Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.
Aiza dan Akhmar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Perhatian
"Kau sudah makan?" tanya Aldan menunjukkan perhatiannya.
Akhmar mengangguk. "Aku mengantuk." Akhmar bangkit berdiri.
"Kau harus hadir di masjid besok. Ikuti pengajian! Jangan sampai tidak!" tutur Aldan yang tidak mendapat respon dari akhmar yang berjalan naik ke lantai atas.
Akhmar geleng- geleng kepala. Bagaimana mungkin ia akan menghadiri acara yang jauh dari kehidupannya? Bodo amat. Ia tak akan bersedia menghadirinya. Ia melempar tubuh ke kasur dengan posisi menelungkup. Sepatu masih nyangkut di kaki. Ngantuk berat.
Aldan menyusul masuk ke kamar Akhmar. Melepas sepatu adiknya, menaruh di rak. Menyalakan Ac. Menyelimuti tubuh Akhmar. Lalu mematikan sakelar lampu dan menutup pintu kamar.
Akhmar mengusap wajah kasar, duduk diantara sederet para pria lainnya yang berpakaian ala manusia alim, mayoritas mengenakan baju koko, celana polo dan peci. Sedangkan Akhmar berpenampilan seperti hari- hari biasanya. Mengenakan celana jeans, kaos hitam, serta rambut yang bagian belakangnya diikat sedikit. Ia tidak akan berada di sana jika pagi tadi ia tidak dibangunkan oleh papanya, lalu diajak ke masjid itu. Bagaimana mungkin Akhmar akan membantah. Ia seperti dijadika tawanan oleh Adam dan Aldan yang mengawalnya hingga masuk ke masjid.
Dan sekarang, entah kemana Aldan dan Adam sekarang berada. Sejak awal acara dimulai, mereka tidak kelihatan.
Akhmar membawa potato, ngemil, suara kriuk kriuk terdengar dari mulutnya. Membuat beberapa orang yang duduk di dekatnya menoleh heran. Di masjid kok ngemil? Tak peduli dengan keadaan sekitar.
Di depan sana sedang ada ustadz kondang yang tengah menyampaikan tausiah tentang kewajiban anak berbakti pada orang tua.
"Assalamualaikum... Saya Ismail Khan," ucap ustadz yang kerap diundang di acara - acara keagamaan , dia berdiri di depan tepatnya di dekat mimbar. "Dalam surat Al Baqarah ayat 83 tertulis tentang perintah Allah supaya seorang anak berbakti pada orang tua. Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat."
Pandangan Ismail mengedar ke arah hadirin yang duduk rapi.
Akhmar menghentikan kunyahannya, menatap kaget pada ustadz yang sejak tadi mangap- mangap untuk menyampaikan tausiahnya.
Loh, itu kan pria tua yang sempat terkena lemparan sepatu? Akhmar garuk- garuk kepala. Kenapa harus pria tua itu yang menjadi penceramah di acara itu?
"Tanpa orang tua, seorang anak tidak akan pernah terlahir di dunia ini," sambung Ismail dengan suara lantang khas para ustadz. "Ini jelas dituliskan di dalam kitab Al Quran yang wajib diimani. Bahwa peranan orang tua sangat besar, oleh sebab itu dibarengi dengan kepatuhan anak. Meski salah yang dilakukan oleh orang tua, seorang anak wajib untuk tetap taat dan menyayangi orang tua. Lalu di dalan surat Al Baqarah ayat 215, Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, 'Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.' Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Catat ini!"
Entah kenapa tausiah yang disampaikan oleh Ismail tidak nyangkut di kepala Akhmar. Dia lebih asik makan potato sambil celingukan mencari keberadaan Aldan dan Adam. Sejak tadi ia tidak mendapati dua insan itu.
Bersambung