Sequel Menaklukkan Bos Killer
Jhon Louis , pria berdarah Australia yang lahir di Singapura dan memegang perusahaan di Jakarta, terlibat skandal dengan sekretarisnya. Tiga tahun mereka tinggal bersama layaknya suami istri.
Namun karena keadaan, mereka pun berpisah. Hingga satu waktu Jhon kembali mencari sang kekasih. Tapi sayang, sang kekasih sudah sangat berubah. Dia menjadi wanita yang tak pernah Jhon bayangkan sama sekali.
Hingga akhirnya, Jhon pun mulai mengikuti perubahan itu, demi memantaskan diri.
Mampu kah Jhon merebut kembali kepercayaan Tina dan mengambil hati kedua orang tuanya yang ternyata pemilik pesantren terbesar di kampung itu?
Mampukah ia memantaskan diri dan bersaing dengan santri kesayangan yang sang ayah jodohkan untuk putrinya?
Cekidot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterpaksaan yang akan membawa kebaikan
Malam semakin larut, tamu dari keluarga Al fatih pun sudah pulang. Mereka pulang dengan rasa kecewa dan Mustofa beberapa kali mengucapkan kekecewaannya, walau Utsman tetap meyakinkan bahwa jodoh tida akan ke mana.
“Jika Allah menakdirkan Bira dan Al fatih berjodoh, pasti akan berjodoh, walau hadir orang ketiga, keempat, dan kelima.”
“Tapi Gus, harusnya kamu langsung menolak pinangan bule itu.”
“Tadi datang – datang, kamu memujinya. Sekarang menyuruhku langsung menolak pinangannya. Piye toh? Kita tahu betul aturan khitbah. Aku tidak mungkin menerima dua pinangan sekaligus kan?’
“Ya, tidak menerima dua – duanya, tapi langsung saja tolak yang satunya. Lagi pula, dia itu baru belajar islam. Apa kamu yakin akan mengambil menantu yang baru belajar ilmu agama?”
“Astaghfirullah, Gus Mus. Kita tidak boleh mengecilkan orang.”
“Astaghfirulloh.” Gus Mus pun ikut beristighfar. Ia sadar bahwa kata – katanya tadi telah menjurus ke sifat sombong.
“Astagfirulloh.” Mustoga masih beristighfar sambil mengelus dadanya.
“kita berdoa saja, agar anak – anak kita diberi yang terbaik,” kata Utsman sambil merangkul bahu Mustofa.
“Yah, aamiin.” Mustofa mengangguk setuju, walau hati kecilnya masih tetap ingin berbesan dengan sang sahabat.
Utsman duduk di sofa kamar sambil membuka kitab Bulughul maram dan sejenak mengingat percakapan yang terjadi antara ia dan teman seperjuangannya. Dulu, saat mereka masih sama – sama menimba ilmu di Mesir dan tinggal satu atab bersama tiga mahasiswa lainnya, Utsman dan Mustofa sudah berikrar untuk menjodohkan kelak ketika mereka menikah dan memiliki keturunan. Mereka hanya ingin menjalin persahabatan ini menjadi keluarga. Tapi sayang, keinginan itu selalu saja terganjal.
Sebelumnya, Utsman mengira Arafah yang akan ia jodohkan pada Al, tapi ternyata menurut Mustofa, Al menyukai Tina. Lagi pula, Al tahu betul bahwa sejak mereka menjadi santri, Alif memang sudah mengincar Arafah.
“Bi.” Hasna menegur Utsman yang sedang melamun.
“Eh, iya, Mi.”
Hasna duduk di samping suaminya. “Apa syarat yang akan Abi ajukan kepada Jhon?”
Utsman terdiam.
“Abi, Ummi ga mau Abi memanfaatkan Jhon.”
“Ummi bisa baca pikiran Abi?” Utsman menatap mata istrinya.
“Bahkan saat Abi ingin menikah lagi, Ummi juga tahu.”
