Akibat desakan dari sang mommy akhirnya Noah terpaksa menikah dengan Zoe adik tirinya. Noah menganggap Zoe sebagai adiknya sendiri bahkan, setelah menikah-pun Noah tetap mengatakan pada semua orang bahwa Zoe adalah adik bukan istrinya.
Pernikahan rahasia antara Noah dan Zoe dari publik ternyata membuat Zoe cukup sakit hati. Ia menaruh perasaan pada Noah yang ia anggap sebagai pria satu-satunya setelah sang daddy yang pantas di jadikan suami tapi, Noah tak pernah mengakuinya lebih dari gelar ADIK.
Apa yang akan Zoe lakukan? Mungkinkah ia akan selalu bersabar menunggu posisi barunya atau pasrah melepaskan Noah?!
....
Bagi yang baru baca cerita ini mohon baca dulu novel IMPOTEN HUSBAND.
Jangan lupa vote, like and komennya say, mohon kritik dan saran tapi dalam bahasa yang manusiawi ya😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantungku mulai bermasalah
Keadaan Bei La dinyatakan kritis. Kandungannya juga tak bisa diselamatkan hingga terpaksa dokter melakukan pembersihan rahim.
Noah sudah ada di rumah sakit dan duduk di depan ruang operasi. Tak ada raut cemas di wajahnya melainkan hanya datar tanpa ekspresi.
Tean yang berdiri tak jauh daru Noah juga ikut membisu.
"Apa wanita ini begitu penting bagi tuan sampai membuatnya sekosong ini?!" Batin Tean heran dengan tatapan dingin Noah yang menyorot kosong ke arah lantai rumah sakit.
Tetapi, yang ada di pikiran Tean tak sama dengan isi benak Noah. Perkataan Zoe dan bagaimana marahnya gadis itu sukses membuat Noah diam seribu bahasa bahkan terus melamun.
"Tuan!" Akhirnya Tean buka suara.
"Hm."
"Dia pasti baik-baik saja. Tuan tak perlu khawatir," Ucap Tean memberi kalimat penenang.
Noah menghela nafas. Ia bersandar di kursi tunggu seraya memejamkan matanya.
"Aku tak mengkhawatirkannya."
"Lalu? Kenapa tuan seperti ini?" Tanya Tean kian bingung.
"Bagaimana rasanya jika kau dikatakan brengsek oleh adikmu sendiri?"
"Adik?"
Tean diam sejenak. Namun, sedetik kemudian ia terkoneksi cepat.
"Maksud tuan nona Zoe?"
"Hm. Dia marah padaku karena mengira akulah yang menghamili Bei La," Jawab Noah menyelipkan nada gusar sekaligus marah dengan pengakuan Bei La.
"Jadi, kalau bukan tuan lalu siapa?"
"Kau juga berpikir seperti itu?" Tanya Noah membuka matanya. Tatapan tajam itu membuat Tean meneguk ludah berat dilanda kegugupan.
"Bukan itu maksud saya, tuan! Jelas nona Zoe berpikir tuanlah yang menghamilinya karena tuan terlihat akrab dengan wanita ini."
"Tapi, setidaknya dia tidak langsung akan berpikir buruk. Apa menurutnya selama ini aku pria seperti itu?" Gumam Noah bergelut dengan pikiran dan perasaannya sendiri.
Tuan! Hanya karena nona Zoe marah dan salah paham padamu, kau langsung berubah jadi murung begini. Sebenarnya apa benar kalian kakak adik?! Pikir Tean heran. Ia belum tahu kabar pernikahan Zoe dan Noah sama sekali.
"Nona Zoe masih remaja dan sangat labil. Emosinya bisa berubah-ubah kapan saja, tuan! Jangan cemas!"
"Hm. Aku harap begitu," Jawab Noah seadanya.
Ia selama ini memang punya sikap yang dewasa dan sangat memahami. Tapi, ketika berhadapan dengan Zoe ia jadi tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
Setelah menenagkan diri cukup lama, Noah bangkit dari duduknya.
"Aku akan pulang. Kau jaga disini sampai dia siuman!"
"Baik, tuan!"
Noah melangkah pergi dengan suasana hati yang sudah lebih baik. Tak ada niatan di hati Noah untuk peduli dengan operasi Bei La. Kejam? Tentu saja tidak. Noah masih geram dengan tindakan Bei La yang berani menculik Zoe sampai terjadilah tragedi kemarahan gadis itu.
