Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PANAH ASMARA DAN JANJI DI BAWAH BINTANG
BAB 4 — Bagian 1
Suasana pelataran seketika kembali hening. Hanya desir angin malam yang menyapu dedaunan pohon kamboja terdengar lirih, seolah ikut menahan napas menyaksikan puncak kecil dari permainan itu. Rangga menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Jujur saja, bukan karena takut kepada Mahadewa, melainkan karena sentuhan tangan Denia tadi masih terasa hangat di lengan bajunya. Hahaha... dasar kamu, Ngga! Belum mulai perang saja sudah kalah duluan!
Dengan sisa keberanian yang berhasil ia kumpulkan, Rangga menegakkan badan. Tatapannya mengunci sosok Mas Trio yang masih duduk diam bak patung batu. Tangan kanannya perlahan menarik tali busur kayu hingga anak panah tumpul itu terentang kokoh.
"Wahai Mahadewa... bangunlah!" seru Rangga lantang, seolah suaranya sendiri memiliki kekuatan untuk mengguncang langit dan bumi.
Wusss!
Anak panah kayu itu melesat pelan, tetapi tepat mengenai bahu Mas Trio.
Seketika Mas Trio membuka mata perlahan. Sorot matanya membelalak, alisnya bertaut, sementara dari mulutnya keluar suara menggelegar yang dibuat-buat, tetapi terdengar begitu meyakinkan.
"Kau berani mengganggu meditasiku, wahai Kamajaya? Apakah kau tidak tahu konsekuensinya?"
Anak-anak yang menyaksikan menahan tawa hingga memegangi perut, tetapi tetap terpukau melihat keseriusan akting mereka. Sementara itu, Denia yang masih duduk di tanah mendongak menatap Rangga dengan sorot mata yang dipenuhi harap sekaligus cemas.
"Aku melakukannya demi cinta yang suci, Tuanku! Demi Dewi Sati yang tak pantas dibiarkan bersedih!" jawab Rangga tak kalah tegas, meski kulihat sendiri jemarinya sedikit gemetar menggenggam busur. Hehehe... sabar ya, Nak. Jangan sampai busurnya jatuh lagi!
Mas Trio kemudian bangkit perlahan dari kursi bambu. Langkahnya berat dan penuh wibawa saat mendekati Rangga, membuat bocah itu tanpa sadar mundur selangkah demi selangkah. Padahal, jauh di lubuk hatinya, Rangga tahu betul bahwa sosok di hadapannya hanyalah sepupu yang gemar bercanda. Namun, malam itu terasa begitu magis, seolah mereka benar-benar telah masuk ke dunia wayang yang hidup.
"Tindakanmu ini sangat berani, Kamajaya! Sebagai hukuman, kau akan terperangkap dalam cinta yang abadi, tetapi penuh ujian! Dan panah asmara yang kau lepaskan tadi akan kembali menancap tepat di hatimu sendiri!"
Bersamaan dengan kalimat itu, Mas Trio mengayunkan tangan seolah melemparkan kekuatan gaib ke arah Rangga. Entah hanya kebetulan atau memang kehendak semesta, pada saat yang sama pandangan Rangga tanpa sadar beralih sepenuhnya kepada Denia.
Di bawah cahaya rembulan yang semakin tinggi, Denia menatapnya lekat-lekat. Sinar bulan memantul di manik matanya hingga tampak berkilau laksana bintang-bintang yang turun ke bumi. Hati Rangga serasa benar-benar tertusuk—bukan oleh rasa sakit, melainkan oleh kehangatan yang seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Persis seperti yang diucapkan Mas Trio, panah asmara itu seolah kembali menancap kuat di dadanya. Waduh... kalau begini caranya, siapa yang tidak akan luluh?
Tanpa sadar, Rangga berlutut di hadapan Denia. Bukan karena takut pada hukuman Mahadewa, melainkan karena rasa kagum dan kasih tulus yang memenuhi hatinya terhadap gadis kecil itu.
"Dewi Ratih... Denia..." bisiknya lirih, kali ini tanpa salah menyebut nama. "Apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyesal. Bagiku, melihatmu tersenyum adalah hal terindah di dunia ini."
Denia terdiam sejenak. Perlahan ia bangkit, lalu mengulurkan tangan mungilnya untuk membantu Rangga berdiri. Saat jemari mereka kembali bersentuhan, tak ada lagi rasa canggung. Yang tersisa hanyalah kehangatan dan ketenangan yang sulit dijelaskan.
"Kamu memang aneh ya, Rangga," ucap Denia sambil tersenyum manis, tanpa lagi berusaha menyembunyikan rasa senangnya. "Tapi terima kasih sudah mau bermain bersamaku malam ini."
Teman-teman yang menyaksikan akhirnya tak mampu lagi menahan sorak. Tepuk tangan dan tawa riuh memenuhi pelataran. Mas Trio pun ikut tertawa lepas, melepaskan peran angker Mahadewa yang sejak tadi dimainkannya.
"Wah, hebat kalian berdua! Kalau ada pertunjukan wayang sungguhan, kalian pasti jadi bintang utamanya!"
