( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Itu
Setelah sarapan keduanya berangkat berboncengan, dengan posisi duduk Taani yang menjauh, di tambah dengan skat tas kecil di tengah-tengah mereka.
Sepeda motor Rizwan melaju dengan kecepatan sedang, tidak ada percakapan dari keduanya.
Jarak dari rumah Rizwan menuju panti bisa ditempuh kurang lebih dua puluh menit.
“Apa saya perlu masuk, An?” mengambil helm yang diserahkan Taani.
Saat keduanya sudah tiba di depan rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas.
“Ah, nggak apa apa. Kak Rizwan langsung ke kantor aja, takut telat." Taani
membetulkan poni yang sedikit berantakan.
Rizwan mengangguk, kemudian menatap bangunan sederhana berwarna putih yang hampir usang di makan usia namun tetap rapih terawat di hadapannya.
Tempat terbaik yang menampungnya selama ini.
Tempat yang mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya, rumah yang akan
selalu dirindukannya.
Juga rumah yang menyimpan banyak kenangan hidupnya.
Tentang hati.
Dirinya dan sahabatnya Dika.
Pak Danar, pria paruh baya yang saat ini menjadi mertuanya.
Dan juga
Taani, tentang wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya, tempat ini menjadi saksi bisu betapa hebatnya
perasaan Rizwan kepada gadis cantik berponi yang selalu berkunjung di akhir
pekan itu.
Rizwan hanya berani melihatnya di balik jendela kamar, tersenyum ketika
wajah yang di pandangi nya tertawa ceria, bercanda bersama anak anak panti yang
lain.
Hatinya terasa sakit ketika sore hari dimana taani harus pulang, lantas seperti kesetanan pria itu akan berlari keluar kamar berdiri di pintu gerbang ini, menatap mobil yang
Bergerak meninggalkannya, melambaikan tangan seolah wanita yang di dalam mobil itu dapat melihatnya, duduk
termenung menatap senja di ufuk barat.
Ia harus bersabar menunggu hingga akhir pekan tiba untuk kembali melihat
wajah gadis cantiknya.
Saat itu usianya delapan belas, Rizwan belum terlalu peduli dengan perasaan yang terus berkecamuk di hatinya.
Hingga kejadian yang membuat wanita yang biasanya tertawa renyah itu menangis meraung karena kesakitan di dalam hati, membuatnya marah tidak terima ada orang lain yang berani menyakiti gadis cantik berponi itu.
Rizwan akan selalu berusaha membuatnya tersenyum bahagia.
“Ibu akan senang kamu kembali, An.”
Taani tersenyum, matanya menatap burung burung yang bertengger di
pepohonan, senyuman masih melekat di wajahnya.
Menghirup udara di pagi ini yang masih bersih dari polusi kendaraan.
Taani rindu tempat ini.
“Berangkat dulu, An.” menganggukkan kepala, kemudian melajukan sepeda
motornya. Meninggalkan Taani yang masih menatapnya di depan gerbang panti.
Taani membuka pintu gerbang besi berwarna Abu itu, menutupnya
perlahan, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru panti.
Masih sama.
Tempat ini masih sama seperti dulu, tempat favoritnya berkunjung ketika
akhir pekan.
Suara riuh anak anak sudah terdengar dari dalam rumah, ketika Taani berdiri di depan
pintu.
Mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kayu berwarna hitam.
“Permisi.” Kembali mengetuk pintu
“Iya, tunggu sebentar!” Terdengar sahutan dari dalam.
“Taani!” Suara wanita paruh baya setelah beberapa detik diam terpaku menatap perempuan yang berkunjung pagi ini.
“Selamat pagi Bu.” Taani menganggukkan kepalanya sopan.
“Ibu apa kabar?” Meraih tangan Wanita di hadapannya untuk diciumnya dengan khidmat.
“Ya Tuhan, Nak.” Menarik tubuh Taani ke dalam pelukannya, mengusap punggung gadis yang sudah seperti anaknya sendiri.
“Sudah lama sekali, Nak." Air mata sudah mengalir di pipi yang mulai
terlihat keriput itu
“Ibu baik, sangat baik.” Mengurai pelukannya, menatap wajah Taani lekat.
Gadis yang selalu dirindukannya, sampai hari ini pun setiap akhir pekan
wanita paruh baya itu tetap menunggu berharap akan datang anak perempuan cantiknya.
“Kamu apa kabar?" Mengelap air mata di wajahnya
“Aku baik. Bu.” Tersenyum hangat, mengangkat tangannya untuk membantu
mengelap air mata wanita yang sudah lama sekali di rindukannya. Merasa berdosa
karena telah membuat Ibu berhati hangat ini menangis karena merindukannya.
“Ayo masuk.” Membuka pintu lebar lebar.
“Kamu duduk dulu ya, sebentar Ibu ambilkan minum.”
Berjalan meninggalkan Taani di ruang tengah. Hanya beberapa saat kemudian kembali dengan membawa segelas air putih di atas nampan.
Duduk mendekati Taani, kembali memeluk wanita yang dirindukan nya.
Mengalir obrolan obrolan santai mengalirkan segala kerinduan yang selama
ini terbendung.
Wajahnya berbinar saat Taani mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke panti ini. Mengusap air mata bahagia yang kembali
mengalir, tersenyum sumringah.
Dengan sigap, menarik tangan Taani menuju ruangan yang sudah dipersiapkan
sebelumya,
Ruangan yang cukup luas, lengkap dengan peralatan melukis sudah tersedia kanvas, cat air
kuas, juga kursi-kursi yang berjejer rapih sepertinya ruangan ini baru saja di
bangun, karena dulu ketika Taani sering berkunjung dia tidak pernah melihat
tempat ini sebelumnya.
“Mereka akan senang mempunyai Guru secantik kamu,” mengusap pipi Taani.
“Sebentar Ibu panggilkan mereka dulu.”
Beberapa menit Taani menunggu di ruangan, Penjaga panti masuk di ikuti anak
anak yang terlihat menggemaskan, beraliran, berebut kursi untuk duduk.
“Semoga berhasil.” Menepuk pundak Taani, kemudian menutup pintu
meninggalkan ruangan itu.
Taani mengedarkan pandangannya, ada sepuluh orang anak yang hadir hari
ini, tersenyum menatap satu persatu wajah wajah yang terasa menyejukan di hatinya.
Masih terdengar suara riuh celotehan, bercanda mengambil benda benda yang baru pertama kali di lihatnya. Tertawa cekikian.
Taani berdehem.
“Selamat pagi semuanya.” Sapaan Taani yang membuat ruangan hening
seketika.
Kemudian mengalir perkenalan awal, anak anak memperhatikan wajah ibu Guru
barunya dengan antusias, menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Taani dengan kompak.
Hanya ada satu wajah yang menatapnya dengan tatapan
kesal, mengetuk ngetuk meja di depannya, bibirnya mengerucut tanda ia tidak suka
dengan wanita yang sedang berdiri di hadapannya ini.
Ada apa dengan anak itu?
Bersambung..
sukses
semangat