Noah datang hanya untuk memastikan kabar Bei La agar ia bisa memberitahu seseorang yang berperan penting dalam masalah ini.
Tiba di dekat mobil, Noah segera menelepon sosok ayah dari anak itu.
"Hello, kak! Ada apa?"
"Dia kecelakaan dan mengalami keguguran!" Tegas Noah to the point.
"Apaaa??? Bagaimana bisa? Kak! Bei La keguguran?"
"Hm. Jika kau bisa datanglah ke sini. Jika tidak itu urusan kalian. Aku hanya bisa membantumu sampai disini." Malas Noah yang tak mau lagi ikut campur.
"Kak! Aku tak bisa datang karena besok aku ujian. Aku mohon atasi dulu sampai aku lulus!"
Mendengar itu seketika rahang tegas Noah mengetat dengan kilatan amarah terpancar dari matanya.
"Gara-gara dia Zoe jadi marah padaku!! Kau yang membuat masalah maka belajarlah mengatasinya. Jangan jadi pengecut!" Geram Noah lalu mematikan sambungannya.
Noah membuka kasar pintu mobil lalu memacu benda mahal itu cepat menuju tempat yang bisa membuat emosinya mereda sebelum kembali ke apartemen.
.......
Jam sudah menunjukan pukul 1 malam dan Noah juga belum pulang. Sosok yang sedari tadi merenung di kamarnya terus menanti kembalinya pria itu tapi nihil, ia hanya bisa mendengar suara jam dan semilir angin dari luar.
"A..apa aku sudah keterlaluan?" Gumam Zoe meremas selimut yang menutupi tubuhnya.
Zoe tadi terlampau emosi sampai mengatakan hal buruk yang bisa menyakiti hati Noah. Sudah beberapa kali Zoe memukul kepalanya seraya mengumpati kebodohan tapi hatinya belum juga lega.
"Kakak," Gumam Zoe akhirnya tak tahan lagi. Tangannya terulur meraih ponsel di atas nakas.
Beruntung Vivian mengantarkan ponselnya tadi. Jika tidak, Zoe akan tenggelam dalam perasaan kacaunya.
Tujuan utama Zoe adalah nomor ponsel mommy Moa. Tapi, saat ingin menekan nomor wanita itu Zoe terdiam.
"Shitt! Aku lupa jika kalau malam mereka akan sangat sibuk," Gumam Zoe baru ingat tabiat messum sepasang pasutri itu.
Karena tak mungkin menghubungi mommy Moa, Zoe langsung saja memberanikan diri memencet nomor Noah yang ia beri nama MY LOVE. Gila bukan?!
"Semoga tak diangkat," Gumam Zoe mengigit ujung kukunya karena gugup.
Tapi, sangat di sayangkan Noah mengangkat panggilan itu.
"Zoe?"
Zoe memeggangi dadanya yang berdegup kencang melebihi saat masuk rumah hantu. Ia mengambil nafas dalam sejenak menenagkan diri.
"Zoe? Kau di sana?" Terdengar cemas karena Zoe tak kunjung menjawab.
"Zoe! Jawab kakak!"
"Z..Zoe Auwww!!" Pekik Zoe di akhir kalimatnya karena ia tak sengaja mengigit jarinya sampai berdarah sangking gugupnya.
"Zoee!! Kau kenapa? Apa yang terjadi?"
"A..itu.."
"Bertahanlah. Kakak kesana sekarang!"
"Kak! Zoe..."
Tut..
Panggilan mati. Zoe seketika mengacak rambutnya frustasi seraya melihat telunjuknya yang mengeluarkan darah tapi tak banyak. Hanya seperti tertusuk jarum.
Dengan sifat Noah yang begitu memanjakannya, Zoe sudah memastikan maka respon Noah akan sangat gila melihat ini.
"Bagaimana ini? Aku tak terluka begitu dalam. Kakak pasti sangat khawatir," Gumam Zoe malu sekaligus masih gugup bertemu dengan Noah.
"Apa sebaiknya aku.."
Brakk..
Pintu kamar terbuka keras dengan sosok pria jangkung yang melesat masuk mendekati Zoe yang belum sempat memekik karena kaget.
"Zoe! Ada yang luka? Apa yang terjadi?" Menyibak selimut itu kasar dan membolak-balikan bahu Zoe melihat dimana yang luka.
Jelas Noah cepat sampai karena tadi ia sudah di lift menuju ke sini.
"Kakimu? Atau perut, dimana?" Masih saja tak memberi cela untuk Zoe bicara.
"Kak! Zoe.."
