.
“Hai, sayang. Apa kabarmu?” suara ibunya terdengar lembut dari seberang telepon. Dewi merasa ingin menangis lagi, tapi ia berusaha menahannya. “Baik saja, Bu. Cuma sedikit lelah.”
“Iya ya, jaga dirimu baik-baik ya. Ada kabar nih buat kamu,” ujar ibunya dengan nada yang senang. “Ayah, aku, dan juga keluarga lain akan pulang kampung besok. Ada beberapa upacara adat yang harus diikuti—ada syukuran, ada upacara pembersihan kuburan nenekmu, dan juga upacara penyerahan hak tanah ke sepupu kita. Semuanya butuh waktu lumayan lama, sekitar sebulan lebih.”
Kabar itu membuat hati Dewi terasa campur aduk. Di satu sisi, ia merasa bahagia—ia tahu betapa pentingnya upacara adat bagi keluarga mereka, dan betapa senangnya orang tuanya bisa bertemu dengan kerabat yang lama tidak jumpa. Tapi di sisi lain, rasa sedih juga muncul—ia tidak bisa ikut bersama mereka, karena tubuhnya yang lemah dan tak sanggup bepergian jauh. Lebih dari itu, ia akan kehilangan sumber dukungan yang selalu ada: jamu yang ibunya selalu bikin untuk meredakan nyeri tumornya, dan kata-kata semangat yang selalu membuatnya kuat.
“Wah, itu bagus ya, Bu. Semoga upacaranya lancar semua,” katanya dengan suara yang berusaha senang. “Sayang aku tidak bisa ikut. Tubuhku masih belum kuat.”
“Iya, aku tahu, sayang. Kita juga sedih kamu tidak bisa ikut. Tapi kamu jaga dirimu ya di sini. Jangan lupa minum obat, jangan terlalu banyak berpikir. Kalau ada kebutuhan apa-apa, hubungi kakak sepupumu ya yang tinggal di kota terdekat, karena kakak ketiga dan kakak keempatmu juga ikut” ujar ibunya dengan penuh perhatian.
Dewi mengangguk, meskipun ibunya tidak melihatnya. “Baik, Bu. Jangan khawatir tentang aku. Pulang kampung dengan tenang aja.”
Setelah telepon terputus, Dewi duduk terdiam. Rasa bahagia itu benar-benar ada—ia membayangkan bagaimana orang tuanya akan berjalan-jalan di kampung halaman, bertemu dengan tetangga lama, dan merayakan upacara bersama keluarga. Tapi rasa sedih juga semakin membanjiri hatinya. Tanpa ibunya, siapa yang akan bikin jamu jahe hangat yang selalu meredakan nyeri di perutnya? Siapa yang akan datang mengunjunginya dan mendengar keluh kesahnya?
Ia berdiri dengan lemah, pergi ke lemari dan mengambil botol jamu yang ibunya berikan kemarin. Botol itu sudah hampir habis, dan ia tahu tidak akan ada yang isi lagi selama sebulan ke depan. Ia menuangkan sedikit jamu ke cangkir, meminumnya perlahan. Rasanya yang pahit itu biasanya membuatnya merasa lebih baik, tapi hari ini, ia hanya merasa lebih sedih.
Siang itu, kakak sepupunya, Rio, datang ke rumah. Ia membawa sekeranjang sayuran dan buah-buahan. “Hei, adik. Aku dengar Bu dan Ayahmu mau pulang kampung. Aku datang cek kabarmu,” ujar Rio dengan suara yang hangat. Dia melihat wajah Dewi yang pucat, lalu mengangkat alisnya. “Kamu baik-baik saja? Kamu terlihat pucat banget.”
Dewi tersenyum meskipun tertekan. “Baik saja, Kak. Cuma sedikit lelah.” Rio mendekatinya, menyentuh dahinya. “Jangan bohong sama kakak. Kamu pasti lagi sedih karena tidak bisa ikut pulang kampung dan kehilangan Bu.”
Dewi tidak bisa menolak, air mata mulai menggenangi pipinya. “Ya, Kak. Aku senang Bu dan Ayah bisa pulang kampung, tapi aku juga sedih. Tanpa Bu, tidak ada yang bikin jamu, tidak ada yang mendengar aku bercerita. Dan aku juga takut, apa kalau sakitku semakin parah dan tidak ada yang nolong?”
