Aulia Jasmine, gadis sederhana yang merasa hidupnya sudah sempurna karena di nikahi oleh Calvin Syahputra. Seorang pria yang sangat ia cintai dan juga menunujukan cinta yang besar untuknya. Namun, sebuah fakta menamparnya saat Jianita Kanaya datang padanya dan Jia mengaku sebagai istri sah Calvin. Jia memperlihat surat nikahnya, foto pernikahannya bahkan foto saat ia melahirkan anak pertamanya dan Calvin.
Jasmine seperti di sambar petir di siang bolong, ia tak mampu berkata-kata dan hanya bisa memegang perutnya dimana buah hatinya dan Calvin juga tumbuh disana. Kenapa semua itu terjadi padanya? Ternyata dia adalah pelakor?
"Dasar pelakor!" Seru Jia penuh amarah, Jasmine hanya bisa menggeleng lemah dengan deraian air mata yang tiada henti di pipinya.
"Aku bukan pelakor..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 # - Menerima
Jasmine membaca surat cerai yang di persiapkan Calvin untuk Jia, tanpa terasa air mata Jasmine menetes begitu saja hingga membasahi kertas putih itu. Meskipun Calvin berkali-kali mengatakan penyebab perceraiannya dengan Jia bukanlah Jasmine, namun tetap saja hati nuraninya merasa bersalah.
Calvin yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri Jasmine yang tampak melamun, ia langsung memeluk Jasmine dari belakang dan mengecup pundak sang istri dengan lembut. "Jangan baca itu...." Calvin mengambil surat yang Jasmine pegang kemudian memasukannya kembali ke dalam amplop.
"Bagaiamana dengan anakmu, Mas?" tanya Jasmine sembari mengusap lengan Calvin yang melingkar di perutnya.
"Suatu hari nanti dia akan mengerti," jawab Calvin. Ia membalik tubuh Jasmine hingga kini menghadapnya, Calvin mengusap pipi Jasmine yang masih meninggalkan bekas air mata. "Sayang, aku mau kamu janji sesuatu sama aku."
"Hm? Janji apa?" Tanya Jasmine.
"Berhenti menangisi keadaan." Jasmine terdiam sejenak, ia menatap mata hitam sang suami yang selalu menatapnya penuh cinta. Benar, penuh cinta cinta dan itu terjadi sejak pertama kali mereka bertemu. Siapa yang bisa menduga bahwa ternyata Calvin sudah berkeluarga jika ia selalu bersikap dan memperlakukan Jasmine bak satu-satunya ratu dalam hidupnya.
"Aku juga sudah lelah menangis, Mas." Jasmine melingkarkan lengannya di leher sang suami, ia menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya itu. "Sekarang aku cuma mau fokus sama kamu dan calon anak kita, aku nggak sampai kehilangan dia seperti aku kehilangan mama."
"Itu bener, Sayang." Calvin menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Jasmine dengan mesra. "Jangan perdulikan apa kata orang, hm? Fikirkan kebahagiaanmu saja, dan apapun kata orang, aku tetap mencintaimu dan aku tahu, kamu tidak pernah menggodaku. Justru aku yang tergila-gila sama kamu."
Jasmine hanya mengulum senyum mendengar penuturan sang suami, karena memang itulah yang terjadi. Bagaimana mungkin Jasmine tak terpikat pada pria yang terus mengejarnya tanpa henti?
"Kamu mau kerja hari ini, Mas? Aku belum masak," kata Jasmine kemudian.
"Nggak, Sayang. Aku masih cuti," jawab Calvin kemudian ia memeriksa suhu tubuh Jasmine yang sudah sangat turun. "Kalau kamu mau, kita bisa belanja sekarang, beli baju dan keperluan lainnya."
Jasmine sangat ingin belanja sebenarnya, apalagi ia memang hanya punya beberapa lembar baju. Begitu pula dengan Calvin yang memang tak membawa pakaian dari rumah Jia, namun Jasmine masih tak ingin berkeliaran apalagi ia masih trauma jika harus bertemu dengan orang-orang yang mungkin mengenalinya.
"Aku malas keluar rumah, Mas. Kenapa kita nggak ambil baju yang di rumahku aja," saran Jasmine. Calvin tak memaksa, ia hanya tersenyum dan mengangguk meng-iyakan.
Saat Calvin sedang memakai baju, tiba-tiba Jasmine justru memeluknya dari belakang dan berkata, "Ayo kita pergi berbelanja, Mas." tentu Calvin langsung mengernyit bingung, baru beberapa detik yang lalu Jasmine menolak dan sekarang justru ia yang mengajak Calvin pergi?
"Ada apa, Sayang?" Tanya Calvin sambil berbalik badan.
"Aku nggak mau bersembunyi terus dari dunia, Mas. Aku mau keluar dan menjalani hidup normal seperti dulu, jika memang ada yang mengatakan hal buruk tentangku, nggak apa-apa. Aku menerima keadaanku yang sekarang." Calvin terenyuh mendengar ucapan sang istri, ia tersenyum manis dan membelai kepala Jasmine.
"Itu baru Jasmine yang aku kenal."
...🦋...
"Kamu yakin dengan keputusanmu, Jia?" Tanya Bu Chika untuk yang ke sekian kaliny karena Jia menerima tuntutan cerai Calvin.
"Iya, Ma. Dia yang selingkuh tapi dia yang nuntut cerai, terus aku bisa apa?" Jia justru balik bertanya yang membuat ibu mertuanya hanya bisa menghela napas lesu. "Aku akan bercerai dari Calvin tapi aku mau semua harta dia jatuh ke tangan Rasya," imbuhnya yang langsung di setujui oleh Bu Chika.
"Kamu benar, Jia. Tuntut Calvin supaya memberikan semua hartanya untuk Rasya, Mama nggak rela harta anak Mama jatuh ke tangan pelakor dan anak haramnya itu." Bu Chika mendesis tajam.
Jia senang karena ia mendapatkan dukungan penuh dari ibu mertuanya, dan anggaplah ini balas dendam Jia pada Calvin juga Jasmine. Jika Jia tak bisa mendapatkan Calvin, maka setidaknya dia dan Rasya bisa mendapatkan semua harta Calvin.
sayang sekali padahal ceritanya menarik
nasibnya istri ke dua/Sob//Sob/
kok mau sih cuma dinikah siri...?