"Dimana? Kepalamu sakit, hm?" Menangkup wajah cantik Zoe yang terharu dengan perhatian luar biasa dari sang kakak.
Kedua mata Zoe mulai berair dengan bibir mengerucut ingin menangis. Dada Noah langsung di hantam rasa sesak yang tak terkendalikan.
"Ada apa? Jangan menangis. Kakak mohon! Zoe masih marah? Zoe bisa maki sesuka Zoe kakak tak masalah. Tapi, jangan menangis. Zoe.."
Cup..
Zoe langsung mencium bibir Noah yang melebarkan matanya terkejut. Ia mematung. Sesaat pikirannya kosong merasakan ciuman lembut Zoe yang sangat syahdu dan membuai.
Tak ada hasrat dalam lumatannya tetapi penyesalan dan rasa sayang yang kuat.
Lambat laun ciuman Zoe mulai membuai Noah yang akhirnya memejamkan matanya membalas pangutan lembut itu bahkan ia belum sadar dengan batasan yang dulu ia buat.
Saling mencumbu bibir satu sama lain bahkan hisapan lembut nan syahdu itu mampu menciptakan momen yang romantis.
Noah menekan tengkuk Zoe untuk memperdalam ciuman mereka sampai tangan Zoe berkalung ke leher kokoh Noah menikmati pergumulan halus itu.
"Ehmm!" Erangan tertahan Zoe saat ciuman itu berubah jadi panas.
Gilanya Noah juga tak bisa mengendalikan dirinya. Zoe ternyata juga ahli dalam berciuman bahkan mulai bermain lidah dengan sangat erotis.
Manis, lembut dan candu. Noah menyukai bibir adik tirinya ini sampai lupa jika ia sudah melewati batas yang seharusnya.
Suara decapan erotis itu terdengar sangat jelas. Satu tangan Noah yang tadi bebas mulai menjalar mengusap punggung Zoe dengan belaian cukup memanas.
Hal itu membuat Zoe semakin lupa diri dan terpancing untuk melakukan hal lebih dari sekedar saling mencium erotis.
Cukup lama mereka berciuman sampai nafas keduanya mulai memburu habis. Bibir Noah turun mencumbu leher jenjang Zoe yang mencengkram pundak kekar Noah dengan erangan kecil terdengar manja.
"K..kak ehmm!"
Noah seakan menuli. Ia meninggalkan banyak bekas di leher Zoe sampai suara ponsel Noah membuat keduanya terkejut.
Drrtt..
Noah langsung menarik diri dari tubuh Zoe begitu juga Zoe yang memaling wajah merahnya ke sembarang arah seraya meremas jemarinya.
"Z..Zoe.."
"K..kak p..ponselmu!"
Keduanya sama-sama gagu bicara. Noah mengeluarkan ponselnya dan dengan salah tingkah menjawab dengan sedikit membelakangi Zoe yang juga sudah malu bukan main.
"Hm."
"Tuan! Operasinya selesai. Besok dia akan sadar."
"Kau urus saja!" Datar Noah dengan suara serak berat karena ia menekan sesuatu yang sudah aktif di bawah sana.
"Tuan sakit? Kenapa suara tuan seperti itu?"
"Tidak."
Noah buru-buru mematikan sambungan itu lalu menyugar rambutnya kebelakang mengatasi degupan jantungnya yang kian meledak-ledak.
Untuk waktu yang cukup lama mereka hening. Zoe sibuk menahan rasa malu sedangkan Noah pura-pura melipat selimut di atas ranjang padahal ia hanya berusaha menghindari kecanggungan.
"Zoe!"
"Kak!"
Keduanya serempak bicara lalu kembali memalingkan wajah karena terasa sangat gugup setelah kejadian tadi.
"K..kakak mandi dulu."
"I..iya," Jawab Zoe mengangguk pura-pura bermain ponsel sedangkan Noah langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Ehmmm!!!" Jerit Zoe tertahan membenamkan wajahnya ke bantal menahan jiwanya yang tadi mau meledak akan adegan mendebarkan itu.
Sementara di dalam kamar mandi. Noah mengusap wajahnya dengan air lalu menatap diri di pantulan cermin wastafel.
Wajah tampannya terlihat merah begitu juga telinganya. Noah memeggangi dadanya yang terasa berbeda kali ini. Ia benar-benar sulit mengendalirikan dirinya.
"Sepertinya jantungku bermasalah akhir-akhir ini," Gumam Noah justru berpikiran soal penyakit lamanya.
....
Vote and like sayang