Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan bawah tanah
Arkan memutar kemudi dengan kasar, ban mobil tua itu menjerit saat ia melakukan putaran balik ilegal di tengah jalan Sudirman. Wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras seperti pahatan batu.
“Kita tidak ke rumah,” desis Arkan. "Dan kita tidak ke bunker Rio."
Zia mencengkeram sabuk pengamannya. "Terus kita ke mana? Om, rumah itu satu-satunya tempat yang punya sistem perlindungan!"
"Itulah masalahnya, Zia. Harlan tahu sistem perlindunganku. Dia yang ikut merencanakannya sepuluh tahun lalu sebelum dia berkhianat," Arkan melirik spion, memastikan tidak ada cahaya lampu yang mengikuti secara konstan. "Kita akan ke tempat yang bahkan tidak ada dalam peta digital mereka."
Mobil melaju kencang menuju pinggiran Jakarta, tepatnya ke arah SMA tempat Zia bersekolah. Zia mengerutkan keningnya, bingung. "Kenapa ke sekolahku? Om sudah gila ya? Itu tempat pertama yang akan mereka cari!"
"Bukan ke gedung sekolahnya, tapi ke bawah," jawab Arkan misterius.
Arkan menghentikan mobil di sebuah gudang tua yang terletak tepat di belakang area olahraga sekolah. Ia menarik Zia turun, mengabaikan protes gadis itu. Arkan mengeluarkan sebuah kunci fisik kuno,sesuatu yang sangat langka di zamannya.dan membuka pintu besi yang berkarat.
Di dalam gudang, Arkan menggeser sebuah lemari tua yang menutupi lantai beton. Di sana terdapat sebuah lubang palka dengan simbol The Ghost yang sudah memudar.
"Sekolahmu dibangun di atas bekas markas komunikasi militer tahun 80-an," bisik Arkan sambil menuntun Zia turun ke tangga gelap. "Tanpa internet, tanpa sinyal satelit. Hanya kabel tembaga tua. Harlan tidak akan bisa melacak kita di sini karena secara digital, tempat ini tidak ada."
Di bawah tanah yang lembap dan hanya menerangi lampu darurat berwarna merah, suasana menjadi sangat intim sekaligus mencekam. Ruangan itu sempit, dipenuhi server-server tua yang berdebu.
Zia tertidur, bukan hanya karena dingin, tapi karena adrenalin yang mulai surut meninggalkan rasa takut. Arkan menyadari hal itu. Ia melepas tuksedonya dan menyampirkannya ke bahu Zia.
"Maaf," ucap Arkan pelan. Ia berdiri sangat dekat dengan Zia di ruang sempit itu. "Aku menyeretmu ke dalam hidup yang berantakan ini."
Zia menatap mata Arkan. Di bawah lampu merah yang redup, wajah pria itu tampak rapuh untuk pertama kalinya. "Kenapa Om memilihku? Dari semua wanita di dunia bisnis Om yang hebat itu... kenapa harus bocah SMA yang bahkan belum tahu cara pasang dasi sendiri?"
Arkan terdiam. Ia menyandarkan satu tangan di dinding, tepat di samping kepala Zia, mengunci gadis itu di ruang pribadinya.
“Karena di dunia yang penuh dengan kode palsu dan identitas buatan, hanya kamu yang asli, Zia,” bisik Arkan. Suaranya serak. "Kamu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa aku enkripsi. Dan aku lebih suka mati kehilangan seluruh hartaku daripada kehilangan satu detik melihat tawamu."
Jarak mereka terkikis. Saat napas mereka mulai berat, tiba-tiba sebuah monitor tua di sudut ruangan menyala sendiri. Statis putih memenuhi layar, diikuti oleh suara distorsi yang berat.
“Arkan… kamu pikir kabel tembaga bisa dihentikan?”
Itu suara Harlan, tapi terdengar aneh, seolah-olah suara itu dihasilkan oleh kecerdasan buatan.
"Zia ada bersamamu, kan? Katakan padanya... ujian sejarahnya besok akan sangat menarik. Karena dia akan menjadi bagian dari sejarah keruntuhanmu."
Arkan segera menarik Zia menjauh dari monitor, namun layar itu tiba-tiba menampilkan cuplikan CCTV real-time . Arkan membeku. Layar itu menunjukkan Rio dan Bara sedang berlutut di markas mereka, dengan senjata ditodongkan ke kepala mereka oleh orang-orang berseragam hitam.
Namun, yang membuat jantung Zia seolah berhenti berdetak adalah sosok yang berdiri di samping para penyerbu itu.
"I-itu... Bu Dewi?" bisik Zia tidak percaya. Pemilik butik yang sangat dipercayai Arkan tadi sore, kini memegang sebuah tablet kendali yang mengarah langsung ke lokasi bawah tanah mereka.
"Dia bukan hanya pemilik butik, Zia," Arkan menggeram, matanya berkilat penuh amarah. "Dia adalah protokol The Ghost yang sebenarnya. orang kepercayaan Ibuku."
Lampu merah di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi kuning berkedip. Sebuah suara mekanik terdengar [SISTEM PENGUNCIAN OTOMATIS DIAKTIFKAN. OKSIGEN AKAN DIHENTIKAN DALAM 10 MENIT.]
Arkan menatap pintu besi yang baru saja mereka lalui, pintu itu kini tertutup rapat dengan baut baja yang keluar dari dinding. Mereka terjebak.
Arkan menoleh ke arah Zia, matanya memancarkan keputusan yang nekat. "Zia, dengarkan aku. Ada satu cara untuk membuka pintu ini, tapi itu berarti aku harus mengaktifkan kembali virus yang menghancurkan Singapura. Dan jika aku melakukannya, seluruh dunia akan tahu bahwa kita masih hidup."
"Lakukan saja, Om! Aku tidak mau mati konyol di sini!"
“Masalahnya bukan itu,” Arkan memegang bahu Zia dengan kencang. "Jika aku melakukannya, aku akan masuk ke daftar buronan internasional paling dicari. Aku harus pergi, Zia. Aku tidak bisa membawamu ikut."
Zia tertegun. Ujian tersulitnya benar-benar datang. Membiarkan Arkan menyelamatkan nyawa mereka namun kehilangan pria itu selamanya, atau mati bersama di tempat ini?
Apakah Arkan akan mengaktifkan virus itu dan menghilang dalam bayangan, meninggalkan Zia sendirian di gudang sekolah, atau apakah Zia memiliki rencana nekat yang tidak terduga oleh Arkan.
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