Rio memeluknya erat. “Jangan takut, adik. Kakak akan sering datang cek kamu. Kalau ada apa-apa, hubungi kakak langsung. Kakak juga akan minta temen kakak yang jualan jamu buat bikin yang sama kayak Bu, ya. Jangan khawatir, kamu tidak sendirian.”
Kata-kata kakak sepupunya itu membuat hati Dewi sedikit tenang. Walaupun Rio hanya kakak sepupunya Ia tahu Rio selalu ada untuknya, meskipun ia juga punya pekerjaan dan keluarga sendiri. “Terima kasih, Kak. Kamu terlalu baik padaku.”
“Kan kamu adik kakak. Sudah pasti kakak akan jaga kamu,” jawab Rio. Ia melihat ke sekitar rumah, yang terlihat sepi tanpa Arif. “Mana Arif, sih? Kenapa dia tidak ada di rumah?”
Dewi menjelaskan semua yang terjadi: bagaimana Arif pulang dengan uang kemenangan judi, bagaimana ia janji akan berubah, dan bagaimana ia pergi lagi membawa semua uang itu dengan surat yang mengatakan akan kembali besok. Rio mendengarkan dengan tenang, tapi wajahnya semakin memerah karena marah.
“Dia benar-benar melakukan itu lagi? Sudah berapa kali dia mengkhianati kamu?” teriak Rio. “Kamu tidak boleh terus mempercayainya, adik. Dia hanya membuatmu sakit hati berkali-kali.”
Dewi mengangguk, menangis lagi. “Aku tahu, Kak. Tapi aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia. Dan dia janji akan kembali besok.”
“Janji itu hanyalah omong kosong, adik. Kamu harus bangkit, jaga dirimu sendiri. Kalau dia tidak kembali, kakak akan bantu kamu. Jangan biarkan dia terus menyakitkanmu,” ujar Rio dengan suara yang tegas tapi penuh kasih.
Setelah Rio pergi, Dewi kembali ke kamar. Ia melihat jam di dinding: jam dua sore. Hari masih panjang, dan ia harus menghadapinya sendirian. Tapi kali ini, rasa sendirian itu sedikit berkurang—karena ia tahu ada Rio yang akan jaga dirinya.
Ia membayangkan orang tuanya yang besok akan pulang kampung. Mungkin mereka akan naik bis pagi hari, membawa tas yang penuh dengan baju dan barang-barang lain. Mungkin ayahnya akan membawa sepeda motornya untuk berkeliling kampung, dan ibunya akan bertemu dengan teman-temannya untuk membicarakan upacara. Ia merasa bahagia untuk mereka, meskipun ia tidak bisa ikut.
Namun, di dalam hatinya, ia masih merasa sedih. Tanpa jamu ibunya, nyeri di perutnya akan semakin sulit ditahan. Tanpa kata-kata semangat ibunya, ia akan semakin sulit untuk tetap kuat. Dan tanpa Arif yang janji akan kembali, masa depannya semakin tidak jelas.
Ia memegang surat Arif lagi, kata-kata “aku akan kembali besok” terasa semakin tidak pasti. Apa dia benar-benar akan kembali? Atau apakah ini hanya lagi-lagi cara dia untuk meninggalkannya? Ia tidak tahu. Hatinya terjebak di antara rasa harapan yang masih tersisa dan rasa kenyataan yang semakin jelas.
Jam di dinding menunjukkan jam empat sore. Matahari mulai meredup, menyinari ruangan dengan cahaya yang lemah. Dewi berdiri, pergi ke teras rumah. Ia melihat jalan yang kosong, menunggu apakah Arif akan datang. Tapi tidak ada tanda-tandanya. Ia hanya berdiri di situ, menatap jauh, memikirkan orang tuanya yang akan pulang kampung, memikirkan Rio yang akan jaga dirinya, dan memikirkan Arif yang masih hilang.
Ia merasakan nyeri di perutnya semakin memburuk, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin merasa bahagia untuk orang tuanya, meskipun dirinya sendiri sedang dalam kesedihan. Ia berdoa agar upacaranya lancar, agar orang tuanya sehat dan senang, dan agar ia bisa tetap kuat selama sebulan tanpa mereka.
Meskipun rasa sedih itu masih ada, rasa bahagia untuk orang tuanya juga semakin terasa. Ia tahu bahwa meskipun ia tidak bisa ikut pulang kampung, kebahagiaan orang tuanya juga menjadi kebahagiaan dirinya. Dan itu cukup untuk membuatnya tetap berdiri, meskipun dunia di sekelilingnya terasa begitu gelap.