Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. First Kiss
"Aku tidak ingin terlibat lebih dalam denganmu, namun sepertinya hatiku berkata lain." ~Diandra Lee.
.
.
.
Diandra menghela napas, menyudahi fikirannya yang menerawang. Bram masih duduk manis di tempatnya, menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Diandra, mendengarkan bagaimana gadis itu bercerita tentang kisahnya bersama Gionard. Diandra kembali pada masa-masa itu. Untuknya, Gionard memang bukan hanya pria biasa.
Setelah pertemuan yang tidak sengaja di club design, Diandra menjadi akrab dengan Gionard. Meskipun usia mereka terpaut beberapa tahun, namun Gionard sangat mampu menyeimbangi Diandra. Dia telah menjadi temannya yang setia, memberikan dukungan dan melindungi gadis itu. Untuk beberapa tahun belakangan yang mereka habiskan di Paris, Diandra paham betul bagaimana arti kehadiran Gionard dalam hidupnya.
Kini, dia yang telah menjadi istri dari Bram Trahwijaya, entah sampai kapan, tak sanggup menyembunyikan rasa bahagianya karena kembali bertemu dengan Gionard. Setidaknya dia kembali menemukan seseorang yang dapat dia percayai selain suaminya sendiri.
"Mengapa kamu memutuskan komunikasimu dengannya?" tanya Bram semakin penasaran.
Diandra menatap Bram, mendelik.
"Ya, karna aku akan menikah denganmu, bagaimana sih," jawab Diandra bersungut.
"Kenapa?" balas Bram lagi, mencoba mengorek informasi lebih dalam mengenai hubungan keduanya.
"Simple aja. Dia mungkin saja akan datang ke pesta pernikahan dan menarik tanganku," ujar Diandra santai, lalu bangkit menuju pantry untuk mengambil air minum.
Bram ikut bangkit dan mengikuti langkah kaki Diandra. Dia menarik tangan gadis itu hingga spontan Diandra berbalik menghadapnya. Kini mereka hanya berjarak beberapa senti meter.
Bram menatap Diandra lekat, sambil memegang lengan Diandra kuat.
"Bram..," ucap Diandra pelan.
Bram dapat merasakan hembusan napas Diandra yang kini begitu dekat dengannya. Dia mendengar napas Diandra yang seketika memburu, seiring dengan detak jantung yang terus mengencang.
"Kamu istriku, Diandra!" tegas Bram. Nada suaranya memberat. Cengkramannya menguat. Diandra tidak menjawab apapun. Masih lekat menatap bola mata Bram yang membesar.
"Dan aku tidak mau kepunyaanku diusik oleh orang lain!" jelas Bram lagi. Diandra menghela napas panjang.
"Kepunyaan?" balasnya. Masih menatap tajam pada Bram. Dia memiringkan kepalanya sedikit, meminta kepastian.
"Ya. Istriku adalah kepunyaanku," jawab Bram lagi. Rahangnya mengeras.
Diandra berusaha melepaskan tangannya yang masih dicengkram erat oleh Bram, namun tidak berhasil. Gadis itu melengos.
Apa Bram sudah mulai cemburu dengan hadirnya Gionard diantara mereka? Apa Bram kini sadar bahwa ada lelaki lain yang lebih berharga dalam hidup Diandra?
"Dan kamu adalah kepunyaan Zea," ujar Diandra pelan. Gadis itu membuang wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan Bram padanya.
Bram seperti terhantam oleh sebuah batu besar.
Apa yang dia sedang aku lakukan?
Tanpa sadar Bram melepas genggamannya pada Diandra perlahan. Mendengarkan kata-kata Diandra dengan seksama, yang langsung membuatnya terdiam seribu bahasa.
"Kamu akan selalu mencintai dia, Bram. Sadarlah. Jangan terlalu larut dalam peranmu dalam pernikahan ini," ujar Diandra lagi, menegaskan batasan di antara mereka.
Diandra menelan ludah. Mengutuk dirinya sendiri yang telah membawa nama Zea ke permukaan, ketika sebenarnya situasi inilah yang dia harapkan.
"Diandra," panggil Bram. Diandra masih berdiri disana, tepat di hadapannya, tidak berubah sedikitpun. Matanya memancarkan kekecewaan, sekuat tenaga menahan perasaan yang perlahan memenuhi rongga hatinya, yang mungkin akan meninggalkan luka menganga. Diandra telah jatuh.
"Tidak perlu mencoba berlebihan, Bram. Kita ada batasnya," ucap gadis itu lagi. Dia lalu menerobos Bram, melangkahkan kakinya meninggalkan Bram. Dia sudah tidak tahan.
Bram dengan cepat kembali menahan tangan Diandra dan mendorong gadis itu ke dinding. Tanpa berfikir panjang, Bram menempelkan bibirnya pada bibir Diandra, memagutnya dengan penuh hasrat. Bram sudah lama menahannya. Dia sungguh tak ingin Diandra salah paham, tetapi dia juga belum bisa menentukan dipihak mana dia berdiri.
Diandra sungguh kaget dengan perlakuan Bram yang begitu cepat, dia sempat melawan sejenak sebelum akhirnya kalah dalam ciuman manis Bram. Bibir lelaki itu terasa sangat lembut. Diandra tak kuasa melawannya, dia melemas dalam rangkulan Bram. Menikmati setiap gerakan yang Bram tinggalkan di bibirnya.
Bram melepaskan ciuman itu pelan, tak rela, sebelum mereka berdua kesulitan bernapas.
Bram menatap Diandra lekat. Gadis itu terengah-engah menghirup udara segar.
"Akan aku runtuhkan batasan itu, Diandra," bisiknya, masih merangkul Diandra. Diandra hanya terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa atas situasi ini.
"Aku akan pergi, aku tak bisa menahannya," ujar Bram seraya berbalik, melangkah cepat menuju pintu dan berlalu keluar kamar.
Diandra masih mematung di tempatnya. Namun kini dia tersenyum. Bram sungguh tak bisa ditebak.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Dukung dengan like, vote dan tinggalkan komen ya kak Readers.. Makasih sudah mampir 🙏
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