⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap
Tik Tik
Jarum jam berdetak di setiap detiknya. Waktu terus berlalu tanpa bisa diulang kembali. Dan aku sendirian di tempat ini, di dalam kegelapan.
"Hah.. ga bisa tidur.."
Ya, tentu saja aku tidak bisa tidur. Sekarang aku kan sedang berada di tempat asing. Otakku ini akan terus merespon tubuhku agar terus waspada.
Hah menyebalkan.. Besok kan aku harus cepat bangun agar tidak kesiangan.
Setelah makan malam bersama keluarga Farel, aku tidak diperbolehkan untuk pulang karena malam sudah terlalu larut.
Tante Ella memintaku untuk menginap saja. Mama yang sedang tidak berada di rumah juga mengizinkan.
Tapi, tetap saja. Aku kan jadi tidak bisa tidur karena merasa asing dengan kamar ini. Mana sendirian pula!
"Huhu.. aku kangen kamu tempat tidurku.."
Aku menoleh ke arah jam yang ada di atas meja, tepat di sebelah tempat tidurku. Ternyata masih jam 11 malam ya? Aku tidak memperhatikannya sejak tadi.
Arrgh bagaimana ini?! Aku tidak bisa tenang! Kalau begini terus, bisa-bisa aku akan terus terjaga hingga pagi.
"Eh? Kalau dipikir-pikir si Farel harusnya masih bangun kan?"
Aku ingat saat Farel berkata dia selalu tidur terlalu larut hingga jadi dimarahi oleh ibunya.
"Jadi harusnya dia masih bangun kan? Hm.. Semoga aja sih."
Aku turun dari ranjangku. Telapak kakiku terasa dingin sesaat menyentuh lantai. Aku terus merasakan sensasi dingin itu hingga aku menemukan sandalku. Dengan cepat-cepat aku langsung mengenakannya.
Klik
Kuputar kunci kamarku dengan perlahan agar tidak membuat suara terlalu keras. Rumah Farel memang sangat besar. Karena itu suara sekecil apapun bisa saja menimbulkan gema.
"Ga ada orang kan?"
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum melangkahkan kakiku keluar dari kamar. Setelah merasa sudah benar-benar aman, aku lalu keluar dari kamar sambil mengendap-endap.
Aku tak mengunci pintu kamarku dan hanya menutupnya sekedar saja. Karena aku tidak mau mengambil resiko dengan suara yang dihasilkan oleh kunci itu.
"Itu dia! Kamar Farel."
Kamar Farel berada tidak terlalu jauh dari kamar tamuku. Sebelumnya sih aku memang sengaja memilih kamar tamu yang berada dekat dengan kamar Farel.
Kamar Farel dan kedua orang tuanya berada di tempat yang saling berjauhan. Hal itu memang disengaja. Karena jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, salah satu orang yang ada di tempat aman bisa langsung waspada.
Bagaimanapun juga, tempat ini kan kediaman keluarga Alerian. Kita tidak tau apa saja yang bisa terjadi di sini. Dan kita juga tidak tau kapan hal itu bisa terjadi.
Hm? Apa Farel sudah tidur? Kamarnya tampak gelap. Meski pintu kamar Farel tertutup, aku bisa melihat dari celah-celah bawah pintu yang gelap. Tapi tidak mungkin Farel sudah tertidur jam segini.
Tok Tok
Aku mengetuk pelan pintu kamar Farel. Namun tidak ada jawaban. Farel, dia tidak benar-benar sudah tidur kan?
Aku tidak puas jika langsung menyerah begitu saja. Aku harus memastikan dengan mataku sendiri jika dia sudah tidur.
Ceklek
"Hah?"
Aku memberanikan diri untuk membuka pintu Farel. Dan benar saja! Ternyata benar dia belum tidur. Jika Farel sudah tertidur di waktu ini, sepertinya langit akan runtuh.
"Oh, jadi lo sengaja ya matiin lampu? Ga denger apa gue ngetok pintu dari tadi?!"
Kulihat Farel yang tengah asyiknya selonjoran di atas tempat tidur dengan sekotak biskuit di pelukannya. Matanya hanya fokus pada layar televisi di depannya. Dia seperti tidak menyadari keberadaanku yang baru datang ini.
Sebenarnya apa sih yang dia lihat? Apa segitu pentingnya sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang datang?
"FAREL!!"
"Eh iya? Ya? Siap- Oh elu. Ngapain kesini?"
Setelah aku memanggilnya dengan suara yang cukup keras, akhirnya dia menoleh juga ke arahku. Sepertinya besok aku harus mengajaknya ke dokter mata. Ke dokter telinga sepertinya juga perlu.
"Hei! Gue nanya lho. Ngapain lu kesini?" Tanya Farel lagi.
"Gue ga bisa tidur makanya gue kesini bentar. Ga boleh?" Tanyaku.
"Ya boleh-boleh aja sih." Jawabnya.
Tak
Aku menyalakan lampu. Mana mungkin aku bisa melihat dengan jelas jika keadaan di sekitarku gelap seperti tadi.
Sebenarnya, bagaimana bisa Farel menonton televisi dengan keadaan gelap gulita seperti tadi? Apa matanya tidak sakit?
"Woi kenapa lampunya lu nyalain?" Protes Farel.
"Ssttt.. diem ah!" Timpalku.
Farel langsung mengatupkan mulutnya. Meski begitu Farel masih terlihat marah. Namun dia tidak ingin menunjukkan ekspresinya itu secara terang-terangan.
Padahal dia bisa saja langsung memarahiku. Tapi Farel lebih memilih untuk menahan emosinya di hadapanku.
Hihi. Sekilas Farel terlihat imut. Farel tampak seperti kucing yang sedang marah namun tak bisa melakukan apa-apa.
Yah lagipula aku melakukan ini untuk dirinya juga. Farel harusnya berterima kasih padaku. Melihat layar elektronik di dalam kegelapan akan membawa dampak buruk bagi mata dan juga otak.
"Ngapain sih lu kesini? Gangguin aja elah." Ucap Farel.
"Oh gitu ya sekarang lo ama gue?!"
Sembari berkacak pinggang, aku menatap Farel dengan tatapan tajam. Meski aku sudah terbiasa menghadapi Farel yang seperti ini, tetap saja rasanya menyebalkan.
"E.. Enggak! Maaf yang mulia ratu." Jawabnya.
Yang mulia ratu? Haha. Sepertinya itu terlalu berlebihan untuk diucapkan oleh putra tunggal keluarga Alerian. Apalagi dia mengucapkannya kepada diriku yang berasal dari keluarga biasa ini.
Dan bahkan, bisa-bisanya dia menyanjungku dengan ekspresi datar seperti itu. Sebenarnya dia itu niat atau tidak sih menyanjungku?
"Terserah lo deh, pokoknya gue ga mau pergi." Kataku.
Aku berjalan ke arah sofa berwarna ungu pastel yang berada tepat di samping ranjang. Sebelum itu, aku menghampiri Farel lebih dulu untuk merebut remote TV yang ada di tangannya itu.
"Eh! Jangan diganti salurannya!" Ucap Farel.
"Pinjem ntar ah gue mau nonton drakor." Balasku.
Aku tak mau menghiraukan Farel yang sedang kesal. Apa aku keterlaluan? Ah biarkan saja. Kapan lagi aku bisa melihat drakor di televisi sebesar ini. Farel kan bisa menontonnya lagi besok.
"Ck nyebelin banget sih." Ucap Farel.
"Oh? Iya, gue emang nyebelin." Balasku.
Aku melirik ke arahnya, dan aku mendapati dirinya yang tengah tersenyum melihatku. Di samping itu aku juga masih bisa melihat kemarahannya meski dia menutupinya dengan senyuman.
"Gapapa elah, kan besok lo bisa nonton lagi. Atau.. lo mau gue rias aja? Waktu itu lo udah janji kan?" Ancamku.
"Hih gamau! Amit-amit! Ya udah ambil aja deh itu TV! Bawa pulang juga gapapa." Ucap Farel.
"Jangan gitu dong, kalau gue bawa pulang beneran ntar lo yang mampus." Balasku.
Farel mengambil ponselnya. Sepertinya dia sudah tidak ingin berdebat lebih lama denganku. Yah itu keputusan yang bagus untuknya.
Hihi. Sebenarnya aku juga tidak mau merias orang di tengah malam begini. Lama-lama aku jadi heran dengan Farel yang mudah sekali dibohongi seperti ini.
Baru kali ini aku melihat Farel yang bersikap seperti itu. Karena biasanya, dia selalu tampak serius jika berada di sekolah.
*****
Silvia