Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIBANDINGKAN
Melia pulang malam itu, lebih larut dari biasanya. Namun, dia tetap membawakan oleh-oleh demi menyogok sang mertua. Kali ini dua buah daster seharga seratus ribu rupiah satuannya. Sangat murah, dia beli dari online dengan COD di hotel.
Melihat daster-daster yang dipakai oleh ibu mertuanya, Melia menebak harganya tak lebih dari tiga puluh ribu. Itu saja beberapa sudah sobek di bagian jahitan.
Diletakkannya dua buah daster itu di atas meja agar keesokan hari sang mertua bisa melihat apa yang dibawanya untuk Bu Helen.
Benar saja, keesokan hari saat Bu Helen ingin menanyakan kemana perginya Melia, dia menunda pertanyaan itu melihat bungkusan berwarna putih transparan yang menarik perhatiannya.
"Buat Ibu. Semalam aku pulang larut. Yang kuajak COD ngaret karena bannya bocor, Bu. Kasihan kan kalo aku tinggal. Apalagi dia beli barang yang harganya satu jutaan. Yah, sayang kan, Bu!" cerocos Melia sebelum diceramahi oleh Bu Helen.
"Oh ... iya, Melia. Nggak apa-apa," sahut Bu Helen duduk dan menarik dua bungkusan di atas meja itu untuk kemudian diamatinya dengan wajah berbinar.
"Kamu tau aja kalo Ibu nggak punya daster bagus," ujar Bu Helen mengeluarkannya dari plastik lalu merentangkannya dan menempelkan ke badan.
"Murah kok, Bu. Itu cuma dua ratus ribu. Itu hasil labaku jualan tas import. Semalam yang beli bawa daster, ya aku tukar aja uang dua ratus ribu dengan dua daster yang mungkin Ibu suka," ujar Melia memakai skin care yang harganya hampir satu jutaan ke wajahnya.
"Suka! Suka sekali, Lia! Ck, kamu itu kalo untuk Ibu suka boros."
Bu Helen pura-pura berdecak tapi sebenarnya dia sangat senang dengan hadiah-hadiah yang diberikan oleh Melia.
"Nggak boros, Bu. Apalah arti uang segitu kalo untuk Ibu yang cantik," puji Melia membuat Bu Helen tersipu.
"Eh, Bu. Besok aku sepertinya menginap di rumah teman. Mm ... dia ajak aku bisnis lebih besar dari ini. Boleh ya, Bu?"
Melia ada janji dengan seorang om-om yang ingin ditemani semalaman. Dia merasa sayang untuk menolaknya. Semalam lima juta! Apa nggak ngiler? Lelaki itu jadi rebutan di kalangan anak-anak asuh Mami. Melia ketiban durian runtuh melayaninya semalaman. Tentu saja dia tak mau kehilangan kesempatan.
"Nginep ya, wah ... gimana ya? Kamu harus minta ijin Haris dulu," ujar Bu Helen.
Melia mengerucutkan bibirnya. Kemungkinan pria itu tak akan mengijinkan, tapi dia tak ingin melepaskan kesempatan.
"Bu, ini kejutan buat Mas Haris. Kalo aku bisa ikut bisnis itu, dan dapat keuntungan besar, besok aku dapat uang lima ratus ribu. Aku kasihin ke Ibu deh! Semua!" pancing Melia yang makin tau sifat sang mertua.
Bu Helen sedikit ragu menatap ke arah Melia. Dia masih bingung jika Haris tak mengijinkan, tapi sayang juga uangnya.
"Mm ... gimana ya, Ibu itu—"
"Bu, rumah ini kan harus diperbaiki. Sementara kalo menunggu gaji Mas Haris, tak cukup. Apalagi, Melia harus berbagi dengan Kak Rena ...," sungut wanita itu.
"Sebentar lagi kan musim hujan, nanti bocor di mana-mana. Aku ini mikir sampe segitu lho, Bu!" imbuhnya lagi.
Bu Helen meringis. Memang benar apa yang dikatakan Melia. Rumahnya butuh perbaikan. Sementara jika menunggu Haris, sampai lebaran kucing tak akan selesai perbaikannya.
"Eh, iya. Iya, Ibu setuju. Ah, kamu baik sekali, Lia. Sampai mikirin perbaikan rumah!" ujar Bu Helen.