Malam semakin larut. Angin yang berembus terasa kian dingin, menyusup melalui sela-sela pakaian tipis mereka. Satu per satu orang tua mulai memanggil anak-anak untuk pulang. Riuh tawa yang sejak tadi memenuhi pelataran perlahan mereda, berganti suasana sendu karena perpisahan kecil yang tak terelakkan.
Sebelum melangkah pergi, Rangga berhenti sejenak di hadapan Denia. Ia mendongak menatap langit, memandangi gugusan bintang yang mulai tampak jelas mengiringi bulan purnama. Setelah itu, pandangannya kembali tertuju kepada gadis kecil di hadapannya.
"Denia," panggilnya lirih, cukup pelan agar hanya mereka berdua yang mendengar. "Tadi aku bilang kalau suatu hari nanti aku akan menikahimu. Dan malam ini aku juga sudah menjadi Kamajaya yang setia. Aku janji... janji itu tidak akan hilang hanya karena permainan ini sudah selesai. Suatu hari nanti, saat kita sudah besar, aku akan datang menjemputmu dengan sungguh-sungguh."
Pipi Denia seketika merona. Ia menundukkan kepala sesaat sebelum mengangguk pelan.
"Aku tunggu ya, Rangga. Jangan lupa sama janjimu."
"Iya. Aku tidak akan lupa. Seperti rasi bintang di langit yang selalu menjadi penunjuk arah, janjiku juga akan tetap sama."
Mereka saling tersenyum di bawah cahaya rembulan yang mulai redup tertutup awan tipis. Sumpah kecil itu mereka simpan rapat di dalam hati masing-masing. Sebuah janji polos masa kanak-kanak yang kelak akan menjadi benang merah, menghubungkan takdir mereka melewati berbagai rintangan, laksana kisah di langit Arkais yang diselimuti misteri dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Rangga pun berbalik melangkah pulang dengan hati yang terasa jauh lebih penuh daripada sebelumnya. Menyusuri jalan setapak yang mulai lengang, ia tak lagi merasa berjalan sendirian. Seolah setiap langkahnya ditemani cahaya rembulan, sekaligus diberkahi oleh sepasang mata bening yang baru saja ia tinggalkan.
Ah... Rangga, Rangga... andai saja kamu tahu betapa panjang dan terjal jalan yang harus ditempuh demi menepati janji itu kelak, apakah kamu masih akan mengucapkannya dengan keyakinan sebesar ini? Tapi biarlah... biarkan janji itu tetap murni. Sebab di dunia anak-anak, kata-kata adalah sihir yang paling ampuh.
Langkah Rangga yang semakin menjauh sesekali berhenti untuk menoleh ke belakang. Di ambang pintu rumah yang remang-remang, Denia masih berdiri memandanginya tanpa bergeming. Tangan mungilnya melambai perlahan, seakan takut embusan angin malam akan menghapus perpisahan sederhana itu. Rangga membalas lambaian tersebut sekuat tenaga, hingga akhirnya tikungan jalan menelan pandangan mereka satu sama lain.
Sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Denia tak pernah lepas dari benaknya. Senyumnya, suaranya yang lembut, juga sorot matanya yang seolah menyimpan ribuan rahasia indah terus berputar di dalam ingatan. Aku sendiri ikut terharu menyaksikan betapa tulus benih perasaan yang tumbuh di hati dua bocah itu. Mereka belum mengenal getirnya kehidupan, belum memahami arti kehilangan, tetapi janji yang mereka ucapkan telah berdiri sekokoh karang di tengah samudra. Pantas saja tempat ini bernama Desa Samudra. Barangkali semesta memang telah menyiapkan panggung bagi kisah mereka sejak awal, seluas dan sedalam lautan yang tak bertepi.
Sesampainya di rumah, Emaknya masih terjaga di ruang tengah. Jemarinya sibuk menyambung benang rajutan yang sempat putus. Melihat putranya pulang dengan wajah yang berseri meski tampak lelah, beliau hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan.
"Kamu pulang membawa bintang ya, Nak? Wajahmu bersinar sekali," tanyanya lembut.
Rangga hanya tersipu malu. Ia meletakkan sandalnya rapi di rak, lalu menoleh sebentar ke arah Emaknya.
"Iya, Mak. Aku pulang membawa janji," jawabnya singkat, tetapi penuh keyakinan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera masuk ke kamar kecilnya.
Rangga merebahkan tubuh di atas kasur. Melalui celah jendela kayu yang sedikit terbuka, tampak sepotong langit malam dengan gugusan rasi bintang yang perlahan bergeser mengikuti perjalanan waktu. Ia memandanginya cukup lama, lalu memejamkan mata sembari berdoa dalam hati.
Semoga langit menjaga janji ini sampai aku benar-benar dewasa.
Dan aku, sebagai narator yang mencatat setiap detik dari malam itu, hanya mampu tersenyum tipis. Malam perlahan semakin larut, sementara takdir baru saja membuka lembar pertamanya. Sebuah janji sederhana yang lahir dari kepolosan dua anak kecil mungkin terdengar sepele bagi dunia. Namun, siapa sangka, justru dari janji itulah perjalanan panjang yang akan menguji hati, waktu, dan kesetiaan mereka bermula.