“Apa? Abi tidak pernah niatan ingin menikah lagi.”
Hasna mencibir. Ya, diantara para Kiyai, hanya Utsman yang tidak pernah melontarkan niat itu pada istrinya. Walau terkadang teman sejawatnya beberapa kali menghasut agar berpoligami dengan alasan untuk menambah ketaatan dan keberkahan, tapi tetap saja Utsman menjaga perasaan Hasna, karena wanita itulah yang setia menemani sejak dirinya bukan siapa – siapa.
“Lagi pula, punya Ummi juga nda habis – habis,” sambung Utsman.
“Apanya yang nda habis – habis?” tanya Hasna memancing.
“Ya, itu.” Utsman melirik ke bagian bawah tubuh Hasna.
Sontak, Hasna mendorong bahu suaminya. “Apa sih, Bi.”
Hasna tampak malu, membuat Utsman tersenyum gemas.
“Ini yang membuat Abi tidak bisa menduakan Ummi. Abi takut nda bisa lihat senyum ini lagi.”
Bibir Hasna semakin mencibir. “Gombal.”
Keduanya pun tertawa.
Dibalik ketegasan dan sikap galak yang diperlihatkan Utsman, tersimpan sifat yang penyayang. Utsman sangat menyayangi anak dan istrinya. Dan Tina, sempat menyalah artikan ketegasan da sikap galak itu.
Di kamar, Tina berulang kali mendapat pesan dari Jhon.
“Sayang, aku ingin kita bertemu. Please!”
Tina tidak menjawab pesan itu, walau ia membacanya.
“Sayang, balas pesanku. Aku ingin kita bicara empat mata.”
Kemudian, Tina pun hendak membalas pesan itu.
“Tidak bisa, Jhon. Di sini, tidak diperbolehkan pria dan wanita bertemu berdua, kecuali mereka sudah menikah.”
Jhon lemas, setelah membaca balasan dari wanita terkasihnya. Benar – benar repot, pikirnya. Ternyata mendapat putri Kiyai, harus serepot ini. Namun, Jhon kembali menarik nafasnya kasar.
“Tidak, aku tidak boleh menyerah. Come on, Jhon.” Jhon menyemangati dirinya sendiri.
Lalu, ia membalas lagi pesan Tina. “Baiklah, it’s oke. Aku ikuti caramu.”
Jhon terpaksa mengikuti semua keinginan Tina. Sebuah Keinginan yang berat dan membuatnya hampir merasa terpaksa. Sebuah keterpaksaan yang tanpa Jhon sadari akan membawanya pada ketenangan hakiki. Keterpaksaan yang tanpa Jhon sadari akan membawanya pada sebuah kebaikan.
Ceklek
Tepat pukul sebelas malam, Tina keluar dari kamar. Dari dalam kamarnya, Jhon pun mendengar sebuah kamar yang terbuka.
Jhon mengintip dari balik pintu kamarnya dan ternyata feelingnya benar. Kamar yang terbuka adalah kamar Tina.
Jhon pun segera keluar kamar, begitu melihat Tina keluar dari kamarnya.
“Eum.”
Jhon membekap mulut Tina dan menggiring wanita itu keluar dari pintu belakang. Jhon menghimpit Tina ke dinding yang dekat dengan kamar mandi yang sebelumnya ia gunakan untuk membersihkan diri saat terperosok ke selokan.
“Mmmpp.” Tina meminta Jhon melepaskan tangan yang membekap mulutnya.
Jhon pun melepaskan dekapan itu.
“Apa lagi? Nanti ada Abi.” Tina terlihat ketakutan. Ia takut kepergok sang ayah.
“Aku rindu kamu, Tina. Aku juga kecewa sama kamu karena tadi kamu tidak membelaku. Mengapa kamu jawab terserah? Harusnya kamu langsung bilang iya.”
“Aku sudah pernah mengecewakan Abi. Dan sekarang, aku tidak ingin mengecewakannya lagi.”
“Kamu menyukai si Al itu?” tanya Jhon cemburu.
“Apa sih? Pertanyaan konyol,” jawab Tina kesal dengan mendorong dada bidang Jhon.
Namun, dada kokoh itu tak bergeser sama sekali. Gelagat Jhon justru seperti ingin mencium Tina. Dan, Tina pun langsung menahan dada itu.
“Jhon.” kepala Tina menggeleng.
Jhon pun mengerti dan mengurungkan niatnya.
“Oh, ya. Bagaimana dengan Michelle?” sejak kedatangan Jhon, pertanyaan ini yang ingin Tina tanyakan.
“Michelle bukan putriku,” jawab Jhon kesal.
“Apa?” Tina tampak terkejut.
“Grace menipuku. Ternyata semalam ini, dia menghilang karena selingkuh dengan saudara kembarku hingga mereka memiliki anak dan tinggal bersama.”
“Jhonny?’ tanya Tina yang memang tahu bahwa Jhon memiliki saudara kembar, karena Jhon pernah bercerita tentang kehidupannya secara detail.
“Ya. Dan setelah Jhonny menghilang entah kemana, Grace kembali padaku dengan mengubah nama depan dari hasil DNA Jhonny. Dia bilang, dia terpaksa melakukan ini demi Michelle yang butuh perhatian ayahnya, karena sejak kecil Michelle dekat dengan Jhonny.”
“Memang kemana saudara kembarmu?”
“Entahlah. Aku jug tidak tahu. Jhonny memang seperti itu. wanita disekelilingnya banyak,” jawab Jhon.
“Kalau kamu?” tanya Tina mendelik.
“Aku tidak.” Jhon menggeleng. “Aku hanya mencintai satu wanita dan itu kamu.”
Bibir Tina mencibir.
“Bira. Apa yang diluar itu kamu?” tiba – tiba suara Utsman terdengar dari dapur.
Sontak, Jhon dan Tina panik. Tina langsung mencari tempat untuk Jhon bersembunyi.
“Bira.” Suara Utsman semakin mendekat.
Tina pun mendorong Jhon untuk masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandi dengan aroma jengkol menyengat. Sebelumnya, Jhon berada lama di tempat itu, karena terpaksa dan untung saja, ia masih menyimpan parfum kecil di sakunya. Tapi kini, ia tidak menyimpan pewangi apa pun di dalam saku.
“Bira, sedang apa malam – malam di luar?” tanya Utsman setelah mendapati putrinya ada di belakang rumah.
“Ini, bira mau ambil selimut yang dijemur.” Untung saja, arah mata Tina menangkap selimut yang ia jemur siang tadi dan lupa diangkat.
“Oh, ya sudah. Abi ke dalam duluan.”
Tina mengangguk. Ia lega melihat sang ayah hendak kembali masuk ke dalam rumah.
“Hoek.”
Langkah Utsman terhenti mendengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi.
“Apa ada orang di dalam kamar mandi?” tanya Abi.
“Tidak, bi. Tidak ada,” jawab Tina sambil mendorong punggung sang ayah untuk tetap masuk ke dalam rumah.
“Meong.” Jhon menirukan suara kucing.
“Itu suara kucing yang muntah, Bi,” ucap Tina.
Kaki Utsman terpaksa ikut ke dalam, walau ia masih tak percaya dengan suara itu. “Memangnya kita punya kucing?” tanyanya bingung.
Namun, Tina tetap mengajak sang ayah untuk kembali ke kamar.
Di dalam kamar mandi, Jhon pun ingin pingsan. Nafasnya sudah kembang kempis menahan aroma bau itu.
dasar cwo suka janji2 tapi gk bisa setia.
Alhamdulillah Jhon dan Tina jadinya nikah.
aku mendoakan Rendy dan Al bakal dapet balesan setimpal dg niat GK baiknya aamiin
mgkn krn John lebih badboy 😊