Jena memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena stress punya suami manipulatif dan licik. Selingkuh dengan tujuh wanita sekaligus, bahkan dengan pelayan di rumah pun suami Jena bernama Jino itu selingkuh.
Keluarga, sahabat dan mertua tak ada yang percaya kalau Jino selingkuh sebab pria itu sangat baik pada Jena.
Awalnya Jena juga tak percaya kalau belum melihat dengan mata kepala sendiri. Dia menggugat cerai Jino, malah mendapat tamparan dari ayahnya yang mengira Jena telah durhaka pada suaminya.
"Tuhan, sengaja membuat ku bereinkernasi agar bisa membongkar kebusukan mu, Jino. Aku tidak akan menggugat cerai mu, tapi aku akan membuat orang tua ku memaksa mu untuk menceraikan ku. Enak saja kamu selingkuh dengan tujuh wanita, sedangkan setiap malam kamu masih minta jatah sama aku. Cih, kamu kira setelah tahu perselingkuhan mu, aku masih mau melayani tubuh kotor mu itu," gerutu Jena setelah bangkit dari tidur panjangnya.
Wanita itu akan balas dendam pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Pertama Jena : Bertemu Marni Kecil
Perlahan pemilik mata indah itu membuka matanya. Retinanya sedang mencoba bersahabat dengan cahaya. Hal pertama yang dia lihat adalah atap rumah yang terbuat dari daun. Sang pemuda meringis kesakitan, saat merasakan tubuhnya yang remuk redam.
Tiba-tiba teringat peristiwa yang menimpanya tempo lalu, membuat pria itu ketakutan.
"Hah … jangan!" Jeno segera bangkit duduk lalu beringsut ke ujung peraduan kayu. Melihat isi kamar sederhana, atau lebih tepatnya kamar rumah orang yang hidup pas-pasan.
Suara derap langkah membuat Jeno gemetar ketakutan. Dia mengepalkan tangannya erat, keringat dingin membasahi keningnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Nak," ujar pak tua yang masuk ke dalam kamar. Jeno menelan ludahnya susah payah, ketika melihat sosok pria tua.
Dia mengalami trauma terhadap pria tua. Karena baru saja dirinya di perosa oleh pria yang tidak lagi muda.
"Jangan mendekat … jangan mendekat!" sentak Jeno dengan suara meninggi. Teriakan Jeno membuat seluruh pemilik rumah masuk ke dalam kamar.
Istri dari pak tua terkejut melihat Jeno yang pucat pasi seperti orang ketakutan.
"Ya Tuhan, kenapa anak muda ini, Pak? Dia seperti ketakutan?" tanya wanita tua itu pada suaminya.
"Bapak juga tidak tahu, Buk. Dia baru bangun dan langsung teriak waktu lihat bapak!" jelas pria tua itu membuat sang istri menyuruh suaminya keluar dari sana.
Setelahnya wanita tua itu mendekati Jeno yang tampak sangat ketakutan.
"Sutt … Bapak sudah pergi, Nak. Sini biar Ibuk peluk!" titah wanita tua itu lembut. Aura keibuannya membuat Jeno berani mendekat.
"Suttt … sudah, jangan takut lagi! Tidak akan ada yang menyakitimu di sini!* Wanita paruh baya itu berkata dengan suara lembut. Setelah memeluk Jeno.
Sang pemuda menumpahkan segala rasa sesak di dalam dada. Dia menangis sesenggukan. Hatinya sedikit tenang dan merasa nyaman dalam pelukan wanita tua asing ini.
Bahkan, dia tidak pernah merasa senyaman ini saat dipeluk oleh ibunya.
"Hiks … takut … mereka jahat!" Jeno selalu menggumamkan kalimat itu berulang kali.
Dia seperti orang yang dikejar setan. Bahkan, lebih parah dari setan.
"Suttt … janan tatut, olang jahat na nanti Malni putul (jangan takut, orang jahatnya nanti Marni pukul)."
Seorang gadis kecil masuk ke dalam kamar. Dia melihat Jeno menangis dalam pelukan ibunya. Berusaha naik ke atas ranjang kayu, lalu ikut memeluk pria itu.
Sontak Jeno terdiam, saat mendengar suara anak kecil yang berusaha menenangkannya. Dia menjauhkan tubuhnya, lalu melihat gadis kecil yang sangat manis menatapnya polos dengan wajah tanpa dosa.
"Sutt … Akang janan nanis ladi ya! Nanti Olang jahat na, bakal dapat kalma (Akang, jangan nangis lagi, ya. Orang jahatnya bakal dapat karma)."
Gadis kecil itu menghapus air mata Jeno. Mendengar celetukan Marni kecil membuat Jeno tersenyum tipis.
Dia menganggukkan kepalanya. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Marni, kalau orang jahat pasti mendapatkan karmanya.
"Kamu benar, orang jahat pasti akan mendapatkan karmanya."
"Karena aku yang akan mewujudkan karma itu," batin Jeno penuh ambisi dan dendam.
Jeno hanya berada di rumah Marni seharian. Setelah tubuhnya sedikit lebih baik, dia segera beranjak pamit pulang. Jeno juga meminta maaf pada ayah Marni, karena telah berteriak para pria itu.
"Hati-hati ya, Nak. Kalau kamu lewat lagi di daerah sini, jangan lupa mampir. Rumah ini selalu terbuka untukmu!" ujar sang wanita tua dengan senyuman tulus terpasang di wajahnya.
Begitu pun dengan Marni. Dia melambaikan tangannya.
Jeno tersenyum tipis, kemarin sore dia bertemu dengan orang jahat. Hari ini dia bertemu dengan orang baik.
Dia mengingat baik-baik wajah tiga manusia yang telah menolongnya itu. Jeno juga mengingat kalau Marni punya tanda lahir di lengan kanannya.
"Kelak, aku akan membalas jasa pada kalian," batin Jeno berjanji..
*
*
Tolong bantu karya ini masuk rangking karya baru 🙏🥰😘
Bersambung
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak beradik 🙏🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️