Alexander pria yang dingin dan sangat susah untuk di sentuh. Dan semenjak meninggalnya sang istri, Alexander tidak lagi membuka hati untuk siapapun. Karena hati dan cintanya juga ikut mati dengan istri tercintanya.
Dan karena satu insiden membuat Alex terpaksa menikahi wanita yang bernama Kartika.
Mampukah Kartika meluluhkan hati Alex, atau malah sebaliknya?
"Cinta? Bagiku hanya ada satu cinta untuk satu wanita saja."
"Cinta? Bagiku, selama kau bisa membuat orang bahagia maka itulah yang di sebut cinta." Kartika Wijaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Alex menatap Molki dan juga Mora secara bergantian. Tidak biasanya pagi ini rumah terasa damai. Tidak seperti biasanya, Mora selalu saja berteriak meminta ini dan itu untuk keperluan sekolahnya dan bahkan Ratih pun sulit untuk membuat Mora tenang.
"Ada apa dengan Mora?" Batin Alex menatap Mora yang tengah asik menyantap sarapan paginya.
"Kau tidak akan kenyang jika hanya terus memperhatikan Mora." Kata Kartika sambil memeberikan Alex udang goreng di piringnya.
Alex yang mendegar itu, langsung menoleh ke arah Kartika, dan menautkan satu alisnya.
"Dad, makanlah. Hari ini makanan sangat lezat loh." Kata Mora sambil menaikkan satu jempolnya, lalu kembali menyantap makanannya.
Tanpa banyak berkata, Alex lalu mengambil seuap nasi dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Hm. Alex menutup matanya, sungguh sarapan kali ini sangar berbeda dengan sarapan sebelumnya. Ini adalah sarapan terenak menurutnya. Dan tanpa sadar Alex terus menyantap hingga tak tersisa.
"Enak bukan?" Kata Kartika saat melihat piring Alex sudah kosong tak tersisa.
"Bagaimana dad. Masakan tante Kartikan enak kan?" Tanya Mora.
Dan Alex terhenya, ia kaget. Masakan yang di pujinya dalam hati ternyata masakan dari wanita yang ia nikahi. Untung saja Alex belum sempat memuji masakan itu secara langsung.
"Dad. Bagaimana? Enak kan?" Tanya Mora yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari daddy nya.
"Habiskan sarapan kalian. Daddy tunggu di mobil." Kata Alex lalu berdiri.
"Dad." Panggil Mora, karena belum mendapatkan jawaban. Namun Molki menarik lengan Mora agar berhenti memanggil daddynya.
"Mora. Lihat piring daddy mu. Kalau habis itu tandanya?"
"Enak." Jawab Mora dengan cepat.
Alex yang mendengar itu, langsung menghentikan langkahnya.
"Aku menghabiskannya bukan karena enak. Tapi hanya kasihan jika makanan tidak di habiskan." Kata Alex dengan dingin lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Kartika tertawa pelan mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Alex. Sungguh ego bukan? Buktinya dia sudah menghabisi makanan, tapi malu untuk mengakui jika masakan itu lezat. Padahal seisi rumah sudah mengakui. Hanya tinggal Alex saja.
"Kulkas hanya malu mengakuinya." Gumam Kartika yang masih dapat di dengar jelas oleh Molki, sehingga Molki tersenyum. Berbeda dengan Mora, ia samar-samar mendengar ucapan Kartika jadi tidak tahu, dan tidak mengerti.
"Baiklah, sekarang kalian bawa ini." Kartika menyerahkan kotak bekal ke hadapan Molki dan juga Mora.
"Mulai sekarang tidak ada pengawal. Jadi kalian bebas berteman di sekolah. Tapi ingat! Jangan salah dalam bergaul. Mengerti?" Ucap Kartika.
"Tante." Mora memeluk Kartika dengan bahagia, karena baru kali ini dirinya bisa terbebas dengan pengawal.
"Tante melakukan ini, karena tante percaya dengan kalian. Jadi jangan salah gunakan kepercayaan tante." Kata Kartika sambil mengusap pundak Mora dengan lembut.
"Ayo cepat kita ke mobil. Sebelum daddy kalian marah." Kata Kartika sambil memegang tangan Mora dan Molki yang berjalan di sampingnya.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Alex pada kedua anaknya saat hendak naik ke atas mobil.
"Tadi aku berbicara sebentar dengan mereka." Jawab Kartika.
"Aku tidak sedang bertanya denganmu." Katus Alex.
"Dasar pria kulkas." Rutuk Kartika, yang masih dapat di dengar oleh Alex sehingga Alex menatap Kartika dengan tatapan tajam.
Lalu Kartika memberikan kotak bekal ke hadapan Alex.
"Jangan lupa di makan. Jaga kesehatan jangan terlalu kecapean." kata Kartika membuat Mora tersenyum sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Saranghae" teriak Kartika sambil menganut kedua tangannya di atas kepala membentuk love.
"Tante Kartika keren. Aku suka sama tente Kartika." Ucap Mora saat mobil sudah berjalan.
"rumah yang tadinya gelap, kini menjadi terang kembali. suasana yang tadinya sunyi, kini kembali diisi suara obrolan, candaan dan tak jarang terdengar tawa riang. hingga akhirnya beberapa jam kemudian kembali terdengar sunyi. tak terasa waktu bergulir, matahari kembali menampakkan diri di ufuk timur. kegiatan manusia kembali nampak di lingkungan rumah itu. termasuk truk sampah yang rutin singgah mengambil sampah dari rumah itu. ketika sang awak truk turun untuk memindahkan sampah dari dekat pagar rumah, beberapa serpihan kertas coklat jatuh dari tong sampah yang dibawa sang awak truk. ya, serpihan kertas sampul coklat yang berisi surat gugatan cerai yang kini sudah koyak hancur tak bersisa. hanya menyisakan kenangan di secuil tempat di sudut hati. untuk menjadi pelajaran menatap masa depan yang bahagia. TAMAT.