"Ya itulah, aku berusaha dan Ibu juga bantu aku ijinkan sama Mas Haris, ya?" desak Melia.
"Iya ...," sahut Bu Helen dengan mantap.
Gampanglah kalau merayu Haris, apalagi dengan iming-iming seperti itu. Kesempatan itu tak terjadi dua kali. Jika Melia bisa mengembangkan bisnisnya yang entah apa, Bu Helen tidak paham juga, mereka akan hidup damai. Bu Helen juga berencana membangun rumahnya agar tak terlihat paling jelek di jajaran rumah-rumah sebelahnya yang bagus-bagus. Iri rasanya melihat setiap tahun mereka bisa membangun atau sekedar memperindah rumah mereka.
"Nah, gitu dong, Bu. Nanti rumah ini ada kemajuan. Aku juga pengen bikin kamar yang bagus di atas. Boleh kan, Bu?"
Melia menambahkan lagi. Seringai di wajahnya sedikit terbentuk jika Bu Helen mengamatinya. Namun, wanita itu belum menyadari.
"Kamu mau bikin tingkat rumah ini?"
Nampak binar di wajah Bu Helen. Rumah tingkat baginya masih menjadi kebanggaan. Seperti apapun bentuknya, jika itu tingkat maka tetangga akan kagum. Begitu pikiran kolot Bu Helen.
"Iya, Bu. Ya kalo boleh. Kalo nggak boleh ya nggak apa-apa, sih ...."
Bu Helen segera menganggukkan kepala. Mumpung kesempatan ini datang. Dia pikir kesempatan tak akan datang dua kali.
"Ya, Lia. Nurut aja lah, apa katamu. Yang penting kita bisa tinggal di rumah yang bagus."
Bu Helen mulai mengamati langit-langit rumah yang memang sudah lapuk termakan zaman. Sejak meninggal suaminya, rumah itu tak ada yang memperbaiki. Haris selalu sibuk bekerja. Namun, untuk membayar tukang pun, dia tak sanggup. Tabungan Bu Helen juga sayang untuk perbaikan rumah. Malah habis waktu itu untuk pernikahan kedua Haris.
"Kalo gitu, Melia tidur dulu ya, Bu.
Melia berbalik dan menguap. Rasanya tubuhnya remuk setelah perlakuan pria hidung belang tadi di hotel. Lumayan tampan tapi kemauannya macam-macam. Minta berbagai gaya. Melia kelabakan dibuatnya.
***
Sementara itu, Renata mulai menjahit kebaya Bu Dian. Dia ingin mengerjakannya dengan cermat. Bukan main-main, itu adalah pesanan istri pemilik mini market tempatnya bekerja. Renata tak mematok harga untuk wanita itu. Dibayar berapapun dia akan menerima.
Ditemani oleh dengkuran keras Haris yang meringkuk di atas karpet karena kenyang. Dia beruntung saat Renata pulang membawa lauk. Langsung melahap lauk itu dengan rakus.
Renata menggelengkan kepala melihat perubahan suaminya. Tambah menjengkelkan. Makin rakus dan makin malas. Apalagi saat membicarakan pekerjaan Melia sebelum tidur tadi. Terngiang-ngiang di telinga Renata.
"Ren, daripada kamu njahit lembur-lembur sampe mata kamu bengkak, kamu jualan online itu lho kayak Melia. Dia tuh setiap pulang bawa uang segepok. Apalagi pergi-pulang setiap hari. Apa nggak tebel tuh dompetnya? Kamu injek-injek mesin itu cuma dapet duit berapa ...," oceh Haris.
Renata mendengus. "Ya biar aja, Mas. Aku sukanya gini. Kan kerjanya juga di rumah nggak usah pergi-pergi. Sedikit-sediki tapi berkah. Yang penting bukan jadi lelaki yang cuma bisa nodong aja, kerja nggak kerja sama aja, bokek! Kayak harga dirinya habis dimakan rayap!" sindir Renata.
Yang disindir hanya mencibir lalu membenahi sarungnya untuk kemudian tidur mendengkur sampai saat itu Melia membuat pola kebaya milik Bu Dian dan jas milik Mas Rendy.
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano